CLICK HERE FOR BLOGGER TEMPLATES AND MYSPACE LAYOUTS »

Minggu, 30 November 2008

Ensiklopedi Sastra Lampung

TIM ENSIKLOPEDI
KANTOR BAHASA PROVINSI LAMPUNG
PUSAT BAHASA
DEPERTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

Penyunting
Agus Sri Danardana

Penyusun Akhir
Erwin Wibowo, Danang Harry Wibowo, Devi Luthfiah,
Ferdinandus Moses, Lisa Misliani

Penyusun Awal

Agus Sri Danardana, Yuliadi MR, Erwin Wibowo, Devi Luthfiah,
Nina Wati Syahrul, Diah Meutia Harum, Yulfi Zawarnis, Lisa Misliani, As. Rakhmad Idris, Tri Wahyuni, Sunan Yohanto, Zumalal Laeli, Danang Harry Wibowo, Mamad Ahmad, Kiki Zakiah Nur, Rita, Ritanti Aji Cahyaningrum, M. Andri Z.

Alamat
Kantor Bahasa Provinsi Lampung
Jalan Beringin II No.40 Kompleks Gubernuran Telukbetung, Bandarlampung. Telepon (0721) 486408, 480705; Faksimile (0721) 486407
Pos-el (E-Mail): kbpl_2006@yahoo.com


Ensiklopedi Sastra Lampung

Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia
Oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Agustus 2008
Kantor Bahasa Provinsi Lampung
Jalan Beringin II No.40 Kompleks Gubernuran Telukbetung, Bandarlampung. Telepon (0721) 486408, 480705; Faksimile (0721) 486407
Pos-el (E-Mail): kbpl_2006@yahoo.com


Penyunting: Agus Sri Danardana
Desain Sampul: Danang Harry Wibowo
Penata Letak: Danang Harry Wibowo

Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang
Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh
Isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit


KATA PENGANTAR

Perilaku dan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini telah banyak mengalami perubahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat atau dampak globalisasi. Pandangan dan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pun ikut berubah sejak Indonesia mengalami reformasi tahun 1998. Kondisi ini secara tidak langsung mengubah tatanan kehidupan masyarakat bawah yang semula menjadi sasaran (objek), kini diharuskan menjadi pelaku (subjek) dalam proses pembangunan bangsa. Sejalan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Lampung berupaya meningkatkan mutu pelayanan kebahasaan dan kesastraan kepada masyarakat. Salah satu upaya peningkatan pelayanan itu ialah penyediaan bahan bacaan.
Pada tanggal 2 Mei 2002, Presiden telah mencanangkan “Gerakan Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan”, disertai dengan gerakan “Pembangunan Perpustakaan” oleh Menteri Pendidikan Nasional. Setelah itu, Ikatan Penerbit Indonesia mengikuti gerakan-gerakan itu dengan melahirkan “Hari Buku Nasional” pada tanggal 17 Mei 2002. Untuk menindaklanjuti berbagai kebijakan tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Lampung berupaya menerbitkan hasil pengembangan bahasa dan sastra dengan menyediakan bahan bacaan dalam rangka pengembangan perpustakaan dan peningkatan mutu dan minat baca masyarakat.
Salah satu upaya Kantor Bahasa Provinsi Lampung dalam penyediaan bahan bacaan, baik untuk tingkat pendidikan tinggi maupun masyarakat umum, adalah dengan menerbitkan Ensiklopedia Sastra Lampung. Buku ini selain diupayakan dapat meningkatkan mutu dan apresiasi sastra Lampung, juga diharapkan dapat memperdalam dan memperluas cakrawala pengetahuan para peminat sastra, pelajar, dan mahasiswa tentang sastra Lampung.
Kehadiran buku ini tentu saja tidak terlepas dari kerja sama yang baik dengan berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih kepada tim penyusun. Mudah-mudahan ensiklopedia ini, dalam keterbatasannya, dapat memberikan manfaat dalam upaya peningkatan mutu dan minat baca masyarakat.

Bandarlampung, Agustus 2008,
Drs. Agus Sridanardana, M.Hum.



PENDAHULUAN

Munculnya sastrawan-sastrawan muda dari berbagai daerah yang ada di Indonesia--dengan karya-karya mereka yang semakin berkembang dan berwarna--menunjukkan bahwa karya sastra dan sastrawan menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan. Karya sastra dan sastrawan sama-sama memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan dunia sastra. Tema-tema berani yang berisikan kritik banyak memberi warna baru dalam karya para sastrawan muda. Di samping itu, para sastrawan senior pun masih menunjukkan kekonsistenannya dalam menghasilkan karya sastra. Hal itu berarti makin berwarnalah khazanah kesusastraan di Indonesia.

Lampung sebagai provinsi yang secara geografis terletak di ujung selatan pulau Sumatra tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya dengan sumber daya manusianya. Puluhan sastrawan telah lahir di Sai Bumi Ruwa Jurai, negeri yang dihuni oleh dua jenis penduduk, pribumi dan pendatang. Dalam memajukan sastra Indonesia, tidak sedikit sastrawan Lampung yang memberikan kontribusinya terhadap perkembangan sastra, seperti Motinggo Busye, Isbedy Stiawan ZS., Inggit Putria Marga, dan Ari Pahala Hutabarat dan tidak sedikit pula karya-karya mereka yang dijadikan perbincangan oleh para kritikus sastra.

Kantor Bahasa Provinsi Lampung, sebagai lembaga yang berkecimpung dalam masalah kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah, sejak tahun 2004 hingga sekarang sudah melakukan berbagai penelitian kebahasaan dan kesastraan. Dalam bidang kesusastraan, lembaga ini telah menyusun beberapa biografi sastrawan Lampung dan institusi sastra yang ada di Lampung. Penyusunan biografi tersebut bertujuan memberikan informasi tentang proses kreatif, prestasi, dan dedikasi yang telah dicapai oleh sastrawan-sastrawan Lampung.

Pusat Bahasa sebagai Lembaga yang menangani masalah kebahasaan dan kesastraan pada tahun 2003 menerbitkan Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern, yang memuat informasi tentang sastra Indonesia. Leksikon Sastra yang memuat informasi tentang sastrawan beserta karyanya Lampung yang diterbitkan oleh Logung tahun 2004 merupakan sebuah pengakuan yang diberikan kepada para sastrawan dan seniman Lampung. Untuk menambah informasi dan referensi tentang sastrawan Lampung, Kantor Bahasa Provinsi Lampung menyusun Ensiklopedia Sastra Lampung yang didalamnya berisi lema sastrawan Lampung, penghargaan sastra yang ada di Lampung, sastra lisan Lampung, media penyebar dan penerbit sastra, dan institusi sastra yang ada di Lampung.

Lema sastrawan berisi tentang latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan. Proses kreatif dalam menghasilkan karya, aktivitas lain dari sastrawan yang berhubungan dengan sastra, prestasi, dan penghargaan yang telah dicapai oleh sastrawan, karya-karya yang menjadi perbincangan para sastrawan daerah dan nasional, Lema institusi sastra berisi tentang latar belakang pendirian institusi sastra, pengelola institusi, bentuk lembaga, kedudukan lembaga, kegiatan yang dilakukan oleh institusi,Lema penghargaan sastra berisi tentang nama sayembara, jenis kegiatan yang diselenggarakan, jangkauan kegiatan, dewan juri, para pemenang, waktu penyelenggaraan, dan lembaga penyelenggara, Lema sastra lisan berisikan tentang jenis-jenis sastra lisan yang tersebar di Provinsi Lampung, Lema media penerbitan, kedudukan dalam perkembangan sastra, banyaknya karya yang diproduksi, biodata media, tanggal lahir media dan tempatnya.

Ensiklopedi ini dalam keterbatasannya, mencoba memperkenalkan jagad sastra Lampung dengan berbagai aspek pendukungnya. Dengan membaca ensiklopedi ini, pembaca diharapkan dapat memperoleh Informasi sekedarnya untuk memasuki jagad sastra Lampung.

Bandarlampung, Agustus 2008

Diposkan oleh Arah Laut Lepas: 5708 Km di 23:16 0 komentar

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Mamad dan Diah Meutia Harum. 2005. Iswadi Pratama. Penyair yang Mengabadikan Ingatan. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

A.Z., M. Arman. 2005. Embun di Ujung Daun. Yogyakarta:Logung Pustaka

----------------------. 2005. Surat Untuk Aida. Depok:Lingkar Pena Kreativa

Budianta, Melani. 1999. “Motinggo Busye (1937–1999) dari Zaman ke Zaman” dalam Horison Nomor 9 Tahun XXXIV, Sep¬tem¬ber 1999

Cahyaningrum, Ritanti Aji dan Tri Wahyuni. 2005. Refleksi Inggit Putria Marga dalam Karya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Cahyaningrum, Ritanti Aji. 2006. Zulkarnain Zubairi dan Kelampungannya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Djafar, Iwan Nurdaya dan Sugandi Putra. 1989. Seratus Sajak. (Antologi Bersama). Jakarta:Fajar Agung

Eneste, Pamusuk. 1990. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta:Djambatan

---------------------. 2001. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta:Kompas.

Genie F, Khaidir, dkk. 1996. Titian Pers Lampung Etos Perjuangan di Tanah Tapis. Lampung:PWI Cabang Lampung

Harum, Diah Mutia. 2006. Budi P. Hatees: Potret Sastrawan Pemikir. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Idris, AS. Rakhmad dan Zumalal Laeli. 2005. Perjalanan “Sang Matahari”: Potret Kehidupan dan Karya Achmad Rich (1956-2004). Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Ismail, Taufiq. 1999. “Seribu Itik Berenang-renang di Danau Ma¬ninjau” (In Memoriam Motinggo Busye)” dalam Horison Nomor 9 Tahun XXXIV, September 1999

Karzi, Udo. Z. 2002. Puisi Lampung Pesisir: Momentum. Lampung:Proyek Pelestarian dan Pemberdayaan Budaya Lampung pada Dinas Pendidikan Provinsi Lampung

Kertagama, Edy Samudra. 2002. “Nyanyian Sunyi”. Lampung:Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR

---------------------. 2002. “Sajak-Sajak Pendek Embun Putih”. Lampung:Lembaga Deklamasi Lampung

Luthfiah, Devi dan Erwin Wibowo. 2005. Panji Utama dan Karya-karya Kebangkitannya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Luthfiah, Devi. 2006. Komunitas Sastra di Bandarlampung. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

MR., Yuliadi dan Rita. 2005. Ari Pahala Hutabarat: Sebuah Proses Kreatif dan “Bergaya”. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

MR., Yuliadi. 2006. Iwan Nurdaya Djafar: Sebuah Proses Kreatif. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Pahala Hutabarat, Ari, dkk. 2005. Pertemuan Senja: Suara Lampung. Jakarta:Dewan Kesenian Jakarta

Rangkuti, Hamsad. 1999. “Menit-Menit Terakhir Bersama Moting¬go Busye” dalam Horison Nomor 9 Tahun XXXIV, Sep¬tember 1999

Sridanardana, Agus. 2005. Pandangan Dunia Motinggo Busye.Lampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Sridanardana, Agus, Diah Mutia Harum, M. Andri Z., dan AS. Rakhmad Idris. 2007. Biografi Sastrawan: Napak Tilas Duabelas Sastrawan Lampung. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Stiawan ZS. Isbedy. 2002. Aku Tandai Tahi Lalatmu. Yogyakarta:Gama Media

---------------------. dkk. 2003. Leksikon Seniman Lampung. Yogyakarta:Logung

---------------------. 2003. Menampar Angin. Yogyakarta:Bentang Budaya

---------------------. 2005. Kota Cahaya. Jakarta:Grasindo

---------------------. 2005. Selembut Angin Setajam Ranting. Bandung:Lingkar Pena Kreativa

---------------------. 2005. Gerimis (Dalam lain Versi). Yogyakarta:Logung Pustaka dan DKL

---------------------. dkk. 1987. Jung Senandung Puisi Penyair Lampung. Lampung:Dewan Kesenian Lampung

Sugono, Dendy (penyunting utama). 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern. Jakarta:Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional

Syahrul, Ninawati. 2005. Isbedy Stiawan Z.S.: Karya dan Proses Kreatifnya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Tanpaka, Syaiful Irba. “Kota Dalam Nuansa Penyair”. Lampung Post 14 April 1993

---------------------. 1984. Mata-Mata. Lampung:Sanggar Cakrawala Ide Anak Muda

---------------------. 1996. Festival Januari Penyair Lampung. Lampung:Dewan Kesenian Lampung

Utama, Juperta Panji. “Untukmu Syaiful Irba Yanpaka: Bermotivasi atau Sekedar Melarikan Diri”. Yudha Minggu Sport & Fiksi. 11 September 1988

---------------------. dkk. 1993. Belajar Mencintai Tuhan. Bandarlampung:Universitas Lampung

---------------------. 1995. Pasar Kabut (Menggali Kubur Sendiri, Membangun Lorong-Lorong). Bandarlampung:Ombak

---------------------. 1996. Kibaran Bendera (Hikayat sang Debu). Bandarlampung:Ombak

Wahyuni, Tri. 2006. Dahta Gautama: Dari Realita ke Imajinasi. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Wibowo, Erwin. 2006. Edy Samudra Kertagama dan Karyanya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Yohantho, Sun’an. 2005. Mutiara Sang Bumi Rwa Jurai. Biografi Assaroeddin Malik Zulqornain CH. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Yohantho, Sun’an. 2006. Peran Koran Lampung Post dalam Memasyarakatkan Sastra (Sebuah Tinjauan Deskripsi). Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Zawarnis, Yulfi. 2005. Menyimak Syaiful Irba Tanpaka. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Zawarnis, Yulfi, Lisa Misliani, dan Ninawati Syahrul. 2005. Biografi Tiga Sastrawan Lampung dan Karyanya: Oyos Saroso, M. Arman A.Z., dan Jimmy Maruli Alfian. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Zawarnis, Yulfi. 2006. Peran Teater Satu dalam Memajukan Sastra di Lampung. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung

Zubairi, Zulkarnain, dkk. 2002. “Etos Kita: Moralitas Kaum Intelektual”. Yogyakarta:Gama Media dan Teknokrat Unila

Zulqornain, Asaroeddin Malik, dkk. 1984. Nyanyian Tanah Putih: Antologi Puisi Penyair Muda Lampung, Lampung:Sanggar Sastra CIA

