<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170</id><updated>2011-08-13T03:37:09.534-07:00</updated><title type='text'>ENSIKLOPEDI SASTRA LAMPUNG</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>37</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-2995078748644453505</id><published>2008-11-30T18:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T20:41:32.799-08:00</updated><title type='text'>Ensiklopedi Sastra Lampung</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TIM ENSIKLOPEDI&lt;br /&gt;KANTOR BAHASA PROVINSI LAMPUNG&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.pusatbahasa.diknas.go.id/laman"&gt;PUSAT BAHASA&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;DEPERTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Penyunting&lt;br /&gt;Agus Sri Danardana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun Akhir&lt;br /&gt;Erwin Wibowo, Danang Harry Wibowo, Devi Luthfiah,&lt;br /&gt;Ferdinandus Moses, Lisa Misliani&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyusun Awal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agus Sri Danardana, Yuliadi MR, Erwin Wibowo, Devi Luthfiah,&lt;br /&gt;Nina Wati Syahrul, Diah Meutia Harum, Yulfi Zawarnis, Lisa Misliani, As. Rakhmad Idris, Tri Wahyuni, Sunan Yohanto, Zumalal Laeli, Danang Harry Wibowo, Mamad Ahmad, Kiki Zakiah Nur, Rita, Ritanti Aji Cahyaningrum, M. Andri Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alamat&lt;br /&gt;Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;Jalan Beringin II No.40 Kompleks Gubernuran Telukbetung, Bandarlampung. Telepon (0721) 486408, 480705; Faksimile (0721) 486407&lt;br /&gt;Pos-el (E-Mail): kbpl_2006@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ensiklopedi Sastra Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali diterbitkan dalam bahasa Indonesia&lt;br /&gt;Oleh Kantor Bahasa Provinsi Lampung, Agustus 2008&lt;br /&gt;Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;Jalan Beringin II No.40 Kompleks Gubernuran Telukbetung, Bandarlampung. Telepon (0721) 486408, 480705; Faksimile (0721) 486407&lt;br /&gt;Pos-el (E-Mail): kbpl_2006@yahoo.com&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyunting: Agus Sri Danardana&lt;br /&gt;Desain Sampul: Danang Harry Wibowo&lt;br /&gt;Penata Letak: Danang Harry Wibowo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hak Cipta dilindungi oleh undang-undang&lt;br /&gt;Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh&lt;br /&gt;Isi buku ini tanpa izin tertulis dari penerbit&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATA PENGANTAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perilaku dan kehidupan masyarakat Indonesia saat ini telah banyak mengalami perubahan yang terjadi akibat perkembangan teknologi informasi yang sangat pesat atau dampak globalisasi. Pandangan dan tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara pun ikut berubah sejak Indonesia mengalami reformasi tahun 1998. Kondisi ini secara tidak langsung mengubah tatanan kehidupan masyarakat bawah yang semula menjadi sasaran (objek), kini diharuskan menjadi pelaku (subjek) dalam proses pembangunan bangsa. Sejalan dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Lampung berupaya meningkatkan mutu pelayanan kebahasaan dan kesastraan kepada masyarakat. Salah satu upaya peningkatan pelayanan itu ialah penyediaan bahan bacaan.&lt;br /&gt;Pada tanggal 2 Mei 2002, Presiden telah mencanangkan “Gerakan Nasional Peningkatan Mutu Pendidikan”, disertai dengan gerakan “Pembangunan Perpustakaan” oleh Menteri Pendidikan Nasional. Setelah itu, Ikatan Penerbit Indonesia mengikuti gerakan-gerakan itu dengan melahirkan “Hari Buku Nasional” pada tanggal 17 Mei 2002. Untuk menindaklanjuti berbagai kebijakan tersebut, Kantor Bahasa Provinsi Lampung berupaya menerbitkan hasil pengembangan bahasa dan sastra dengan menyediakan bahan bacaan dalam rangka pengembangan perpustakaan dan peningkatan mutu dan minat baca masyarakat.&lt;br /&gt;Salah satu upaya Kantor Bahasa Provinsi Lampung dalam penyediaan bahan bacaan, baik untuk tingkat pendidikan tinggi maupun masyarakat umum, adalah dengan menerbitkan Ensiklopedia Sastra Lampung. Buku ini selain diupayakan dapat meningkatkan mutu dan apresiasi sastra Lampung, juga diharapkan dapat memperdalam dan memperluas cakrawala pengetahuan para peminat sastra, pelajar, dan mahasiswa tentang sastra Lampung.&lt;br /&gt;Kehadiran buku ini tentu saja tidak terlepas dari kerja sama yang baik dengan berbagai pihak. Untuk itu, kami menyampaikan terima kasih kepada tim penyusun. Mudah-mudahan ensiklopedia ini, dalam keterbatasannya, dapat memberikan manfaat dalam upaya peningkatan mutu dan minat baca masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandarlampung, Agustus 2008,&lt;br /&gt;Drs. Agus Sridanardana, M.Hum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PENDAHULUAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Munculnya sastrawan-sastrawan muda dari berbagai daerah yang ada di Indonesia--dengan karya-karya mereka yang semakin berkembang dan berwarna--menunjukkan bahwa karya sastra dan sastrawan menjadi bagian yang tak dapat dipisahkan. Karya sastra dan sastrawan sama-sama memberikan kontribusi yang besar dalam perkembangan dunia sastra. Tema-tema berani yang berisikan kritik banyak memberi warna baru dalam karya para sastrawan muda. Di samping itu, para sastrawan senior pun masih menunjukkan kekonsistenannya dalam menghasilkan karya sastra. Hal itu berarti makin berwarnalah khazanah kesusastraan di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lampung sebagai provinsi yang secara geografis terletak di ujung selatan pulau Sumatra tidak hanya kaya akan sumber daya alam, tetapi juga kaya dengan sumber daya manusianya. Puluhan sastrawan telah lahir di Sai Bumi Ruwa Jurai, negeri yang dihuni oleh dua jenis penduduk, pribumi dan pendatang. Dalam memajukan sastra Indonesia, tidak sedikit sastrawan Lampung yang memberikan kontribusinya terhadap perkembangan sastra, seperti Motinggo Busye, Isbedy Stiawan ZS., Inggit Putria Marga, dan Ari Pahala Hutabarat dan tidak sedikit pula karya-karya mereka yang dijadikan perbincangan oleh para kritikus sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kantor Bahasa Provinsi Lampung, sebagai lembaga yang berkecimpung dalam masalah kebahasaan dan kesastraan Indonesia dan daerah, sejak tahun 2004 hingga sekarang sudah melakukan berbagai penelitian kebahasaan dan kesastraan. Dalam bidang kesusastraan, lembaga ini telah menyusun beberapa biografi sastrawan Lampung dan institusi sastra yang ada di Lampung. Penyusunan biografi tersebut bertujuan memberikan informasi tentang proses kreatif, prestasi, dan dedikasi yang telah dicapai oleh sastrawan-sastrawan Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pusat Bahasa sebagai Lembaga yang menangani masalah kebahasaan dan kesastraan pada tahun 2003 menerbitkan Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern, yang memuat informasi tentang sastra Indonesia. Leksikon Sastra yang memuat informasi tentang sastrawan beserta karyanya Lampung yang diterbitkan oleh Logung tahun 2004 merupakan sebuah pengakuan yang diberikan kepada para sastrawan dan seniman Lampung. Untuk menambah informasi dan referensi tentang sastrawan Lampung, Kantor Bahasa Provinsi Lampung menyusun Ensiklopedia Sastra Lampung yang didalamnya berisi lema sastrawan Lampung, penghargaan sastra yang ada di Lampung, sastra lisan Lampung, media penyebar dan penerbit sastra, dan institusi sastra yang ada di Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lema sastrawan berisi tentang latar belakang keluarga, latar belakang pendidikan, latar belakang pekerjaan. Proses kreatif dalam menghasilkan karya, aktivitas lain dari sastrawan yang berhubungan dengan sastra, prestasi, dan penghargaan yang telah dicapai oleh sastrawan, karya-karya yang menjadi perbincangan para sastrawan daerah dan nasional, Lema institusi sastra berisi tentang latar belakang pendirian institusi sastra, pengelola institusi, bentuk lembaga, kedudukan lembaga, kegiatan yang dilakukan oleh institusi,Lema penghargaan sastra berisi tentang nama sayembara, jenis kegiatan yang diselenggarakan, jangkauan kegiatan, dewan juri, para pemenang, waktu penyelenggaraan, dan lembaga penyelenggara, Lema sastra lisan berisikan tentang jenis-jenis sastra lisan yang tersebar di Provinsi Lampung, Lema media penerbitan, kedudukan dalam perkembangan sastra, banyaknya karya yang diproduksi, biodata media, tanggal lahir media dan tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ensiklopedi ini dalam keterbatasannya, mencoba memperkenalkan jagad sastra Lampung dengan berbagai aspek pendukungnya. Dengan membaca ensiklopedi ini, pembaca diharapkan dapat memperoleh Informasi sekedarnya untuk memasuki jagad sastra Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandarlampung, Agustus 2008&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diposkan oleh Arah Laut Lepas: 5708 Km di 23:16 0 komentar  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DAFTAR PUSTAKA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ahmad, Mamad dan Diah Meutia Harum. 2005. Iswadi Pratama. Penyair yang Mengabadikan Ingatan. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A.Z., M. Arman. 2005. Embun di Ujung Daun. Yogyakarta:Logung Pustaka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;----------------------. 2005. Surat Untuk Aida. Depok:Lingkar Pena Kreativa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budianta, Melani. 1999. “Motinggo Busye (1937–1999) dari Zaman ke Zaman” dalam Horison Nomor 9 Tahun XXXIV, Sep¬tem¬ber 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahyaningrum, Ritanti Aji dan Tri Wahyuni. 2005. Refleksi Inggit Putria Marga dalam Karya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cahyaningrum, Ritanti Aji. 2006. Zulkarnain Zubairi dan Kelampungannya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Djafar, Iwan Nurdaya dan Sugandi Putra. 1989. Seratus Sajak. (Antologi Bersama). Jakarta:Fajar Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eneste, Pamusuk. 1990. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern. Jakarta:Djambatan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 2001. Buku Pintar Sastra Indonesia. Jakarta:Kompas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Genie F, Khaidir, dkk. 1996. Titian Pers Lampung Etos Perjuangan di Tanah Tapis. Lampung:PWI Cabang Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harum, Diah Mutia. 2006. Budi P. Hatees: Potret Sastrawan Pemikir. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idris, AS. Rakhmad dan Zumalal Laeli. 2005. Perjalanan “Sang Matahari”: Potret Kehidupan dan Karya Achmad Rich (1956-2004). Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ismail, Taufiq. 1999. “Seribu Itik Berenang-renang di Danau Ma¬ninjau” (In Memoriam Motinggo Busye)” dalam Horison Nomor 9 Tahun XXXIV, September 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karzi, Udo. Z. 2002. Puisi Lampung Pesisir: Momentum. Lampung:Proyek Pelestarian dan Pemberdayaan Budaya Lampung pada Dinas Pendidikan Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kertagama, Edy Samudra. 2002. “Nyanyian Sunyi”. Lampung:Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 2002. “Sajak-Sajak Pendek Embun Putih”. Lampung:Lembaga Deklamasi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luthfiah, Devi dan Erwin Wibowo. 2005. Panji Utama dan Karya-karya Kebangkitannya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Luthfiah, Devi. 2006. Komunitas Sastra di Bandarlampung. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MR., Yuliadi dan Rita. 2005. Ari Pahala Hutabarat: Sebuah Proses Kreatif dan “Bergaya”. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MR., Yuliadi. 2006. Iwan Nurdaya Djafar: Sebuah Proses Kreatif. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pahala Hutabarat, Ari, dkk. 2005. Pertemuan Senja: Suara Lampung. Jakarta:Dewan Kesenian Jakarta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rangkuti, Hamsad. 1999. “Menit-Menit Terakhir Bersama Moting¬go Busye” dalam Horison Nomor 9 Tahun XXXIV, Sep¬tember 1999&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sridanardana, Agus. 2005. Pandangan Dunia Motinggo Busye.Lampung: Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sridanardana, Agus, Diah Mutia Harum, M. Andri Z., dan AS. Rakhmad Idris. 2007. Biografi Sastrawan: Napak Tilas Duabelas Sastrawan Lampung. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Stiawan ZS. Isbedy. 2002. Aku Tandai Tahi Lalatmu. Yogyakarta:Gama Media&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. dkk. 2003. Leksikon Seniman Lampung. Yogyakarta:Logung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 2003. Menampar Angin. Yogyakarta:Bentang Budaya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 2005. Kota Cahaya. Jakarta:Grasindo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 2005. Selembut Angin Setajam Ranting. Bandung:Lingkar Pena Kreativa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 2005. Gerimis (Dalam lain Versi). Yogyakarta:Logung Pustaka dan DKL&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. dkk. 1987. Jung Senandung Puisi Penyair Lampung. Lampung:Dewan Kesenian Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sugono, Dendy (penyunting utama). 2003. Ensiklopedia Sastra Indonesia Modern. Jakarta:Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahrul, Ninawati. 2005. Isbedy Stiawan Z.S.: Karya dan Proses Kreatifnya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpaka, Syaiful Irba. “Kota Dalam Nuansa Penyair”. Lampung Post 14 April 1993&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 1984. Mata-Mata. Lampung:Sanggar Cakrawala Ide Anak Muda&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 1996. Festival Januari Penyair Lampung. Lampung:Dewan Kesenian Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utama, Juperta Panji. “Untukmu Syaiful Irba Yanpaka: Bermotivasi atau Sekedar Melarikan Diri”. Yudha Minggu Sport &amp; Fiksi. 11 September 1988&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. dkk. 1993. Belajar Mencintai Tuhan. Bandarlampung:Universitas Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 1995. Pasar Kabut (Menggali Kubur Sendiri, Membangun Lorong-Lorong). Bandarlampung:Ombak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------. 1996. Kibaran Bendera (Hikayat sang Debu). Bandarlampung:Ombak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahyuni, Tri. 2006. Dahta Gautama: Dari Realita ke Imajinasi. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wibowo, Erwin. 2006. Edy Samudra Kertagama dan Karyanya. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohantho, Sun’an. 2005. Mutiara Sang Bumi Rwa Jurai. Biografi Assaroeddin Malik Zulqornain CH. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yohantho, Sun’an. 2006. Peran Koran Lampung Post dalam Memasyarakatkan Sastra (Sebuah Tinjauan Deskripsi). Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zawarnis, Yulfi. 2005. Menyimak Syaiful Irba Tanpaka. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zawarnis, Yulfi, Lisa Misliani, dan Ninawati Syahrul. 2005. Biografi Tiga Sastrawan Lampung dan Karyanya: Oyos Saroso, M. Arman A.Z., dan Jimmy Maruli Alfian. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zawarnis, Yulfi. 2006. Peran Teater Satu dalam Memajukan Sastra di Lampung. Lampung:Kantor Bahasa Provinsi Lampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zubairi, Zulkarnain, dkk. 2002. “Etos Kita: Moralitas Kaum Intelektual”. Yogyakarta:Gama Media dan Teknokrat Unila&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zulqornain, Asaroeddin Malik, dkk. 1984. Nyanyian Tanah Putih: Antologi Puisi Penyair Muda Lampung, Lampung:Sanggar Sastra CIA&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-2995078748644453505?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/2995078748644453505/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=2995078748644453505' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2995078748644453505'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2995078748644453505'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/ensiklopedi-sastra-lampung_30.html' title='Ensiklopedi Sastra Lampung'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-1218397893292452496</id><published>2008-11-30T18:47:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:09:48.683-08:00</updated><title type='text'>Isbedy Stiawan ZS</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNVZD6vhwI/AAAAAAAAABA/u6OV5xHn8Hk/s1600-h/ProfilIsbedyStiawanZs.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 206px; height: 203px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNVZD6vhwI/AAAAAAAAABA/u6OV5xHn8Hk/s320/ProfilIsbedyStiawanZs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274653477617764098" /&gt;&lt;/a&gt;Isbedy Stiawan ZS adalah nama yang diberikan pasangan Zakirin Senet dan Ratminah untuk salah seorang anak laki-laki mereka. Isbedy lahir pada 5 juni 1958 di Tanjungkarang. Ia adalah putra keempat dari delapan bersaudara. Almarhum bapaknya yang berasal dari Bengkulu hanyalah seorang pegawai negeri rendahan dan ibunya yang berasal dari Winduaji Sindanglaut kabupaten Cirebon adalah seorang ibu rumah tangga. &lt;br /&gt;Isbedy kecil dikenal nakal. Selain itu, ia dikenal keras, gigih, dan nyentrik. Tak jarang dia berkelahi dengan teman sebayanya. Hobi berkelahi itu kemudian disalurkannya dengan mengikuti beladiri karate. Terakhir, sabuk hitam pun diraihnya. &lt;br /&gt;Ekonomi keluarga Isbedy saat itu boleh dibilang pas-pasan. Untuk menambah penghasilan keluarga, ibunya membuka warung sederhana di depan rumahnya. Isbedy sering disuruh menunggui warungnya. Saat menunggu warung itulah, ia sering mengisi waktu dengan membaca buku-buku silat yang banyak menaburkan filosofi yang selalu mengusiknya untuk merenung. Ditambah lagi, ia senang menulis apa saja yang direnungkannya. Saat itu, Isbedy kecil menganggap yang ditulisnya itu sebagai kata-kata mutiara. Dari kata-kata mutiara itulah lahir sajak-sajak dan cerpennya.&lt;br /&gt;Isbedy mulai bersentuhan dengan dunia sastra sejak di bangku SMP tahun 1975. Karya-karya Kho Ping Hoo adalah bacaan yang saat itu digemari oleh Isbedy. Ketika membaca karya Kho Ping Hoo, ia mendapatkan filosofi hidup yang sangat berarti, bahwa seseorang yang menyenangi seni tanpa memiliki ilmu beladiri akan lemah dan dizalimi dan orang yang memiliki ilmu beladiri tanpa diimbangi nilai seni maka dia akan zalim. Filosofi ini yang semakin mendorongnya untuk mengikuti kegiatan karate.&lt;br /&gt;Sebelum terkenal sebagai penulis, ia tekun dalam bidang seni teater bersama Syaiful Irba Tanpaka dan A.M. Zulqarnain. Sanggar Ragam Budaya adalah tempatnya mengekspresikan jiwa seni. Ia juga sering tampil dalam pementasan teater di luar Tanjungkarang. Jika ada waktu luang saat ia berlatih teater, Isbedy kerap berdiskusi seputar persoalan sastra dengan Syaiful Irba Tanpaka. Beranjak ke bangku STM, ia perlahan-lahan mulai menggeluti dunia sastra dan meninggalkan dunia teater. Ketika itu, Isbedy mencoba menulis puisi dan cerpen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isbedy kerap membacakan sajaknya dari panggung ke panggung. Saat membacakan sajak-sajaknya, Isbedy selalu memukau penontonnya. Ia tidak hanya mahir menyulam kata, tetapi juga piawai “menyihir” penonton.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Keinginan untuk mempunyai mesin tik sendiri mendorong Isbedy untuk terus berkarya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Isbedy mengirimkan karya-karyanya yang berupa puisi ke berbagai media massa, termasuk media massa yang terbit di Jakarta. Tak sedikit pula puisinya yang ditolak oleh media. Tahun 1981, obsesinya untuk mempunyai mesin tik barulah terwujud. Sebuah mesin tik buatan Jerman, dibelinya dari Pasar Rumput seharga dua puluh lima ribu rupiah. Uang itu diperolehnya dari honor tulisan Isbedy di berbagai surat kabar Jakarta. Sejak memiliki mesin tik sendiri, keinginan Isbedy utnuk menghasilkan karya semakin menjadi-jadi. Hasilnya, harian umum Suara Karya memercayai Isbedy untuk mengasuh rublik “EsKa Kecil“, sebuah rubrik sastra bagi anak-anak. ”Surat dari Kak Isbedy” adalah nama yang dipakai untuk rublik itu. Selain media massa cetak, ia juga memublikasikan karya-karyanya melalui media massa elektronik. Saat itu, Radio Republik Indonesia Lampung sering mengundang Isbedy untuk membacakan karya-karyanya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karya pertama Isbedy yang dimuat di media massa adalah cerita pendek di Mingguan Swadesi, tahun 1980. Kemudian, sekitar tahun 1984, banyak cerpennya yang dimuat di berbagai media massa, antara lain Shimponi, Merdeka, Pelita, dan Singgalang. Di tahun itu pula, untuk pertama kali puisi Isbedy dimuat di Berita Buana, saat itu diasuh oleh Abdul Hadi W.M.. Sejak saat itulah, puisi-puisi Isbedy mulai bermunculan di media massa lainnya seperti, Suara Karya, Budaya Pelita, Jayakarta, Terbit,dan Prioritas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di usia muda, pergaulan Isbedy boleh dikatakan nakal. Tetapi hal itu tidak berjalan lama. Pada tahun 1982, ia menikahi Adibah Jalili, seorang wanita Minang dari keluarga yang taat beragama. Perlahan-lahan kebiasaan buruknya itu menhilang. Dari perkawinan tersebut, Isbedy dikaruniai lima orang anak yaitu: Mardiah Novriza, Arza Setiawan, Rio Fauzul, Khairunnisa, dan Abdurrobbi Fadillah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Umumnya, proses kreatif puisi Isbedy lahir setelah ia menemukan kata-kata puitis terlebih dahulu, lalu diolahnya menjadi puisi. Terkadang, ia juga mendapatkan puisi yang sudah jadi di benaknya. Ide kreatif Isbedy bisa muncul kapan saja, saat traveling, merenung di waktu malam, atau langsung di depan komputer. Dalam menulis puisi, ia tidak pernah membatasi diri tentang tema tertentu karena menulis pusi menurut Isbedy tidak bisa dipaksa, mengalir menurut apa yang ada di dalam imajinasi, rasa, emosional, dan intelektual.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Mengenai proses kreatif lahirnya sebuah puisi, Isbedy mengaku, karyanya banyak terlahir oleh sentuhan-sentuhan sederhana, contohnya, puisi “Aku Tandai” yang disentuh oleh kalimat-kalimat yang didapat saat di kendaraan bermotor. Dalam proses kreatif kemudian, ia giring “tahilalat” itu sebagai penanda bagi manusia. Terkadang puisinya lahir dari kalimat-kalimat yang dianggap puitis dan menarik. Misalnya dia pernah melahirkan puisi dari kalimat yang dia peroleh begitu saja; karena laut mengajarkan rajaasi badai/ maka aku pun setia berlayar (puisi “Orang Laut”, 1987). Dari kalimat-kalimat itu, ia merangkainya hingga menjadi sebuah puisi yang utuh. &lt;br /&gt;Kini Isbedy banyak menulis cerpen. Hal itu disebabkan karena cerpen ”lebih menjanjikan”. Selain itu, bagi Isbedy menulis cerpen ”sangat menantang”. Dalam menulis cerpen, ia harus banyak memiliki ”tabungan” kata-kata dan kalimat dan memahami seluk-beluk alur cerita, penokohan, beserta konflik-konfliknya.&lt;br /&gt;Cerpen-cerpen Isbedy juga dimuat di berbagai media massa, seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Horison, Suara Merdeka, dan Kedaulatan Rakyat. Padahal, pada awalnya Isbedy minder sekali untuk mengirimkan cerpen. Berbeda, ketika ia menawarkan puisi ke media-media tersebut. Bahkan, dengan nada canda, Triyanto Triwikromo (Suara Merdeka) tidak mengakui Isbedy sebagai cerpenis. ”Kalau pun Anda mengirim cerpen tidak akan dimuat, sebab kekuatanmu ada di puisi.” Tetapi, belakangan cerpen-cerpen Isbedy lolos seleksi Suara Merdeka yang kita tahu Triyanto sangat ketat untuk menyeleksi karya sastra yang akan dimuat di koran tersebut. Begitu pula, barangkali, ketika Nirwan Dewanto meloloskan cerpen Isbedy yang berjudul ”Mata Elangmu Nyalang” di Koran Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu, produktivitas dalam menulis cerpen memang diakuinya cukup tinggi. Meskipun begitu, ia juga tetap rajin melahirkan puisi. Kalau kemudian ia lebih dikenal sebagai penyair, mungkin predikat itu sudah demikian menyatu dalam dirinya sejak lama. Isbedy justru merasa percaya diri disebut penyair ketimbang cerpenis. Boleh jadi suatu waktu ia akan meninggalkan dunia cerpen.&lt;br /&gt;Dalam menulis cerpen, Isbedy banyak belajar dari mengamati berbagai karakter atau tokoh orang yang ada di sekitarnya. Ia dapat lebih memasuki setiap karakter tokoh, latar, atau alur cerita. Ia bisa bebas memainkan bahasa karena sesungguhnya bahasa berperan penting bagi karya sastra ketika menulis cerpen.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai penulis, Isbedy sudah melahirkan banyak karya sastra. Karya-karyanya tidak hanya terangkum dalam antologi tunggalnya saja, tetapi juga terangkum dalam antologi bersama penyair lainnya. Karya-karyanya juga pernah dimuat di berbagai macam media massa, sebut saja Serambi Indonesia, Aceh Post, Riau Post, Singgalang, Sriwijaya Post, Lampung Post, Majalah Horison, Kompas, Jurnal Ulumul Qur’an, Nova, Jurnal Puisi, Citra, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Karya, Suara Pembaharuan, Berita Buana, Pelita, Surabaya Post, Pedoman Rakyat, Sinar Harapan, Amanah, Annida, Sabili, Fikri, Jawa Post, Wawasan, Suara Merdeka (Semarang), Surabaya News, Kedaulatan Rakyat (Bandung), Majalah Budaya Sagang, Padang Post, Padang Ekspres, Sumatra Post, Gerbang, Lampung Post, dan Trans Sumatra, Banjarmasin Post, dan Pedoman Rakyat (Makasar).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perjuangan yang ia lalui saat itu telah membuahkan hasil yang memuaskan. Sastra telah mengantarnya menjadi orang yang dikenal banyak orang, sastra juga membawa Isbedy berjelajah ke daerah-daerah di Indonesia. Ia pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta membaca puisi di TIM pada Forum Puisi Indonesia 1987, Pembacaan Sajak Tiga Penyair Lampung (1989) dan Festival November tahun 2001. Juga diundang pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) di Kayu Tanam (1997). Tahun 1999, ia menjadi salah satu sastrawan Indonesia yang diundang ke Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Malaysia. Dalam tahun yang sama, ia terbang ke Thailand, mengikuti Dialog Utara VIII. Ia pun kerap menghadiri undangan pertemuan sastra diberbagai kota dan daerah di Tanah Air antara lain: di Pekanbaru, Padang, Yokyakarta, Bali, Banjarmasin, Bengkulu, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Bengkalis. Pada 29 Februari dia membacakan puisi-puisinya dari buku Menampar Angin di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam perjalanan kesastrawanannya, banyak saran maupun kritik yang tertuju kepada dirinya. Pada Forum Puisi Indonesia ’87, Sutardji memberikan pujian kepada Isbedy yang dibuktikannya dengan memuat puisi Isbedy dari antologi Forum Puisi Indonesia ’87 di majalah sastra Horison. Menurut Sutardji, puisi Isbedy sangat sederhana, metafor-metafor yang ditampilkan tidak terlalu mengejutkan, tetapi dengan pengaluran yang lembut, saling menopang, serta diperhitungkan dengan penuh kecermatan, membuat Sutardji terpukau dengan larik-larik dalam setiap puisi yang dibuat Isbedy. Tambah Sutardji, ungkapan-ungkapan yang segar dalam sajak Isbedy ditampilkan dalam susunan saling bersambung, mendukung secara halus, lembut, dan tersamar suatu gagasan pikiran (Kompas, 4 Mei 2001, hal. 36). Tahun 1989, H.B. Jassin dalam catatan kebudayaan majalah Horison memberikan predikat kepada Isbedy sebagai Paus Sastra Lampung karena dedikasinya dalam berkarya dan memajukan sastra di Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maman S. Mahyana juga mempunyai kesan setelah ia membaca puisi-puisi Isbedy Stiawan. Menurutnya, antologi puisi Aku Tandai Tahi Lalatmu terkesan hendak menawarkan berbagai kegelisahan emosionalnya. Setiap makna dalam puisinya memancarkan makna sejalan dengan konteks dan situasi peristiwa yang dihadapi. Ditambahkan Maman dalam puisi Isbedy, ia juga bersiasat melalui beragam majas dan serangkaian enjambemen. Antologi itu, menurut Maman, mengukuhkan Isbedy sebagai penyair yang makin memperlihatkan kepribadiannya yang kukuh dan kepenyairannya yang matang.&lt;br /&gt;Kecendrungan memanfaatkan berbagai diksi dan sarana puitis, tampak diintegrasikan kedalam jalinan kata yang potensial memancarkan keberagaman makna. Gaya kepenyairan model ini, tentu saja bukan satu-satunya—juga bukan yang pertama—dilakukan Isbedy. Di belakang itu, ada nama-nama Dodong Djiwapradja, Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, sampai ke nama-nama penyair terkini macam Nanang Suryadi atau Tjahjono Widarmanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh kasus, misalnya, puisinya yang berjudul “Di Pantai”. Dekaplah aku, kata pantai pada laut, tapi,/setelah didekap, pantai pun membiarkan laut/ menjauh kembali, lalu burung-burung camar/hanya memandang sepi ujung bibirmu//. Hubungan laut—pantai yang komplementer itu tiba-tiba menjadi sebuah paradoks karena pantai di satu pihak tak dapat melepaskan dirinya dari kerinduan atas laut, dan di pihak lain, selalu membiarkan laut kembali menjauh. Sebuah pertemuan dan perpisahan yang sepertinya merupakan peristiwa biasa, tetapi justru menyimpan begitu banyak misteri.(Lampung Post, 2003).&lt;br /&gt;Yanusa Nugroho, salah satu Sastrawan dari Jakarta, memberikan tanggapannya terhadap cerpen-cerpen yang ditulis oleh Isbedy. Menurut Yanusa, membaca karya Isbedy adalah ”membaca energi” karena begitu padat cerpen-cerpen yang disuguhkan oleh Isbedy.&lt;br /&gt;Tak bisa terelakan lagi, Isbedy memang sudah menjadi bagian dalam perkembangan sastra di Indonesia. Sejumlah penghargaan juga pernah ia raih. Hal itu dikarenakan dedikasinya yang tinggi untuk perkembangan sastra di Indonesia. Anugerah Sanggar Minum Kopi Bali—10 Puisi Terbaik, tahun 1997, Margana Award—10 Puisi Terbaik, Yayasan Selakunda (Bali), 1998, Juara ke-2 Lomba Cipta Cerpen Teater Peron UNS Solo, Juara I Lomba Cipta Puisi Se-Indonesia Mahasiswa di Padang, Juara III Lomba Cipta Puisi Lingkungan Hidup kerja sama Majalah Trubus-Menteri KLH, tahun 2002, Rakyat Lampung Award 2005-2006—Tokoh Seniman, Nominator—5 Besar karya Cerpen—Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, tahun 2006, 10 Besar Nominator Katulistiwa Literary Award untuk kumpulan puisi Kota Cahaya, tahun 2006. Kumpulan puisi Kota Cahaya mendapat penghargaan dari DPD KNPI Bandarlampung pada 28 Oktober 2005 menganugerahi KNPI Award 2005 pada sastrawan ini sebagai Life Time Achievement. Berikut ini beberapa karya-karya Isbedy Stiawan ZS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) Darah, 1982.&lt;br /&gt;2) Badai 1984.&lt;br /&gt;3) Akhir 1986.&lt;br /&gt;4) Khalwat 1988.&lt;br /&gt;5) Membaca Bahasa Sunyi 1990.&lt;br /&gt;6) Lukisan Ombak 1992.&lt;br /&gt;7) Kembali Ziarah 1996.&lt;br /&gt;8) Daun-daun Tadarus 1997.&lt;br /&gt;9) Aku Tandai Tahi Lalatmu, Gama Media, Yogyakarta, 2003.&lt;br /&gt;10) Menampar Angin Bentang Budaya, Yogyakarta, 2003.&lt;br /&gt;11) Kota Cahaya, Grasindo, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;12) Salamku Pada Malam 2006.&lt;br /&gt;13) Laut Akhir 2007.&lt;br /&gt;14) Dari Negeri Poci, antologi bersama.&lt;br /&gt;15) Resonansi Indonesia, antologi bersama.&lt;br /&gt;16) Angkatan 2000, antologi bersama, 2000.&lt;br /&gt;17) Horison Sastra Indonesia: KitabPuisi, antologi bersama.&lt;br /&gt;18) Hijau Kelon dan Puisi 2002, antologi bersama Penerbit buku Kompas, 2002.&lt;br /&gt;19) Puisi Tak Pernah Pergi, antologi bersama Penerbit buku Kompas, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Cerpen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) Ziarah Ayah, Syaamil, Bandung, 2003.&lt;br /&gt;2) Tahun Cinta (antologi cerpen bersama), Senayan Abadi, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;3) Wajah di Balik Jendela (antologi cerpen bersama), Lazuri, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;4) Anak Sepasang Bintang (antologi cerpen bersama), FBE Press, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;5) Bunga-Bunga Cinta (antologi cerpen bersama), Senayan Abadi, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;6) Cerita-cerita pengantin (antologi cerpen bersama), Galang Press, Yogyakarta, 2003.&lt;br /&gt;7) Bulan Rebah di Meja Diggers, Beranda, Jakarta, 2004.&lt;br /&gt;8) Dawai Kembali Berdenting, Logung Pustaka, Lampung, 2004.&lt;br /&gt;9) Perempuan Sunyi Gama Media, Jakarta, 2004.&lt;br /&gt;10) Selembut Angin Setajam Ranting, Lingkar Pena Publising House, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;11)  Seandainya Kau Jadi Ikan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;12) Hanya Untuk Satu Nama, Bentang Pustaka, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;13) “Rumah Baru”, Radar Lampung, Minggu, 2 Oktober 2005.&lt;br /&gt;14) “Pasien Terakhir”, Lampung Post, 28 April 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-1218397893292452496?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/1218397893292452496/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=1218397893292452496' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1218397893292452496'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1218397893292452496'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/isbedy-stiawan-zs.html' title='Isbedy Stiawan ZS'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNVZD6vhwI/AAAAAAAAABA/u6OV5xHn8Hk/s72-c/ProfilIsbedyStiawanZs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-3852362919734318806</id><published>2008-11-18T23:11:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T23:12:05.450-08:00</updated><title type='text'>Zulkarnain Zubairi</title><content type='html'>Zulkarnain Zubairi dilahirkan di desa Negarabatin, Margaliwa, kecamatan Balik Bukit, Lampung Barat, tanggal 12 Juni 1970 dari pasangan Zubairi Hakim dan Tria Qoti. Ia merupakan putra sulung dari lima bersaudara. Adik-adiknya bernama Riza Sofya,Yuzirwan, Silvia Diana, Lila Aftika.&lt;br /&gt;Zulkarnain Zubairi mengenyam pendidikan hingga menengah pertama di kampung halamannya. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di SDN 1 Liwa sejak tahun 1977 hingga 1983. Selanjutnya, sekolah menengah pertama di SMPN 1 Liwa sejak tahun 1983 hingga 1986. Ketika memasuki masa pendidikan menengah atas, Zulkarnain Zubairi keluar dari tanah kelahiranya. Ia melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Bandarlampung sejak tahun 1986 hingga 1989. Tidak hanya sampai di jenjang pendidikan menengah atas, Zulkarnain Zubairi melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. Ia memilih menjadi mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Universitas Lampung sejak 1990 hingga 1996. Selain menjadi mahasiswa FISIP Unila, ia juga mengambil kursus D2 Akuntansi di Lembaga Pendidikan Fajar Agung, Bandarlampung (1989—1990). Dari Pendidikan akuntansi inilah ia sempat mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar ekonomi akuntansi SMAN dan MAN di kota kelahirannya pada tahun 1998.&lt;br /&gt;Sejak kecil sampai SMP, Zulkarnain Zubairi belajar membaca Al Quran dengan kakeknya. Baginya agama merupakan sumber utama tentang nilai, etika, moral, dan akhlak. Dengan keyakinannya yang kental dalam beragama, Islam memengaruhi kehidupan Zulkarnain Zubairi. Pengaruh agama memang tidak terlihat secara langsung dalam karya-karyanya. Akan tetapi, Zulkarnain Zubairi berusaha untuk tidak bertentangan dengan Islam dalam melahirkan karya.&lt;br /&gt;Zulkarnain Zubairi merasa beruntung walaupun menghabiskan masa kecilnya di pedesaan karena hobi membacanya tidak dibatasi oleh lingkungan tempat tinggalnya. Ayahnya yang berprofesi sebagai guru bahasa Indonesia sangat mendukung hobi membaca Zulkarnain Zubairi. Buku-buku bacaan Inpres yang dibawakan ayahnya kerap menjadi teman membaca Zulkarnain Zubairi. Selain itu, hobi nya juga didukung oleh anak seorang Kepala Kantor Pendidikan dan Kebudayaan Kecamatan, almarhum ZA Mathika Dewa atau Zulkifli yang juga seorang penulis. Pertemanan keduanya menjadi erat karena mereka dapat saling mendukung dalam menyalurkan hobi membaca mereka.&lt;br /&gt;Hobi membaca dan mengumpulkan tulisan-tulisan sastra sejak kecil mengantarkan Zulkarnain Zubairi menjadi seorang penulis. Ia senang membaca karya sastra, proses kreatif, dan biografi sastrawan-sastrawan terkenal. Melalui beragam bacaan karya sastra yang dibaca Zulkarnain Zubairi, ia mempelajari bagaimana para penulis tersebut bercerita, mengungkapkan gagasan, dan menyajikannya kepada pembaca. Zulkarnain Zubairi pun pada akhirnya terbiasa menuangkan segala sesuatu dalam bentuk tulisan. Sejak SD Zulkarnain Zubairi sudah menyenangi pelajaran mengarang bahkan ia bercita-cita menjadi penulis, cerpenis, novelis, penyair, atau sastrawan. &lt;br /&gt;Pria yang mempunyai nama pena Udo Z. Karzi. ini tidak pernah memilih jenis buku yang dibacanya. Ia membaca semua jenis buku yang ditemuinya, seperti novel terjemahan: Charles Dicken, karya sastra: Atheis, roman picisan, bahkan stensilan (bacaan porno). Ketika melanjutkan pendidikan di SMA di Bandarlampung, hobi membacanya semakin tersalurkan karena SMA tempat ia menimba ilmu memiliki perpustakaan dan letak SMA-nya juga berdekatan dengan Perpustakaan Provinsi. Bacaan Udo semakin meluas, ia tidak hanya mengonsumsi bacaan dari dalam negeri, tetapi juga dari luar negeri. Tidak hanya membaca, Zulkarnain Zubairi juga hobi mengkliping puisi, cerpen, esai, dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan esai. Akan tetapi, kumpulan tulisan tersebut saat ini tidak terdokumentasikan dengan baik.&lt;br /&gt;Tulisan Zulkarnain Zubairi mulai dimuat di media massa sejak tahun 1987. Saat itu, karena pengaruh bacaan dan situasi kepenyairan di Lampung, ia menulis puisi, padahal pada awalnya ia lebih senang menulis cerita pendek. Setelah puisi-puisi Zulkarnain Zubairi dimuat di media massa, karya-karya selanjutnya terus berkembang, cerpen, cerita anak, artikel, dan esainya ikut meramaikan media massa di Indonesia.&lt;br /&gt;Zulkarnain Zubairi sangat tertarik dengan tulisan-tulisan mengenai cerita anak karangan Mansur Samin. Karya-karya Mansur Samin mampu memengaruhi pemikiran Zulkarnain Zubairi. Ia mendapatkan semangat perlawanan terhadap lingkungan yang feodalistik, ortodok, paternalistik, dan anatikritik.&lt;br /&gt;Zulkarnain Zubairi memulai karirnya sebagai wartawan lepas harian umum Lampung Post sejak tahun 1995—1996. Ia kemudian berkarir sebagai reporter majalah berita Mingguan Sinar di Jakarta pada tahun 1997. Pada tahun 1998, Zulkarnain Zubairi beralih profesi menjadi guru bidang studi ekonomi dan akuntansi SMAN 1 Liwa dan MAN Liwa, Lampung Barat. Pada tahun 1999—2000, Zulkarnain Zubairi kembali menggeluti bidang persuratkabaran dengan menjadi redaktur Sumatera Post. Tahun 2000—2006, Zulkarnain Zubairi kembali bekerja di tempat dia mengawali karir, sebagai jurnalis di harian Lampung Post. Pada tahun 2006 hingga saat ini ia beralih menjadi redaktur Borneonews, di Pangkalan Bun, Kalimantan. &lt;br /&gt;Zulkarnain Zubairi tidak hanya memiliki pengalaman berkarir yang tinggi, ia juga memiliki beberapa pengalaman berorganisasi. Pengalaman pertamanya adalah menjadi Pemimpin Redaksi Surat Kabar Mahasiswa Teknokra Unila pada tahun 1983—1994. Pada tahun 1994—1996, ia terpilih sebagai Pemimpin Umum Majalah Republica FISIP Unila. Selanjutnya, pada tahun 1995—1998, ia diangkat menjadi pemimpin majalah Ijtihad. Pengalaman berorganisasi Zulkarnain Zubairi yang terakhir adalah menjadi anggota Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung. Organisasi ini digelutinya sejak tahun 2001 sampai sekarang.