Isbedy Stiawan ZS

Isbedy Stiawan ZS adalah nama yang diberikan pasangan Zakirin Senet dan Ratminah untuk salah seorang anak laki-laki mereka. Isbedy lahir pada 5 juni 1958 di Tanjungkarang. Ia adalah putra keempat dari delapan bersaudara. Almarhum bapaknya yang berasal dari Bengkulu hanyalah seorang pegawai negeri rendahan dan ibunya yang berasal dari Winduaji Sindanglaut kabupaten Cirebon adalah seorang ibu rumah tangga.
Isbedy kecil dikenal nakal. Selain itu, ia dikenal keras, gigih, dan nyentrik. Tak jarang dia berkelahi dengan teman sebayanya. Hobi berkelahi itu kemudian disalurkannya dengan mengikuti beladiri karate. Terakhir, sabuk hitam pun diraihnya.
Ekonomi keluarga Isbedy saat itu boleh dibilang pas-pasan. Untuk menambah penghasilan keluarga, ibunya membuka warung sederhana di depan rumahnya. Isbedy sering disuruh menunggui warungnya. Saat menunggu warung itulah, ia sering mengisi waktu dengan membaca buku-buku silat yang banyak menaburkan filosofi yang selalu mengusiknya untuk merenung. Ditambah lagi, ia senang menulis apa saja yang direnungkannya. Saat itu, Isbedy kecil menganggap yang ditulisnya itu sebagai kata-kata mutiara. Dari kata-kata mutiara itulah lahir sajak-sajak dan cerpennya.
Isbedy mulai bersentuhan dengan dunia sastra sejak di bangku SMP tahun 1975. Karya-karya Kho Ping Hoo adalah bacaan yang saat itu digemari oleh Isbedy. Ketika membaca karya Kho Ping Hoo, ia mendapatkan filosofi hidup yang sangat berarti, bahwa seseorang yang menyenangi seni tanpa memiliki ilmu beladiri akan lemah dan dizalimi dan orang yang memiliki ilmu beladiri tanpa diimbangi nilai seni maka dia akan zalim. Filosofi ini yang semakin mendorongnya untuk mengikuti kegiatan karate.
Sebelum terkenal sebagai penulis, ia tekun dalam bidang seni teater bersama Syaiful Irba Tanpaka dan A.M. Zulqarnain. Sanggar Ragam Budaya adalah tempatnya mengekspresikan jiwa seni. Ia juga sering tampil dalam pementasan teater di luar Tanjungkarang. Jika ada waktu luang saat ia berlatih teater, Isbedy kerap berdiskusi seputar persoalan sastra dengan Syaiful Irba Tanpaka. Beranjak ke bangku STM, ia perlahan-lahan mulai menggeluti dunia sastra dan meninggalkan dunia teater. Ketika itu, Isbedy mencoba menulis puisi dan cerpen.

Isbedy kerap membacakan sajaknya dari panggung ke panggung. Saat membacakan sajak-sajaknya, Isbedy selalu memukau penontonnya. Ia tidak hanya mahir menyulam kata, tetapi juga piawai “menyihir” penonton.

Keinginan untuk mempunyai mesin tik sendiri mendorong Isbedy untuk terus berkarya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Isbedy mengirimkan karya-karyanya yang berupa puisi ke berbagai media massa, termasuk media massa yang terbit di Jakarta. Tak sedikit pula puisinya yang ditolak oleh media. Tahun 1981, obsesinya untuk mempunyai mesin tik barulah terwujud. Sebuah mesin tik buatan Jerman, dibelinya dari Pasar Rumput seharga dua puluh lima ribu rupiah. Uang itu diperolehnya dari honor tulisan Isbedy di berbagai surat kabar Jakarta. Sejak memiliki mesin tik sendiri, keinginan Isbedy utnuk menghasilkan karya semakin menjadi-jadi. Hasilnya, harian umum Suara Karya memercayai Isbedy untuk mengasuh rublik “EsKa Kecil“, sebuah rubrik sastra bagi anak-anak. ”Surat dari Kak Isbedy” adalah nama yang dipakai untuk rublik itu. Selain media massa cetak, ia juga memublikasikan karya-karyanya melalui media massa elektronik. Saat itu, Radio Republik Indonesia Lampung sering mengundang Isbedy untuk membacakan karya-karyanya.

Karya pertama Isbedy yang dimuat di media massa adalah cerita pendek di Mingguan Swadesi, tahun 1980. Kemudian, sekitar tahun 1984, banyak cerpennya yang dimuat di berbagai media massa, antara lain Shimponi, Merdeka, Pelita, dan Singgalang. Di tahun itu pula, untuk pertama kali puisi Isbedy dimuat di Berita Buana, saat itu diasuh oleh Abdul Hadi W.M.. Sejak saat itulah, puisi-puisi Isbedy mulai bermunculan di media massa lainnya seperti, Suara Karya, Budaya Pelita, Jayakarta, Terbit,dan Prioritas.

Di usia muda, pergaulan Isbedy boleh dikatakan nakal. Tetapi hal itu tidak berjalan lama. Pada tahun 1982, ia menikahi Adibah Jalili, seorang wanita Minang dari keluarga yang taat beragama. Perlahan-lahan kebiasaan buruknya itu menhilang. Dari perkawinan tersebut, Isbedy dikaruniai lima orang anak yaitu: Mardiah Novriza, Arza Setiawan, Rio Fauzul, Khairunnisa, dan Abdurrobbi Fadillah.

Umumnya, proses kreatif puisi Isbedy lahir setelah ia menemukan kata-kata puitis terlebih dahulu, lalu diolahnya menjadi puisi. Terkadang, ia juga mendapatkan puisi yang sudah jadi di benaknya. Ide kreatif Isbedy bisa muncul kapan saja, saat traveling, merenung di waktu malam, atau langsung di depan komputer. Dalam menulis puisi, ia tidak pernah membatasi diri tentang tema tertentu karena menulis pusi menurut Isbedy tidak bisa dipaksa, mengalir menurut apa yang ada di dalam imajinasi, rasa, emosional, dan intelektual.

Mengenai proses kreatif lahirnya sebuah puisi, Isbedy mengaku, karyanya banyak terlahir oleh sentuhan-sentuhan sederhana, contohnya, puisi “Aku Tandai” yang disentuh oleh kalimat-kalimat yang didapat saat di kendaraan bermotor. Dalam proses kreatif kemudian, ia giring “tahilalat” itu sebagai penanda bagi manusia. Terkadang puisinya lahir dari kalimat-kalimat yang dianggap puitis dan menarik. Misalnya dia pernah melahirkan puisi dari kalimat yang dia peroleh begitu saja; karena laut mengajarkan rajaasi badai/ maka aku pun setia berlayar (puisi “Orang Laut”, 1987). Dari kalimat-kalimat itu, ia merangkainya hingga menjadi sebuah puisi yang utuh.
Kini Isbedy banyak menulis cerpen. Hal itu disebabkan karena cerpen ”lebih menjanjikan”. Selain itu, bagi Isbedy menulis cerpen ”sangat menantang”. Dalam menulis cerpen, ia harus banyak memiliki ”tabungan” kata-kata dan kalimat dan memahami seluk-beluk alur cerita, penokohan, beserta konflik-konfliknya.
Cerpen-cerpen Isbedy juga dimuat di berbagai media massa, seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Horison, Suara Merdeka, dan Kedaulatan Rakyat. Padahal, pada awalnya Isbedy minder sekali untuk mengirimkan cerpen. Berbeda, ketika ia menawarkan puisi ke media-media tersebut. Bahkan, dengan nada canda, Triyanto Triwikromo (Suara Merdeka) tidak mengakui Isbedy sebagai cerpenis. ”Kalau pun Anda mengirim cerpen tidak akan dimuat, sebab kekuatanmu ada di puisi.” Tetapi, belakangan cerpen-cerpen Isbedy lolos seleksi Suara Merdeka yang kita tahu Triyanto sangat ketat untuk menyeleksi karya sastra yang akan dimuat di koran tersebut. Begitu pula, barangkali, ketika Nirwan Dewanto meloloskan cerpen Isbedy yang berjudul ”Mata Elangmu Nyalang” di Koran Tempo.

Ketika itu, produktivitas dalam menulis cerpen memang diakuinya cukup tinggi. Meskipun begitu, ia juga tetap rajin melahirkan puisi. Kalau kemudian ia lebih dikenal sebagai penyair, mungkin predikat itu sudah demikian menyatu dalam dirinya sejak lama. Isbedy justru merasa percaya diri disebut penyair ketimbang cerpenis. Boleh jadi suatu waktu ia akan meninggalkan dunia cerpen.
Dalam menulis cerpen, Isbedy banyak belajar dari mengamati berbagai karakter atau tokoh orang yang ada di sekitarnya. Ia dapat lebih memasuki setiap karakter tokoh, latar, atau alur cerita. Ia bisa bebas memainkan bahasa karena sesungguhnya bahasa berperan penting bagi karya sastra ketika menulis cerpen.

Sebagai penulis, Isbedy sudah melahirkan banyak karya sastra. Karya-karyanya tidak hanya terangkum dalam antologi tunggalnya saja, tetapi juga terangkum dalam antologi bersama penyair lainnya. Karya-karyanya juga pernah dimuat di berbagai macam media massa, sebut saja Serambi Indonesia, Aceh Post, Riau Post, Singgalang, Sriwijaya Post, Lampung Post, Majalah Horison, Kompas, Jurnal Ulumul Qur’an, Nova, Jurnal Puisi, Citra, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Karya, Suara Pembaharuan, Berita Buana, Pelita, Surabaya Post, Pedoman Rakyat, Sinar Harapan, Amanah, Annida, Sabili, Fikri, Jawa Post, Wawasan, Suara Merdeka (Semarang), Surabaya News, Kedaulatan Rakyat (Bandung), Majalah Budaya Sagang, Padang Post, Padang Ekspres, Sumatra Post, Gerbang, Lampung Post, dan Trans Sumatra, Banjarmasin Post, dan Pedoman Rakyat (Makasar).

Perjuangan yang ia lalui saat itu telah membuahkan hasil yang memuaskan. Sastra telah mengantarnya menjadi orang yang dikenal banyak orang, sastra juga membawa Isbedy berjelajah ke daerah-daerah di Indonesia. Ia pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta membaca puisi di TIM pada Forum Puisi Indonesia 1987, Pembacaan Sajak Tiga Penyair Lampung (1989) dan Festival November tahun 2001. Juga diundang pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) di Kayu Tanam (1997). Tahun 1999, ia menjadi salah satu sastrawan Indonesia yang diundang ke Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Malaysia. Dalam tahun yang sama, ia terbang ke Thailand, mengikuti Dialog Utara VIII. Ia pun kerap menghadiri undangan pertemuan sastra diberbagai kota dan daerah di Tanah Air antara lain: di Pekanbaru, Padang, Yokyakarta, Bali, Banjarmasin, Bengkulu, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Bengkalis. Pada 29 Februari dia membacakan puisi-puisinya dari buku Menampar Angin di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan.

Dalam perjalanan kesastrawanannya, banyak saran maupun kritik yang tertuju kepada dirinya. Pada Forum Puisi Indonesia ’87, Sutardji memberikan pujian kepada Isbedy yang dibuktikannya dengan memuat puisi Isbedy dari antologi Forum Puisi Indonesia ’87 di majalah sastra Horison. Menurut Sutardji, puisi Isbedy sangat sederhana, metafor-metafor yang ditampilkan tidak terlalu mengejutkan, tetapi dengan pengaluran yang lembut, saling menopang, serta diperhitungkan dengan penuh kecermatan, membuat Sutardji terpukau dengan larik-larik dalam setiap puisi yang dibuat Isbedy. Tambah Sutardji, ungkapan-ungkapan yang segar dalam sajak Isbedy ditampilkan dalam susunan saling bersambung, mendukung secara halus, lembut, dan tersamar suatu gagasan pikiran (Kompas, 4 Mei 2001, hal. 36). Tahun 1989, H.B. Jassin dalam catatan kebudayaan majalah Horison memberikan predikat kepada Isbedy sebagai Paus Sastra Lampung karena dedikasinya dalam berkarya dan memajukan sastra di Lampung.

Maman S. Mahyana juga mempunyai kesan setelah ia membaca puisi-puisi Isbedy Stiawan. Menurutnya, antologi puisi Aku Tandai Tahi Lalatmu terkesan hendak menawarkan berbagai kegelisahan emosionalnya. Setiap makna dalam puisinya memancarkan makna sejalan dengan konteks dan situasi peristiwa yang dihadapi. Ditambahkan Maman dalam puisi Isbedy, ia juga bersiasat melalui beragam majas dan serangkaian enjambemen. Antologi itu, menurut Maman, mengukuhkan Isbedy sebagai penyair yang makin memperlihatkan kepribadiannya yang kukuh dan kepenyairannya yang matang.
Kecendrungan memanfaatkan berbagai diksi dan sarana puitis, tampak diintegrasikan kedalam jalinan kata yang potensial memancarkan keberagaman makna. Gaya kepenyairan model ini, tentu saja bukan satu-satunya—juga bukan yang pertama—dilakukan Isbedy. Di belakang itu, ada nama-nama Dodong Djiwapradja, Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, sampai ke nama-nama penyair terkini macam Nanang Suryadi atau Tjahjono Widarmanto.

Sebagai contoh kasus, misalnya, puisinya yang berjudul “Di Pantai”. Dekaplah aku, kata pantai pada laut, tapi,/setelah didekap, pantai pun membiarkan laut/ menjauh kembali, lalu burung-burung camar/hanya memandang sepi ujung bibirmu//. Hubungan laut—pantai yang komplementer itu tiba-tiba menjadi sebuah paradoks karena pantai di satu pihak tak dapat melepaskan dirinya dari kerinduan atas laut, dan di pihak lain, selalu membiarkan laut kembali menjauh. Sebuah pertemuan dan perpisahan yang sepertinya merupakan peristiwa biasa, tetapi justru menyimpan begitu banyak misteri.(Lampung Post, 2003).
Yanusa Nugroho, salah satu Sastrawan dari Jakarta, memberikan tanggapannya terhadap cerpen-cerpen yang ditulis oleh Isbedy. Menurut Yanusa, membaca karya Isbedy adalah ”membaca energi” karena begitu padat cerpen-cerpen yang disuguhkan oleh Isbedy.
Tak bisa terelakan lagi, Isbedy memang sudah menjadi bagian dalam perkembangan sastra di Indonesia. Sejumlah penghargaan juga pernah ia raih. Hal itu dikarenakan dedikasinya yang tinggi untuk perkembangan sastra di Indonesia. Anugerah Sanggar Minum Kopi Bali—10 Puisi Terbaik, tahun 1997, Margana Award—10 Puisi Terbaik, Yayasan Selakunda (Bali), 1998, Juara ke-2 Lomba Cipta Cerpen Teater Peron UNS Solo, Juara I Lomba Cipta Puisi Se-Indonesia Mahasiswa di Padang, Juara III Lomba Cipta Puisi Lingkungan Hidup kerja sama Majalah Trubus-Menteri KLH, tahun 2002, Rakyat Lampung Award 2005-2006—Tokoh Seniman, Nominator—5 Besar karya Cerpen—Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, tahun 2006, 10 Besar Nominator Katulistiwa Literary Award untuk kumpulan puisi Kota Cahaya, tahun 2006. Kumpulan puisi Kota Cahaya mendapat penghargaan dari DPD KNPI Bandarlampung pada 28 Oktober 2005 menganugerahi KNPI Award 2005 pada sastrawan ini sebagai Life Time Achievement. Berikut ini beberapa karya-karya Isbedy Stiawan ZS.

1. Puisi
1) Darah, 1982.
2) Badai 1984.
3) Akhir 1986.
4) Khalwat 1988.
5) Membaca Bahasa Sunyi 1990.
6) Lukisan Ombak 1992.
7) Kembali Ziarah 1996.
8) Daun-daun Tadarus 1997.
9) Aku Tandai Tahi Lalatmu, Gama Media, Yogyakarta, 2003.
10) Menampar Angin Bentang Budaya, Yogyakarta, 2003.
11) Kota Cahaya, Grasindo, Jakarta, 2005.
12) Salamku Pada Malam 2006.
13) Laut Akhir 2007.
14) Dari Negeri Poci, antologi bersama.
15) Resonansi Indonesia, antologi bersama.
16) Angkatan 2000, antologi bersama, 2000.
17) Horison Sastra Indonesia: KitabPuisi, antologi bersama.
18) Hijau Kelon dan Puisi 2002, antologi bersama Penerbit buku Kompas, 2002.
19) Puisi Tak Pernah Pergi, antologi bersama Penerbit buku Kompas, 2003.

2. Cerpen
1) Ziarah Ayah, Syaamil, Bandung, 2003.
2) Tahun Cinta (antologi cerpen bersama), Senayan Abadi, Jakarta, 2003.
3) Wajah di Balik Jendela (antologi cerpen bersama), Lazuri, Jakarta, 2003.
4) Anak Sepasang Bintang (antologi cerpen bersama), FBE Press, Jakarta, 2003.
5) Bunga-Bunga Cinta (antologi cerpen bersama), Senayan Abadi, Jakarta, 2003.
6) Cerita-cerita pengantin (antologi cerpen bersama), Galang Press, Yogyakarta, 2003.
7) Bulan Rebah di Meja Diggers, Beranda, Jakarta, 2004.
8) Dawai Kembali Berdenting, Logung Pustaka, Lampung, 2004.
9) Perempuan Sunyi Gama Media, Jakarta, 2004.
10) Selembut Angin Setajam Ranting, Lingkar Pena Publising House, Jakarta, 2005.
11) Seandainya Kau Jadi Ikan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.
12) Hanya Untuk Satu Nama, Bentang Pustaka, Jakarta, 2005.
13) “Rumah Baru”, Radar Lampung, Minggu, 2 Oktober 2005.
14) “Pasien Terakhir”, Lampung Post, 28 April 2005.

Selasa, 18 November 2008

Zulkarnain Zubairi

Zulkarnain Zubairi dilahirkan di desa Negarabatin, Margaliwa, kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, tanggal 12 Juni 1970 dari pasangan Zubairi Hakim dan Tria Qoti. Ia merupakan putra sulung dari lima bersaudara. Adik-adiknya bernama Riza Sofya,Yuzirwan, Silvia Diana, Lila Aftika.
Zulkarnain Zubairi mengenyam pendidikan hingga menengah pertama di kampung halamannya. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Liwa sejak tahun 1977 hingga 1983. Selanjutnya, sekolah menengah pertama di SMPN 1 Liwa sejak tahun 1983 hingga 1986. Ketika memasuki masa pendidikan menengah atas, Zulkarnain Zubairi keluar dari tanah kelahiranya. Ia melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Bandarlampung sejak tahun 1986 hingga 1989. Tidak hanya sampai di jenjang pendidikan menengah atas, Zulkarnain Zubairi melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia memilih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Lampung sejak 1990 hingga 1996. Selain menjadi mahasiswa FISIP Unila, ia juga mengambil kursus D2 Akuntansi di Lembaga Pendidikan Fajar Agung, Bandarlampung (1989—1990). Dari Pendidikan akuntansi inilah ia sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar ekonomi akuntansi SMAN dan MAN di kota kelahirannya pada tahun 1998.
Sejak kecil sampai SMP, Zulkarnain Zubairi belajar membaca Al Quran dengan kakeknya. Baginya agama merupakan sumber utama tentang nilai, etika, moral, dan akhlak. Dengan keyakinannya yang kental dalam beragama, Islam memengaruhi kehidupan Zulkarnain Zubairi. Pengaruh agama memang tidak terlihat secara langsung dalam karya-karyanya. Akan tetapi, Zulkarnain Zubairi berusaha untuk tidak bertentangan dengan Islam dalam melahirkan karya.
Zulkarnain Zubairi merasa beruntung walaupun menghabiskan masa kecilnya di pedesaan karena hobi membacanya tidak dibatasi oleh lingkungan tempat tinggalnya. Ayahnya yang berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia sangat mendukung hobi membaca Zulkarnain Zubairi. Buku-buku bacaan Inpres yang dibawakan ayahnya kerap menjadi teman membaca Zulkarnain Zubairi. Selain itu, hobi nya juga didukung oleh anak seorang Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan, almarhum ZA Mathika Dewa atau Zulkifli yang juga seorang penulis. Pertemanan keduanya menjadi erat karena mereka dapat saling mendukung dalam menyalurkan hobi membaca mereka.
Hobi membaca dan mengumpulkan tulisan-tulisan sastra sejak kecil mengantarkan Zulkarnain Zubairi menjadi seorang penulis. Ia senang membaca karya sastra, proses kreatif, dan biografi sastrawan-sastrawan terkenal. Melalui beragam bacaan karya sastra yang dibaca Zulkarnain Zubairi, ia mempelajari bagaimana para penulis tersebut bercerita, mengungkapkan gagasan, dan menyajikannya kepada pembaca. Zulkarnain Zubairi pun pada akhirnya terbiasa menuangkan segala sesuatu dalam bentuk tulisan. Sejak SD Zulkarnain Zubairi sudah menyenangi pelajaran mengarang bahkan ia bercita-cita menjadi penulis, cerpenis, novelis, penyair, atau sastrawan.
Pria yang mempunyai nama pena Udo Z. Karzi. ini tidak pernah memilih jenis buku yang dibacanya. Ia membaca semua jenis buku yang ditemuinya, seperti novel terjemahan: Charles Dicken, karya sastra: Atheis, roman picisan, bahkan stensilan (bacaan porno). Ketika melanjutkan pendidikan di SMA di Bandarlampung, hobi membacanya semakin tersalurkan karena SMA tempat ia menimba ilmu memiliki perpustakaan dan letak SMA-nya juga berdekatan dengan Perpustakaan Provinsi. Bacaan Udo semakin meluas, ia tidak hanya mengonsumsi bacaan dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Tidak hanya membaca, Zulkarnain Zubairi juga hobi mengkliping puisi, cerpen, esai, dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan esai. Akan tetapi, kumpulan tulisan tersebut saat ini tidak terdokumentasikan dengan baik.
Tulisan Zulkarnain Zubairi mulai dimuat di media massa sejak tahun 1987. Saat itu, karena pengaruh bacaan dan situasi kepenyairan di Lampung, ia menulis puisi, padahal pada awalnya ia lebih senang menulis cerita pendek. Setelah puisi-puisi Zulkarnain Zubairi dimuat di media massa, karya-karya selanjutnya terus berkembang, cerpen, cerita anak, artikel, dan esainya ikut meramaikan media massa di Indonesia.
Zulkarnain Zubairi sangat tertarik dengan tulisan-tulisan mengenai cerita anak karangan Mansur Samin. Karya-karya Mansur Samin mampu memengaruhi pemikiran Zulkarnain Zubairi. Ia mendapatkan semangat perlawanan terhadap lingkungan yang feodalistik, ortodok, paternalistik, dan anatikritik.
Zulkarnain Zubairi memulai karirnya sebagai wartawan lepas harian umum Lampung Post sejak tahun 1995—1996. Ia kemudian berkarir sebagai reporter majalah berita Mingguan Sinar di Jakarta pada tahun 1997. Pada tahun 1998, Zulkarnain Zubairi beralih profesi menjadi guru bidang studi ekonomi dan akuntansi SMAN 1 Liwa dan MAN Liwa, Lampung Barat. Pada tahun 1999—2000, Zulkarnain Zubairi kembali menggeluti bidang persuratkabaran dengan menjadi redaktur Sumatera Post. Tahun 2000—2006, Zulkarnain Zubairi kembali bekerja di tempat dia mengawali karir, sebagai jurnalis di harian Lampung Post. Pada tahun 2006 hingga saat ini ia beralih menjadi redaktur Borneonews, di Pangkalan Bun, Kalimantan.
Zulkarnain Zubairi tidak hanya memiliki pengalaman berkarir yang tinggi, ia juga memiliki beberapa pengalaman berorganisasi. Pengalaman pertamanya adalah menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila pada tahun 1983—1994. Pada tahun 1994—1996, ia terpilih sebagai Pemimpin Umum Majalah Republica FISIP Unila. Selanjutnya, pada tahun 1995—1998, ia diangkat menjadi pemimpin majalah Ijtihad. Pengalaman berorganisasi Zulkarnain Zubairi yang terakhir adalah menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung. Organisasi ini digelutinya sejak tahun 2001 sampai sekarang.
Profesi Zulkarnain sebagai wartawan ini membuat ia sangat dekat dengan dunia tulis-menulis. Zulkarnain berpendapat bahwa profesinya sebagai seorang wartawan menghambatnya menjadi sastrawan yang sebenarnya karena ketika ia menulis sebagai seorang wartawan tulisannya haruslah sangat cair dan jelas. Hal tersebut sangat bertolak belakang ketika ia menulis untuk menghasilkan sebuah karya sastra. Tokoh wartawan sekaligus sastrawan dan intelektual yang dikaguminya adalah Mochtar Lubis, Goenawan Mohammad, Hamka, dan Adinegoro.
Karya sastra yang baik menurut Zulkarnain Zubairi adalah karya yang mengandung nilai-nilai kejujuran, kearifan, kebenaran keterbukaan, kebebasan, keadilan, dan demokrasi. Tulisan Zulkarnain Zubairi banyak menyuarakan tentang asalnya, Lampung. Ia berpendapat bahwa Lampung adalah lahan yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra. Akan tetapi, potensi tersebut tidak diikuti dengan perkembangan pemikiran kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan.
Ditambahkan pula, untuk melihat kualitas karya sastra, Zulkarnain mempunyai tiga hal. Pertama adalah isi karya sastra tersebut. Karya sastra dapat dianggap menarik jika memuat kisah/gagasan yang baru atau asli. Kedua, keteraturan memakai kaidah tata bahasa, kosa kata, dan ejaan. Ketiga, pemaparan atau sistematika dalam penceritaan.
Kumpulan Puisi dwibahasa Lampung-Indonesia berjudul Momentum (Dinas Pendidikan Lampung, 2002) memuat 25 puisi Zulkarnain Zubairi. Sebagian merupakan refleksi dari perjalanan kehidupan Zulkarnain Zubairi dan sebagian lainnya merupakan kejadian atau hal yang menyentuh emosi dan perasaannya. Judul Momentum itu sendiri adalah semacam tekad untuk berbuat sesuatu yang bermakna dalam perjalanan hidupnya.
Selain menulis puisi, Udo Z. Karzi juga kerap menulis esai. Bagi Zulkarnain, esai adalah bentuk tulisan yang yang masuk akal, rasional, dan argumentatif walaupun terkadang bersifat subyektif. Oleh sebab itu, dalam menulis esai ia berusaha menonjolkan ke”aku”annya dalam menyampaikan suatu gagasan dari sebuah fenomena.
Zulkarnain Zubairi menaruh perhatian besar terhadap perkembangan sastra etnik Lampung. Menurut Zulkarnain Zubairi, tidak ada perkembangan yang berarti pada sastra etnik Lampung, padahal sastra Lampung sebenarnya berpotensi untuk tumbuh dan menjadi besar. Keprihatinan dan kepedulian Zulkarnain Zubairi terhadap sastra Lampung ia tuangkan dalam tulisannya “Sastra (Berbahasa) Lampung, dari Kelisanan ke Keberaksaraan”.
Dalam melahirkan karya sastra Zulkarnain Zubairi tidak pernah menggunakan nama aslinya. Ia menggunakan banyak nama samaran dalam berkarya, yaitu Joel K. Enairy, Kantek Joel Kz, Yuli Karnaty, Mamak Kenut, Z. Karzi, dan terakhir Udo Z. Karzi. Karya-karya Zulkarnain Zubairi tersebar di berbagai media massa, seperti surat kabar mahasiswa Teknokra, majalah Republica, tabloid Raden Intan, harian Lampung Post, Trans Sumatera, Tamtama (sekarang Lampung Ekspress), Sumatera Post. Merdeka, Pelita, Suara Karya, Simponi, Swadesi, dan Sahabat Pena.
Selain dimuat dalam berbagai media massa, karya-karya Zulkarnain Zubairi juga memperoleh beberapa penghargaan. Berikut ini beberapa karya dan penghargaan terhadap karya-karya Zulkarnain Zubairi:
1. Puisi “Bagaimana Mungkin Aku Lupa” menjadi Juara II Lomba Menulis Puisi Naratif Festival Krakatau IX tahun 1999;
2. Kumpulan puisi dwibahasa Lampung-Indonesia: Momentum terbitan Dinas Pendidikan Lampung tahun 2003;
3. Puisi “Damba’ dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;
4. Puisi “Bebas” dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;
5. Puisi “Jalan yang Terbentang” dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;
6. Puisi “Di Masjid” dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;
7. lampung Kenangan dalam Krakatau Award 2002 terbitan Dewan Kesenian Lampung tahun 2002;
8. Konser Ujung Pulau terbitan Dewan Kesenian Lampung tahun 2003,
9. Pertemuan Dua Arus terbitan Jung Foundatin tahun 2004;
10. Maha Duka Aceh terbitan PDS H.B. Jassin tahun 2005;
11. Cerpen ‘Aing” dan “Lari” termuat dalam Sapardi Djoko Damono dkk. (Ed.) Graffiti Imaji (YMS, tahun 2002);
12. Cerpen “Harga Diri” dalam surat kabar Teknokra tahun 2000;
13. Cerpen “Tumi Pergi ke Kota” dalam Trans Sumatera tahun 2000;
14. Esai “Begitulah Cinta” dalam Etos Kita : Moralitas Kaum Intelektual tahun 2003;
15. Esai “Tradisi Lisan Lampung yang Terlupakan” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
16. “Hujan Sastra (sastrawan) Lampung Memang Tidak Merata” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
17. “Sastra (Berbahasa) Lampung, dari kelisanan ke Keberaksaraan” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
18. “Tradisi Dipuja, Tradisi Digugat” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
19. “Sastra Modern (Berbahasa) Lampung, dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
20. “Suatu Senja Sebuah Pekon Sedendang Dadi” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
21. “Anak-Anak Muda Semakin Jauh dari Tradisi” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
22. “Sastra Lisan Dadi” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005,
23. “Nggak Gaul Kalau Enggak bisa Nyuara” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;
24. “Kecintaan pada Seni Tradisi Terpupuk sejak Lama” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005.