&lt;br /&gt;Profesi Zulkarnain sebagai wartawan ini membuat ia sangat dekat dengan dunia tulis-menulis. Zulkarnain berpendapat bahwa profesinya sebagai seorang wartawan menghambatnya menjadi sastrawan yang sebenarnya karena ketika ia menulis sebagai seorang wartawan tulisannya haruslah sangat cair dan jelas. Hal tersebut sangat bertolak belakang ketika ia menulis untuk menghasilkan sebuah karya sastra. Tokoh wartawan sekaligus sastrawan dan intelektual yang dikaguminya adalah Mochtar Lubis, Goenawan Mohammad, Hamka, dan Adinegoro.&lt;br /&gt;Karya sastra yang baik menurut Zulkarnain Zubairi adalah karya yang mengandung nilai-nilai kejujuran, kearifan, kebenaran keterbukaan, kebebasan, keadilan, dan demokrasi. Tulisan Zulkarnain Zubairi banyak menyuarakan tentang asalnya, Lampung. Ia  berpendapat bahwa Lampung adalah lahan yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan sastra. Akan tetapi, potensi tersebut tidak diikuti dengan perkembangan pemikiran kesusastraan, kesenian, dan kebudayaan.&lt;br /&gt;Ditambahkan pula, untuk melihat kualitas karya sastra, Zulkarnain mempunyai tiga hal. Pertama adalah isi karya sastra tersebut. Karya sastra dapat dianggap menarik jika memuat kisah/gagasan yang baru atau asli. Kedua, keteraturan memakai kaidah tata bahasa, kosa kata, dan ejaan. Ketiga, pemaparan atau sistematika dalam penceritaan.&lt;br /&gt;Kumpulan Puisi dwibahasa Lampung-Indonesia berjudul Momentum (Dinas Pendidikan Lampung, 2002) memuat 25 puisi Zulkarnain Zubairi. Sebagian merupakan refleksi dari perjalanan kehidupan Zulkarnain Zubairi dan sebagian lainnya merupakan kejadian atau hal yang menyentuh emosi dan perasaannya. Judul Momentum itu sendiri adalah semacam tekad untuk berbuat sesuatu yang bermakna dalam perjalanan hidupnya.&lt;br /&gt;Selain menulis puisi, Udo Z. Karzi juga kerap menulis esai. Bagi Zulkarnain, esai adalah bentuk tulisan yang yang masuk akal, rasional, dan argumentatif walaupun terkadang bersifat subyektif. Oleh sebab itu, dalam menulis esai ia berusaha menonjolkan ke”aku”annya dalam menyampaikan suatu gagasan dari sebuah fenomena.&lt;br /&gt;Zulkarnain Zubairi menaruh perhatian besar terhadap perkembangan sastra etnik Lampung. Menurut Zulkarnain Zubairi, tidak ada perkembangan yang berarti pada sastra etnik Lampung, padahal sastra Lampung sebenarnya berpotensi untuk tumbuh dan menjadi besar. Keprihatinan dan kepedulian Zulkarnain Zubairi terhadap sastra Lampung ia tuangkan dalam tulisannya “Sastra (Berbahasa) Lampung, dari Kelisanan ke Keberaksaraan”.&lt;br /&gt;Dalam melahirkan karya sastra Zulkarnain Zubairi tidak pernah menggunakan nama aslinya. Ia menggunakan banyak nama samaran dalam berkarya, yaitu Joel K. Enairy, Kantek Joel Kz, Yuli Karnaty, Mamak Kenut, Z. Karzi, dan terakhir Udo Z. Karzi. Karya-karya Zulkarnain Zubairi tersebar di berbagai media massa, seperti surat kabar mahasiswa Teknokra, majalah Republica, tabloid Raden Intan, harian Lampung Post, Trans Sumatera, Tamtama (sekarang Lampung Ekspress), Sumatera Post. Merdeka, Pelita, Suara Karya, Simponi, Swadesi, dan Sahabat Pena. &lt;br /&gt;Selain dimuat dalam berbagai media massa, karya-karya Zulkarnain Zubairi juga memperoleh beberapa penghargaan. Berikut ini beberapa karya dan penghargaan terhadap karya-karya Zulkarnain Zubairi:&lt;br /&gt;1. Puisi “Bagaimana Mungkin Aku Lupa” menjadi Juara II Lomba Menulis Puisi Naratif Festival Krakatau IX tahun 1999;&lt;br /&gt;2. Kumpulan puisi dwibahasa Lampung-Indonesia: Momentum terbitan Dinas Pendidikan Lampung tahun 2003;&lt;br /&gt;3. Puisi “Damba’ dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;&lt;br /&gt;4. Puisi “Bebas” dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;&lt;br /&gt;5. Puisi “Jalan yang Terbentang” dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;&lt;br /&gt;6. Puisi “Di Masjid” dalam buku Daun-Daun Jatuh, Tunas-Tunas TumbuhI di surat kabar Teknokra tahun 1999;&lt;br /&gt;7. lampung Kenangan dalam Krakatau Award 2002 terbitan Dewan Kesenian Lampung tahun 2002;&lt;br /&gt;8. Konser Ujung Pulau terbitan Dewan Kesenian Lampung tahun 2003,&lt;br /&gt;9. Pertemuan Dua Arus terbitan Jung Foundatin tahun 2004;&lt;br /&gt;10. Maha Duka Aceh terbitan PDS H.B. Jassin tahun 2005;&lt;br /&gt;11. Cerpen ‘Aing” dan “Lari” termuat dalam Sapardi Djoko Damono dkk. (Ed.) Graffiti Imaji (YMS, tahun 2002);&lt;br /&gt;12. Cerpen “Harga Diri” dalam surat kabar Teknokra tahun 2000;&lt;br /&gt;13. Cerpen “Tumi Pergi ke Kota” dalam Trans Sumatera tahun 2000;&lt;br /&gt;14. Esai “Begitulah Cinta” dalam Etos Kita : Moralitas Kaum Intelektual tahun 2003;&lt;br /&gt;15. Esai “Tradisi Lisan Lampung yang Terlupakan” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;16. “Hujan Sastra (sastrawan) Lampung Memang Tidak Merata” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;17. “Sastra (Berbahasa) Lampung, dari kelisanan ke Keberaksaraan” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;18. “Tradisi Dipuja, Tradisi Digugat” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;19. “Sastra Modern (Berbahasa) Lampung, dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;20. “Suatu Senja Sebuah Pekon Sedendang Dadi” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;21. “Anak-Anak Muda Semakin Jauh dari Tradisi” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;22. “Sastra Lisan Dadi” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005,&lt;br /&gt;23. “Nggak Gaul Kalau Enggak bisa Nyuara” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005;&lt;br /&gt;24. “Kecintaan pada Seni Tradisi Terpupuk sejak Lama” dalam Kebangkitan Sastra Lampung, tahun 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-3852362919734318806?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/3852362919734318806/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=3852362919734318806' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3852362919734318806'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3852362919734318806'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/zulkarnain-zubairi.html' title='Zulkarnain Zubairi'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-6058653143877453315</id><published>2008-11-18T23:10:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T23:11:05.228-08:00</updated><title type='text'>Y. Wibowo</title><content type='html'>Y.Wibowo lahir di Lampung. 03 Desember 1974. Putra kelima dari tujuh bersaudara pasangan Nandar Lasono dan Lasmiyati ini sejak kecil oleh orang tuanya dipanggil dengan nama Bowo. Meski lahir di Lampung, sesungguhnya Y. Wibowo ini adalah keturunan jawa, tak heran dalam keseharian sering menggunakan bahasa Jawa untuk percakapan kesehariannya. Ia sendiri mengakui kesulitan untuk  berbicara dengan bahasa Lampung karena sejak kecil sudah terbiasa berbahasa Jawa dalam keluarga. &lt;br /&gt;Ayahnya seorang PNS pada Kantor Cabang Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kecamatan Tanjungbintang. Orang tuanya selalu mendambakan anak-anaknya termasuk Y. Wibowo untuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dibandingkan orang tuanya. &lt;br /&gt;Untuk itu, telah dibuktikan oleh Bowo pada tahun 1987 lulus SD Negeri 2 Karanganyar, tahun 1990 lulus SMP Negeri 2 Kedaton Bandarlampung, dan tahun 1990 lulus SMA Surya Dharma jurusan Fisika. Sejak tahun 1994 hijrah ke kota Jogjakarta untuk menuntut ilmu di bangku fakultas teknik jurusan teknik arsitektur Universitas Widya Mataram Yogyakarta dan menyelesaikan studinya pada tahun 2003.&lt;br /&gt;Saat merantau di Yogjakarta, Y. Wibowo merasakan betul bagaimana jauh dari orang tua. Kondisi itu justru membuatnya lebih kreatif untuk berusaha berinteraksi dalam dunia kemahasiswaan demi mempertahankan status kemahasiswaannya. Ditambah lagi karena Bowo beretnis jawa, itu memudahkan ia untuk bersosialisasi dan berkomunikasi dengan orang sekitar.&lt;br /&gt;Saat di Yogja itulah, Bowo mengapresiasikan dirinya dalam dunia sastra, salah satunya dengan mengirimkan karya-karyanya ke berbagai koran yang ada di kota pelajar itu. Yogyakarta sepertinya benar-benar menjadi titik awal Bowo mengenal seni, tidak hanya mengirimkan karya-karyanya ke berbagai koran yang ada di Yogja, tetapi kegiatan seperti Lomba Penulisan Puisi dalam Festival Kesenian Yogjakarta tahun 1996 dan Pertemuan Penyair Yogja—Singapura. Bahkan, pengalaman bersastranya semakin dewasa setelah pulang kampung, terutama aktif dalam banyak kegiatan bidang sastra seperti pembacaan puisi keliling, bedah buku, dan diskusi-diskusi. &lt;br /&gt;Selama tinggal di Yogyakarta Y. Wibowo pernah bekerja di Penerbitan dan Kajian di Centre for Social Democratic Studies, konsultan arsitektur pada Pusat Studi Arsitektur Yogyakarta, dan konsultan pada CV. Yudha Karya Cipta Konsultan. Saat ini, ia bekerja di penerbitan Mata Kata, Bandarlampung. &lt;br /&gt; Pengalaman bersastra Pengagum Pramoedya Ananta Toer ini semakin matang saat ia kembali ke tanah kelahirannya. Menurutnya, eforia kesastraan yang terjadi di Lampung jauh dari dugaannya. Komunitas-komunitas sastra tumbuh subur dari segi kuantitas dibandingkan ketika dia pergi ke Yogja.&lt;br /&gt;Ada yang menarik dalam nama Y. Wibowo. Inisial Y yang selalu melekat pada nama diri sering menjadi teka-teki bagi penikmat karya-karya sastranya. Berusaha menyembunyikan identitas memang disengaja karena popularitas bukan tujuan hidupnya. Prinsip hidup yang selalu dipegangnya adalah sekali berarti setelah itu mati. Karena hidupnya saat ini belum begitu berarti maka saat ini juga ia belum berkeinginan untuk mati. &lt;br /&gt;Sebenarnya inisial Y itu adalah Yatno, setelah tahu inisial itu orang akan berpandangan begitu kentalnya nuansa kejawaan pada dirinya. Padahal ia mencoba untuk tidak membawa wacana kesukuan dan menghindari dari egoisme etnis tertentu.&lt;br /&gt;Penulis yang bercita-cita menjadi arsitek ini sejak awal sudah terjun di dunia sastra. Menurutnya, menyelesaikan tulisan baik itu prosa dan puisi merupakan tantangan tersendiri yang mengasyikkan. Bahkan karena terlalu asyik dalam dunia tulis-menulis, sampai sekarang cita-citanya untuk menjadi seorang arsitektur profesional belum terlaksana. &lt;br /&gt;Jerih payah Y. Wibowo dalam bersastra membuahkan hasil, puisinya yang berjudul “Narasi Dari Pesisir” pada tahun 2004 ia menjadi pemenang pertama anugerah Krakatau Award.&lt;br /&gt;Berikut karya-karya Y.Wibowo Pengakuan Pariyem; Perempuan Tak Perlu “Make up” (Bernas, 2002), Kronika Buku (terbit dalam dua edisi bersambung dalam Lampung Post, Oktober 2007), Names (The Jakarta Post, 2006), Ihwal Glokalisasi (Lampung Post, 2006), Momentum Keberpihakan (Radar Lampung, September 2007). &lt;br /&gt;Karya-karya puisinya sering juga menghiasi koran-koran nasional seperti; Memedi Sawah I, Memedi Sawah II (Kompas, 20 Agustus 2006), Pugung Raharjo, dan Jejak Hujan Kota Karang (Media Indonesia, 2 Januari 2005).&lt;br /&gt;Karya-karya manuskrip puisi yang telah ia hasilkan diantaranya; Ziarah Angin, Mei matahari, dan Opera Kebun Lada. Tidak ketinggalan pula karya prosanya; Orang-Orang ladang kabut, Sejarah,  Angin, dan Jejak juga sudah dibuat dalam bentuk manuskrip.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-6058653143877453315?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/6058653143877453315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=6058653143877453315' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/6058653143877453315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/6058653143877453315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/y-wibowo.html' title='Y. Wibowo'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-5167769484680954064</id><published>2008-11-18T23:09:00.002-08:00</published><updated>2008-11-18T23:10:26.647-08:00</updated><title type='text'>Wawaghahan (Warahan)</title><content type='html'>Wawaghahan (Warahan), yaitu cerita berirama.  Ciri-ciri wawaghahan terlihat pada irama yang menyertai cerita tersebut, dan sifatnya liris (dipengaruhi pribadi dan emosi si pembawa cerita).  &lt;br /&gt;Istilah Wawaghahan dikenal di Lampung Barat, sering kita dengar dari pembawa cerita (prosa) berirama, biasanya dibawakan oleh seorang nenek untuk cucu-cucunya, dengan irama sedemikian rupa, menaik dan menurun, menimbulkan kesan tertentu.  Si pendengar akan terhanyut oleh irama yang mengiringi cerita yang disampaikan itu.  &lt;br /&gt;Prosa berirama yang berasal dari daerah Liwa, misalnya, Si Cambai, Lindung Cumuk (= Belut Tercelup), dll. &lt;br /&gt;Warahan biasanya dilakukan pada saat sedang bekerja, seperti memetik cengkih atau menuai padi. Pada zaman dahulu, warahan dibawakan oleh orangtua ataupun kakek nenek dengan dikelilingi anak cucunya. Cerita rakyat berbentuk warahan ini, antara lain Radin Jambat, Anak Dalom, dan Sanghakhuk.&lt;br /&gt;Isi wawaghahan bersifat mendidik, menyadarkan semua orang agar berbuat baik, karena siapapun orangnya jika berbuat baik akan memperoleh ganjaran setimpal.&lt;br /&gt;Warahan terdapat dalam berbagai bentuk, antara lain dongeng, hikayat, epos, mitos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Danau Ranau dan Sebuah Nama Ranau&lt;br /&gt;Danau Ranau dan Sebuah Nama Ranau adalah salah satu bentuk dongeng dalam cerita rakyat Lampung yang sangat banyak, dongeng ada yang berbentuk legenda adapula yang berbentuk fabel. Kisah-kisah yang berbentuk legenda, antara lain Kisah Putri Petani yang Cerdik, Betung Sengawan, Incang-Incang Anak Kemang, Si Bungsu Tujuh Bersaudara, dan Berdirinya Keratuan Ratu Melinting dan Ratu Darah Putih. &lt;br /&gt;Sedangkan dongeng yang berbentuk fabel, antara lain Dongeng Puyuh dan Kerbau dan Dongeng Merak dan Gagak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah Buay Selagai&lt;br /&gt; Kisah Buay Selagai adalah cerita rakyat Lampung yang berbentuk hikayat, adapun kisah-kisah lainnya yang berbentuk hikayat, yaitu Kisah Si Raden dan si Batin, Si Luluk, Sekh Dapur, Sidang Belawan, dan Abdul Muluk Raja Hasbanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Radin Intan&lt;br /&gt; Radin Intan adalah cerita rakyat Lampung yang berbentuk epos. Epos diyakini memiliki dasar cerita yang bersifat realita. Isinya menyangkut suatu peristiwa kepahlawanan yang benar-benar terjadi atau diyakini sebagai kebenaran yang pernah berlangsung di masa silam.&lt;br /&gt;Epos yang terkenal dalam cerita rakyat Lampung adalah cerita kepahlawanan Radin Intan. Kisah ini diyakini nyata dan terdapat keturunan Radin Intan yang hidup sampai saat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Si Pahit Lidah&lt;br /&gt;Cerita Si Pahit Lidah adalah asalah jenis cerita rakyat Lampung yang berbentuk mitos. Mitos biasanya dihubungkan dengan cerita mengenai peristiwa gaib, kepercayaan masyarakat yang bersifat takhayul ataupun cerita mengenai kehidupan dewa-dewa. &lt;br /&gt;Kisah seperti ini ada dalam cerita rakyat suku Lampung, yaitu kisah Sukhai Cambai, Cerita Anak dalom, dan Raksasa Dua Bersaudara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-5167769484680954064?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/5167769484680954064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=5167769484680954064' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5167769484680954064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5167769484680954064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/wawaghahan-warahan.html' title='Wawaghahan (Warahan)'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-861969404162707147</id><published>2008-11-18T23:09:00.001-08:00</published><updated>2008-11-18T23:09:49.632-08:00</updated><title type='text'>Teater Satu</title><content type='html'>Teater Satu merupakan salah satu teater yang sampai saat ini kiprahnya terus menanjak, baik di Lampung maupun di Indonesia secara luas. Sesuai dengan misinya, yaitu melaksanakan program-program kesenian, kebudayaan, pendidikan, dan sosial kemasyarakatan yang dapat menginspirasi masyarakat untuk meraih nilai-nilai yang dapat mendorong terjadinya perubahan hidup ke arah yang lebih baik, Teater Satu terus berkarya untuk menampilkan kreasi terbaik mereka untuk dipersembahkan kepada masyarakat. &lt;br /&gt;Kini, teater yang didirikan oleh Iswadi Pratama pada 18 oktober 1996 telah mementaskan lebih dari lima puluh naskah drama. Naskah tersebut merupakan karya beberapa penulis terkenal seperti Samuel Beckett, Anton Chekov, Nano Riantiarno, Jean Jeanet, Arifin C. Noer, Atur S. Nalan, dan Iswadi Pratama. &lt;br /&gt;Iswadi Pratama, penggagas sekaligus pemimpin Teater Satu, awal mulanya bergabung dalam Teater Kurusetra. Teater Kurusetra muncul pada tahun 1992 yang dikomandoi oleh Iswadi Pratama, Panji Utama, Ahmad Yulden Erwin, dan Riffian Chevy. Sementara aktivis Teater Kurusetra, Ari Pahala Hutabarat lebih banyak beraktivitas di Komunitas Berkat Yakin (Kober). Dua tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1994, ketiga penggiat Teater Kurusetra, yakni Iswadi Pratama, Panji Utama, dan Ahmad Julden Erwin keluar. Iswadi dan Panji kemudian membuat grup teater sendiri bernama Forum Sementara. Riffian Chevy, Novi Balga, dan Ari Pahala Hutabarat tetap bertahan di Teater Kurusetra. Perkembangan selanjutnya, Forum Semesta yang diusung Panji dan Iswadi pecah. Iswadi kemudian membuat Teater Satu dan Panji Utama tetap di Forum Semesta. Para alumni Kurusetra Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Unila yang ingin tetap bergiat di teater kemudian membentuk Komunitas Berkat Yakin (Kober) yang tetap aktif hingga kini. (“Temu Teater tak Sekadar Adu Bakat” Lampung Post. Selasa, 27 Desember 2005).&lt;br /&gt;Dalam sebuah karyanya, Teater Satu lewat lakon “Nostalgia Sebuah Kota, Kenangan tentang Tanjungkarang”, tidak lagi mengedepankan cerita, melainkan potongan dan lintasan narasi personal serta tidak mementingkan kelengkapan tipikal sebuah lakon seperti plot, karakter, struktur dramatik“ Nostalgia Sebuah Kota: Kenangan tentang Tanjungkarang” yang dipentaskan di Teater Tertutup Taman Budaya Lampung pada 14 dan 15 Agustus 2004. Kolaborasi dari sejumlah karya seni pertunjukan: tari, pantomin, teater, sastra, dan sastra lisan Lampung. Sembilan pemain di atas pentas, tanpa tokoh sentral, bertindak sebagai medium yang menyuguhkan lintasan-lintasan narasi personal, fragmen, Visual, dan impresi-impresi konflik yang secara sadar tidak dibikin tuntas. Semua dikemas dalam bahasa romantik yang dipertegas dengan teks-teks puisi yang sangat imajinatif. Dapat dikatakan, itulah letak kekuatan lakon yang hampir setiap adegannya bersandar pada kekuatan bahasa puisi, diperkaya lagi dengan gerak dinamis para pemain yang kadang mengentak dan sering lembut serta puitis. Dalam pementasan ini, seluruh energi Teater Satu berpadu hingga menghasilkan sebuah karya yang pantas dicatat. Sebagai sebuah peristiwa teater, bisa dikatakan inilah garapan terbaru dalam dunia teater di Lampung. Naskah-naskah yang telah ditampilkan oleh Teater Satu mendapatkan sambutan yang baik dari para penikmat teater. &lt;br /&gt;Berbagai tanggapan pun muncul berkaitan dengan pementasan yang mereka lakukan. Dalam pementasannya, Teater Satu memiliki trik dan cara sendiri dalam memikat penontonnya. Dalam berbagai pertunjukan, mereka seringkali menyisipkan unsur tradisi. Melalui Teater Satu, masyarakat, khususnya penikmat teater, menjadi terbiasa mendengarkan syair-syair yang berakar dari syair sastra lisan Lampung. Misalnya saja dalam naskah “Aruk Gugat” yang dipentaskan atas permintaan Bank Dunia. Dalam lakon “Aruk Gugat”, penonton akan diperkenalkan pada warahan, yaitu cerita atau dongeng yang biasanya disampaikan untuk hiburan bagi anak-anak maupun dalam hajatan dari sebuah undangan. Naskah-naskah drama seperti inilah—mengandung unsur tradisi dan secara tidak langsung menawarkan budayanya sendiri— yang tentunya memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri. &lt;br /&gt;Bagi para penikmat sastra, terutama teater, tentunya mudah menyerap pesan-pesan moral yang ingin ditampilkan dalam sebuah pertunjukan teater. Kritikan-kritikan dan pesan moral yang disampaikan oleh Teater Satu misalnya. Bagi para penikmat teater, kemasan dialog dan peran yang disampaikan secara santun oleh Teater Satu merupakan alasan tersendiri bagi mereka untuk terus mengapresiasi karya-karya yang dipentaskan oleh Teater Satu. Hal ini tentunya tak pernah lepas dari naskah-naskah yang mereka pilih untuk dipentaskan. &lt;br /&gt;Beberapa naskah yang pernah ditampilkan oleh Teater Satu memiliki unsur intrinsik yang dominan. Salah satunya dalam lakon monolog “Perempuan Pilihan” karya Iswadi Pratama, terlihat sekali kekuatan watak tokoh-tokoh yang diceritakan dalam monolog tersebut. Secara psikologis, emosi tokoh yang bercerita dan diceritakan dalam monolog tersebut sangat bervariasi dan sangat menonjol. Jika ditinjau secara psikologis, naskah “Perempuan Pilihan” merupakan karya yang tepat untuk dijadikan objek. &lt;br /&gt;Selain itu, para pemain dan tim artistik sebuah teater juga memiliki peranan yang sangat vital dalam kesuksesan sebuah pertunjukan. Mereka menjadi kunci keberhasilan sebuah naskah dapat diterima dan diapresiasi dengan baik.