Y. Wibowo

Y.Wibowo lahir di Lampung. 03 Desember 1974. Putra kelima dari tujuh bersaudara pasangan Nandar Lasono dan Lasmiyati ini sejak kecil oleh orang tuanya dipanggil dengan nama Bowo. Meski lahir di Lampung, sesungguhnya Y. Wibowo ini adalah keturunan jawa, tak heran dalam keseharian sering menggunakan bahasa Jawa untuk percakapan kesehariannya. Ia sendiri mengakui kesulitan untuk berbicara dengan bahasa Lampung karena sejak kecil sudah terbiasa berbahasa Jawa dalam keluarga.
Ayahnya seorang PNS pada Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kecamatan Tanjungbintang. Orang tuanya selalu mendambakan anak-anaknya termasuk Y. Wibowo untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dibandingkan orang tuanya.
Untuk itu, telah dibuktikan oleh Bowo pada tahun 1987 lulus SD Negeri 2 Karanganyar, tahun 1990 lulus SMP Negeri 2 Kedaton Bandarlampung, dan tahun 1990 lulus SMA Surya Dharma jurusan Fisika. Sejak tahun 1994 hijrah ke kota Jogjakarta untuk menuntut ilmu di bangku fakultas teknik jurusan teknik arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan menyelesaikan studinya pada tahun 2003.
Saat merantau di Yogjakarta, Y. Wibowo merasakan betul bagaimana jauh dari orang tua. Kondisi itu justru membuatnya lebih kreatif untuk berusaha berinteraksi dalam dunia kemahasiswaan demi mempertahankan status kemahasiswaannya. Ditambah lagi karena Bowo beretnis jawa, itu memudahkan ia untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang sekitar.
Saat di Yogja itulah, Bowo mengapresiasikan dirinya dalam dunia sastra, salah satunya dengan mengirimkan karya-karyanya ke berbagai koran yang ada di kota pelajar itu. Yogyakarta sepertinya benar-benar menjadi titik awal Bowo mengenal seni, tidak hanya mengirimkan karya-karyanya ke berbagai koran yang ada di Yogja, tetapi kegiatan seperti Lomba Penulisan Puisi dalam Festival Kesenian Yogjakarta tahun 1996 dan Pertemuan Penyair Yogja—Singapura. Bahkan, pengalaman bersastranya semakin dewasa setelah pulang kampung, terutama aktif dalam banyak kegiatan bidang sastra seperti pembacaan puisi keliling, bedah buku, dan diskusi-diskusi.
Selama tinggal di Yogyakarta Y. Wibowo pernah bekerja di Penerbitan dan Kajian di Centre for Social Democratic Studies, konsultan arsitektur pada Pusat Studi Arsitektur Yogyakarta, dan konsultan pada CV. Yudha Karya Cipta Konsultan. Saat ini, ia bekerja di penerbitan Mata Kata, Bandarlampung.
Pengalaman bersastra Pengagum Pramoedya Ananta Toer ini semakin matang saat ia kembali ke tanah kelahirannya. Menurutnya, eforia kesastraan yang terjadi di Lampung jauh dari dugaannya. Komunitas-komunitas sastra tumbuh subur dari segi kuantitas dibandingkan ketika dia pergi ke Yogja.
Ada yang menarik dalam nama Y. Wibowo. Inisial Y yang selalu melekat pada nama diri sering menjadi teka-teki bagi penikmat karya-karya sastranya. Berusaha menyembunyikan identitas memang disengaja karena popularitas bukan tujuan hidupnya. Prinsip hidup yang selalu dipegangnya adalah sekali berarti setelah itu mati. Karena hidupnya saat ini belum begitu berarti maka saat ini juga ia belum berkeinginan untuk mati.
Sebenarnya inisial Y itu adalah Yatno, setelah tahu inisial itu orang akan berpandangan begitu kentalnya nuansa kejawaan pada dirinya. Padahal ia mencoba untuk tidak membawa wacana kesukuan dan menghindari dari egoisme etnis tertentu.
Penulis yang bercita-cita menjadi arsitek ini sejak awal sudah terjun di dunia sastra. Menurutnya, menyelesaikan tulisan baik itu prosa dan puisi merupakan tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Bahkan karena terlalu asyik dalam dunia tulis-menulis, sampai sekarang cita-citanya untuk menjadi seorang arsitektur profesional belum terlaksana.
Jerih payah Y. Wibowo dalam bersastra membuahkan hasil, puisinya yang berjudul “Narasi Dari Pesisir” pada tahun 2004 ia menjadi pemenang pertama anugerah Krakatau Award.
Berikut karya-karya Y.Wibowo Pengakuan Pariyem; Perempuan Tak Perlu “Make up” (Bernas, 2002), Kronika Buku (terbit dalam dua edisi bersambung dalam Lampung Post, Oktober 2007), Names (The Jakarta Post, 2006), Ihwal Glokalisasi (Lampung Post, 2006), Momentum Keberpihakan (Radar Lampung, September 2007).
Karya-karya puisinya sering juga menghiasi koran-koran nasional seperti; Memedi Sawah I, Memedi Sawah II (Kompas, 20 Agustus 2006), Pugung Raharjo, dan Jejak Hujan Kota Karang (Media Indonesia, 2 Januari 2005).
Karya-karya manuskrip puisi yang telah ia hasilkan diantaranya; Ziarah Angin, Mei matahari, dan Opera Kebun Lada. Tidak ketinggalan pula karya prosanya; Orang-Orang ladang kabut, Sejarah, Angin, dan Jejak juga sudah dibuat dalam bentuk manuskrip.

Wawaghahan (Warahan)

Wawaghahan (Warahan), yaitu cerita berirama. Ciri-ciri wawaghahan terlihat pada irama yang menyertai cerita tersebut, dan sifatnya liris (dipengaruhi pribadi dan emosi si pembawa cerita).
Istilah Wawaghahan dikenal di Lampung Barat, sering kita dengar dari pembawa cerita (prosa) berirama, biasanya dibawakan oleh seorang nenek untuk cucu-cucunya, dengan irama sedemikian rupa, menaik dan menurun, menimbulkan kesan tertentu. Si pendengar akan terhanyut oleh irama yang mengiringi cerita yang disampaikan itu.
Prosa berirama yang berasal dari daerah Liwa, misalnya, Si Cambai, Lindung Cumuk (= Belut Tercelup), dll.
Warahan biasanya dilakukan pada saat sedang bekerja, seperti memetik cengkih atau menuai padi. Pada zaman dahulu, warahan dibawakan oleh orangtua ataupun kakek nenek dengan dikelilingi anak cucunya. Cerita rakyat berbentuk warahan ini, antara lain Radin Jambat, Anak Dalom, dan Sanghakhuk.
Isi wawaghahan bersifat mendidik, menyadarkan semua orang agar berbuat baik, karena siapapun orangnya jika berbuat baik akan memperoleh ganjaran setimpal.
Warahan terdapat dalam berbagai bentuk, antara lain dongeng, hikayat, epos, mitos.

Kisah Danau Ranau dan Sebuah Nama Ranau
Danau Ranau dan Sebuah Nama Ranau adalah salah satu bentuk dongeng dalam cerita rakyat Lampung yang sangat banyak, dongeng ada yang berbentuk legenda adapula yang berbentuk fabel. Kisah-kisah yang berbentuk legenda, antara lain Kisah Putri Petani yang Cerdik, Betung Sengawan, Incang-Incang Anak Kemang, Si Bungsu Tujuh Bersaudara, dan Berdirinya Keratuan Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih.
Sedangkan dongeng yang berbentuk fabel, antara lain Dongeng Puyuh dan Kerbau dan Dongeng Merak dan Gagak.

Kisah Buay Selagai
Kisah Buay Selagai adalah cerita rakyat Lampung yang berbentuk hikayat, adapun kisah-kisah lainnya yang berbentuk hikayat, yaitu Kisah Si Raden dan si Batin, Si Luluk, Sekh Dapur, Sidang Belawan, dan Abdul Muluk Raja Hasbanan.



Radin Intan
Radin Intan adalah cerita rakyat Lampung yang berbentuk epos. Epos diyakini memiliki dasar cerita yang bersifat realita. Isinya menyangkut suatu peristiwa kepahlawanan yang benar-benar terjadi atau diyakini sebagai kebenaran yang pernah berlangsung di masa silam.
Epos yang terkenal dalam cerita rakyat Lampung adalah cerita kepahlawanan Radin Intan. Kisah ini diyakini nyata dan terdapat keturunan Radin Intan yang hidup sampai saat ini.

Cerita Si Pahit Lidah
Cerita Si Pahit Lidah adalah asalah jenis cerita rakyat Lampung yang berbentuk mitos. Mitos biasanya dihubungkan dengan cerita mengenai peristiwa gaib, kepercayaan masyarakat yang bersifat takhayul ataupun cerita mengenai kehidupan dewa-dewa.
Kisah seperti ini ada dalam cerita rakyat suku Lampung, yaitu kisah Sukhai Cambai, Cerita Anak dalom, dan Raksasa Dua Bersaudara.

Teater Satu

Teater Satu merupakan salah satu teater yang sampai saat ini kiprahnya terus menanjak, baik di Lampung maupun di Indonesia secara luas. Sesuai dengan misinya, yaitu melaksanakan program-program kesenian, kebudayaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan yang dapat menginspirasi masyarakat untuk meraih nilai-nilai yang dapat mendorong terjadinya perubahan hidup ke arah yang lebih baik, Teater Satu terus berkarya untuk menampilkan kreasi terbaik mereka untuk dipersembahkan kepada masyarakat.
Kini, teater yang didirikan oleh Iswadi Pratama pada 18 oktober 1996 telah mementaskan lebih dari lima puluh naskah drama. Naskah tersebut merupakan karya beberapa penulis terkenal seperti Samuel Beckett, Anton Chekov, Nano Riantiarno, Jean Jeanet, Arifin C. Noer, Atur S. Nalan, dan Iswadi Pratama.
Iswadi Pratama, penggagas sekaligus pemimpin Teater Satu, awal mulanya bergabung dalam Teater Kurusetra. Teater Kurusetra muncul pada tahun 1992 yang dikomandoi oleh Iswadi Pratama, Panji Utama, Ahmad Yulden Erwin, dan Riffian Chevy. Sementara aktivis Teater Kurusetra, Ari Pahala Hutabarat lebih banyak beraktivitas di Komunitas Berkat Yakin (Kober). Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1994, ketiga penggiat Teater Kurusetra, yakni Iswadi Pratama, Panji Utama, dan Ahmad Julden Erwin keluar. Iswadi dan Panji kemudian membuat grup teater sendiri bernama Forum Sementara. Riffian Chevy, Novi Balga, dan Ari Pahala Hutabarat tetap bertahan di Teater Kurusetra. Perkembangan selanjutnya, Forum Semesta yang diusung Panji dan Iswadi pecah. Iswadi kemudian membuat Teater Satu dan Panji Utama tetap di Forum Semesta. Para alumni Kurusetra Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila yang ingin tetap bergiat di teater kemudian membentuk Komunitas Berkat Yakin (Kober) yang tetap aktif hingga kini. (“Temu Teater tak Sekadar Adu Bakat” Lampung Post. Selasa, 27 Desember 2005).
Dalam sebuah karyanya, Teater Satu lewat lakon “Nostalgia Sebuah Kota, Kenangan tentang Tanjungkarang”, tidak lagi mengedepankan cerita, melainkan potongan dan lintasan narasi personal serta tidak mementingkan kelengkapan tipikal sebuah lakon seperti plot, karakter, struktur dramatik“ Nostalgia Sebuah Kota: Kenangan tentang Tanjungkarang” yang dipentaskan di Teater Tertutup Taman Budaya Lampung pada 14 dan 15 Agustus 2004. Kolaborasi dari sejumlah karya seni pertunjukan: tari, pantomin, teater, sastra, dan sastra lisan Lampung. Sembilan pemain di atas pentas, tanpa tokoh sentral, bertindak sebagai medium yang menyuguhkan lintasan-lintasan narasi personal, fragmen, Visual, dan impresi-impresi konflik yang secara sadar tidak dibikin tuntas. Semua dikemas dalam bahasa romantik yang dipertegas dengan teks-teks puisi yang sangat imajinatif. Dapat dikatakan, itulah letak kekuatan lakon yang hampir setiap adegannya bersandar pada kekuatan bahasa puisi, diperkaya lagi dengan gerak dinamis para pemain yang kadang mengentak dan sering lembut serta puitis. Dalam pementasan ini, seluruh energi Teater Satu berpadu hingga menghasilkan sebuah karya yang pantas dicatat. Sebagai sebuah peristiwa teater, bisa dikatakan inilah garapan terbaru dalam dunia teater di Lampung. Naskah-naskah yang telah ditampilkan oleh Teater Satu mendapatkan sambutan yang baik dari para penikmat teater.
Berbagai tanggapan pun muncul berkaitan dengan pementasan yang mereka lakukan. Dalam pementasannya, Teater Satu memiliki trik dan cara sendiri dalam memikat penontonnya. Dalam berbagai pertunjukan, mereka seringkali menyisipkan unsur tradisi. Melalui Teater Satu, masyarakat, khususnya penikmat teater, menjadi terbiasa mendengarkan syair-syair yang berakar dari syair sastra lisan Lampung. Misalnya saja dalam naskah “Aruk Gugat” yang dipentaskan atas permintaan Bank Dunia. Dalam lakon “Aruk Gugat”, penonton akan diperkenalkan pada warahan, yaitu cerita atau dongeng yang biasanya disampaikan untuk hiburan bagi anak-anak maupun dalam hajatan dari sebuah undangan. Naskah-naskah drama seperti inilah—mengandung unsur tradisi dan secara tidak langsung menawarkan budayanya sendiri— yang tentunya memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri.
Bagi para penikmat sastra, terutama teater, tentunya mudah menyerap pesan-pesan moral yang ingin ditampilkan dalam sebuah pertunjukan teater. Kritikan-kritikan dan pesan moral yang disampaikan oleh Teater Satu misalnya. Bagi para penikmat teater, kemasan dialog dan peran yang disampaikan secara santun oleh Teater Satu merupakan alasan tersendiri bagi mereka untuk terus mengapresiasi karya-karya yang dipentaskan oleh Teater Satu. Hal ini tentunya tak pernah lepas dari naskah-naskah yang mereka pilih untuk dipentaskan.
Beberapa naskah yang pernah ditampilkan oleh Teater Satu memiliki unsur intrinsik yang dominan. Salah satunya dalam lakon monolog “Perempuan Pilihan” karya Iswadi Pratama, terlihat sekali kekuatan watak tokoh-tokoh yang diceritakan dalam monolog tersebut. Secara psikologis, emosi tokoh yang bercerita dan diceritakan dalam monolog tersebut sangat bervariasi dan sangat menonjol. Jika ditinjau secara psikologis, naskah “Perempuan Pilihan” merupakan karya yang tepat untuk dijadikan objek.
Selain itu, para pemain dan tim artistik sebuah teater juga memiliki peranan yang sangat vital dalam kesuksesan sebuah pertunjukan. Mereka menjadi kunci keberhasilan sebuah naskah dapat diterima dan diapresiasi dengan baik.
Pentas 3 kali berturut-turut. Drama tragedi komedi Waiting For Godot oleh Teater Satu Bandarlampug Februari silam menunjukan besarnya minat teater lokal, ini untuk menguak keunikan naskah drama itu. Sebelum ke Jakarta, Teater Satu mementaskan drama ini di depan publik Lampung kalipertama di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Lampung (03/02), Taman Budaya Lampung (05/02) dan terakhir di Teater Utan Kayu/ TUK Jakarta (8-9)
Oleh Teater Satu, terhitung sudah dua tahun karya ini coba dipentaskan. Namun, kesulitan menginterpretasikan absurditas esensi seni malah dijadikan ide dasar pengangkatannya. Ditambah lagi tingkat kesulitan peran ditawarkan kepada para pemain cukup menggiurkan. Ini terbukti dari empat tokoh kinci dalam Waiting For Godot dimainkan oleh kru Teate Satu yang terhitung ‘tua’. Vladimir oleh Maulana Suryaning Widi, Estragon oleh Roby Akbar. Budi sebagai Pozzo, Djonet sebagai Lucky dan Dani sebagai bocah. Teater Satu, mungkin satu dari sekian ratus teater di dunia yang telah memainkan peran orang dalam novel karya Samuel Becket ini. Samuel, seorang berdarah Irlandia yang lahir pada 1906 mulai membuat dunia berdecak kagum, ketika pesan yang disuguhkan dalam novelnya membawa pencerahan dinding konvensional sastra abad itu. Novel Waiting For Godot abad itu berjudul asli En attendant godot.
Berikut beberapa prestasi dan karya yang pernah di pentaskan dan di publikasikan.