&lt;br /&gt;Pentas 3 kali berturut-turut. Drama tragedi komedi Waiting For Godot oleh Teater Satu Bandarlampug Februari silam menunjukan besarnya minat teater lokal, ini untuk menguak keunikan naskah drama itu. Sebelum ke Jakarta, Teater Satu mementaskan drama ini di depan publik Lampung kalipertama di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa Universitas Lampung (03/02), Taman Budaya Lampung (05/02) dan terakhir di Teater Utan Kayu/ TUK Jakarta (8-9)&lt;br /&gt; Oleh Teater Satu, terhitung sudah dua tahun karya ini coba dipentaskan. Namun, kesulitan menginterpretasikan absurditas esensi seni malah dijadikan ide dasar pengangkatannya. Ditambah lagi tingkat kesulitan peran ditawarkan kepada para pemain cukup menggiurkan. Ini terbukti dari empat tokoh kinci dalam Waiting For Godot dimainkan oleh kru Teate Satu yang terhitung ‘tua’. Vladimir oleh Maulana Suryaning Widi, Estragon oleh Roby Akbar. Budi sebagai Pozzo, Djonet sebagai Lucky dan Dani sebagai bocah. Teater Satu, mungkin satu dari sekian ratus teater di dunia yang telah memainkan peran orang dalam novel karya Samuel Becket ini. Samuel, seorang berdarah Irlandia yang lahir pada 1906 mulai membuat dunia berdecak kagum, ketika pesan yang disuguhkan dalam novelnya membawa pencerahan dinding konvensional sastra abad itu. Novel Waiting For Godot abad itu berjudul asli En attendant godot.&lt;br /&gt; Berikut beberapa prestasi dan karya yang pernah di pentaskan dan di publikasikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Penelitian &lt;br /&gt;1) Penelitian Teater Rakyat Lampung: Warahan.&lt;br /&gt;2) Penelitian Sastra Lisan Lampung bersama Tim Smith, peneliti dari Amerika. Menghasilkan dokumentasi berupa kaset, transkrip, dan VCD.&lt;br /&gt;3) Penelitian: Peranan dan Pengaruh Teater dalam membangun dan membentuk Mentalitas dan Orientasi Nilai di kalangan pelajar. Menghasilkan sebuah kumpulan catatan dan artikel (belum disusun menjadi buku). &lt;br /&gt;4) Penelitian tantang sejarah dan perkembangan seni topeng (Sekura) Lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kerjasama dan Apresiasi &lt;br /&gt;1) Kerjasama dengan USAID (United States of America for International Development); menyosialisasikan program Rekonsiliasi Etnis dan Pencegahan Konflik Etnis di Lampung melalui media Teater Rakyat Tahun 1999—2000. &lt;br /&gt;2) Kerjasama dengan The Ford Foundation, melaksanakan program &lt;br /&gt;Sanggar Sastra Siswa di 10 SMU di Bandar Lampung, tahun 2001. &lt;br /&gt;3) Kerjasama dengan The Ford Foundation dan Teater Utan Kayu &lt;br /&gt;(TUK) Jakarta melaksanakan program jaringan seni-budaya di Sumatera, tahun 2002—2003. &lt;br /&gt;4) Kerjasama dengan Masyarakat Uni Eropa, melaksanakan program &lt;br /&gt;mensosialisasi pemeliharaan sumber-sumber air dan pemeliharaan hutan melalaui media teater, tahun 2004. &lt;br /&gt;5) Kerjasama dengan Taman Budaya Lampung, melaksanakan program&lt;br /&gt;apresiasi seni sastra dan teater di kalangan pelajar di Lampung. Tahun&lt;br /&gt;1996, 1998, 1999, dan tahun 2000.&lt;br /&gt;6) Kerjasama dengan Dewan Kesenian Lampung, melaksanakan program&lt;br /&gt;diskusi dan pelatihan seni sastra dan teater. Tahun 1999—2001.&lt;br /&gt;7) Kerjasama dengan Watala (Keluarga Pencinta Alam) lampung&lt;br /&gt;melaksanakan program penyuluhan pemeliharaan hutan kawasan melalui pementasan teater. Tahun 2000. &lt;br /&gt;8) Kerjasama dengan Dinas Pendidikan Lampung, melaksanakan&lt;br /&gt;program pembinaan dan pelatihan seni di kalangan pelajar.1997-1998.&lt;br /&gt;9) Kerjasama dengan Yayasan Kantata Bangsa, pimpinan Setiawan Djody&lt;br /&gt;melaksanakan program pementasan Perduli Sampit, tahun 2001.&lt;br /&gt;10) Kerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung &lt;br /&gt;melaksanakan program diskusi/seminar kebudayaan dan politik. Tahun&lt;br /&gt;1998, 1999, 2000.&lt;br /&gt;11) Kerjasama dengan Komite Anti Korupsi (KOAK) Lampung, &lt;br /&gt;melaksanakan program penyuluhan tindak pidana korupsi melalui &lt;br /&gt;media teater.&lt;br /&gt;12) Kerjasama dengan Pemda Tk. I Lampung, melaksanakan program Anti&lt;br /&gt;Madat, di kalangan remaja dan pelajar. Tahun 1997. &lt;br /&gt;13) Kerjasama dengan Yayasan Kelola, Solo. Memgikuti program pelatihan manajemen dan pentas keliling di kota-kota besar di Indonesia. Tahun 2001 dan 20004&lt;br /&gt;14) Kerjasama dengan Taman Budaya Lampung, melaksanakan program &lt;br /&gt; Festival Teater Pelajar Lampung, tahun 2000, 20002, dan 2004&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Program Pementasan &lt;br /&gt;1) Pentas Monolog Prita Isteri Kita karya Arifin C. Noor, Taman Budaya Lampung (1996).&lt;br /&gt;2) Pementasan lakon Lysistrata karya Aristophanes, tahun 1997.&lt;br /&gt;3) Pementasan lakon Kapai-Kapai karya Arifin C. Noor, Taman BudayaLampung. Tahun 1998. &lt;br /&gt;4) Pementasan Lakon Jerit Tangis Malam Buta karya Rolf Lauckenr, tahun 1998.&lt;br /&gt;5) Pentas Keliling Sandiwara Rakyat lampung di 50 desa dan kota di Lampung.&lt;br /&gt;6) Pementasan lakon Umang-Umang karya Arifin C. Noor, Taman Budaya Lampung. Tahun 1999 dan tahun 2000. &lt;br /&gt;7) Pementasan lakon Menunggu Godot (Samuel Beckett) Taman Budaya Lampung dan Taman Budaya Jambi tahun 2000, Gedung BKK UNILA, Teater Utan Kayu Jakarta tahun 2002, Pementasan Keliling (Solo,Yogyakarta, Bandung dan Tasikmalaya) Hibah Seni 2002 Yayasan Kelola&lt;br /&gt;8) Pementasan lakon Antigone karya Jean Anouilh , di Taman Budaya Lampung, Padang. Tahun 2002.&lt;br /&gt;9) Pementasan lakon Penagih Hutang karya Anton Chekov , dibeberapa SMU di Lampung.Tahun 2003.&lt;br /&gt;10) Pementasan lakon Pelayan karya Jean Genet (Perancis), dipentaskan di Taman Budaya Lampung, Padang, Jakarta, dan Solo, tahun 2003.&lt;br /&gt;11) Pementasan lakon Nostalgia sebuah Kota (Kenangan tentang&lt;br /&gt;Tanjungkarang) karya Iswadi Pratama. Di Gedung Kesenian Jakarta dalam Festival Teater Alternatif Gedung Kesenian Jakarta 2003.&lt;br /&gt;Teater Utan Kayu Jakarta(2004), Bandung, Jakarta, dan Makassar bekerjasama dengan Yayasan Kelola (Hibah Seni Yayasan Kelola 2004).&lt;br /&gt;12) “Perempuan Pilihan” The Chosen Women (Iswadi Pratama). &lt;br /&gt;13) Umang-umang (Arifin C Noer) teater kecil Taman Ismail Marzuki 27 Mei 2005.&lt;br /&gt;14)  Aruk Gugat (Iswadi Pratama), DSF Office Jakarta 25 Januari 2006.&lt;br /&gt;15) “Nyai Ontosoroh”, adaptasi dari novel Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer) di Taman Budaya Lampung April 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-861969404162707147?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/861969404162707147/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=861969404162707147' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/861969404162707147'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/861969404162707147'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/teater-satu.html' title='Teater Satu'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-5444320892073141178</id><published>2008-11-18T23:08:00.002-08:00</published><updated>2008-11-18T23:09:16.220-08:00</updated><title type='text'>Sagata</title><content type='html'>Sagata dalam kehidupan masyarakat Lampung berfungsi sebagai (1) media pengungkapan isi hati kepada seseorang (dari si bujang kepada si gadis atau sebaliknya); (2) alat penghibur atau penghilang kejenuhan pada suasana bersantai; (3) pelengkap acara cangget.  &lt;br /&gt; Istilah sagata dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Pesisir dan ada pula yang menggunakan istilah adi-adi.  Istilah pattun dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Abung, Menggala, Pubian, Sungkai, Way kanan, dan Melinting.  &lt;br /&gt; Sagata yaitu sastra Lampung yang berbentuk puisi yang tiap baitnya terdiri dari 4 (empat) baris, dan memiliki sajak akhir a-b-a-b.  &lt;br /&gt;Ditinjau dari isinya Sagata ada 5 (lima) macam yaitu:&lt;br /&gt;1. Sagata Ngababang (Puisi/Pantun mengasuh anak)&lt;br /&gt;2. Sagata Buhaga (Puisi/Pantun Percintaan)&lt;br /&gt;3. Sagata Nangguh (Salam dalam awal atau akhir kegiatan)&lt;br /&gt;4. Sagata Lalagaan (Sagata berolok-olok), biasanya pada pesta&lt;br /&gt;5. Sagata Nyindegh (Menyindir)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-5444320892073141178?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/5444320892073141178/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=5444320892073141178' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5444320892073141178'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5444320892073141178'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/sagata.html' title='Sagata'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-2266056865807762757</id><published>2008-11-18T23:08:00.001-08:00</published><updated>2008-11-18T23:08:46.872-08:00</updated><title type='text'>Sutjipto</title><content type='html'>Sutjipto dapat dikatakan sebagai sastrawan Lampung yang cukup produktif dalam berkarya. Karya-karyanya, selain menulis puisi dan novel, juga menulis esai, kritik, dan artikel sastra lainnya yang tersebar di berbagai media daerah dan nasional: Horison, Jurnal Kebudayaan Kalam, Kompas, Lampung Post, Media Indonesia, Radar Lampung, Republika, Trans Sumatera, dan Tempo. Hingga kini, Sutjipto masih tetap aktif menulis di berbagai media massa. &lt;br /&gt;Sebagai sastrawan periode 1970—2000 yang lahir di desa Gondosari, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah pada tanggal 16 Mei 1954, latar kehidupan keluarga orang tuanya—seorang pendidik dengan karakter khas sedikit otoriter—secara tidak langsung membawa kehidupan Sutjipto dalam lingkup edukatif yang kental. &lt;br /&gt;Perjalanan kepengarangannya baru dimulai semenjak duduk di perguruan tinggi. Proses kepengarangan di mulai dari tekanan ekonomi yang tidak mampu membawanya pada perubahan signifikan. Tahun 1976 merupakan titik awal proses kreatif menulis. Semua artikel yang dihasilkannya mulai dikirim ke berbagai media surat kabar Jawa Tengah, tulisan demi tulisan yang berkembang berikutnya dapat diterima dan di muat di berbagai media.&lt;br /&gt;Kebiasaan menulis artikel itu terus dilakukan dan dikembangkan di Lampung. Karena kreatifitas penulisan di surat kabar inilah namanya mulai dikenal. Terlebih ketika salah satu penerbit di Jakarta (PT Erlangga) menawarkan agar penulis mencoba menulis buku pelajaran. Hasilnya, sempat meledak di pasar pada saat kurikulum 1994.&lt;br /&gt;Kehadiran karya-karya Sutjipto secara tidak langsung memengaruhi perkembangan sastra Lampung—dialah satu-satunya sastrawan Lampung yang tetap konsisten berkarya dengan tema lingkungan alam Lampung—kontribusinya dalam memedulikan lingkungan dan pelestarian alam Lampung yang sangat berguna sebagai tambahan dalam khasanah kepustakaan dan kesusastraan.&lt;br /&gt;Tidak hanya itu, sebagai penulis sastra, dia juga berkiprah sebagai pengawas di lingkungan Depertemen Pendidikan Nasional Lampung, Sutjipto cukup lama berkecimpung di SMUN 3 Bandarlampung untuk mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia. Selain itu Sutjipto juga pernah mengundang sastrawan Lampung dan Jakarta untuk memberikan apresiasi di SMUN 3, mendatangkan penyair Taufik Ismail dan Sutardji Calzoum Bachri. Tahun 1978, penulis hijrah ke Lampung bersamaan dengan pengangkatannya sebagai PNS. Pertama bertugas ditempatkan di SMAN 2, kemudian SMAN 3.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karya-karya Sastra: &lt;br /&gt;1. Belantara Kehilangan Nyawa, Kumpulan puisi tunggal, Depdikbud, 1998. &lt;br /&gt;2. Memetik Puisi dari Udara, Editor Antologi Puisi &lt;br /&gt;3. Belantaraku Kehilangan Nyawa, Antologi Puisi. &lt;br /&gt;4. Krakatau Merindukan Gelombang Cinta Kita, Penerbit Hidayat, Yogyakarta, 2001. &lt;br /&gt;5. Buku Harian Sugeng Menembus Batas Matahari Kita, Penerbit Hidayat, Yogyakarta, 2001. &lt;br /&gt;6. Hilangnya Bibir Anak Pak Rustam kumpulan cerpen, 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Karya-karya dalam bentuk pembelajaran:&lt;br /&gt;1. Mari Berbahasa Indonesia, SLTP, Erlangga Jakarta: 1994, &lt;br /&gt;2. Mari Berbahasa Indonesia, SMU, Erlangga, Jakarta, 1994, &lt;br /&gt;3. Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia SMU, Yudhistira, Jakarta.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-2266056865807762757?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/2266056865807762757/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=2266056865807762757' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2266056865807762757'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2266056865807762757'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/sutjipto.html' title='Sutjipto'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-4417913612337105244</id><published>2008-11-18T23:07:00.002-08:00</published><updated>2008-11-18T23:08:06.921-08:00</updated><title type='text'>Syaiful Irba Tanpaka</title><content type='html'>Tanggal 9 Desember 1961 adalah hari yang bahagia bagi pasangan Sidi Zainuddin dan Sa’ah, karena pada hari itu mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Syaiful Irba Tanpaka di klinik Bersalin Santa Anna Bandarlampung. Syaiful adalah anak keenam dari enam bersaudara. Walaupun Syaiful lahir dan besar di Lampung, tapi sesungguhnya beliau bukan keturunan asli Lampung, ayah Syaiful berasal dari Sumatera Barat dan Ibu berasal dari Banten. &lt;br /&gt;Pendidikan Syaiful dari SD hingga SMA di habiskan di Lampung. Saat kecil, Syaiful bersekolah di Sekolah Dasar Negeri Kupangkota, selepas SD, ia melanjutkan ke SMP Pelita Telukbetung, tahun 1981 Syaiful lulus dari SMP dan melanjutkan ke SMA PGRI di Tanjungkarang. Kegiatan bersastra Syaiful dimulai dari dia duduk di bangku SMP, saat itu ia mengelola Majalah Dinding (Mading) yang ada di sekolahnya dan ia juga bergabung dengan Sanggar Ragam Budaya, saat itulah Syaiful mulai mengasah bakat seninya dengan serius. Setelah lulus SMA, Syaiful Irba Tanpaka melanjutkan ke Unversitas Muhammadiyah Lampung, fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, tetapi kerena ketidak cocokannya ia dengan ilmu tersebut, akhirnya pada semester empat ia berhenti kuliah, dan lebih memilih mengabdikan diri menjadi Pegawai Negeri Sipil. &lt;br /&gt;Awal mula Syaiful menjadi PNS, Ia ditugaskan di Kantor Mawil Pertahanan Sipil daerah Tingkat II Lampung Selatan, hingga tahun 2003. Di sela-sela kesibukannya menjadi PNS, Syaiful masih sempat meluangkan waktunya untuk paduli pada seni dan budaya Lampung. Dewan Kesenian Lampung adalah tempat dimana Syaiful mengabdikan diri pada seni. Totalitas pada seni dan budaya, ditunjukan oleh Syaiful dengan pernah beberapa kali menjabat sebagai sekertaris dan pernah juga menjadi Ketua Harian. Totalitas seni dan aktivitasnya menjadi PNS memang tidak bias dipisahkan, saat ini ia bertugas di Subbidang Seni dan Budaya Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. Selain Ia sibuk di DKL, Syaiful juga mengasuh Komunitas Anak di Kisah Teater Bocah. Walau tidak terlalu terkenal, beberapa kali komunitas itu sering melakukan pementasan teater.&lt;br /&gt;Aktivitas seni Syaiful dimulai pada tahun 1976, ketika itu ia bergabung dengan Sanggar Budaya Lampung. Saat itu Syaiful ikut mementaskan “Tenggelamnya kapal Van Der Wijk” karya Buya Hamka yang disutradarai oleh M.Z. Simatupang, ia pernah juga mendukung pementasan “Krikil” bersama Sanggar Ragam Budaya, dan masih banyak lagi pementasan yang saat itu dilakukan olehnya. Syaiful Irba Tanpaka baru menulis puisi pada tahun 1981, di Sanggar itulah Syaiful memupuk kecintaannya pada seni, khususnya sastra.&lt;br /&gt;Bermodal mesin tik yang dipinjamkan Isbedy, Syaiful mulai mencari ide tulisan, berjam-jam dihabiskan olehnya hanya untuk menciptakan sebuah puisi, tak kenal rasa lelah, dan rasa kantuk yang semakin menyerang ia tetap termotivasi untuk menciptakan puisi. Puisi “Koral Biru”, adalah puisi pertama Syaiful yang menghantarkan dirinya menjadi sastrawan. Puisi yang dibuat pada tahun 1981, di kamar Isbedy Stiawan ZS, saat itu Isbedy telah menjadi sastrawan yang terkenal, dan karya-karyanya banyak dibicarakan. Isbedy yang saat itu melihat bakat Syaiful yang begitu besar dalam menulis puisi, kemudian mengirimkan puisi “Koral Biru” ke surat kabar Swadesi. Tanggal 12 Mei 1981 adalah hari yang berarti dalam perjalanan Syaiful menjadi sastrawan, tepat pada tanggal itu puisi “Koral Biru” dimuat.  &lt;br /&gt;Setelah puisi Syaiful yang pertama dimuat di surat kabar, teman-temannya, Isbedy Stiawan ZS, A.M. Zulqarnain, dan Muhammad Rich berlomba-lomba mengirimkan karya-karya mereka ke berbagai media massa. Tantangan untuk membayar uang tanda kalah, jika karya salah satu dari mereka tidak dimuat, menjadi motivasi dalam diri mereka.&lt;br /&gt;Ketertarikan Syaiful dengan puisi, secara pribadi diawali dengan membaca puisi Piek Ardijanto Soeprijadi dan Djawawi Imron. Piek adalah sastrawan yang berprofesi sebagai guru. Menurut Syaiful puisi-puisi Piek laksana membaca alunan lagu. &lt;br /&gt;Tidak sebatas puisi yang ia tulis, cerpen juga ditulis oleh Syaiful, “Tembok” adalah cerpen yang pertama dimuat pada harian umum Suara Karya Dalam berproses krearif, Syaiful ternyata tidak hanya menulis puisi, cerpen dan esai pun juga banyak dihasilkan oleh Syaiful. Disamping beberapa esai yang Syaiful tulis, ia juga menyempatkan menulis resensi di beberapa surat kabar “Suara dari Negeri Minoritas” Lampung Post 15 September 1996, “Menimbang Sastra feminis” Trans Sumatera 14 Mei 2000, &lt;br /&gt;Sepak terjang Syaiful dalam dunia seni tak berbendung, setelah menulis puisi, cerpen dan esai, Syaiful juga menulis naskah drama dan menyutradarai. “Sang Komandan” adalah drama yang disutradarai oleh Syaiful yang dipentaskan oleh Kelompok Teater Lampung pada tahun 1988.&lt;br /&gt;Produktivitasnya tenyata tidak hanya menuai simpati dari penikmat dan pemerhati sastra yang ada di Lampung. Bersama Isbedy Stiawan ZS, Achmad Rich, Naim Emel Prahana, Sugandi Putra dan Iwan Nurdaya Djafar pada tahun 1987 diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta untuk membacakan puisi-puisinya dalam acara Forum Puisi Indonesia ’87 di Taman Ismail Marzuki. Pertemuan Sastrawan Nusantara di Kayutaman, Sumatera Barat tahun 1997, Festival Puisi PPIA Surabaya pada tahun 2002, Kongres Cerita Pendek II di Jimbaran Bali pada tahun 2002, Kongres Kebudayaan di Bukittinggi pada tahun 2003, Kongres Kesenian di Jakarta dan Papua pada tahun 2005.&lt;br /&gt;Berbagai penghargaan pun telah diraih Syaiful dalam perjalanannya menjadi sastrawan. Tahun 1987, ia pernah meraih juara satu Lomba Penulisan Puisi Bentoel’87 yang diselenggarakan oleh PT Radio Suara Bhakti. Tahun 1992, prosa Syaiful yang berjudul “Bandarlampung Suatu Hari dalam Buku Harianku” memenangkan Lomba Mengarang Bumi Kelahiran yang diselengarakan oleh Penerbit Puspa Swara Jakarta. Tahun 1993, ia memenangkan Penulisan Cerita Tradisional, tahun 1995 menjadi nominator Penulisan Puisi Kemerdekaan ANTV, pada tahun 1999 meraih juara satu penulisan esai Desaku Maju Sakai Sembayan Se-Lampung, pada tahun 1999 Syaiful mendapatkan penghargaan atas karyanya dari Depparsenibud (Depertemen Pariwisata Seni dan Budaya) pada malam penghargaan Malam Pesona Budaya, masuk tujuh puisi terbaik “Borobudur Award 1997”, juara IV Lomba Cipta Puisi Krakatau Award I pada tahun 2002, dan masih banyak penghargaan yang ia raih dalam perjalanannya menjadi sastrawan.