1. Penelitian
1) Penelitian Teater Rakyat Lampung: Warahan.
2) Penelitian Sastra Lisan Lampung bersama Tim Smith, peneliti dari Amerika. Menghasilkan dokumentasi berupa kaset, transkrip, dan VCD.
3) Penelitian: Peranan dan Pengaruh Teater dalam membangun dan membentuk Mentalitas dan Orientasi Nilai di kalangan pelajar. Menghasilkan sebuah kumpulan catatan dan artikel (belum disusun menjadi buku).
4) Penelitian tantang sejarah dan perkembangan seni topeng (Sekura) Lampung.

2. Kerjasama dan Apresiasi
1) Kerjasama dengan USAID (United States of America for International Development); menyosialisasikan program Rekonsiliasi Etnis dan Pencegahan Konflik Etnis di Lampung melalui media Teater Rakyat Tahun 1999—2000.
2) Kerjasama dengan The Ford Foundation, melaksanakan program
Sanggar Sastra Siswa di 10 SMU di Bandar Lampung, tahun 2001.
3) Kerjasama dengan The Ford Foundation dan Teater Utan Kayu
(TUK) Jakarta melaksanakan program jaringan seni-budaya di Sumatera, tahun 2002—2003.
4) Kerjasama dengan Masyarakat Uni Eropa, melaksanakan program
mensosialisasi pemeliharaan sumber-sumber air dan pemeliharaan hutan melalaui media teater, tahun 2004.
5) Kerjasama dengan Taman Budaya Lampung, melaksanakan program
apresiasi seni sastra dan teater di kalangan pelajar di Lampung. Tahun
1996, 1998, 1999, dan tahun 2000.
6) Kerjasama dengan Dewan Kesenian Lampung, melaksanakan program
diskusi dan pelatihan seni sastra dan teater. Tahun 1999—2001.
7) Kerjasama dengan Watala (Keluarga Pencinta Alam) lampung
melaksanakan program penyuluhan pemeliharaan hutan kawasan melalui pementasan teater. Tahun 2000.
8) Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Lampung, melaksanakan
program pembinaan dan pelatihan seni di kalangan pelajar.1997-1998.
9) Kerjasama dengan Yayasan Kantata Bangsa, pimpinan Setiawan Djody
melaksanakan program pementasan Perduli Sampit, tahun 2001.
10) Kerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung
melaksanakan program diskusi/seminar kebudayaan dan politik. Tahun
1998, 1999, 2000.
11) Kerjasama dengan Komite Anti Korupsi (KOAK) Lampung,
melaksanakan program penyuluhan tindak pidana korupsi melalui
media teater.
12) Kerjasama dengan Pemda Tk. I Lampung, melaksanakan program Anti
Madat, di kalangan remaja dan pelajar. Tahun 1997.
13) Kerjasama dengan Yayasan Kelola, Solo. Memgikuti program pelatihan manajemen dan pentas keliling di kota-kota besar di Indonesia. Tahun 2001 dan 20004
14) Kerjasama dengan Taman Budaya Lampung, melaksanakan program
Festival Teater Pelajar Lampung, tahun 2000, 20002, dan 2004

3. Program Pementasan
1) Pentas Monolog Prita Isteri Kita karya Arifin C. Noor, Taman Budaya Lampung (1996).
2) Pementasan lakon Lysistrata karya Aristophanes, tahun 1997.
3) Pementasan lakon Kapai-Kapai karya Arifin C. Noor, Taman BudayaLampung. Tahun 1998.
4) Pementasan Lakon Jerit Tangis Malam Buta karya Rolf Lauckenr, tahun 1998.
5) Pentas Keliling Sandiwara Rakyat lampung di 50 desa dan kota di Lampung.
6) Pementasan lakon Umang-Umang karya Arifin C. Noor, Taman Budaya Lampung. Tahun 1999 dan tahun 2000.
7) Pementasan lakon Menunggu Godot (Samuel Beckett) Taman Budaya Lampung dan Taman Budaya Jambi tahun 2000, Gedung BKK UNILA, Teater Utan Kayu Jakarta tahun 2002, Pementasan Keliling (Solo,Yogyakarta, Bandung dan Tasikmalaya) Hibah Seni 2002 Yayasan Kelola
8) Pementasan lakon Antigone karya Jean Anouilh , di Taman Budaya Lampung, Padang. Tahun 2002.
9) Pementasan lakon Penagih Hutang karya Anton Chekov , dibeberapa SMU di Lampung.Tahun 2003.
10) Pementasan lakon Pelayan karya Jean Genet (Perancis), dipentaskan di Taman Budaya Lampung, Padang, Jakarta, dan Solo, tahun 2003.
11) Pementasan lakon Nostalgia sebuah Kota (Kenangan tentang
Tanjungkarang) karya Iswadi Pratama. Di Gedung Kesenian Jakarta dalam Festival Teater Alternatif Gedung Kesenian Jakarta 2003.
Teater Utan Kayu Jakarta(2004), Bandung, Jakarta, dan Makassar bekerjasama dengan Yayasan Kelola (Hibah Seni Yayasan Kelola 2004).
12) “Perempuan Pilihan” The Chosen Women (Iswadi Pratama).
13) Umang-umang (Arifin C Noer) teater kecil Taman Ismail Marzuki 27 Mei 2005.
14) Aruk Gugat (Iswadi Pratama), DSF Office Jakarta 25 Januari 2006.
15) “Nyai Ontosoroh”, adaptasi dari novel Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer) di Taman Budaya Lampung April 2007.

Sagata

Sagata dalam kehidupan masyarakat Lampung berfungsi sebagai (1) media pengungkapan isi hati kepada seseorang (dari si bujang kepada si gadis atau sebaliknya); (2) alat penghibur atau penghilang kejenuhan pada suasana bersantai; (3) pelengkap acara cangget.
Istilah sagata dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Pesisir dan ada pula yang menggunakan istilah adi-adi. Istilah pattun dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Abung, Menggala, Pubian, Sungkai, Way kanan, dan Melinting.
Sagata yaitu sastra Lampung yang berbentuk puisi yang tiap baitnya terdiri dari 4 (empat) baris, dan memiliki sajak akhir a-b-a-b.
Ditinjau dari isinya Sagata ada 5 (lima) macam yaitu:
1. Sagata Ngababang (Puisi/Pantun mengasuh anak)
2. Sagata Buhaga (Puisi/Pantun Percintaan)
3. Sagata Nangguh (Salam dalam awal atau akhir kegiatan)
4. Sagata Lalagaan (Sagata berolok-olok), biasanya pada pesta
5. Sagata Nyindegh (Menyindir)

Sutjipto

Sutjipto dapat dikatakan sebagai sastrawan Lampung yang cukup produktif dalam berkarya. Karya-karyanya, selain menulis puisi dan novel, juga menulis esai, kritik, dan artikel sastra lainnya yang tersebar di berbagai media daerah dan nasional: Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Kompas, Lampung Post, Media Indonesia, Radar Lampung, Republika, Trans Sumatera, dan Tempo. Hingga kini, Sutjipto masih tetap aktif menulis di berbagai media massa.
Sebagai sastrawan periode 1970—2000 yang lahir di desa Gondosari, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada tanggal 16 Mei 1954, latar kehidupan keluarga orang tuanya—seorang pendidik dengan karakter khas sedikit otoriter—secara tidak langsung membawa kehidupan Sutjipto dalam lingkup edukatif yang kental.
Perjalanan kepengarangannya baru dimulai semenjak duduk di perguruan tinggi. Proses kepengarangan di mulai dari tekanan ekonomi yang tidak mampu membawanya pada perubahan signifikan. Tahun 1976 merupakan titik awal proses kreatif menulis. Semua artikel yang dihasilkannya mulai dikirim ke berbagai media surat kabar Jawa Tengah, tulisan demi tulisan yang berkembang berikutnya dapat diterima dan di muat di berbagai media.
Kebiasaan menulis artikel itu terus dilakukan dan dikembangkan di Lampung. Karena kreatifitas penulisan di surat kabar inilah namanya mulai dikenal. Terlebih ketika salah satu penerbit di Jakarta (PT Erlangga) menawarkan agar penulis mencoba menulis buku pelajaran. Hasilnya, sempat meledak di pasar pada saat kurikulum 1994.
Kehadiran karya-karya Sutjipto secara tidak langsung memengaruhi perkembangan sastra Lampung—dialah satu-satunya sastrawan Lampung yang tetap konsisten berkarya dengan tema lingkungan alam Lampung—kontribusinya dalam memedulikan lingkungan dan pelestarian alam Lampung yang sangat berguna sebagai tambahan dalam khasanah kepustakaan dan kesusastraan.
Tidak hanya itu, sebagai penulis sastra, dia juga berkiprah sebagai pengawas di lingkungan Depertemen Pendidikan Nasional Lampung, Sutjipto cukup lama berkecimpung di SMUN 3 Bandarlampung untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu Sutjipto juga pernah mengundang sastrawan Lampung dan Jakarta untuk memberikan apresiasi di SMUN 3, mendatangkan penyair Taufik Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri. Tahun 1978, penulis hijrah ke Lampung bersamaan dengan pengangkatannya sebagai PNS. Pertama bertugas ditempatkan di SMAN 2, kemudian SMAN 3.

1. Karya-karya Sastra:
1. Belantara Kehilangan Nyawa, Kumpulan puisi tunggal, Depdikbud, 1998.
2. Memetik Puisi dari Udara, Editor Antologi Puisi
3. Belantaraku Kehilangan Nyawa, Antologi Puisi.
4. Krakatau Merindukan Gelombang Cinta Kita, Penerbit Hidayat, Yogyakarta, 2001.
5. Buku Harian Sugeng Menembus Batas Matahari Kita, Penerbit Hidayat, Yogyakarta, 2001.
6. Hilangnya Bibir Anak Pak Rustam kumpulan cerpen, 1999.




2. Karya-karya dalam bentuk pembelajaran:
1. Mari Berbahasa Indonesia, SLTP, Erlangga Jakarta: 1994,
2. Mari Berbahasa Indonesia, SMU, Erlangga, Jakarta, 1994,
3. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMU, Yudhistira, Jakarta.

Syaiful Irba Tanpaka

Tanggal 9 Desember 1961 adalah hari yang bahagia bagi pasangan Sidi Zainuddin dan Sa’ah, karena pada hari itu mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Syaiful Irba Tanpaka di klinik Bersalin Santa Anna Bandarlampung. Syaiful adalah anak keenam dari enam bersaudara. Walaupun Syaiful lahir dan besar di Lampung, tapi sesungguhnya beliau bukan keturunan asli Lampung, ayah Syaiful berasal dari Sumatera Barat dan Ibu berasal dari Banten.
Pendidikan Syaiful dari SD hingga SMA di habiskan di Lampung. Saat kecil, Syaiful bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Kupangkota, selepas SD, ia melanjutkan ke SMP Pelita Telukbetung, tahun 1981 Syaiful lulus dari SMP dan melanjutkan ke SMA PGRI di Tanjungkarang. Kegiatan bersastra Syaiful dimulai dari dia duduk di bangku SMP, saat itu ia mengelola Majalah Dinding (Mading) yang ada di sekolahnya dan ia juga bergabung dengan Sanggar Ragam Budaya, saat itulah Syaiful mulai mengasah bakat seninya dengan serius. Setelah lulus SMA, Syaiful Irba Tanpaka melanjutkan ke Unversitas Muhammadiyah Lampung, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tetapi kerena ketidak cocokannya ia dengan ilmu tersebut, akhirnya pada semester empat ia berhenti kuliah, dan lebih memilih mengabdikan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil.
Awal mula Syaiful menjadi PNS, Ia ditugaskan di Kantor Mawil Pertahanan Sipil daerah Tingkat II Lampung Selatan, hingga tahun 2003. Di sela-sela kesibukannya menjadi PNS, Syaiful masih sempat meluangkan waktunya untuk paduli pada seni dan budaya Lampung. Dewan Kesenian Lampung adalah tempat dimana Syaiful mengabdikan diri pada seni. Totalitas pada seni dan budaya, ditunjukan oleh Syaiful dengan pernah beberapa kali menjabat sebagai sekertaris dan pernah juga menjadi Ketua Harian. Totalitas seni dan aktivitasnya menjadi PNS memang tidak bias dipisahkan, saat ini ia bertugas di Subbidang Seni dan Budaya Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. Selain Ia sibuk di DKL, Syaiful juga mengasuh Komunitas Anak di Kisah Teater Bocah. Walau tidak terlalu terkenal, beberapa kali komunitas itu sering melakukan pementasan teater.
Aktivitas seni Syaiful dimulai pada tahun 1976, ketika itu ia bergabung dengan Sanggar Budaya Lampung. Saat itu Syaiful ikut mementaskan “Tenggelamnya kapal Van Der Wijk” karya Buya Hamka yang disutradarai oleh M.Z. Simatupang, ia pernah juga mendukung pementasan “Krikil” bersama Sanggar Ragam Budaya, dan masih banyak lagi pementasan yang saat itu dilakukan olehnya. Syaiful Irba Tanpaka baru menulis puisi pada tahun 1981, di Sanggar itulah Syaiful memupuk kecintaannya pada seni, khususnya sastra.
Bermodal mesin tik yang dipinjamkan Isbedy, Syaiful mulai mencari ide tulisan, berjam-jam dihabiskan olehnya hanya untuk menciptakan sebuah puisi, tak kenal rasa lelah, dan rasa kantuk yang semakin menyerang ia tetap termotivasi untuk menciptakan puisi. Puisi “Koral Biru”, adalah puisi pertama Syaiful yang menghantarkan dirinya menjadi sastrawan. Puisi yang dibuat pada tahun 1981, di kamar Isbedy Stiawan ZS, saat itu Isbedy telah menjadi sastrawan yang terkenal, dan karya-karyanya banyak dibicarakan. Isbedy yang saat itu melihat bakat Syaiful yang begitu besar dalam menulis puisi, kemudian mengirimkan puisi “Koral Biru” ke surat kabar Swadesi. Tanggal 12 Mei 1981 adalah hari yang berarti dalam perjalanan Syaiful menjadi sastrawan, tepat pada tanggal itu puisi “Koral Biru” dimuat.
Setelah puisi Syaiful yang pertama dimuat di surat kabar, teman-temannya, Isbedy Stiawan ZS, A.M. Zulqarnain, dan Muhammad Rich berlomba-lomba mengirimkan karya-karya mereka ke berbagai media massa. Tantangan untuk membayar uang tanda kalah, jika karya salah satu dari mereka tidak dimuat, menjadi motivasi dalam diri mereka.
Ketertarikan Syaiful dengan puisi, secara pribadi diawali dengan membaca puisi Piek Ardijanto Soeprijadi dan Djawawi Imron. Piek adalah sastrawan yang berprofesi sebagai guru. Menurut Syaiful puisi-puisi Piek laksana membaca alunan lagu.
Tidak sebatas puisi yang ia tulis, cerpen juga ditulis oleh Syaiful, “Tembok” adalah cerpen yang pertama dimuat pada harian umum Suara Karya Dalam berproses krearif, Syaiful ternyata tidak hanya menulis puisi, cerpen dan esai pun juga banyak dihasilkan oleh Syaiful. Disamping beberapa esai yang Syaiful tulis, ia juga menyempatkan menulis resensi di beberapa surat kabar “Suara dari Negeri Minoritas” Lampung Post 15 September 1996, “Menimbang Sastra feminis” Trans Sumatera 14 Mei 2000,
Sepak terjang Syaiful dalam dunia seni tak berbendung, setelah menulis puisi, cerpen dan esai, Syaiful juga menulis naskah drama dan menyutradarai. “Sang Komandan” adalah drama yang disutradarai oleh Syaiful yang dipentaskan oleh Kelompok Teater Lampung pada tahun 1988.
Produktivitasnya tenyata tidak hanya menuai simpati dari penikmat dan pemerhati sastra yang ada di Lampung. Bersama Isbedy Stiawan ZS, Achmad Rich, Naim Emel Prahana, Sugandi Putra dan Iwan Nurdaya Djafar pada tahun 1987 diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan puisi-puisinya dalam acara Forum Puisi Indonesia ’87 di Taman Ismail Marzuki. Pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutaman, Sumatera Barat tahun 1997, Festival Puisi PPIA Surabaya pada tahun 2002, Kongres Cerita Pendek II di Jimbaran Bali pada tahun 2002, Kongres Kebudayaan di Bukittinggi pada tahun 2003, Kongres Kesenian di Jakarta dan Papua pada tahun 2005.
Berbagai penghargaan pun telah diraih Syaiful dalam perjalanannya menjadi sastrawan. Tahun 1987, ia pernah meraih juara satu Lomba Penulisan Puisi Bentoel’87 yang diselenggarakan oleh PT Radio Suara Bhakti. Tahun 1992, prosa Syaiful yang berjudul “Bandarlampung Suatu Hari dalam Buku Harianku” memenangkan Lomba Mengarang Bumi Kelahiran yang diselengarakan oleh Penerbit Puspa Swara Jakarta. Tahun 1993, ia memenangkan Penulisan Cerita Tradisional, tahun 1995 menjadi nominator Penulisan Puisi Kemerdekaan ANTV, pada tahun 1999 meraih juara satu penulisan esai Desaku Maju Sakai Sembayan Se-Lampung, pada tahun 1999 Syaiful mendapatkan penghargaan atas karyanya dari Depparsenibud (Depertemen Pariwisata Seni dan Budaya) pada malam penghargaan Malam Pesona Budaya, masuk tujuh puisi terbaik “Borobudur Award 1997”, juara IV Lomba Cipta Puisi Krakatau Award I pada tahun 2002, dan masih banyak penghargaan yang ia raih dalam perjalanannya menjadi sastrawan.
Kepenyairan Syaiful Irba Tanpaka, juga tidak luput dari perhatian rekan-rekannya sesama sastrawan. Panji Utama, sastrawan yang tinggal di Bandarlampung dalam Surat Kabar Yudha Minggu Sport dan Fiksi, 11 September 1988. Panji mengkritisi ketidakcermatan Syaiful dalam mempergunakan dan memilih kata, Panji menyayangkan ketidakcermatan Syaiful dalam menggunakan huruf kapital. Menurut Panji, Syaiful seolah ingin menyulap sajaknya yang biasa menjadi karya yang bernilai sufistik dengan menggunakan klitika –Ku dan –Mu yang seharusnya ditulis dengan huruf kecil.
Syaiful Irba Tanpaka juga sering memberikan komentar tentang proses kreatif sastrawan-sastrawan Lampung. Pada harian umum Bandarlampung News No.34 Thn 23—29 Januari 2003, Syaiful memberikan komentar tentang proses kreatif Edy Samudra Kertagama. Menurut Syaiful membaca puisi Edy, pembaca diajak untuk melihat fenomena-fenomena sosial yang ada di negeri ini, tentang tragedi kekerasan, ketidakadilan dan nasib kaum marjinal yang terpinggirkan.
Syaiful Irba Tanpaka juga memberikan komentar tentang ‘Paus Sastra Lampung’ Isbedy Stiawan. Pada harian Simponi, 18 November 1992, Syaiful menanggapi manuskrip Isbedy yang berjudul “Dunia Lipstik”. Menurut Syaiful, Isbedy dalam manuskripnya mengisahkan tentang kegusaran yang memanggang hati nuraninya, sebagai sikap keprihatinan penyair terhadap mengeringnya nilai-nilai kehidupan. Lewat sajak-sajaknya, Isbedy mencoba menyentuh hati nurani yang terdalam.

1. Puisi
1) Nyanyian Tanah Putih “Antologi Puisi Penyair Muda Lampung”
2) Memetik Puisi dari Udara,
3) Jung “Segabung Puisi Penyair Lampung”

2. Cerpen
1) “Tembok”, Suara Karya, Minggu 1 Mei 1983.
2) “Potret Perjalanan Diah”, Lampung Post 13 Juni 1993
3) “Gaun”, Suara Karya, Minggu 30 Oktober 1983.
4) “Sebuah Sisi Pertemuan”, Swadesi, 18 Oktober 1984.
5) “Sandal Jepit”, Lampung Post, Senin 18 November 1984.
6) “Helma”, Lampung Post, Senin 14 Agustus 1989.
7) “Apakah (+) Apakah (-)”, Media Komunikasi, Edisi IV Oktober 1989.
8) “Lelaki di Sebuah Taman”, Lampung Post, Sabtu, 9 Februari 1991.
9) “Dalam Gemilang Takbir”, Lampung Post, Sabtu, 18 Maret 1994.
10) “Rampok”, Lampung Post, 10 maret 1996.
11) “Ritus Buka Tahun”, Lampung Post, 10 Januari 1999.

3. Esai
1) “Kebangkitan Kesenian Lampung” Sumatera Post, 5 Juli 2004.
2) “Cak Nun dan Pencekalan” Lampung Post, 15 Juli 1995.
3) “Amnesia Kota Tapis” Lampung Post, 5 Juli 2004.
4) “Kota Dalam Nuansa Penyair” Lampung Post, 14 April 1993.
5) “Lorong Kekerasan dalam Puisi” Sinar Pagi, 5 Oktober 1999.
6) “Tuan itu Bernama waktu” Lampung Post. 5 Mei 2002.
7) “Kenapa Harus Seni Tradisi” Lampung Post, 18 Januari 2004.
8) “Memotret Sufisme di Tangan Penyair Sebuah Retorika” Berita Buana, 25 Oktober 1988.
9) “Mengenal Sastra Lisan Daerah Lampung” Swadesi, 3 Februari 1991.

Reringget

Reringget merupakan bentuk sastra lisan tertua di Lampung dengan pola persajakan yang statis berbentuk a-b-a-b. Cerita Radin Jambat adalah salah satu contoh puisi yang berbentuk reringget. Cerita ini memiliki pola persajakan yang statis berbentuk a-b-a-b hampir di semua bait.
Istilah reringget dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Abung, Menggala, Marga Sekampung, dan Melinting.

Pisaan

Pisaan adalah sejenis pantun yang terdapat di kalangan masyarakat Lampung Pubian. biasanya dilakukan pada saat melepas keberangkatan seorang gadis menuju rumah suaminya. Istilah pisaan dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Pubian, Sungkai, dan Way Kanan.