&lt;br /&gt;Kepenyairan Syaiful Irba Tanpaka, juga tidak luput dari perhatian rekan-rekannya sesama sastrawan. Panji Utama, sastrawan yang tinggal di Bandarlampung dalam Surat Kabar Yudha Minggu Sport dan Fiksi, 11 September 1988. Panji mengkritisi ketidakcermatan Syaiful dalam mempergunakan dan memilih kata, Panji menyayangkan ketidakcermatan Syaiful dalam menggunakan huruf kapital. Menurut Panji, Syaiful seolah ingin menyulap sajaknya yang biasa menjadi karya yang bernilai sufistik dengan menggunakan klitika –Ku dan –Mu yang seharusnya ditulis dengan huruf kecil. &lt;br /&gt;Syaiful Irba Tanpaka juga sering memberikan komentar tentang proses kreatif sastrawan-sastrawan Lampung. Pada harian umum Bandarlampung News No.34 Thn 23—29 Januari 2003, Syaiful memberikan komentar tentang proses kreatif Edy Samudra Kertagama. Menurut Syaiful membaca puisi Edy, pembaca diajak untuk melihat fenomena-fenomena sosial yang ada di negeri ini, tentang tragedi kekerasan, ketidakadilan dan nasib kaum marjinal yang terpinggirkan.&lt;br /&gt;Syaiful Irba Tanpaka juga memberikan komentar tentang ‘Paus Sastra Lampung’ Isbedy Stiawan. Pada harian Simponi, 18 November 1992, Syaiful menanggapi manuskrip Isbedy yang berjudul “Dunia Lipstik”. Menurut Syaiful, Isbedy dalam manuskripnya mengisahkan tentang kegusaran yang memanggang hati nuraninya, sebagai sikap keprihatinan penyair terhadap mengeringnya nilai-nilai kehidupan. Lewat sajak-sajaknya, Isbedy mencoba menyentuh hati nurani yang terdalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puisi &lt;br /&gt;1) Nyanyian Tanah Putih “Antologi Puisi Penyair Muda Lampung”&lt;br /&gt;2) Memetik Puisi dari Udara,&lt;br /&gt;3) Jung “Segabung Puisi Penyair Lampung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cerpen&lt;br /&gt;1) “Tembok”, Suara Karya, Minggu 1 Mei 1983. &lt;br /&gt;2) “Potret Perjalanan Diah”, Lampung Post 13 Juni 1993 &lt;br /&gt;3) “Gaun”, Suara Karya, Minggu 30 Oktober 1983. &lt;br /&gt;4) “Sebuah Sisi Pertemuan”, Swadesi, 18 Oktober 1984. &lt;br /&gt;5) “Sandal Jepit”, Lampung Post, Senin 18 November 1984. &lt;br /&gt;6) “Helma”, Lampung Post, Senin 14 Agustus 1989. &lt;br /&gt;7) “Apakah (+) Apakah (-)”, Media Komunikasi, Edisi IV Oktober 1989. &lt;br /&gt;8) “Lelaki di Sebuah Taman”, Lampung Post, Sabtu, 9 Februari 1991. &lt;br /&gt;9) “Dalam Gemilang Takbir”, Lampung Post, Sabtu, 18 Maret 1994. &lt;br /&gt;10) “Rampok”, Lampung Post, 10 maret 1996. &lt;br /&gt;11) “Ritus Buka Tahun”, Lampung Post, 10 Januari 1999. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Esai&lt;br /&gt;1) “Kebangkitan Kesenian Lampung” Sumatera Post, 5 Juli 2004.&lt;br /&gt;2) “Cak Nun dan Pencekalan” Lampung Post, 15 Juli 1995. &lt;br /&gt;3) “Amnesia Kota Tapis” Lampung Post, 5 Juli 2004.&lt;br /&gt;4) “Kota Dalam Nuansa Penyair” Lampung Post, 14 April 1993. &lt;br /&gt;5) “Lorong Kekerasan dalam Puisi” Sinar Pagi, 5 Oktober 1999.&lt;br /&gt;6) “Tuan itu Bernama waktu” Lampung Post. 5 Mei 2002.&lt;br /&gt;7) “Kenapa Harus Seni Tradisi” Lampung Post, 18 Januari 2004. &lt;br /&gt;8) “Memotret Sufisme di Tangan Penyair Sebuah Retorika” Berita Buana, 25 Oktober 1988.&lt;br /&gt;9) “Mengenal Sastra Lisan Daerah Lampung” Swadesi, 3 Februari 1991.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-4417913612337105244?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/4417913612337105244/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=4417913612337105244' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/4417913612337105244'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/4417913612337105244'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/syaiful-irba-tanpaka.html' title='Syaiful Irba Tanpaka'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-3938113005751064514</id><published>2008-11-18T23:07:00.001-08:00</published><updated>2008-11-18T23:07:37.623-08:00</updated><title type='text'>Reringget</title><content type='html'>Reringget merupakan bentuk sastra lisan tertua di Lampung dengan pola persajakan yang statis berbentuk a-b-a-b. Cerita Radin Jambat adalah salah satu contoh puisi yang berbentuk reringget. Cerita  ini memiliki pola persajakan yang statis berbentuk a-b-a-b hampir di semua bait. &lt;br /&gt; Istilah reringget dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Abung, Menggala, Marga Sekampung, dan Melinting.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-3938113005751064514?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/3938113005751064514/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=3938113005751064514' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3938113005751064514'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3938113005751064514'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/reringget.html' title='Reringget'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-1751125133431716790</id><published>2008-11-18T23:06:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T23:07:01.564-08:00</updated><title type='text'>Pisaan</title><content type='html'>Pisaan adalah sejenis pantun yang terdapat di kalangan masyarakat Lampung Pubian. biasanya dilakukan pada saat melepas keberangkatan seorang gadis menuju rumah suaminya. Istilah pisaan dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Pubian, Sungkai, dan Way Kanan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-1751125133431716790?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/1751125133431716790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=1751125133431716790' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1751125133431716790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1751125133431716790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/pisaan.html' title='Pisaan'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-7831235449320128709</id><published>2008-11-18T23:05:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:14:58.179-08:00</updated><title type='text'>Oyos Saroso H.N</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNWmfyNrXI/AAAAAAAAABI/rFH0c1KG8_o/s1600-h/OyosdanRatih.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 224px; height: 320px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNWmfyNrXI/AAAAAAAAABI/rFH0c1KG8_o/s320/OyosdanRatih.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274654807948111218" /&gt;&lt;/a&gt; Tanggal 16 Maret 1969, atau bertepatan dengan hari Minggu Pon menurut perhitungan Jawa, lahirlah seorang bayi laki-laki di desa Sawit, sebuah desa kecil di Kecamatan Banyuurip Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah. Bayi laki-laki yang lahir sebagai anak bungsu dari lima bersaudara itu kemudian diberi nama Oyos Saroso H.N.. Penambahan huruf H.N. di belakang namanya bukanlah tanpa arti. Huruf-huruf tersebut merupakan gabungan huruf dari nama kedua orang tuanya, yaitu Hardjo Karsono dan Nuk Sastro Dihardjo.&lt;br /&gt;Lahir di tengah-tengah keluarga yang menjadi abdi negara, Oyos pun diharapkan dapat meneruskan langkah mereka. Ayahnya M.H.K. Hardjo Karsono saat itu adalah seorang lurah di Desa Sawit. Kakak tertuanya, Dachlan H.N., berprofesi pula sebagai lurah di desa kelahirannya. Sudjoko, kakak keduanya, bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sri Suparti H.N., saudara perempuan satu-satunya bekerja sebagai guru negeri di Jawa Tengah. Kakak keempatnya bekerja sebagai petani di desanya. Oleh karena latar belakang keluarga seperti itulah, setelah lulus dari SMPN 2 Brebes, kakak perempuannya memaksa Oyos untuk meneruskan sekolah ke SPG dengan harapan setelah lulus nanti Oyos akan menjadi guru seperti kakak perempuannya itu.&lt;br /&gt;Namun, SPG bukanlah sekolah yang di damba-dambakan oleh Oyos sesungguhnya, karena dia memang tidak pernah bercita-cita menjadi guru. Saat itu, yang ada di angan remajanya adalah meneruskan sekolah ke SPMA dan berharap dapat menjadi insinyur pertanian. Angannya itu timbul karena seringkali menyaksikan beberapa orang sepupunya yang lulus dari IPB dan sukses sebagai insinyur pertanian. Hal itulah yang menjadikan Oyos sering memimpikan untuk menjadi insinyur pula. &lt;br /&gt;Di luar harapannya untuk menjadi insinyur pertanian, Oyos tidak ingin menentang dan membantah keinginan keluarganya. Oyos akhirnya mengikuti kemauan orang tuanya untuk masuk SPG. Akan tetapi, Oyos tetap tidak dapat membendung keinginannya untuk meneruskan sekolah ke SPMA atau paling tidak ke sekolah umum. Akhirnya Oyos melamar pula ke SMAN 1 Brebes, dengan harapan setelah lulus dari sekolah umum, dia akan melanjutkan ke IPB. Di sekolah ini Oyos dinyatakan lulus dan diterima sebagai siswa SMAN 1 Brebes. Namun nasib berkata lain, Oyos juga diterima di SPG, dan akhirnya tetap mengikuti keinginan kakak perempuan dan orang tuanya. Sejak saat itu, Oyos resmi menjadi siswa SPG.&lt;br /&gt;Menuruti kehendak keluarga bukan berarti pengabdian sepenuhnya bagi Oyos. Meski tidak secara ekstrem, diam-diam Oyos bersikap memberontak, dia mulai menunjukkan rasa tidak sukanya pada dunia keguruan. Ketidaksukaannya itu dilampiaskannya dengan cara menekuni dunia baru, yaitu membaca karya-karya sastra. Untunglah, SPG tempatnya bersekolah memiliki perpustakaan yang besar dan memiliki koleksi buku yang cukup banyak. Hampir setiap hari Oyos menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan, dan hampir semua buku sastra yang ada di sana dibacanya sampai tuntas. Melalui kebiasaan barunya ini Oyos mendapatkan kesenangan tersendiri. Diam-diam dia mulai belajar menulis sastra. Salah satu genre sastra yang ditekuninya dengan serius adalah puisi.&lt;br /&gt;Ketika itu usianya masih 16 tahun dan duduk di kelas 2 SPG. Walau tidak ingat betul kapan dia mulai menuangkan keterpukauannya akan sebuah peristiwa atau pengalaman menjadi sebuah tulisan, tetapi secara pasti dia mengingat ketika pada suatu siang yang panas sekitar tahun 1985, inspirasinya menulis puisi muncul saat membaca majalah Sahabat Pena terbitan Kantor Pos dan Giro Bandung. Majalah yang memuat rubrik cerpen dan puisi tersebut diasuh oleh Korrie Layun Rampan dan Alinafiah Lubis. Selain rubrik karya puisi dan cerpen, majalah itu juga memuat ulasan puisi yang ditulis oleh Korrie Layun Rampan. Akhirnya Oyos memutuskan untuk berlangganan majalah itu dengan menu bacaan yang tak pernah dilewatkannya yaitu, ulasan puisi Korrie Layun Rampan yang sederhana dan tentu saja mudah dipahami. Inilah yang menjadi awal ketertarikannya pada puisi dan memacu Oyos untuk mulai belajar menulis puisi. Kepercayaan diri Oyos semakin besar dengan dimuatnya puisi pertamanya – Oyos Kere Namaku! (1986) – di Sahabat Pena dan sejak itu dia semakin tekun menulis puisi dan mengirimkannya ke berbagai media massa. Semenjak itu pula nama Oyos pun semakin dikenal dalam dunia sastra nusantara.&lt;br /&gt;“Oyos Kere Namaku!” adalah puisi pertama Oyos yang dikirimkannya ke media cetak dan langsung dimuat. Menurut Oyos puisi itu sangat sederhana dan naif, menceritakan tentang kehidupan Oyos sendiri secara lugas, tentang penderitaan seorang lelaki yang berbentuk curahan hati Oyos. Oleh karena pengasuh rubrik itu adalah Korrie Layun Rampan yang sudah memiliki nama besar saat itu, tentulah Oyos merasakan kebanggaan yang sangat besar, apalagi ketika itu Oyos telah membaca semua karya Korrie Layun Rampan.&lt;br /&gt;Sejak puisinya dimuat di majalah Sahabat Pena itulah, Oyos semakin rajin mempelajari sastra. Oyos merasa beruntung dan terbantu karena sekolahnya, SPG, memiliki perpustakaan dengan koleksi buku lengkap, termasuk buku-buku sastra, mulai dari edisi istimewa hingga stensilan, yang asli maupun terjemahan sudah dibacanya tuntas. Karya-karya stensilan yang cukup menarik perhatian Oyos di antaranya beberapa antologi karya penyair Tegal.&lt;br /&gt;Selepas dari SPG, Oyos ditawari kakaknya untuk menjadi guru di sebuah SD, tetapi karena pada dasarnya Oyos tidak pernah bercita-cita menjadi guru, dia menolak permintaan kakaknya itu. Diam-diam Oyos berkeinginan menjadi sastrawan dan pada tahun 1988 Oyos melanjutkan pendidikan ke Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Jakarta yang sekarang berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Pilihan fakultas yang dimasukinya pun tidak berada jauh dari minat dan kecintaannya pada sastra, yaitu Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Oyos memang mempunyai alasan mengapa ia memilih almamater yang sudah jelas sebagai pencetak guru bahasa dan sastra, bukan tempat mencetak seorang sastrawan, tetapi dia memiliki harapan besar jika kuliah di Jakarta, dia akan mudah bertemu dan bergaul dengan para sastrawan besar, dan dari pergaulan itu Oyos berharap dapat belajar dan menggali potensinya di dunia sastra. Hal itu juga yang menjadi alasannya memilih kuliah di Jakarta, bukannya di Yogya atau Semarang yang lebih dekat dengan tempat tinggal orang tuanya.&lt;br /&gt;Pada awal perkuliahan, Oyos sudah mulai merasakan kebosanan dan kejenuhan dengan kualitas dan cara dosen-dosennya mengajar. Oyos merasa makin frustrasi dan menyadari bahwa IKIP bukanlah pencetak para sastrawan melainkan pendidik. Oyos pun akhirnya mulai mencari kesibukan lain sebagai pelarian dari rasa frustrasinya itu. Berbekal minat yang besar terhadap sastra, Oyos mendapat tempat pelarian yaitu dengan cara aktif di teater, baik teater kampus maupun luar kampus. Bersama teman-teman kuliahnya Oyos membentuk sebuah kelompok teater mahasiswa, yang diberi nama Teater Zat. Teater ini masih tetap aktif hingga kini dan dikelola oleh mahasiswa-mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni UNJ. &lt;br /&gt;Melalui Teater Zat, Oyos mengasah kepekaan dan minatnya terhadap sastra, khususnya teater. Oleh karena itu, tidaklah heran jika pertunjukan teater yang digelar di berbagai tempat (seperti Taman Ismail Marzuki, Teater Utan Kayu, dan komunitas sastra lainnya) menjadi santapan Oyos dan kawan-kawannya sehari-hari. Kebiasaan baru inilah yang membuat Oyos – yang saat itu tinggal bersama sepupunya – mulai merasa tidak nyaman dan akhirnya memutuskan untuk mencoba hidup sendiri. Di manapun Oyos berteduh, baik mencari tempat kos sendiri maupun tidur di kampus, akan dilakoninya selama hal itu tidak mengganggu dan merepotkan orang lain. Di samping itu, Oyos sudah harus mulai memikirkan bagaimana cara menyiasati biaya hidup yang tinggi dan menghasilkan uang untuk keperluan hidupnya. Meski kian beratnya beban hidup, tidak menyurutkan langkah Oyos untuk terus bergelut di dunia teater. Akhirnya pada tahun ke-3 kuliahnya, Oyos mulai aktif di teater luar kampus yaitu Teater Tanah Air yang diasuh oleh Jose Rizal Manua. &lt;br /&gt;Memasuki dunia teater, tidak menyurutkan Oyos untuk menyalurkan hobi membacanya. Saat di Jakarta, Oyos lebih giat mengikuti beberapa pertemuan sastra di komunitas-komunitas sastra di Jakarta. Lama kelamaan setelah banyak membaca dan berdiskusi, Oyos merasa bagian-bagian di otaknya menjadi penuh. Banyak hal menumpuk di otaknya, mulai dari masalah sastra, sosial, politik, puisi, dan peristiwa lain. Berpijak pada masalah-masalah yang terpendam di otaknya tersebut, Oyos mulai berpikir ingin menjadi penulis dan sejak saat itulah Oyos akhirnya memutuskan untuk menekuni dunia tulis-menulis dengan lebih serius.&lt;br /&gt;Beralih dari dunia teater, tahun 1993 mulai mengaplikasikan ilmu dan hobi menulisnya dengan bekerja di Pertamina sebagai editor bahasa. Di samping itu, hobinya berpuisi pun kembali dilakoninya. Berbagai puisinya seringkali menghiasi rubrik di berbagai media massa. Kemudian, iseng-iseng Oyos mengirimkan hasil meditasinya yang berbentuk puisi ke panitia Lomba Cipta Puisi Sanggar Minum Kopi Bali (SMKB) di Denpasar. Beberapa bulan kemudian Oyos memeroleh informasi dari berita di sejumlah media massa bahwa puisinya yang berjudul “Ekstase Kematian” masuk 10 besar puisi terbaik versi SMKB. &lt;br /&gt;Puisi “Ekstase Kematian” diciptakannya ketika dia benar-benar dalam kondisi “mabuk”. Beberapa hari menjelang terciptanya puisi tersebut, menurut Oyos, dia jarang tidur. Dalam sehari semalam dia hanya tidur sekitar 3 – 4 jam, selebihnya waktunya dihabiskan untuk berlatih teater, membaca, dan menulis. Suatu malam menjelang tahun baru 1993, dalam mimpi sekejap antara tidur dan jaga, dia melihat tubuhnya. Dia mati tetapi kematian yang terasa nikmat. Dia tergeragap lalu bangun dan saat itulah dia merasakan kesepian yang sangat.&lt;br /&gt;Jika saat ini Oyos diminta mengulangi menulis puisi seperti puisi “Ekstase Kematian”, dia mengaku tidak bisa. Salah satu alasannya yaitu perbedaan ruang dan waktu ketika dia menghasilkan puisi itu dengan ruang dan waktu yang dihadapinya saat ini. Masalah lain yang turut memengaruhi terciptanya puisi tersebut adalah kondisi ekonominya yang saat itu berada dalam kemiskinan sebagai mahasiswa yang merantau di Jakarta. Puasa Senin dan kamis kerap dijalani untuk menghemat uang saku dan mengasah spiritualnya. Tidak hanya itu, sekali dalam sebulan Oyos juga selalu melakukan ritual puasa memperingati neptu ‘hari lahirnya’. Oyos lahir pada Minggu Pon dan menurut perhitungan pasaran Jawa, setiap Sabtu Pahing, Minggu Pon, dan Senin Wage, Oyos selalu puasa mutih ‘tidak makan yang manis dan asin’.&lt;br /&gt;Kecintaannya pada filsafat Jawa menambah pemahamannya tentang arti hidup. Di hadapan Tuhan, manusia ibarat debu yang siap diterbangkan ke mana saja. Itulah pemahaman Oyos tentang manusia ketika itu. Di kemudian hari, untuk menambah pengetahuannya tentang hidup dan kehidupan, Oyos memutuskan untuk mengambil program ekstensi di Sekolah Tinggi Filsafat Driyakara Jakarta pada tahun 1996. &lt;br /&gt;Kemenangan puisi “Ekstase Kematian” di Bali menjadi awal kebangkitan minat Oyos untuk terus menulis puisi dan memublikasikannya di sejumlah media. Sejak itu, dia senantiasa bersemangat dan rajin mengirimkan puisi ke Republika dan Media Indonesia. Dalam perkembangan selanjutnya dia lebih sering menulis esai sastra. Diakui Oyos bahwa menulis puisi dan esai seperti berebut dan bersaing dengan teman seangkatannya, Nurzain Hae dan Iwan Gunadi. Mereka saling berlomba mengaktualisasikan diri lewat puisi dan esai. Tak jarang isi diskusi mereka bertiga bersama teman-teman lain tiba-tiba muncul di media massa dalam bentuk esai atas nama Oyos Saroso, Nurzain Hae, dan Iwan Gunadi. &lt;br /&gt;Walau demikian, mereka bertiga tetap menjadi sahabat kompak yang sama-sama membangun komunitas sastra di kampus dan di luar kampus. Di kampus, mereka melahirkan sebuah teater yang diberi nama Teater Zat (telah diuraikan sebelumnya) dan forum sastra yang menggelar diskusi setiap hari Sabtu. Oyos sendiri pun pernah memiliki sebuah kelompok diskusi yang diberi nama Kelompok Dialog Atas Angin. Penamaan ini tidak lain karena mereka memang tidak memiliki tempat diskusi yang tetap, artinya mereka bisa berdiskusi di mana dan kapan saja. Di luar kampus, mereka bertiga (Oyos, Nurzain, dan Iwan) sama-sama menjadi inisiator terbentuknya Komunitas Sastra Indonesia (KSI). Hingga kini, rekan Oyos yang masih bergiat di komunitas tersebut adalah Iwan Gunadi.