Oyos Saroso H.N

Tanggal 16 Maret 1969, atau bertepatan dengan hari Minggu Pon menurut perhitungan Jawa, lahirlah seorang bayi laki-laki di desa Sawit, sebuah desa kecil di Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Bayi laki-laki yang lahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara itu kemudian diberi nama Oyos Saroso H.N.. Penambahan huruf H.N. di belakang namanya bukanlah tanpa arti. Huruf-huruf tersebut merupakan gabungan huruf dari nama kedua orang tuanya, yaitu Hardjo Karsono dan Nuk Sastro Dihardjo.
Lahir di tengah-tengah keluarga yang menjadi abdi negara, Oyos pun diharapkan dapat meneruskan langkah mereka. Ayahnya M.H.K. Hardjo Karsono saat itu adalah seorang lurah di Desa Sawit. Kakak tertuanya, Dachlan H.N., berprofesi pula sebagai lurah di desa kelahirannya. Sudjoko, kakak keduanya, bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sri Suparti H.N., saudara perempuan satu-satunya bekerja sebagai guru negeri di Jawa Tengah. Kakak keempatnya bekerja sebagai petani di desanya. Oleh karena latar belakang keluarga seperti itulah, setelah lulus dari SMPN 2 Brebes, kakak perempuannya memaksa Oyos untuk meneruskan sekolah ke SPG dengan harapan setelah lulus nanti Oyos akan menjadi guru seperti kakak perempuannya itu.
Namun, SPG bukanlah sekolah yang di damba-dambakan oleh Oyos sesungguhnya, karena dia memang tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Saat itu, yang ada di angan remajanya adalah meneruskan sekolah ke SPMA dan berharap dapat menjadi insinyur pertanian. Angannya itu timbul karena seringkali menyaksikan beberapa orang sepupunya yang lulus dari IPB dan sukses sebagai insinyur pertanian. Hal itulah yang menjadikan Oyos sering memimpikan untuk menjadi insinyur pula.
Di luar harapannya untuk menjadi insinyur pertanian, Oyos tidak ingin menentang dan membantah keinginan keluarganya. Oyos akhirnya mengikuti kemauan orang tuanya untuk masuk SPG. Akan tetapi, Oyos tetap tidak dapat membendung keinginannya untuk meneruskan sekolah ke SPMA atau paling tidak ke sekolah umum. Akhirnya Oyos melamar pula ke SMAN 1 Brebes, dengan harapan setelah lulus dari sekolah umum, dia akan melanjutkan ke IPB. Di sekolah ini Oyos dinyatakan lulus dan diterima sebagai siswa SMAN 1 Brebes. Namun nasib berkata lain, Oyos juga diterima di SPG, dan akhirnya tetap mengikuti keinginan kakak perempuan dan orang tuanya. Sejak saat itu, Oyos resmi menjadi siswa SPG.
Menuruti kehendak keluarga bukan berarti pengabdian sepenuhnya bagi Oyos. Meski tidak secara ekstrem, diam-diam Oyos bersikap memberontak, dia mulai menunjukkan rasa tidak sukanya pada dunia keguruan. Ketidaksukaannya itu dilampiaskannya dengan cara menekuni dunia baru, yaitu membaca karya-karya sastra. Untunglah, SPG tempatnya bersekolah memiliki perpustakaan yang besar dan memiliki koleksi buku yang cukup banyak. Hampir setiap hari Oyos menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, dan hampir semua buku sastra yang ada di sana dibacanya sampai tuntas. Melalui kebiasaan barunya ini Oyos mendapatkan kesenangan tersendiri. Diam-diam dia mulai belajar menulis sastra. Salah satu genre sastra yang ditekuninya dengan serius adalah puisi.
Ketika itu usianya masih 16 tahun dan duduk di kelas 2 SPG. Walau tidak ingat betul kapan dia mulai menuangkan keterpukauannya akan sebuah peristiwa atau pengalaman menjadi sebuah tulisan, tetapi secara pasti dia mengingat ketika pada suatu siang yang panas sekitar tahun 1985, inspirasinya menulis puisi muncul saat membaca majalah Sahabat Pena terbitan Kantor Pos dan Giro Bandung. Majalah yang memuat rubrik cerpen dan puisi tersebut diasuh oleh Korrie Layun Rampan dan Alinafiah Lubis. Selain rubrik karya puisi dan cerpen, majalah itu juga memuat ulasan puisi yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan. Akhirnya Oyos memutuskan untuk berlangganan majalah itu dengan menu bacaan yang tak pernah dilewatkannya yaitu, ulasan puisi Korrie Layun Rampan yang sederhana dan tentu saja mudah dipahami. Inilah yang menjadi awal ketertarikannya pada puisi dan memacu Oyos untuk mulai belajar menulis puisi. Kepercayaan diri Oyos semakin besar dengan dimuatnya puisi pertamanya – Oyos Kere Namaku! (1986) – di Sahabat Pena dan sejak itu dia semakin tekun menulis puisi dan mengirimkannya ke berbagai media massa. Semenjak itu pula nama Oyos pun semakin dikenal dalam dunia sastra nusantara.
“Oyos Kere Namaku!” adalah puisi pertama Oyos yang dikirimkannya ke media cetak dan langsung dimuat. Menurut Oyos puisi itu sangat sederhana dan naif, menceritakan tentang kehidupan Oyos sendiri secara lugas, tentang penderitaan seorang lelaki yang berbentuk curahan hati Oyos. Oleh karena pengasuh rubrik itu adalah Korrie Layun Rampan yang sudah memiliki nama besar saat itu, tentulah Oyos merasakan kebanggaan yang sangat besar, apalagi ketika itu Oyos telah membaca semua karya Korrie Layun Rampan.
Sejak puisinya dimuat di majalah Sahabat Pena itulah, Oyos semakin rajin mempelajari sastra. Oyos merasa beruntung dan terbantu karena sekolahnya, SPG, memiliki perpustakaan dengan koleksi buku lengkap, termasuk buku-buku sastra, mulai dari edisi istimewa hingga stensilan, yang asli maupun terjemahan sudah dibacanya tuntas. Karya-karya stensilan yang cukup menarik perhatian Oyos di antaranya beberapa antologi karya penyair Tegal.
Selepas dari SPG, Oyos ditawari kakaknya untuk menjadi guru di sebuah SD, tetapi karena pada dasarnya Oyos tidak pernah bercita-cita menjadi guru, dia menolak permintaan kakaknya itu. Diam-diam Oyos berkeinginan menjadi sastrawan dan pada tahun 1988 Oyos melanjutkan pendidikan ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pilihan fakultas yang dimasukinya pun tidak berada jauh dari minat dan kecintaannya pada sastra, yaitu Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Oyos memang mempunyai alasan mengapa ia memilih almamater yang sudah jelas sebagai pencetak guru bahasa dan sastra, bukan tempat mencetak seorang sastrawan, tetapi dia memiliki harapan besar jika kuliah di Jakarta, dia akan mudah bertemu dan bergaul dengan para sastrawan besar, dan dari pergaulan itu Oyos berharap dapat belajar dan menggali potensinya di dunia sastra. Hal itu juga yang menjadi alasannya memilih kuliah di Jakarta, bukannya di Yogya atau Semarang yang lebih dekat dengan tempat tinggal orang tuanya.
Pada awal perkuliahan, Oyos sudah mulai merasakan kebosanan dan kejenuhan dengan kualitas dan cara dosen-dosennya mengajar. Oyos merasa makin frustrasi dan menyadari bahwa IKIP bukanlah pencetak para sastrawan melainkan pendidik. Oyos pun akhirnya mulai mencari kesibukan lain sebagai pelarian dari rasa frustrasinya itu. Berbekal minat yang besar terhadap sastra, Oyos mendapat tempat pelarian yaitu dengan cara aktif di teater, baik teater kampus maupun luar kampus. Bersama teman-teman kuliahnya Oyos membentuk sebuah kelompok teater mahasiswa, yang diberi nama Teater Zat. Teater ini masih tetap aktif hingga kini dan dikelola oleh mahasiswa-mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNJ.
Melalui Teater Zat, Oyos mengasah kepekaan dan minatnya terhadap sastra, khususnya teater. Oleh karena itu, tidaklah heran jika pertunjukan teater yang digelar di berbagai tempat (seperti Taman Ismail Marzuki, Teater Utan Kayu, dan komunitas sastra lainnya) menjadi santapan Oyos dan kawan-kawannya sehari-hari. Kebiasaan baru inilah yang membuat Oyos – yang saat itu tinggal bersama sepupunya – mulai merasa tidak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk mencoba hidup sendiri. Di manapun Oyos berteduh, baik mencari tempat kos sendiri maupun tidur di kampus, akan dilakoninya selama hal itu tidak mengganggu dan merepotkan orang lain. Di samping itu, Oyos sudah harus mulai memikirkan bagaimana cara menyiasati biaya hidup yang tinggi dan menghasilkan uang untuk keperluan hidupnya. Meski kian beratnya beban hidup, tidak menyurutkan langkah Oyos untuk terus bergelut di dunia teater. Akhirnya pada tahun ke-3 kuliahnya, Oyos mulai aktif di teater luar kampus yaitu Teater Tanah Air yang diasuh oleh Jose Rizal Manua.
Memasuki dunia teater, tidak menyurutkan Oyos untuk menyalurkan hobi membacanya. Saat di Jakarta, Oyos lebih giat mengikuti beberapa pertemuan sastra di komunitas-komunitas sastra di Jakarta. Lama kelamaan setelah banyak membaca dan berdiskusi, Oyos merasa bagian-bagian di otaknya menjadi penuh. Banyak hal menumpuk di otaknya, mulai dari masalah sastra, sosial, politik, puisi, dan peristiwa lain. Berpijak pada masalah-masalah yang terpendam di otaknya tersebut, Oyos mulai berpikir ingin menjadi penulis dan sejak saat itulah Oyos akhirnya memutuskan untuk menekuni dunia tulis-menulis dengan lebih serius.
Beralih dari dunia teater, tahun 1993 mulai mengaplikasikan ilmu dan hobi menulisnya dengan bekerja di Pertamina sebagai editor bahasa. Di samping itu, hobinya berpuisi pun kembali dilakoninya. Berbagai puisinya seringkali menghiasi rubrik di berbagai media massa. Kemudian, iseng-iseng Oyos mengirimkan hasil meditasinya yang berbentuk puisi ke panitia Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (SMKB) di Denpasar. Beberapa bulan kemudian Oyos memeroleh informasi dari berita di sejumlah media massa bahwa puisinya yang berjudul “Ekstase Kematian” masuk 10 besar puisi terbaik versi SMKB.
Puisi “Ekstase Kematian” diciptakannya ketika dia benar-benar dalam kondisi “mabuk”. Beberapa hari menjelang terciptanya puisi tersebut, menurut Oyos, dia jarang tidur. Dalam sehari semalam dia hanya tidur sekitar 3 – 4 jam, selebihnya waktunya dihabiskan untuk berlatih teater, membaca, dan menulis. Suatu malam menjelang tahun baru 1993, dalam mimpi sekejap antara tidur dan jaga, dia melihat tubuhnya. Dia mati tetapi kematian yang terasa nikmat. Dia tergeragap lalu bangun dan saat itulah dia merasakan kesepian yang sangat.
Jika saat ini Oyos diminta mengulangi menulis puisi seperti puisi “Ekstase Kematian”, dia mengaku tidak bisa. Salah satu alasannya yaitu perbedaan ruang dan waktu ketika dia menghasilkan puisi itu dengan ruang dan waktu yang dihadapinya saat ini. Masalah lain yang turut memengaruhi terciptanya puisi tersebut adalah kondisi ekonominya yang saat itu berada dalam kemiskinan sebagai mahasiswa yang merantau di Jakarta. Puasa Senin dan kamis kerap dijalani untuk menghemat uang saku dan mengasah spiritualnya. Tidak hanya itu, sekali dalam sebulan Oyos juga selalu melakukan ritual puasa memperingati neptu ‘hari lahirnya’. Oyos lahir pada Minggu Pon dan menurut perhitungan pasaran Jawa, setiap Sabtu Pahing, Minggu Pon, dan Senin Wage, Oyos selalu puasa mutih ‘tidak makan yang manis dan asin’.
Kecintaannya pada filsafat Jawa menambah pemahamannya tentang arti hidup. Di hadapan Tuhan, manusia ibarat debu yang siap diterbangkan ke mana saja. Itulah pemahaman Oyos tentang manusia ketika itu. Di kemudian hari, untuk menambah pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan, Oyos memutuskan untuk mengambil program ekstensi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara Jakarta pada tahun 1996.
Kemenangan puisi “Ekstase Kematian” di Bali menjadi awal kebangkitan minat Oyos untuk terus menulis puisi dan memublikasikannya di sejumlah media. Sejak itu, dia senantiasa bersemangat dan rajin mengirimkan puisi ke Republika dan Media Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya dia lebih sering menulis esai sastra. Diakui Oyos bahwa menulis puisi dan esai seperti berebut dan bersaing dengan teman seangkatannya, Nurzain Hae dan Iwan Gunadi. Mereka saling berlomba mengaktualisasikan diri lewat puisi dan esai. Tak jarang isi diskusi mereka bertiga bersama teman-teman lain tiba-tiba muncul di media massa dalam bentuk esai atas nama Oyos Saroso, Nurzain Hae, dan Iwan Gunadi.
Walau demikian, mereka bertiga tetap menjadi sahabat kompak yang sama-sama membangun komunitas sastra di kampus dan di luar kampus. Di kampus, mereka melahirkan sebuah teater yang diberi nama Teater Zat (telah diuraikan sebelumnya) dan forum sastra yang menggelar diskusi setiap hari Sabtu. Oyos sendiri pun pernah memiliki sebuah kelompok diskusi yang diberi nama Kelompok Dialog Atas Angin. Penamaan ini tidak lain karena mereka memang tidak memiliki tempat diskusi yang tetap, artinya mereka bisa berdiskusi di mana dan kapan saja. Di luar kampus, mereka bertiga (Oyos, Nurzain, dan Iwan) sama-sama menjadi inisiator terbentuknya Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Hingga kini, rekan Oyos yang masih bergiat di komunitas tersebut adalah Iwan Gunadi.
Tahun 1996, setelah menyelesaikan pendidikan di IKIP Jakarta, Oyos mulai menekuni profesi barunya sebagai wartawan, sebuah profesi yang tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya sejak kecil hingga remaja. Profesi ini pula yang membawa langkah Oyos menuju pulau Sumatra, tepatnya Lampung. Di Lampung ini Oyos mencoba peruntungannya menjadi wartawan di harian Lampung Post dan menjalani profesi ini selama tiga tahun (1996-1999).
Dalam kepenyairan, tidak seperti penyair lain yang melakukan penghayatan secara total dan romantik, Oyos justru menghayati kepenyairannya dengan sangat santai. Semua puisi Oyos diciptakan berdasarkan rujukan yang jelas, yaitu dunia pengalaman dan perasaan yang kemudian dikawinkan dengan dunia main-main. Bagi Oyos menghasilkan sebuah puisi adalah menciptakan sebuah musikalitas dan kehidupan ini merupakan puisi yang kaya akan musikalitas. Sementara, menulis adalah mengungkapkan segala sesuatu yang diketahuinya secara pasti dan dekat dengan dirinya. Bahkan menurut Oyos dia hanya akan menghasilkan puisi romantis ketika dia betul-betul sedang jatuh cinta. Sebuah perasaan sekaligus peristiwa yang maknanya sangat universal dan sakral bagi Oyos. Oyos juga mengakui bahwa kisah cinta dengan istrinya sedikit banyak dipengaruhi oleh puisinya.
Istri Oyos, Mas Alina, S.H., adalah seorang muli Lampung, lulusan Fakultas Hukum Universitas Lampung. Berkenalan ketika Oyos menjadi wartawan Lampung Post dan Mas Alina saat itu pun berprofesi sebagai wartawan di media yang sama. Perkenalan mereka dilanjutkan ke jenjang pernikahan pada tahun 1998. Dari pernikahan Oyos dengan Mas Alina kini telah membuahkan sepasang putra dan putri. Anak pertama mereka diberi nama Maulana Hanif Ananditya Ning Prabandaru. Anak kedua pun dinamai tidak kalah unik dan indahnya, Lintang Sabrang Kumala Ning Ratih. Memang nama-nama yang unik, tetapi begitulah Oyos. Baginya setiap tarikan nafasnya adalah puisi dan doa, sehingga nama anak-anaknya pun harus mengandung kedua unsur tersebut.
Aktivitasnya di bidang sastra terkadang membuat Oyos merasa bosan. Meskipun demikian, Oyos mengakui bahwa ia masih rajin mengikuti perkembangan sastra mutakhir, baik sastra lokal maupun nasional, bahkan sastra internasional. Tidak berhenti sampai di sini, Oyos terus menekuni karier di bidang jurnalistik dengan menjadi wartawan di Trans Sumatera dari tahun 1999 hingga 2001, dan terakhir dia mengabdikan diri sebagai wartawan The Jakarta Post dari tahun 2001 hingga 2005.
Karier kewartawanan Oyos bukanlah sebuah kebetulan dan dia mengakui bahwa dunia jurnalistiklah yang menghidupinya. Kecintaannya pada dunia jurnalistik sama besar dengan kecintaannya pada sastra karena melalui dunia jurnalistik kecintaannya pada sastra dapat teraktualisasi. Oleh karena kecintaannya yang begitu besar terhadap jurnalistik dan sastra, selain menjadi kontributor Pantau, Oyos juga tercatat sebagai salah seorang yang turut memprakarsai terbentuknya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung, dan kemudian dipercaya untuk memimpin komunitas ini selama satu periode.
Di pentas sastra Nasional, nama Oyos juga telah diakui. Namanya ditulis dalam Leksikon Susastra Indonesia (Rampan: 2000, 344). Di samping itu, karya-karyanya terkumpul dalam berbagai antologi bersama, di antaranya Batas Diam Matahari (1996), Rahasia Sebatang Lidi (1996), Titik Diam di Mata Karmin (1996), dan Penyair Ujung Pulau (2002). Puisinya antara lain terkumpul dalam Gender (Sanggar Minum Kopi Bali, 1993), Dari Bumi Lada (1997), dan Angkatan 2000 dalam Kesusasteraan Indonesia (2001).
Beberapa judul puisi Oyos, di antaranya Membaca Dunia (1991), Ekstase Kematian (1993), Orasi Perjalanan (1993), Megatruh (1996), Juli (1996), Amnesia 1 dan Amnesia 2 (2004). Selain puisi, Oyos juga membuat Manuskrip naskah teater berjudul “Yang Berumah di Atas Angin” – dipentaskan di Teater Arena, Taman Ismail Maszuki, akhir Desember 1995. Di samping itu, Oyos juga aktif menulis esai yang telah dipublikasikan di sejumlah media nasional dan lokal.