&lt;br /&gt;Tahun 1996, setelah menyelesaikan pendidikan di IKIP Jakarta, Oyos mulai menekuni profesi barunya sebagai wartawan, sebuah profesi yang tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya sejak kecil hingga remaja. Profesi ini pula yang membawa langkah Oyos menuju pulau Sumatra, tepatnya Lampung. Di Lampung ini Oyos mencoba peruntungannya menjadi wartawan di harian Lampung Post dan menjalani profesi ini selama tiga tahun (1996-1999). &lt;br /&gt;Dalam kepenyairan, tidak seperti penyair lain yang melakukan penghayatan secara total dan romantik, Oyos justru menghayati kepenyairannya dengan sangat santai. Semua puisi Oyos diciptakan berdasarkan rujukan yang jelas, yaitu dunia pengalaman dan perasaan yang kemudian dikawinkan dengan dunia main-main. Bagi Oyos menghasilkan sebuah puisi adalah menciptakan sebuah musikalitas dan kehidupan ini merupakan puisi yang kaya akan musikalitas. Sementara, menulis adalah mengungkapkan segala sesuatu yang diketahuinya secara pasti dan dekat dengan dirinya. Bahkan menurut Oyos dia hanya akan menghasilkan puisi romantis ketika dia betul-betul sedang jatuh cinta. Sebuah perasaan sekaligus peristiwa yang maknanya sangat universal dan sakral bagi Oyos. Oyos juga mengakui bahwa kisah cinta dengan istrinya sedikit banyak dipengaruhi oleh puisinya.&lt;br /&gt;Istri Oyos, Mas Alina, S.H., adalah seorang muli Lampung, lulusan Fakultas Hukum Universitas Lampung. Berkenalan ketika Oyos menjadi wartawan Lampung Post dan Mas Alina saat itu pun berprofesi sebagai wartawan di media yang sama. Perkenalan mereka dilanjutkan ke jenjang pernikahan pada tahun 1998. Dari pernikahan Oyos dengan Mas Alina kini telah membuahkan sepasang putra dan putri. Anak pertama mereka diberi nama Maulana Hanif Ananditya Ning Prabandaru. Anak kedua pun dinamai tidak kalah unik dan indahnya, Lintang Sabrang Kumala Ning Ratih. Memang nama-nama yang unik, tetapi begitulah Oyos. Baginya setiap tarikan nafasnya adalah puisi dan doa, sehingga nama anak-anaknya pun harus mengandung kedua unsur tersebut. &lt;br /&gt;Aktivitasnya di bidang sastra terkadang membuat Oyos merasa bosan. Meskipun demikian, Oyos mengakui bahwa ia masih rajin mengikuti perkembangan sastra mutakhir, baik sastra lokal maupun nasional, bahkan sastra internasional. Tidak berhenti sampai di sini, Oyos terus menekuni karier di bidang jurnalistik dengan menjadi wartawan di Trans Sumatera dari tahun 1999 hingga 2001, dan terakhir dia mengabdikan diri sebagai wartawan The Jakarta Post dari tahun 2001 hingga 2005.&lt;br /&gt;Karier kewartawanan Oyos bukanlah sebuah kebetulan dan dia mengakui bahwa dunia jurnalistiklah yang menghidupinya. Kecintaannya pada dunia jurnalistik sama besar dengan kecintaannya pada sastra karena melalui dunia jurnalistik kecintaannya pada sastra dapat teraktualisasi. Oleh karena kecintaannya yang begitu besar terhadap jurnalistik dan sastra, selain menjadi kontributor Pantau, Oyos juga tercatat sebagai salah seorang yang turut memprakarsai terbentuknya Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung, dan kemudian dipercaya untuk memimpin komunitas ini selama satu periode. &lt;br /&gt;Di pentas sastra Nasional, nama Oyos juga telah diakui. Namanya ditulis dalam Leksikon Susastra Indonesia (Rampan: 2000, 344). Di samping itu, karya-karyanya terkumpul dalam berbagai antologi bersama, di antaranya Batas Diam Matahari (1996), Rahasia Sebatang Lidi (1996), Titik Diam di Mata Karmin (1996), dan Penyair Ujung Pulau (2002). Puisinya antara lain terkumpul dalam Gender (Sanggar Minum Kopi Bali, 1993), Dari Bumi Lada (1997), dan Angkatan 2000 dalam Kesusasteraan Indonesia (2001). &lt;br /&gt;Beberapa judul puisi Oyos, di antaranya Membaca Dunia (1991), Ekstase Kematian (1993), Orasi Perjalanan (1993), Megatruh (1996), Juli (1996), Amnesia 1 dan Amnesia 2 (2004). Selain puisi, Oyos juga membuat Manuskrip naskah teater berjudul “Yang Berumah di Atas Angin” – dipentaskan di Teater Arena, Taman Ismail Maszuki, akhir Desember 1995. Di samping itu, Oyos juga aktif menulis esai yang telah dipublikasikan di sejumlah media nasional dan lokal.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-7831235449320128709?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/7831235449320128709/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=7831235449320128709' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/7831235449320128709'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/7831235449320128709'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/oyos-saroso-hn.html' title='Oyos Saroso H.N'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNWmfyNrXI/AAAAAAAAABI/rFH0c1KG8_o/s72-c/OyosdanRatih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-5398559662426694380</id><published>2008-11-18T23:04:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T20:16:31.095-08:00</updated><title type='text'>Naim Emel Prahana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNk2cGuckI/AAAAAAAAACU/kzdURYr88lY/s1600-h/DSCF0544.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNk2cGuckI/AAAAAAAAACU/kzdURYr88lY/s320/DSCF0544.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274670475001098818" /&gt;&lt;/a&gt;Naim Emel Prahana lahir di desa Kotadonok, kabupaten Rejanglebong, Bengkulu pada tanggal 13 Desember 1960 dengan nama asli Naimullah. Putra dari seorang petani yang bernama Rahmatsyah ini adalah anak ketiga dari tujuh bersaudara.&lt;br /&gt;Pendidikan sekolah dasar Naim di selesaikan di Bengkulu pada tahun 1971, sebelum ia ikut merantau ke Padangpanjang, Sumatera Barat bersama pamannya yang mempunyai usaha apotik disana. Namun, keberuntungan tak selalu berada di pihaknya, paman Naim yang memiliki beberapa apotik mengalami pasang surut dalam usahanya, sehingga untuk dapat bertahan dan menyelesaikan pendidikannya di kota Padangpanjang, Naim terpaksa menjadi pesuruh dan penjaga di tempat ia bersekolah sekaligus menjadi pesuruh di asrama putra tempatnya bersekolah. Kegemaran Naim menulis terlihat ketika masih duduk di bangku SMP Muhammadiyah di Kauman, Padangpanjang, Sumatera Barat pada tahun 1971 ketika ia rajin menulis di majalah dinding dan buletin Muhammadiyah setempat. Sejak muda Naim sudah gemar membaca, kecintaannya akan dunia sastra terinspirasi oleh seorang pengarang Pujangga Baru, Rivai Ali. Ketika itu Naim menumpang tinggal di rumah sastrawan tersebut di kawasan Silaing Atas ketika pertama kali ia merantau ke Padangpanjang. Berkat ketekunan dan kegigihannya, Naim akhirnya dapat menyelesaikan pendidikannya di sekolah menengah pertama pada tahun 1974 di Padangpanjang, Sumatera Barat. Naim menamatkan pendidikan pada sekolah menengah atas di Curup, Bengkulu pada tahun 1978 setelah mengalami lima kali pindah sekolah. &lt;br /&gt;Berbekal ijazah SMA bagian IPS, Naim berangkat menuju Yogyakarta untuk melanjutkan sekolah. Naim mendaftar di dua tempat sekaligus, Universitas Islam Indonesia dan IKIP Negeri Karangmalang pada tahun 1979. &lt;br /&gt;Dunia kepengarangan serta kegemarannya akan membaca seakan menemukan tempatnya ketika Naim bersekolah di kota pelajar tersebut. Di kota inilah Naim seakan menemukan dirinya dan makin meluaskan wawasannya. Ia banyak bergaul dengan banyak sastrawan dan budayawan, seperti WS Rendra, Emha Ainun Nadjib, Dick Hartoko, Linus Suryadi AG, dan Mustafa W. Hasyim. Pergaulannya ini makin menambah referensi dan membuka matanya sehingga ia makin apresiatif. Kecintaannya akan berorganisasi juga semakin memperkaya khasanah pengetahuannya. Kegiatannya inilah yang membawanya semakin menekuni dunia kepenulisan. Tulisan Naim berupa cerpen dan esai saat itu sempat mewarnai media massa di kota pelajar itu. Ia juga menulis naskah drama dan skenario film karena ia juga terlibat di dunia teater. Naim tergabung di teater Unisi dan teater Latah pada Universitas Islam Indonesia. Sayangnya, kegiatannya yang padat tidak diiringi oleh finansial yang cukup. Untuk membiayai sekolahnya Naim terpaksa bekerja keras demi mendapatkan penghasilan. Mulai dari pekerjaan membuat stempel dan spanduk sampai menjadi pemandu turis dilakoninya untuk menutupi biaya hidupnya selama bersekolah di Yogyakarta. Kepiawaiannya dalam menulis juga sangat membantunya karena dari menulis ia mendapatkan honor dari media cetak yang memuat tulisannya. Karena kesibukannya itulah Naim hanya mengenyam pendidikannya di IKIP Negeri Karangmalang selama satu tahun, setelah itu ia memutuskan untuk berkonsentrasi pada pendidikannya di Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia. &lt;br /&gt;Latar belakang keluarga yang cukup religius membuat Naim berkelana mengunjungi masjid-masjid tua di seantero pulau Jawa, Bali hingga Sumbawa. Berbekal pengalaman itulah yang makin memperkaya wawasan Naim dan memberikan inspirasi dalam berkarya.&lt;br /&gt;Naim menamatkan pendidikannya dari fakultas hukum Universitas Islam Indonesia jurusan kriminologi (pidana) pada tahun 1986. Setelah itu, Naim memulai kerja jurnalistiknya di Jakarta, namun tidak bertahan lama. Naim memutuskan untuk kembali ke Lampung dan memulai kehidupan di Lampung, tepatnya di kota Metro (dulu Lampung Tengah). Naim menikah dengan Etik Yuliarsi, BA dan memiliki dua orang anak,yaitu Muhammad Riri Emelino dan Rara Emeliana Prahana. &lt;br /&gt;Ketika di Lampung, aktivitas Naim dalam bersastra tidak surut. Saat itu, ia menjadi salah satu pendiri Dewan Kesenian Metro yang menjadi cikal bakal berdirinya Dewan Kesenian Lampung. Selama bersastra sudah banyak karya-karya Naim baik berupa artikel, puisi, dan cerpen yang masuk koran yang ada di berbagai daerah yang ada di Indonesia, seperti Kompas, Suara Pembaruan, Prioritas, Media Indonesia, Merdeka, Jayakarta, Suara Karya, Pelita, SKM Swadesi, Simphony, Intijaya, Sentara, Majalah Kiblat, Estafet, Hai, Yudha Minggu, SKM Media Indonesia Minggu (Jakarta), Kedaulatan Rakyat, Berita Nasional, Masa Kini, Eksponen, Majalah putera Kita, Pusara (Yogyakarta), Majalah Bagelan (Solo), Suara Merdeka, Bahari (Semarang), Majalah Fakta, Liberty, dan Memorandum (Surabaya), Bali Post, Karya Bhakti (Bali), Banjarmasin Post (Banjarmasin), Akcaya (Pontianak), Singgalang, Semangat (Padang), Sumatera Ekspress, Sriwijaya Pos, Suara Rakyat Semesta (Palembang), Riau Pos, Majalah Bahana (Riau), Waspada, Indonesia Baru, Medan Post (Medan), Serambi Mekkah (Aceh), Semarak (Bengkulu), Lampung Post, Warta dan Niaga, dan Tamtama (Lampung).&lt;br /&gt;Dalam mensosialisasikan karya-karyanya, Naim sering juga membacakan karyanya di berbagai stasiun radio seperti, di Radio Koln, Jerman, Radio NHK Jepang, Radio Mesir, dan Radio Filipina. Naim juga sering berkeliling untuk membacakan puisi-puisinya di berbagai tempat di Indonesia, misalnya pada acara Penyair Indonesia 1997 di TIM-Dewan Kesenian Jakarta dan menjadi duta budaya Lampung Tengah ke berbagai daerah di Indonesia. Dalam kurun waktu 1983-1999) Naim berkiprah sebagai ketua Dewan Kesenian Cabang Lampung Tengah dan menjadi pengurus di Dewan Kesenian Lampung. Dalam kegiatan sosial, Naim juga aktif menjadi sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Nasional Anti Narkotika (DPC) GRANAT, untuk turut menjaga kelangsungan generasi muda agar terhindar dari bahaya narkoba.&lt;br /&gt;Penjelajahan Naim Emel Prahana di dunia seni dan budaya membawa langkahnya mengelilingi berbagai Negara di Asia, Eropa, Amerika Latin dan Afrika, yang bagi Naim, sebagai puncak petualangannya. Berikut ini beberapa karyanya.&lt;br /&gt;1) Sajak Kaca, antologi bersama empat penyair muda, Yogyakarta, 1984.&lt;br /&gt;2) Kasih Tuan, Yogyakarta, 1985.&lt;br /&gt;3) Kembang Malam Kembang Kelam, Metro, 1986. &lt;br /&gt;4) Poros, Metro, 1986. &lt;br /&gt;5) Kembang Malam Kembang Kelam Antologi, 1987&lt;br /&gt;6) AWA, Antologi, 1987.&lt;br /&gt;7) Homo Homini Lupus Antologi, 1987.&lt;br /&gt;8) Karep Antologi, 1988. &lt;br /&gt;9) Puisi Indonesia, DKJ-TIM Jakarta, 1987.&lt;br /&gt;10) Bruckkenschlag, diterbitkan dalam Bahasa Jerman, Koln, Jerman, 1988. &lt;br /&gt;11) Solidaritas, antologi bersama penyair Lampung, 1991. &lt;br /&gt;12) Puisi Selatan, antologi bersama penyair Sumatera Bagian Selatan, 1992.&lt;br /&gt;13) Nuansa Hijau, Bogor, 1995. &lt;br /&gt;14) Sagang,Pekanbaru, 1994. &lt;br /&gt;15) Dari Negeri Poci 3, Antologi 1000 Cinta,1999.&lt;br /&gt;16) Buku Cerita Rakyat Lampung, Jilid 1, 2, dan 3 Grasindo-Kompas Jakarta, 1988.&lt;br /&gt;17) Buku Cerita Rakyat Bengkulu, Jilid 1, 2, dan 3 Grasindo-Kompas Jakarta, 1988.&lt;br /&gt;18) Buku Puisi Nyanyian Sunyi “Roh Memberontak” di Tengah Sosial Tercabik-cabik, Lampung Ekspress. 30 Desember 2002.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-5398559662426694380?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/5398559662426694380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=5398559662426694380' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5398559662426694380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5398559662426694380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/naimemel-prahana.html' title='Naim Emel Prahana'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNk2cGuckI/AAAAAAAAACU/kzdURYr88lY/s72-c/DSCF0544.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-1189482685639072959</id><published>2008-11-18T23:03:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:52:47.847-08:00</updated><title type='text'>Masnunah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNffwUkSwI/AAAAAAAAABo/ztD1GOutlGg/s1600-h/masnunah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 99px; height: 63px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNffwUkSwI/AAAAAAAAABo/ztD1GOutlGg/s320/masnunah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274664587732732674" /&gt;&lt;/a&gt;Di antara para seniman dan sastrawan Lampung yang hadir dalam perhelatan seni bertajuk "Pertemuan Dua Arus" gagasan Jung Foundation itu, tampak seorang ibu tua duduk di antara para tamu yang datang. Tangannya yang lemah mengayunkan pelan kipas kayu cendana ke tubuhnya. Udara malam tampaknya terasa gerah untuk ibu dua anak tersebut.&lt;br /&gt;Dari arus tradisional, salah satunya diwakili oleh Masnuna, ibu tua yang mengayun pelan kipas kayu cendana.&lt;br /&gt;Masnuna saat ini dikenal sebagai satu-satunya pelantun sastra lisan Lampung yang dikenal dengan Dadi. Dadi adalah sebuah bentuk sastra yang pengisahannya dilakukan dengan cara menuturkan. Malam itu, Masnuna, dalam pertemuan dua arus, diminta melantunkan sastra lisan tersebut.&lt;br /&gt;Masnuna, lahir pada tahun 1932 di Kampung Segala Mider Pubian, Lampung Tengah, menikah dengan Abdul Hasan, seorang pemuda asal Tanjung Kemala, Lampung Tengah, pada tahun 1955. Pernikahan tidak menghalangi upayanya untuk memelihara sastra lisan Lampung. Bahkan, ia menjadi guru Dadi, pisaan, dan kias yang juga merupakan bentuk-bentuk sastra lisan Lampung kuno.&lt;br /&gt;Suaranya tinggi mengalun saat ia menuturkan kalimat demi kalimat dalam tiap bait sastra lisan. Kipas kayu cendana, yang sedari tadi digunakannya mengusir hawa panas, saat melantunkan Dadi digunakannya untuk menutup sebagian dari wajahnya. Memang begitulah caranya.&lt;br /&gt;Masnuna mempelajari sastra lisan itu ketika ia masih berusia tujuh tahun. Ia berguru kepada Dalom Muda Sebuway, yang tak lain adalah ayahnya sendiri. Tak hanya itu, ibunya, Siti Aminah, pun turut mengasah kemahiran bocah itu dalam melantunkan setiap bait sastra lisan.&lt;br /&gt;Wajahnya berseri dan tangannya lincah bergerak mengiringi penuturannya tentang Dadi. Garis keriput penanda usia yang telah senja menjadi tegas mengekspresikan perasaannya saat mengisahkan pengalamannya belajar dan memelihara sastra lisan tersebut agar tetap lestari hingga saat ini.&lt;br /&gt;Niat Masnuna untuk mempelajari Dadi bukan hanya disebabkan oleh darah seni yang diwarisinya. Lebih dari itu, niatnya didorong oleh kenyataan bahwa Dadi merupakan karya sastra utama yang hidup dalam masyarakat adat Pubian, salah satu marga di Lampung. Hampir dalam setiap perhelatan masyarakat adat Pubian, Dadi tampil sebagai suguhan utama.&lt;br /&gt;Dadi, yang biasanya berisi pantun sindiran, pantun jenaka, dan terutama pantun nasihat, merupakan acara yang ditunggu-tunggu. Namun, tidak semua orang dengan mudah menangkap makna dari setiap bait pantun tersebut sebab Dadi menggunakan bahasa Lampung tingkat tinggi. Hal itu pula yang membuat tidak semua orang mampu mempelajarinya.&lt;br /&gt;Dalam keluarga Dalom Muda Sebuway sendiri, sastra lisan ini pun tak hanya dilihat sebagai sebuah wujud kebudayaan. Mereka melihatnya sebagai sesuatu yang sakral.&lt;br /&gt;"Tidak semua orang mampu mempelajarinya sebab bahasa yang digunakan adalah bahasa kelas tinggi, penuh dengan kiasan yang tidak segera mudah ditangkap arti dan maknanya," tutur Masnuna.&lt;br /&gt;Masnuna, yang kala itu mulai menginjak remaja, melihat Dadi tidak lagi sebagai hanya sebuah karya sastra tradisional yang perlu dilestarikan. Bagi Masnuna, Dadi adalah napasnya. Ia menganggapnya sebagai kisah tentang permenungan dan pengalaman bergulat dengan kehidupan.&lt;br /&gt;"Yang saya lantunkan dalam Dadi adalah pengalaman hidup saya sendiri. Apa yang saya lihat, apa yang saya alami, dan apa yang saya rasakan. Itulah semua yang saya ceritakan dalam Dadi," tuturnya.&lt;br /&gt;Tak heran jika untuk mempelajarinya ia melakukannya dengan sepenuh hati. Ia berpuasa selama tujuh hari dan melatih suaranya dengan cara menenggelamkan wajahnya ke dalam air sambil membaca doa.&lt;br /&gt;Dari olahrasa dan raga itu, Masnuna mampu melantunkan tiap kalimat dalam bait-bait Dadi dalam satu untaian napas yang panjang, bahkan dalam nada-nada tinggi. Ia mengemukakan, karena itulah mengapa Dadi tidak mudah dipelajari, apalagi banyak anak muda saat ini yang tidak lagi menguasai bahasa Lampung tingkat tinggi.&lt;br /&gt;Sayang, Dadi, yang konon telah ada sebelum masa Hindu di Lampung, kini nyaris punah. Dari dua anaknya, bakat seni yang mengalir dalam buluh nadi Masnuna kini dialirkan kepada salah satu dari mereka, yaitu Abdul Somad, seorang penghulu yang tinggal di Tanjung Kemala, Kabupaten Lampung Tengah.&lt;br /&gt;Kepiawaian Masnuna melantunkan Dadi mengundang minat seorang mahasiswa asal Amerika Serikat, Tim Smith, ketika mendalami seluk-beluk masyarakat Pubian Dakhak. Tentang hal itu, seorang seniman di Lampung berkomentar, orang asing pun mampu memperoleh gelar sarjana strata dua karena Masnuna. Akan tetapi sayang, orang kita sendiri kurang menghargai empu sastra itu.&lt;br /&gt;Saat ini memang ada upaya dari Pemerintah Provinsi Lampung untuk mendokumentasikan sastra lisan seperti Dadi dan tentu saja di dalamnya terkait sosok kesenimanan Masnuna. Namun, menurut para seniman muda Lampung, sebaiknya pemerintah juga memberi perhatian dan penghargaan kepada Masnuna.&lt;br /&gt;Menurut Masnuna, yang membuat dirinya tetap bertahan dan dengan rela hati memelihara Dadi dan sastra lisan Lampung lainnya adalah kecintaannya terhadap sastra itu sendiri. "Karena di dalamnya terkandung makna yang sangat dalam. Makna, itulah Dadi," tegasnya.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, ia pun rela tampil dalam berbagai acara seni seperti Kongres Cerpen Indonesia di Lampung, Lampung Arts Festival II, dan Ragom Budaya Lampung, meski untuk berjalan saja ia harus dibantu.&lt;br /&gt;Meski sudah memasuki usia ke 72 dan sudah tertatih-tatih juka berjalan, masnunah tetap setia melantunkan dadi yang menjadi warisan budaya Lampung.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-1189482685639072959?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/1189482685639072959/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=1189482685639072959' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1189482685639072959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1189482685639072959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/masnunah.html' title='Masnunah'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNffwUkSwI/AAAAAAAAABo/ztD1GOutlGg/s72-c/masnunah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-3286712083900719304</id><published>2008-11-18T23:02:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T23:03:19.145-08:00</updated><title type='text'>Muayak</title><content type='html'>Muayak merupakan pantun atau sejenis puisi yang terdiri dari 4 baris setiap bait, bersajak a-b-a-b, baris pertama dan kedua merupakan sampiran dan dua baris terakhir merupakan isi. Muayak merupakan jenis sastra lisan yang dahulu hanya dapat dibawakan pada saat tertentu saja dengan suara lepas tanpa musik pengiring, namun saat ini muayak merupakan jenis sastra lisan yang dapat dijadikan suatu pertunjukan yang baik bahkan dapat dibawakan dalam bentuk dialog-dialog sebelum acara muayak yang isi dialog menyampaikan keadaan muayak sebenarnya. &lt;br /&gt; Istilah muayak dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Barat khususnya di daerah Belalau.  Muayak adalah kata yang berasal dari kata waya yang berarti senang atau gembira.&lt;br /&gt; Menurut masyarakat Belalau, Lampung Barat jenis muayak dikenal dengan ”sujak” dan muayak terdiri dari 3 macam sujak, yaitu&lt;br /&gt;1. Muayak sujak jebus adalah muayak yang dibawakan dengan nada yang tinggi yang dikenal dengan istilah ”Nguin” (melengking) mulai dari awal hingga akhir.  Maksudnya agar apa yang disampaikan oleh orang yang sedang muayak terdengar walaupun dari jauh.&lt;br /&gt;Muayak jebus dilaksanakan pada saat kita akan berkunjung ke suatu desa (pekon), sebagai tanda kita akan berkunjung ke desa itu. Maka kira-kira 40 meter menjelang desa dilaksanakan muayak sebagai alat pemberitahuan kepada gadis-gadis yang ada di desa yang akan kita tuju bahwa akan ada tamu, sehingga mereka bersiap-siap untuk menerimanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Muayak sujak pulangan adalah muayak yang dilakukan dengan nada yang sedang dan biasanya dimulai dengan kata ai-ai serta jarak bait per bait di selingi dengan ai-ai.  Muayak pulangan ini dibawakan oleh bujang dan gadis yang akan berumah tangga terhadap teman-temannya yang ditandai dengan saling memaafkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Muayak sujak kecambay, yaitu muayak yang dilakukan dengan melantunkan lagu dengan nada yang bervariasi antara nada tinggi dan nada yang rendah atau menggunakan sujak jebus dan sujak pulangan dan biasanya dibawakan secara bersamaan dengan kelompok bujang dengan kelompok gadis.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-3286712083900719304?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/3286712083900719304/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=3286712083900719304' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3286712083900719304'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3286712083900719304'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/muayak.html' title='Muayak'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-2458106818717565484</id><published>2008-11-18T23:01:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T23:02:43.178-08:00</updated><title type='text'>Motinggo Busye</title><content type='html'>Bustami Djalid. Itulah nama asli yang diberikan Djalid Sutan dan Rabi’ah kepada Motinggo Busye ketika dia lahir pada 21 November 1937 di Kupangkota, Telukbetung, Lampung. Nama asli pemberian Rabi’ah Ja’akub, sang ibu, dengan jelas melantunkan idealisme yang tinggi dan religius. Nama Bustami diambil dari nama seorang filsuf muslim (sufi) pada masa kejayaan Granada-Andalusia. Ketika Rabi’ah mengandung, ia sempat mengagumi filsuf sufi itu. Tak heran pada saat melahirkan, nama Bustami dipakai pada anaknya sendiri.&lt;br /&gt;Orang tua Motinggo berasal dari Sumatera Barat. Ibunya berasal dari Matur, sekitar tujuh kilometer sebelah timur Bukittinggi, sedangkan ayahnya, Djalid Sutan Raja Alam, berasal dari Sicincin (Pariaman), sekitar empat puluh kilometer dari kota Padang. Setelah menikah, pasangan Djalid Sutan-Rabi’ah merantau ke Lampung dan menetap di daerah Telukbetung. Ayah Motinggo bekerja sebagai klerk KPM di Kupangkota yang jaraknya tidak jauh dari kediaman mereka.&lt;br /&gt;Seiring perkembangan zaman, Motinggo tumbuh dengan sehat dan hidup di lingkungan keluarga yang patuh pada ajaran agama (Islam). Semasa hidup, ibunda Motinggo mengajar agama dan bahasa Arab. Ketika usianya 12 tahun, orang tua Motinggo meninggal dunia, ayahnya meninggal pada 10 November 1948 dan ibunya pada 12 November 1948. Sepeninggal orang tuanya, Motinggo tinggal dan diasuh oleh neneknya yang bernama Aisjah di Bukittinggi.&lt;br /&gt;Masa kecil Motinggo berbarengan dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia. Kondisi perang yang tidak menentu memberikan efek yang luar biasa bagi kesejahteraan rakyat. Jangankan untuk sekolah, kebutuhan pokok seperti makan saja tidak terpenuhi dengan baik. Oleh sebab itu, hampir sebagian besar teman-teman sebaya Motinggo tidak bersekolah. Hal lain yang menyebabkan berkurangnya kesempatan belajar di sekolah formal dikarenakan hanya anak-anak yang orang tuanya mempunyai kedudukan dalam pemeritahan dan keturunan bangsawan saja yang dapat bersekolah. Motinggo termasuk anak yang beruntung. Dia adalah cucu Kepala Negeri Matur yang bernama Idris Datuk Sakti, terkenal di Minangkabau sebagai menantu Sentot Alibasyah Prawirodirdjo (tokoh terkenal dalam perang Diponegoro) sehingga dia mendapatkan kesempatan bersekolah di Sekolah Rakyat (SR).&lt;br /&gt;Pada saat pendaftaran di sekolah tersebut, Motinggo terbentur satu masalah. Dia tidak lulus tes model sekolah dulu. Dahulu, apabila seorang anak sudah dapat memegang telinga dengan tangan melingkar melewati kepala, berarti anak tersebut sudah pantas masuk sekolah. Sayangnya, tangan Motinggo belum bisa menggapai telinga. Agar dia pantas belajar di sekolah tersebut, ayahnya memanipulasi tahun kelahiran Motinggo setahun lebih tua (1936) dari catatan ibunya di sebuah buku ketika dia lahir (1937). Berkenaan dengan tahun kelahirannya itu, Motinggo Busye berkomentar bahwa dia lebih senang menggunakan tahun yang bershio tikus (1937). Dia mengganggap bahwa shio tikus itu bisa membawa keberuntungan.&lt;br /&gt;Selain keberuntungan, Motinggo kecil juga pernah mendapat kesialan. Ketika itu, ada seorang perwira Jepang, bernama Yamashita, datang berkunjung ke rumah orang tuanya. Melihat Motinggo sedang asyik dengan mainannya, perwira itu menjahili Motinggo dengan menaiki sepeda roda tiga kepunyaannya. Ternyata, sepeda itu tidak kuat menahan beban tubuh Yamashita. Sepeda itu patah. Melihat mainan kesayangannya rusak, Motinggo menangis sekuatnya. Hari berikutnya Yamashita kembali untuk mengganti mainan Motinggo yang dirusaknya. Akan tetapi, bukan sepeda roda tiga yang dibawa Yamashita sebagai ganti melainkan sebuah mesin ketik. Kesialan Motinggo itu ternyata berbuah manis. Yamashita tidak akan pernah menyangka jika akhirnya mesin ketik peninggalannya akan menjadi teman setia Motinggo Busye, tempat mencurahkan ide-ide.&lt;br /&gt;Peristiwa “sepeda patah” itu menjadi salah satu peristiwa penting yang memengaruhi bakat kepengarangan Motinggo. Peristiwa lain yang juga menjadi penyulut bakatnya dalam hal tulis-menulis karya sastra ketika dia memperoleh buku-buku terbitan Balai Pustaka dari sebuah bus perpustakaan yang terparkir di depan rumah orang tuanya pada Maret 1942. Bus perpustakaan yang ditinggal lari oleh para petugasnya karena takut menjadi korban serangan balatentara Jepang itu menjadi bulan-bulanan warga sekitar. Mereka menjarah peralatan bus untuk digadaikan atau ditukarkan dengan uang. Tak mau kalah, ayah Motinggo juga ikut ambil bagian dalam peristiwa penjarahan itu. Tidak seperti penduduk lainnya, ayah Motinggo hanya mengamankan buku-buku yang ada di dalam bus. Buku-buku hasil jarahan ayahnya yang beratus-ratus judul itu habis dilahap Motinggo selama 7 tahun, dari tahun 1942—1949. Tak ayal lagi, semua buku terbitan Balai Pustaka sebelum perang, mulai dari bacaan anak sampai bacaan orang dewasa, pernah dibacanya (Ismail, 1999:16).&lt;br /&gt;Nama samaran yang dikenal khalayak sebagai nama pengarang yang masyhur, Motinggo, berasal dari bahasa Minang mantiko, maknanya campuran antara sifat bengal, eksentrik, suka menggaduh, ada kocaknya, dan tak tahu malu. Motinggo menjelaskan bahwa dia adalah Mantiko Bungo, mantiko yang seperti bunga bukan mantiko yang berkonotasi jelek, dan jika mantiko bungo disingkat menjadi MB sama dengan singkatan nama samarannya, Motinggo Busye. Secara lengkap nama samarannya dalam ejaan lama adalah Veda Motinggo Boesje, tapi belakangan Veda itu tidak dipakainya lagi (Ismail, 1999:16). Selain nama pemberian orang tua dan nama pena, Motinggo juga mempunyai nama adat yang disandangnya setelah dia memasuki usia dewasa, yaitu Saidi Maharajo.&lt;br /&gt;Motinggo Busye mulai meramaikan jagad sastra Indonesia ditandai dengan puisinya Malam Putih yang dimuat dalam Siasat Tahun VIII Nomor 378/26, tahun 1953. Sebenarnya, Puisi yang dimuat oleh majalah sastra tersebut bukanlah karya pertama yang dibuat Motinggo. Ketika Motinggo duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP II Ateh Ngarai), karyanya sudah disetujui oleh HB Jassin untuk dimuat di Mimbar Indonesia, sehingga tidak salah jika Taufiq Ismail menjuluki Motinggo sebagai anak ajaib di pentas sastra Indonesia, sebanding dengan Ajip Rosidi yang juga mulai menulis sejak umur sedini itu (1999:15).&lt;br /&gt;Pada usia remaja, Motinggo sudah menunjukkan bakatnya dalam bermain drama dan sutradara. Hal itu dibuktikannya melalui kemampuannya mengisi sandiwara di radio. Drama radio yang disiarkan oleh RRI Bukittinggi itu berjudul ”Tom dan Desy”. Selain itu, Motinggo juga senang melukis. Pemandangan jurang alam di kampung halamannya yang indah, Sumatera Barat, memberikan inspirasi bagi Motinggo untuk mencintai dunia seni lukis. Kecintaannya pada lukis-melukis ini diasahnya dengan berguru kepada dua pelukis terkenal, Wakidi dan Djufri Sjarif.&lt;br /&gt;Kepiawaiannya dalam bidang seni lukis pernah di pamerkan bersama tiga belas pelukis dan dua pematung senior di Padang pada tahun 1954. Pada pameran itu, Motinggo menampilkan lima belas lukisan, sepuluh menggunakan cat minyak dan lima menggunakan cat air. Tiga lukisan Motinggo, “Rakata di Senjakala”, “Rindu Pahlawan pada Kekasih”, dan “Diri yang Terasing”, mengingatkan A.A. Navis pada warna-warna Vincent van Gogh. Pameran lukisan Motinggo dan beberapa seniman itu menjadi tonggak penting dalam sejarah seni lukis di Sumatera Barat (Ismail, 1999:17). Hobi Motinggo yang belakangan disukainya adalah keramik. Dia senang mengabadikan tulisan tangan dan potret para sastrawan dalam karya-karya keramiknya.&lt;br /&gt;Setelah lulus SMP, Motinggo melanjutkan sekolah ke SMA Negeri Birugo, dulu lebih dikenal dengan sebutan Sekolah Radja. Sekolah ini termasuk salah satu SMA tertua di Indonesia yang dibangun oleh pemerintahan Belanda pada tahun 1873, ketika itu bernama Kweekschool. Pada zaman Belanda, Kweekschool telah menamatkan guru, pemuka masyarakat, birokrat, ilmuwan dan sastrawan. Sastrawan yang pernah menjadi pelajar dan juga pernah menjadi pengajar di Kweekschool adalah Selasih. Seperti sudah turun-temurun, silih berganti sastrawan lahir di sekolah itu. Di SMA Birugo, Motinggo diajarkan bahasa dan sastra oleh Dt. Nurdin Jakub, waktu itu sudah dikenal masyarakat sebagai penulis cerpen. Seperti pepatah “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, Motinggo tak mau kalah dari gurunya itu. Mereka bersaing mengirimkan hasil karya sastranya ke Jakarta. Selain Motinggo, Suwardi Idris dan AB Dahlan (sekarang menjadi penulis cerita pendek) serta Alwi Dahlan (pernah menjadi Menteri Penerangan), murid dari sekolah yang sama, juga giat mengirimkan karya-karya mereka ke Mimbar Indonesia dan Kisah asuhan HB Jassin. Bisa dibayangkan betapa asyiknya suasana pengajaran sastra di SMA Negeri Birugo pada waktu itu. Meskipun senang menulis, Motinggo tidak pernah mendapatkan nilai bagus untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia. Ketika ditanya masalah itu, Motinggo menjelaskan bahwa dia tidak suka berbahasa baik dan benar, yang terpenting jago menulis puisi dan cerpen (Ismail, 1999:15).&lt;br /&gt;Setamat dari SMA Birugo, Motinggo sempat kebingungan untuk memilih perguruan tinggi karena dua universitas negeri terkemuka di Indonesia (Universitas Indonesia dan Gadjah Mada) menyediakan satu tempat untuk dirinya. Belum lagi tawaran KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) untuk ke Perancis. Selain itu, Motinggo juga berkeinginan untuk menjadi komposer. Akhirnya, Fakultas Hukum jurusan Tata Negara, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, dijadikan alternatif bagi Motinggo untuk melanjutkan studinya. Sayangnya, dia tidak menamatkan studinya itu karena terlalu asyik melibatkan diri dengan para sastrawan dan mengikuti kegitan teater bersama Kidjomuljo, Nasjah Djamin, Subagio Sastrowardoyo, dan Rendra. Padahal, masa kuliah Motinggo sudah setaraf dengan sarjana muda.&lt;br /&gt;Di tengah keasyikannya dengan berbagai kegiatan seni di Yogyakarta, Motinggo bertemu dengan teman SMA-nya, Taufik Abdullah. Selain untuk temu kangen, pertemuannya dengan Taufik juga memberikan Motinggo sedikit pencerahan. Taufik memberinya trilogi James T. Farrel berjudul Studs Lonnigan dengan harapan Motinggo bisa meniru totalitas Farrel dalam berkarya, bukan hanya menulis cerita yang pendek-pendek melainkan trilogi sekaligus. Trilogi novel Bibi Marsiti, Jantuni, dan Nyonya Marjono menjadi saksi ketidaksia-siaan Taufik menyemangati Motinggo. Tidak hanya trilogi itu, Motinggo juga menulis lebih dari 200 karya sepanjang hidupnya yang sampai saat ini masih tersimpan rapi di Perpustakaan Kongres di Washington D.C., Koleksi karya-karya Motinggo di perpustakaan itu mungkin lebih lengkap dibandingkan perpustakaan di Indonesia. &lt;br /&gt;Suasana Yogya yang riuh dengan seniman-seniman dari berbagai macam bidang seni memberikan kontribusi yang tidak sedikit bagi Motinggo. Di Kota Gudeg ini, kegemaran Motinggo mulai dari sastra (cerpen, puisi, novel), jurnalistik, teater sampai seni lukis semakin terasah dengan baik. Kegigihan Motinggo di tengah pergumulannya dengan sastrawan dan seniman Yogya membuahkan beberapa karya yang tangguh, salah satunya ”Malam Jahanam” yang terpilih sebagai karya terbaik dalam lomba Sayembara Penulisan Drama Kementrian P.P. dan K. (Kementrian Pendidikan Pengajar¬an dan Kebudayaan) pada tahun 1959. ”Malam Jahanam” kemudian secara berturut-turut dimuat dalam majalah Budaya nomor 3, 4, 5, tahun ke-VII, 1959. Konon, drama ringkas itu masih dipakai sebagai naskah wajib untuk latihan di berbagai kelompok dan sekolah teater di Indonesia hingga saat ini (Budianta, 1999:10). Karyanya ini juga pernah dipentaskan di Universitas Pasadena, Amerika Serikat. Beberapa tahun kemudian, Motinggo memenangkan hadiah majalah Sastra tahun 1962 un¬tuk cer¬pennya “Nasehat untuk Anakku” dan karyanya yang berjudul Malam Pengantin di Bukit Kera diterjemahkan ke dalam bahasa Chekoslovakia. Selain dialihbahasakan ke dalam bahasa Chekoslovakia, karya-karyanya juga pernah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, di antaranya bahasa Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Korea, Cina, dan Jepang. Sebagai penyair, karya-karyanya masuk dalam antologi penyair Asia (1986) dan antologi penyair dunia (1990).&lt;br /&gt; Jiwa kepengarangan Motinggo dipengaruhi oleh beberapa sastrawan dalam dan luar negeri. Seperti ketika menulis cerita pendek, Motinggo terpengaruh teknik yang digunakan oleh Maupassant. Anton P. Chekov, sastrawan Rusia, secara tidak langsung memengaruhi Motinggo dalam menampilkan watak tokoh cerita. Dalam menuliskan gaya dan dialog, Motinggo mengagumi gaya sastrawan Ernest Hemingway yang dinilai naturalis. Motinggo juga mengagumi John Steinback, seorang novelet. Pramoedya Ananta Toer merupakan sastrawan Indonesia yang menjadi idolanya. Selain sastrawan, Motinggo juga kagum kepada seorang filsuf wanita Ralph Waldo Emerson. Karyanya yang dipengaruhi oleh filsuf wanita tersebut, antara lain Sanu: Infita Kembar (novel, 1984) dan “Mata Pelajaran Sanu, Sang Guru” (puisi, 1990).&lt;br /&gt; Pada 26 Juli 1962, Motinggo menikah dengan Lashmi Bachtiar di Yogyakarta dan dikaruniai empat orang anak laki-laki (Ito, Rio, Soni dan Raf). Setelah menikah dengan Lashmi, Motinggo merantau ke Jakarta dan bekerja sebagai wartawan majalah Aneka, media massa bidang olahraga dan film. Enam bulan kerja di majalah tersebut, dia diangkat menjadi redaktur. Setelah pindah ke Jakarta, Motinggo tidak lagi menulis naskah drama. Perpindahannya ke Jakarta juga membuat perubahan pada gaya dan pandangan hidup¬nya. Pe¬ngaruh kehidupan metropolitan secara drastis mengubah pandang¬an hidup Motinggo Busye dari idealisme ke hedonisme, demikian komentar banyak kritikus sastra mengamati perkem¬bang¬an kepengarangan Motinggo Busye. Hal itu juga berpengaruh pada gaya dan pandangannya tentang karya sastra. Karya-karyanya lebih banyak mengungkap tema-tema porno, tersirat atau pun vulgar. “Saya saat itu lebih cenderung mengangkat seks, karena novel seperti itu justru yang banyak diminati. Dan tiap orang kan sebenarnya interes.” ujarnya (Harian Terbit, 17 September 1994).&lt;br /&gt; Kisaran tahun 1984—1999, Motinggo mengubah haluan dan pandangan hidup kepengarannya. Setidaknya, ada dua sebab yang membuat perubahan haluan dan pandangan hidup kepengarangan Motinggo. Pertama, se¬telah dirasakan lesunya dunia perfilman nasional pada awal ta¬hun 1980-an—sebelumnya Motinggo Busye terjun pula ke dunia film dengan menjadi sutradara, antara lain dalam film Cintaku Jauh di Pulau (mengambil judul film dari sajak karya Chairil An¬war, “Cintaku Jauh di Pulau”) dengan bintang filmnya seorang penyair Angkatan 66, yaitu Mansur Samin Siregar, dan Putri Se¬orang Jenderal—itu mengubah kesadarannya untuk kembali menu¬lis novel serius. &lt;br /&gt; Kedua, kritik anaknya yang disekolahkan oleh Motinggo di Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, yang selalu mengingatkannya untuk tidak membuat karya sastra atau film yang lebih banyak menonjolkan seksualitas. Oleh anaknya, masalah seksualitas atau pornografi itu dapat meracuni generasi muda bangsa. Apa jadinya negara dan bangsa ini di kemudian hari kalau generasai muda yang penuh cita-cita ini hanya disuguhi bacaan seksualitas dan pornografi? Kesadaran Motinggo Busye itulah membuat novel Sanu Infinita Kembar (sisipan majalah Horison 1984 dan kemudian diterbitkan oleh Gunung Agung, 1985). Novel tersebut bagaikan penanda perubahan pandangan Motinggo dari hal-hal yang berbau seksualitas dan pornografi ke hal-hal yang bersifat religius, serius, transendental, pengembaraan intelektual imaji¬natif, serta absurditas.&lt;br /&gt; Tak hanya perubahan pandangan yang dicapai Motinggo, prestasi karya tulisnya dalam karang-menga¬rang sastra di kemudian hari membuahkan hasil yang gilang-gemilang seperti: (1) kemenangan Motinggo yang mendapatkan hadiah ke-4 “Sayembara Penulisan Cerpen Majalah Horison 1997" dengan cer¬pennya “Bangku Batu”, (2) kategori 10 cerpen terbaik 1990–2000 versi majalah sastra Horison 2000, dengan cerpennya “Lonceng”, dan (3) cerpen terbaik Kompas 1999, dengan cerpennya “Dua Tengkorak Kepala”.&lt;br /&gt; Dalam karya-karyanya, Motinggo Busye merepresen¬tasikan permasalahan dasar kehidupan manusia. Masalah dasar kehidupan itu menjadi menarik karena disampaikan dengan gaya khas Motinggo, yaitu sindiran atau ironi, dan juga dengan simbol-simbol atau perlambang-perlambang yang akrab dengan kehidupan manusia di sekelilingnya.&lt;br /&gt; Pada Juni 1994, Motinggo pergi menunaikan ibadah haji bersama istri dan beberapa teman sastrawannya, di antaranya A.A. Navis, Azwan Hamir, Chairul Umam, Taufiq dan Ati Ismail. Keberangkatannya mereka ke Tanah Suci disponsori oleh Menteri Agama waktu itu, Tarmizi Taher. Perjalanan haji mereka merupakan pencerahan batin yang luar biasa bagi Motinggo. Rasa syukur dan terima kasih atas usaha sahabat-sahabatnya tersebut dituangkan melalui karyanya yang berjudul Purnama di Atas Masjidil Haram. Akhirnya, Motinggo kembali ke jalan hidup yang diajarkan oleh kedua orang tuanya ketiga dia masih kecil, menjadi muslim yang taat, sampai dia tutup usia pada tanggal 18 Juni 1999 di Jakarta.