Naim Emel Prahana

Naim Emel Prahana lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu pada tanggal 13 Desember 1960 dengan nama asli Naimullah. Putra dari seorang petani yang bernama Rahmatsyah ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara.
Pendidikan sekolah dasar Naim di selesaikan di Bengkulu pada tahun 1971, sebelum ia ikut merantau ke Padangpanjang, Sumatera Barat bersama pamannya yang mempunyai usaha apotik disana. Namun, keberuntungan tak selalu berada di pihaknya, paman Naim yang memiliki beberapa apotik mengalami pasang surut dalam usahanya, sehingga untuk dapat bertahan dan menyelesaikan pendidikannya di kota Padangpanjang, Naim terpaksa menjadi pesuruh dan penjaga di tempat ia bersekolah sekaligus menjadi pesuruh di asrama putra tempatnya bersekolah. Kegemaran Naim menulis terlihat ketika masih duduk di bangku SMP Muhammadiyah di Kauman, Padangpanjang, Sumatera Barat pada tahun 1971 ketika ia rajin menulis di majalah dinding dan buletin Muhammadiyah setempat. Sejak muda Naim sudah gemar membaca, kecintaannya akan dunia sastra terinspirasi oleh seorang pengarang Pujangga Baru, Rivai Ali. Ketika itu Naim menumpang tinggal di rumah sastrawan tersebut di kawasan Silaing Atas ketika pertama kali ia merantau ke Padangpanjang. Berkat ketekunan dan kegigihannya, Naim akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah pertama pada tahun 1974 di Padangpanjang, Sumatera Barat. Naim menamatkan pendidikan pada sekolah menengah atas di Curup, Bengkulu pada tahun 1978 setelah mengalami lima kali pindah sekolah.
Berbekal ijazah SMA bagian IPS, Naim berangkat menuju Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah. Naim mendaftar di dua tempat sekaligus, Universitas Islam Indonesia dan IKIP Negeri Karangmalang pada tahun 1979.
Dunia kepengarangan serta kegemarannya akan membaca seakan menemukan tempatnya ketika Naim bersekolah di kota pelajar tersebut. Di kota inilah Naim seakan menemukan dirinya dan makin meluaskan wawasannya. Ia banyak bergaul dengan banyak sastrawan dan budayawan, seperti WS Rendra, Emha Ainun Nadjib, Dick Hartoko, Linus Suryadi AG, dan Mustafa W. Hasyim. Pergaulannya ini makin menambah referensi dan membuka matanya sehingga ia makin apresiatif. Kecintaannya akan berorganisasi juga semakin memperkaya khasanah pengetahuannya. Kegiatannya inilah yang membawanya semakin menekuni dunia kepenulisan. Tulisan Naim berupa cerpen dan esai saat itu sempat mewarnai media massa di kota pelajar itu. Ia juga menulis naskah drama dan skenario film karena ia juga terlibat di dunia teater. Naim tergabung di teater Unisi dan teater Latah pada Universitas Islam Indonesia. Sayangnya, kegiatannya yang padat tidak diiringi oleh finansial yang cukup. Untuk membiayai sekolahnya Naim terpaksa bekerja keras demi mendapatkan penghasilan. Mulai dari pekerjaan membuat stempel dan spanduk sampai menjadi pemandu turis dilakoninya untuk menutupi biaya hidupnya selama bersekolah di Yogyakarta. Kepiawaiannya dalam menulis juga sangat membantunya karena dari menulis ia mendapatkan honor dari media cetak yang memuat tulisannya. Karena kesibukannya itulah Naim hanya mengenyam pendidikannya di IKIP Negeri Karangmalang selama satu tahun, setelah itu ia memutuskan untuk berkonsentrasi pada pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia.
Latar belakang keluarga yang cukup religius membuat Naim berkelana mengunjungi masjid-masjid tua di seantero pulau Jawa, Bali hingga Sumbawa. Berbekal pengalaman itulah yang makin memperkaya wawasan Naim dan memberikan inspirasi dalam berkarya.
Naim menamatkan pendidikannya dari fakultas hukum Universitas Islam Indonesia jurusan kriminologi (pidana) pada tahun 1986. Setelah itu, Naim memulai kerja jurnalistiknya di Jakarta, namun tidak bertahan lama. Naim memutuskan untuk kembali ke Lampung dan memulai kehidupan di Lampung, tepatnya di kota Metro (dulu Lampung Tengah). Naim menikah dengan Etik Yuliarsi, BA dan memiliki dua orang anak,yaitu Muhammad Riri Emelino dan Rara Emeliana Prahana.
Ketika di Lampung, aktivitas Naim dalam bersastra tidak surut. Saat itu, ia menjadi salah satu pendiri Dewan Kesenian Metro yang menjadi cikal bakal berdirinya Dewan Kesenian Lampung. Selama bersastra sudah banyak karya-karya Naim baik berupa artikel, puisi, dan cerpen yang masuk koran yang ada di berbagai daerah yang ada di Indonesia, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Prioritas, Media Indonesia, Merdeka, Jayakarta, Suara Karya, Pelita, SKM Swadesi, Simphony, Intijaya, Sentara, Majalah Kiblat, Estafet, Hai, Yudha Minggu, SKM Media Indonesia Minggu (Jakarta), Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Masa Kini, Eksponen, Majalah putera Kita, Pusara (Yogyakarta), Majalah Bagelan (Solo), Suara Merdeka, Bahari (Semarang), Majalah Fakta, Liberty, dan Memorandum (Surabaya), Bali Post, Karya Bhakti (Bali), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Akcaya (Pontianak), Singgalang, Semangat (Padang), Sumatera Ekspress, Sriwijaya Pos, Suara Rakyat Semesta (Palembang), Riau Pos, Majalah Bahana (Riau), Waspada, Indonesia Baru, Medan Post (Medan), Serambi Mekkah (Aceh), Semarak (Bengkulu), Lampung Post, Warta dan Niaga, dan Tamtama (Lampung).
Dalam mensosialisasikan karya-karyanya, Naim sering juga membacakan karyanya di berbagai stasiun radio seperti, di Radio Koln, Jerman, Radio NHK Jepang, Radio Mesir, dan Radio Filipina. Naim juga sering berkeliling untuk membacakan puisi-puisinya di berbagai tempat di Indonesia, misalnya pada acara Penyair Indonesia 1997 di TIM-Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi duta budaya Lampung Tengah ke berbagai daerah di Indonesia. Dalam kurun waktu 1983-1999) Naim berkiprah sebagai ketua Dewan Kesenian Cabang Lampung Tengah dan menjadi pengurus di Dewan Kesenian Lampung. Dalam kegiatan sosial, Naim juga aktif menjadi sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Nasional Anti Narkotika (DPC) GRANAT, untuk turut menjaga kelangsungan generasi muda agar terhindar dari bahaya narkoba.
Penjelajahan Naim Emel Prahana di dunia seni dan budaya membawa langkahnya mengelilingi berbagai Negara di Asia, Eropa, Amerika Latin dan Afrika, yang bagi Naim, sebagai puncak petualangannya. Berikut ini beberapa karyanya.
1) Sajak Kaca, antologi bersama empat penyair muda, Yogyakarta, 1984.
2) Kasih Tuan, Yogyakarta, 1985.
3) Kembang Malam Kembang Kelam, Metro, 1986.
4) Poros, Metro, 1986.
5) Kembang Malam Kembang Kelam Antologi, 1987
6) AWA, Antologi, 1987.
7) Homo Homini Lupus Antologi, 1987.
8) Karep Antologi, 1988.
9) Puisi Indonesia, DKJ-TIM Jakarta, 1987.
10) Bruckkenschlag, diterbitkan dalam Bahasa Jerman, Koln, Jerman, 1988.
11) Solidaritas, antologi bersama penyair Lampung, 1991.
12) Puisi Selatan, antologi bersama penyair Sumatera Bagian Selatan, 1992.
13) Nuansa Hijau, Bogor, 1995.
14) Sagang,Pekanbaru, 1994.
15) Dari Negeri Poci 3, Antologi 1000 Cinta,1999.
16) Buku Cerita Rakyat Lampung, Jilid 1, 2, dan 3 Grasindo-Kompas Jakarta, 1988.
17) Buku Cerita Rakyat Bengkulu, Jilid 1, 2, dan 3 Grasindo-Kompas Jakarta, 1988.
18) Buku Puisi Nyanyian Sunyi “Roh Memberontak” di Tengah Sosial Tercabik-cabik, Lampung Ekspress. 30 Desember 2002.

Masnunah

Di antara para seniman dan sastrawan Lampung yang hadir dalam perhelatan seni bertajuk "Pertemuan Dua Arus" gagasan Jung Foundation itu, tampak seorang ibu tua duduk di antara para tamu yang datang. Tangannya yang lemah mengayunkan pelan kipas kayu cendana ke tubuhnya. Udara malam tampaknya terasa gerah untuk ibu dua anak tersebut.
Dari arus tradisional, salah satunya diwakili oleh Masnuna, ibu tua yang mengayun pelan kipas kayu cendana.
Masnuna saat ini dikenal sebagai satu-satunya pelantun sastra lisan Lampung yang dikenal dengan Dadi. Dadi adalah sebuah bentuk sastra yang pengisahannya dilakukan dengan cara menuturkan. Malam itu, Masnuna, dalam pertemuan dua arus, diminta melantunkan sastra lisan tersebut.
Masnuna, lahir pada tahun 1932 di Kampung Segala Mider Pubian, Lampung Tengah, menikah dengan Abdul Hasan, seorang pemuda asal Tanjung Kemala, Lampung Tengah, pada tahun 1955. Pernikahan tidak menghalangi upayanya untuk memelihara sastra lisan Lampung. Bahkan, ia menjadi guru Dadi, pisaan, dan kias yang juga merupakan bentuk-bentuk sastra lisan Lampung kuno.
Suaranya tinggi mengalun saat ia menuturkan kalimat demi kalimat dalam tiap bait sastra lisan. Kipas kayu cendana, yang sedari tadi digunakannya mengusir hawa panas, saat melantunkan Dadi digunakannya untuk menutup sebagian dari wajahnya. Memang begitulah caranya.
Masnuna mempelajari sastra lisan itu ketika ia masih berusia tujuh tahun. Ia berguru kepada Dalom Muda Sebuway, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Tak hanya itu, ibunya, Siti Aminah, pun turut mengasah kemahiran bocah itu dalam melantunkan setiap bait sastra lisan.
Wajahnya berseri dan tangannya lincah bergerak mengiringi penuturannya tentang Dadi. Garis keriput penanda usia yang telah senja menjadi tegas mengekspresikan perasaannya saat mengisahkan pengalamannya belajar dan memelihara sastra lisan tersebut agar tetap lestari hingga saat ini.
Niat Masnuna untuk mempelajari Dadi bukan hanya disebabkan oleh darah seni yang diwarisinya. Lebih dari itu, niatnya didorong oleh kenyataan bahwa Dadi merupakan karya sastra utama yang hidup dalam masyarakat adat Pubian, salah satu marga di Lampung. Hampir dalam setiap perhelatan masyarakat adat Pubian, Dadi tampil sebagai suguhan utama.
Dadi, yang biasanya berisi pantun sindiran, pantun jenaka, dan terutama pantun nasihat, merupakan acara yang ditunggu-tunggu. Namun, tidak semua orang dengan mudah menangkap makna dari setiap bait pantun tersebut sebab Dadi menggunakan bahasa Lampung tingkat tinggi. Hal itu pula yang membuat tidak semua orang mampu mempelajarinya.
Dalam keluarga Dalom Muda Sebuway sendiri, sastra lisan ini pun tak hanya dilihat sebagai sebuah wujud kebudayaan. Mereka melihatnya sebagai sesuatu yang sakral.
"Tidak semua orang mampu mempelajarinya sebab bahasa yang digunakan adalah bahasa kelas tinggi, penuh dengan kiasan yang tidak segera mudah ditangkap arti dan maknanya," tutur Masnuna.
Masnuna, yang kala itu mulai menginjak remaja, melihat Dadi tidak lagi sebagai hanya sebuah karya sastra tradisional yang perlu dilestarikan. Bagi Masnuna, Dadi adalah napasnya. Ia menganggapnya sebagai kisah tentang permenungan dan pengalaman bergulat dengan kehidupan.
"Yang saya lantunkan dalam Dadi adalah pengalaman hidup saya sendiri. Apa yang saya lihat, apa yang saya alami, dan apa yang saya rasakan. Itulah semua yang saya ceritakan dalam Dadi," tuturnya.
Tak heran jika untuk mempelajarinya ia melakukannya dengan sepenuh hati. Ia berpuasa selama tujuh hari dan melatih suaranya dengan cara menenggelamkan wajahnya ke dalam air sambil membaca doa.
Dari olahrasa dan raga itu, Masnuna mampu melantunkan tiap kalimat dalam bait-bait Dadi dalam satu untaian napas yang panjang, bahkan dalam nada-nada tinggi. Ia mengemukakan, karena itulah mengapa Dadi tidak mudah dipelajari, apalagi banyak anak muda saat ini yang tidak lagi menguasai bahasa Lampung tingkat tinggi.
Sayang, Dadi, yang konon telah ada sebelum masa Hindu di Lampung, kini nyaris punah. Dari dua anaknya, bakat seni yang mengalir dalam buluh nadi Masnuna kini dialirkan kepada salah satu dari mereka, yaitu Abdul Somad, seorang penghulu yang tinggal di Tanjung Kemala, Kabupaten Lampung Tengah.
Kepiawaian Masnuna melantunkan Dadi mengundang minat seorang mahasiswa asal Amerika Serikat, Tim Smith, ketika mendalami seluk-beluk masyarakat Pubian Dakhak. Tentang hal itu, seorang seniman di Lampung berkomentar, orang asing pun mampu memperoleh gelar sarjana strata dua karena Masnuna. Akan tetapi sayang, orang kita sendiri kurang menghargai empu sastra itu.
Saat ini memang ada upaya dari Pemerintah Provinsi Lampung untuk mendokumentasikan sastra lisan seperti Dadi dan tentu saja di dalamnya terkait sosok kesenimanan Masnuna. Namun, menurut para seniman muda Lampung, sebaiknya pemerintah juga memberi perhatian dan penghargaan kepada Masnuna.
Menurut Masnuna, yang membuat dirinya tetap bertahan dan dengan rela hati memelihara Dadi dan sastra lisan Lampung lainnya adalah kecintaannya terhadap sastra itu sendiri. "Karena di dalamnya terkandung makna yang sangat dalam. Makna, itulah Dadi," tegasnya.
Oleh karena itu, ia pun rela tampil dalam berbagai acara seni seperti Kongres Cerpen Indonesia di Lampung, Lampung Arts Festival II, dan Ragom Budaya Lampung, meski untuk berjalan saja ia harus dibantu.
Meski sudah memasuki usia ke 72 dan sudah tertatih-tatih juka berjalan, masnunah tetap setia melantunkan dadi yang menjadi warisan budaya Lampung.