&lt;br /&gt; Banyak sastrawan dan kritikus yang berkomentar tentang dirinya. Seperti Sutardji Calzoum Bachri, Presiden Penyair Indonesia, mengatakan bahwa Motinggo Busye sebagai sastrawan boleh disebut sebagai Master of Style. Motinggo Busye memang sastrawan penting. Prinsip Life is Beautiful menjadikan Motinggo lebih bersemangat dalam berkarya. “Komitmennya ini memunculkan kekaguman dari seniman lain” ujar Si Burung Merak, WS Rendra. Budianta berkomentar bahwa perjalanan hidup Motinggo yang dinamis, adanya anggapan tuntutan untuk bersikap konsisten sebagai musuh nomor satu yang harus dijauhi, merupakan salah satu saran Ralph Waldo Emerson (filsuf kesayangannya) agar manusia mengikuti perkembangan jiwa yang dinamis dan siap berubah atau mengontradiksi dirinya dari waktu ke waktu. Kedinamisan Motinggo itu juga dikometari oleh kritikus sastra Indonesia kenamaan dari negeri Belanda, Prof. Dr. Andreas Teeuw. Dia mengakui bakat sastra, seni, dan potensi artristik kepenga¬rangan Motinggo Busye sebagai sastrawan yang tekun meniti karir sepanjang hidupnya. Namun, dalam sejarah kepengarangan¬nya itu Motinggo Busye pernah mengalami jatuh bangun untuk tetap setia menggeluti bidang kesenian dan karya tulis-menulis.&lt;br /&gt; Karya-karya Motinggo Busye sangat banyak, berikut ini beberapa di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puisi&lt;br /&gt;(1) “Malam Putih”, Siasat Tahun VIII Nomor 378, Tahun-7, 1953:26.&lt;br /&gt;(2) “Ibu” Budaya Nomor 4-5 Tahun ke-4, 1955:220.&lt;br /&gt;(3) “La Lune et La Croix” Majalah Nasional Nomor 5 Tahun ke-6, 1955:19.&lt;br /&gt;(4) “Tuhan” Waktu Nomor 25 Tahun ke-9, 1955.&lt;br /&gt;(5) “Dengan Malam” Waktu Nomor 41 Tahun ke-11, 1957:22.&lt;br /&gt;(6) “Jalan Rata ke Pegunungan” Budaya Nomor 3-4 Tahun ke-6, 1957:174.&lt;br /&gt;(7) “Kota kami Dahulu” Budaya Nomor 3-4 Tahun ke-6, 1957:173.&lt;br /&gt;(8) “Ulang Tahun” Budaya Nomor 3 Tahun ke-7, 1958:128.&lt;br /&gt;(9) “Kepada Potret Abadi” Budaya Nomor 8 Tahun ke-8, 1959:284.&lt;br /&gt;(10) ”Majenun, Majenun” Budaya Nomor 8 Tahun ke-8, 1959:286.&lt;br /&gt;(11) Aura Para Aulia. Jakarta: M. Sonata. 1990.&lt;br /&gt;(12) “Merasuk Malam” Horison Nomor 9 September 1999.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Prosa&lt;br /&gt;(1) “Berantas” Waktu Nomor 29 Tahun ke-8, 1954:32--36.&lt;br /&gt;(2) “Bunian” Majalah Nasional Nomor 37 Tahun ke-5, 1954:20--22.&lt;br /&gt;(3) “Fonnie” Majalah Nasional Nomor 2 Tahun ke-5, 1954:18--19.&lt;br /&gt;(4) “Jejak Sepatu Gerilya” Waktu Nomor 11 Tahun ke-8, 1954:32--35.&lt;br /&gt;(5) “Mencari Kesudahan” Majalah Nasional Nomor 26 Tahun ke-5, 1954:20--22.&lt;br /&gt;(6) “Pengakuan” Majalah Nasional Nomor 41 Tahun ke-5, 1954:20--22.&lt;br /&gt;(7) “Danau” Waktu Nomor 45 Tahun ke-9, 1955:34--36.&lt;br /&gt;(8) “Serenade” Majalah Nasional Nomor 1,2 Tahun ke-6, 1955:23--25.&lt;br /&gt;(9) “Kubur dan Negeri Jauh” Roman Nomor 3 Tahun ke-4, 1957: 24--25, 28.&lt;br /&gt;(10) “Kuburan” Aneka Nomor 7 Tahun ke-9, 1958:12--13.&lt;br /&gt;(11) “Luka Hati Manusia” Minggu Pagi Nomor 43 Tahun ke-10, 1958:22--24.&lt;br /&gt;(12)  “Simponi dari Satu Nyawa” Star Weekly Nomor 677, Tahun ke-13, 1958:13--14.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cerita Pendek&lt;br /&gt;(1) Keberanian Manusia. (kumpulan cerpen) Jakarta: Nusan¬tara. 1962.&lt;br /&gt;(2) Nasihat untuk Anakku. (kumpulan cerpen) Jakarta: Mega¬bookstore. 1963.&lt;br /&gt;(3) “Bangku Batu” Pemenang ke-4 Sayembara Horison. Horison Nomor 9 Tahun XXXI, September 1997.&lt;br /&gt;(4) “Lonceng” Horison Nomor 9 Tahun XXXIV, September 1999.&lt;br /&gt;(5) Dua Tengkorak Kepala. (kumpulan cerita pendek, cerpen terbaik Kompas 2000). Yogyakarta: Yayasan Bentang Budaya. 1999.&lt;br /&gt;4. Novel&lt;br /&gt;(1) Tidak Menyerah. Jakarta: Nusantara. 1962.&lt;br /&gt;(2) Bibi Marsiti. Jakarta: Lokajaya. 1968.&lt;br /&gt;(3) Cross Mama. Jakarta: Lokajaya. 1968.&lt;br /&gt;(4) Jeng Mini. Jakarta: Lokajaya. 1969.&lt;br /&gt;(5) Lucy Mei Ling. Jakarta: Lokajaya. 1977.&lt;br /&gt;(6) Sanu Infinita Kembar. Jakarta: Gunung Agung. 1985.&lt;br /&gt;(7) Madu Prahara. Jakarta: PN Balai Pustaka. 1985.&lt;br /&gt;(8) Dosa Kita Semua. Jakarta: PN Balai Pustaka. 1986.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Drama&lt;br /&gt;(1) “Malam Jahanam” Budaya Nomor 3--5 Tahun ke-8, 1959:91--112.&lt;br /&gt;(2) Malam Pengantin di Bukit Kera. Jakarta: Mega¬bookstore. 1963.&lt;br /&gt;(3) Nyonya dan Nyonya. Jakarta: Megabookstore. 1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Kritik Esai&lt;br /&gt;(1) “Hasil Seni Modern” Sastra nomor 2 Februari 1962.&lt;br /&gt;(2) “Sebagai Pengarang… Bersedia Pikul Kritik” Mingguan Srikandi, 1969.&lt;br /&gt;(3) “Tema-Tema yang Saya Pilih” Srikandi, 7 September 1969.&lt;br /&gt;(4) “Film ‘Jane Eyre‘ dan ‘Charlotte Bronte‘, Sinar Harapan, 5 April 1973.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Pembicaraan Karya-Karyanya&lt;br /&gt;(1) Sjamsoeir Arfie, “Sebenarnya Bersama Boesje”, Indonesia Raya, 9 Agustus 1972.&lt;br /&gt;(2) H.B. Jassin, “Bibi Marsiti, Sebuah Roman Trilogi Motinggo Boesje”, Horison, Juni 1968.&lt;br /&gt;(3) H.B. Jassin, “Matahari dalam Kelam, Kumpulan Tjerita Pendek Motinggo Boesje: Suatu Sorotan”, Sastra, Agustus 1968.&lt;br /&gt;(4) Mansur Samin, “Apakah Motinggo Boesje Pengarang Cabul”, Yudha Minggu, 7 Desember 1969.&lt;br /&gt;(6) Sf, “Motinggo Boesje Bitjara tentang Tema jang Dipilihna”, Harian Kami, 10 November 1969.&lt;br /&gt;8. Legenda&lt;br /&gt;(1) Buang Tonjam. Jakarta: Megabookstore. 1963.&lt;br /&gt;(2) Ahum-Ha. Jakarta: Megabookstore. 1963.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. Film&lt;br /&gt;(1) Biarkan Musim Berganti (1971)&lt;br /&gt;(2) Cintaku Jauh di Pulau (1972)&lt;br /&gt;(3) Takkan Kulepaskan (1973)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-2458106818717565484?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/2458106818717565484/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=2458106818717565484' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2458106818717565484'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2458106818717565484'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/motinggo-busye.html' title='Motinggo Busye'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-3738563091307508522</id><published>2008-11-18T23:00:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T23:01:46.453-08:00</updated><title type='text'>M. Arman A. Z.</title><content type='html'>M. Arman A.Z. lahir di Telukbetung, 30 Mei 1977, di Rumah Sakit Bersalin Santa Anna.  Lahir sebagai anak kedua dari enam bersaudara, Arman memiliki seorang kakak perempuan, Masayu Azizah, dan empat orang adik, yaitu M. Afrizal A.Z., Anita, M. Amri A.Z., dan M. Agus Cik. Namun adik bungsunya, M. Agus Cik meninggal dunia pada tahun 1984. Arman lahir dari pasangan M. Arifin A.Z. dan Rafeah, keduanya bersuku Palembang. &lt;br /&gt;Jalan Hasanudin di kawasan Kupangkota, Telukbetung Utara menyimpan kenangan tersendiri dalam hidup Arman karena di sanalah ia menghabiskan seluruh masa kecil, remaja, hingga dewasa saat ini. Bagi Arman, masa kecil dan masa remaja adalah masa yang paling indah. Meskipun tidak bisa leluasa bermain dengan teman-teman sebaya karena ketatnya peraturan yang diterapkan oleh orang tuanya, Arman tetap menghabiskan waktu bermain bersama saudara-saudaranya. Namun demikian, tidak jarang teman-teman sekolah Arman bertandang dan bermain di rumahnya. “Waktu masih di bangku sekolah dasar, teman-teman sekolah sering menghabiskan waktu di rumah. bermain kelereng, burung dara, atau sepak bola. Begitu juga dengan teman-temannya ketika SMP, mereka sering main dan mengerjakan tugas sekolah di rumah Arman. Terlebih lagi ketika SMA (SMA Negeri 1 Tanjungkarang). Hampir setiap malam minggu, teman-teman menghabiskan malam minggu mereka di rumah Arman. Kegiatan yang sering dilakukan hanya sekadar ngobrol dan bergosip tentang wanita-wanita yang menjadi idola di sekolah. Tetapi tidak jarang pula mereka menghabiskan malam minggu dengan memanggang ayam atau membakar ikan. Oleh karena itulah, tidak heran jika rumah Arman kemudian dijadikan sebagai tempat mangkal teman-teman karib.&lt;br /&gt; Namun, tidak seluruh masa kecil dan remaja Arman dihabiskan untuk bermain dengan teman-temannya karena selain menerapkan peraturan yang ketat, orang tua Arman juga mengajarkan kedisiplinan bagi anak-anak mereka. Setiap sore, selepas salat Ashar, Arman dan saudara-saudaranya belajar mengaji pada nenek mereka, yang kebetulan tinggal di rumah orang tua Arman. Sayangnya, tahun 1991, neneknya tersebut meninggal dunia. Sebelum kepergian neneknya, adik bungsu Arman telah lebih dulu meninggal dunia, dan sepuluh tahun sesudah kepergian sang nenek, tepatnya tanggal 21 Juni 1991, Arman kembali harus kehilangan satu orang yang dia sayangi. Ibu Arman meninggal dunia setelah beberapa bulan tergolek lemah dan seminggu dirawat di Rumah Sakit Abdul Moeloek, Bandarlampung. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan dalam ingatan Arman tentang ibunya, sehingga wajar jika beberapa bulan setelah kepergian ibunya merupakan masa yang sulit bagi Arman.&lt;br /&gt; Sebagai anak lelaki paling tua dalam keluarga, Arman berusaha semaksimal mungkin menjalin hubungan yang akrab dan harmonis dengan saudara-saudaranya. Meski memiliki kesibukan masing-masing, mereka masih sempat meluangkan waktu untuk sekedar mengobrol tentang apa saja secara terbuka. Jika sesekali ada perbedaan pendapat antara Arman dengan saudara yang lain, dia rasa itu hal yang wajar dalam sebuah keluarga.&lt;br /&gt;Setelah sepuluh tahun mengenyam pendidikan di sekolah swasta, Xaverius, tahun 1992 Arman melanjutkan pendidikan di sekolah negeri, yaitu SMA Negeri 1 Tanjungkarang. Selepas SMA, Arman enggan untuk kuliah. Ia hanya mengikuti pendidikan diploma I di LPK Stamford Telukbetung. Setahun mengikuti pendidikan di LPK tersebut, pikiran Arman menjadi terbuka tentang pentingnya arti pendidikan formal. Oleh karena itu, tahun 1997, Arman memutuskan untuk kuliah di Fakultas Ekonomi Universitas Lampung. Namun, empat tahun kemudian, karena faktor kesibukan dan kejenuhan, Arman memilih untuk berhenti kuliah. Hal ini nekat dia lakukan karena dia percaya jika pendidikan formal belum tentu dapat menjamin masa depan seseorang.&lt;br /&gt;Beberapa pendidikan nonformal yang pernah diikuti pria berkacamata ini, antara lain kursus Bahasa Inggris di Lembaga Bahasa LIA, kursus komputer operator di LPK Prima Perdana (1994), dan kursus komputer programer di LPK Stamford (1996).&lt;br /&gt; Setahun setelah mengikuti program D1 Komputer, tepatnya tahun 1996, untuk pertama kali Arman mengenal dunia kerja dengan memasuki Lembaga Pendidikan dan Kursus (LPK) Genius Computer dan bekerja sebagai Instruktur Komputer. Di samping itu, Arman juga mengajar di dua tempat yang berbeda, yaitu LPK Stamford dan LPK Empat Putera.&lt;br /&gt; Masih berhubungan dengan komputer, pertengahan tahun 1998 sampai 2000, Arman bekerja sebagai operator komputer di PT CIDES Persada Consultant. Perusahaan konsultan yang berkantor pusat di Jakarta ini berperan sebagai konsultan manajemen pada Basic Education Project, Kanwil Departemen Agama Provinsi Lampung. Tahun 2000, masih di perusahaan yang sama, posisi bekerja Arman berubah menjadi Billingual Secretary. Posisi ini bertahan hingga pertengahan tahun 2002 ketika kontrak kerja Arman di perusahaan tersebut selesai. Selama bekerja di PT CIDES Persada Consultant, Arman juga diperbantukan sebagai Operator Data Entry pada Education and Management Information System (EMIS Project), sebuah proyek yang juga berada dalam Kanwil Departemen Agama Provinsi Lampung.&lt;br /&gt; Sekeluarnya dari PT CIDES Persada Consultant, Arman sempat bekerja di sebuah perusahaan air minum mineral lokal dan ditempatkan di sebuah kecamatan di kabupaten Lampung Selatan. Namun, pekerjaan ini tidak bertahan lama. Beberapa bulan kemudian, atau tepatnya Februari 2003, Arman mencoba peruntungan lain dengan bekerja sebagai tenaga marketing di PT HILON Indonesia, sebuah perusahaan modal asing yang berkantor pusat di Tangerang dan membuka cabang di Lampung. Di perusahaan ini Arman bertugas memasarkan perlengkapan kamar tidur, dengan daerah pemasaran di sekitar Bandarlampung dan Lampung Selatan.&lt;br /&gt;Sebelum bekerja di PT HILON Indonesia, Arman pernah menjadi redaktur sebuah tabloid LSM. Karena beberapa alasan, setelah beberapa edisi, Arman mengundurkan diri. Masih bergelut di bidang yang sama, yaitu tulis menulis, akhirnya sejak tahun 2004 hingga sekarang, Arman hidup dari menulis karya sastra seperti, cerita pendek, cerita anak, dan esai. Profesi terakhir inilah yang terus mengiringi langkah hidup Arman hingga dikenal sebagai salah satu sastrawan Lampung.&lt;br /&gt;Berbekal hobi membaca, Arman mulai berkenalan dengan dunia sastra ketika di Bangku SMP. Hampir setiap minggu, dia meminjam buku-buku sastra di perpustakan sekolah, mulai dari buku-buku puisi, kumpulan cerpen, hingga novel. Pada saat itu, Arman begitu menyukai novel-novel remaja seperti Balada Si Roy (Gola Gong), Lupus (Hilman), Lima Sekawan (Enid Blyton), dan buku-buku lainnya. Selain memiliki hobi membaca dan menekuni dunia tulis-menulis, Arman juga senang mendengar musik dan travelling. Hobi dan kebiasaan-kebiasaan inilah yang secara tidak langsung memengaruhi Arman untuk menciptakan sebuah karya sastra. Inspirasinya untuk berkarya sering kali datang setelah membaca buku, mendengarkan lagu, atau sepulangnya travelling dari suatu tempat. Hobinya ini berlanjut hingga Arman duduk di bangku SMA. Tahun 1994, akhirnya Arman mulai menekuni dunia sastra dan bersama beberapa teman yang juga menyukai karya sastra, terutama puisi, Arman mulai belajar menulis puisi. Puisi-puisi hasil karya Arman pada saat itu hanya bersifat situasional, tentang perasaan kepada lawan jenis atau persahabatan. Baginya, cinta adalah sesuatu yang pelik dan rumit untuk dimengerti dan setiap orang tentu memiliki pengertian yang berbeda tentang arti cinta. &lt;br /&gt;Dahulu, ketika jatuh cinta pada wanita, Arman hanya mampu menyalurkan perasaan itu melalui puisi-puisi sederhana ciptaannya. Namun kini, Arman terbiasa dan lebih leluasa menuangkannya ke dalam cerpen. Beberapa cerpen Arman memang lahir karena terinspirasi oleh wanita-wanita yang pernah dia cintai. Arman menganggap wanita sebagai mitra dalam proses kehidupannya. Arman menulis dalam salah satu esainya bahwa “Hidup ini akan terasa sunyi, sepi, dan tidak berarti tanpa kehadiran makhluk bernama perempuan. Sebagaimana awal terciptanya umat manusia di alam semesta. Tuhan menciptakan Hawa untuk menemani Adam yang terlebih dahulu hidup dan sendirian di dunia. Tuhan bukan menciptakan Hawa dari kaki Adam untuk dijadikan alasnya, melainkan dari tulang rusuknya agar mereka dapat menjadi mitra sejajar. Dari kenyataan ini, bisa dibilang kaum laki-laki tidak bisa hidup tanpa perempuan. Selain harta dan tahta, perempuan pun memendam pesona sihir yang bisa membuat lelaki terpesona, bertekuk lutut, bahkan terlempar ke dalam jurang kehancuran.” &lt;br /&gt; Tidak heran jika sebagian besar cerpen Arman tidak berada jauh dari tema yang masih berkaitan dengan wanita, mulai dari kenangan dengan pacar, nostalgia bersama teman, figur seorang ibu, hingga seorang nenek pernah pula diangkatnya ke dalam cerpen-cerpennya. Namun, cerpen-cerpen Arman tidak melulu terinspirasi cinta dan wanita saja. Bagi Arman, semua aspek kehidupan ini menarik untuk dituangkan menjadi karya sastra. Begitu pula dengan proses pembuatan cerpen yang menurutnya merupakan sebuah proses individu, dan orang-orang di sekelilingnya secara tidak langsung juga ikut berperan dan memberi inspirasi untuk menghasilkan sebuah karya. &lt;br /&gt;Proses kreatif yang terjadi dalam pembuatan karyanya pun mengalir sesuai dengan peristiwa yang dia alami sendiri. Semua karya yang telah dihasilkannya, baik yang pernah maupun tidak pernah dimuat, tentu memiliki sejarah dan nilai masing-masing. Oleh karena itulah, sebagian besar cerpen Arman termasuk aliran realis. Seperti cerpennya yang berjudul “Kupu-kupu di Batu Nisan”. Cerpen ini terinspirasi dari sebuah kejadian nyata yang dialami sendiri oleh Arman. Ada satu masa Arman kerap menziarahi makam ibunya. Di sana Arman melihat seekor kupu-kupu kuning terang dan hinggap di batu nisan ibunya. Entah mengapa, visualisasi kupu-kupu yang hinggap di batu nisan itu terus bercokol dalam benaknya. Akhirnya, Arman merekonstruksi kejadian tersebut ke dalam tulisan hingga lahirlah cerpen “Kupu-kupu di Batu Nisan”.&lt;br /&gt;Pada awal masa kepenulisan Arman (1996-1999), tidak ada satu sastrawan pun yang dikenal Arman. Saat itu Arman hanya sebatas mengenal nama dan karya-karya yang dihasilkannya. Sedikit demi sedikit Arman mulai tahu beberapa sosok sastrawan Lampung, seperti Isbedy Stiawan ZS dan Syaiful Irba Tanpaka. Arman sebagai sastrawan muda Lampung merasa bangga bisa mengenal dan berinteraksi dengan mereka. Walau kerap membaca karya-karya mereka, Arman mengakui bahwa dia tidak bisa menanggapi karya mereka tersebut secara detail. Namun sejauh ini, Arman percaya bahwa karya mereka memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Menurut Arman, karya sastra yang menarik adalah karya sastra yang memiliki keunggulan dalam segi tematik, literer, estetika, dan etika. Sastra yang berkualitas adalah sastra yang bisa memberikan pencerahan secara tidak langsung kepada pembacanya. Meskipun karya sastra bisa multitransfer, setidaknya ada nilai atau hikmah yang bisa dipetik pembaca usai membacanya.&lt;br /&gt;Dari sekian banyak karya yang dihasilkan dan diterbitkan Arman, tentu tidak terlepas dari pengamatan sastrawan lain. Tak sedikit sastrawan yang memberi komentar terhadap cerpen yang dibuatnya. Misalnya untuk kumpulan cerpen dalam Sekuntum Mawar di Depan Pintu, Isbedy mengomentari bahwa dengan gaya kisah realis, cerpen-cerpen dalam buku tersebut membuka pintu untuk dimasuki. Tema-tema cerpennya sangat kaya dan gaya kisahnya pun penuh rima yang terkadang puitik serta penuh panorama indah bagi yang suka mengembara. &lt;br /&gt; Sementara menurut Wayan Sudana, “Cerpen-cerpen dalam buku Embun di Ujung Daun menunjukkan cerminan dari cerita, cinta, kenangan, kerinduan, kematian, ketidakadilan dan berbagai komedi-tragedi kehidupan manusia. Arman meramu serpihan kisah itu menjadi deskripsi dan narasi yang indah sehingga karakter tokoh mewujudkannya sendiri, kadang serasa dekat dengan kehidupan kita.”&lt;br /&gt;Satmoko Budi Santoso, seorang sastrawan dari Yogyakarta mengomentari, “Sebagai pengisah cerita, Arman mempunyai sensibilitas merambah kompleks psikologis keluarga, ada subversivitas dalam keluarga dan itulah yang suci untuk dipertahankan.” Sementara menurut Helvy Tiana Rosa, cerpen-cerpen Arman menarik, menyentuh, dan selalu menyisakan sesuatu usai kita membacanya.&lt;br /&gt;Selama masa kepenulisan Arman, ada beberapa penghargaan yang pernah diraihnya, antara lain penghargaan Lomba Menulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (Indosat, Kompas, Republika, Gatra, dan LIPI, 1999), meraih piagam untuk Lomba Menulis (Perpustakaan Nasional Provinsi Lampung, 2000), dan piagam penghargaan Lomba Menulis Cerita Anak (Gema Insani Press, 2001). Tahun 2003, salah satu cerpen Arman yang berjudul “Jenny Berdiri di Liang Lahat” masuk nominasi 30 besar Lomba Cipta Cerpen yang diadakan Dinas Pendidikan Nasional, CWI, dan KSI. Selain itu, cerpen lainnya yang berjudul “Perempuan yang Menyisir Rambutnya dengan Sebilah Belati” berhasil masuk nominasi lima besar Sayembara Penulisan Cerpen Lampung Post, Agustus 2004.&lt;br /&gt; Tahun 2003 menjadi peserta Kongres Cerpen Indonesia III di Bandarlampung. Juli 2004 mengikuti Temu Sastrawan 9 Provinsi di Anyer, Banten, sekaligus menjadi peserta Mitra Praja Utama. Pernah menghadiri Milad dan Munas Forum Lingkar Pena di Yogyakarta, Februari 2005.&lt;br /&gt;Berikut ini karya-karya M. Arman A.Z..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerita Pendek&lt;br /&gt;1) Antologi Cetik, Dewan Kesenian Lampung, 1999.&lt;br /&gt;2) Grafiti Imaji, Yayasan Multimedia Sastra, April 2002.&lt;br /&gt;3) Cermin dan Malam Ganjil, FBA Press, Juni 2002.&lt;br /&gt;4) 20 Tahun Cinta, Senayan Abadi, Juli 2003.&lt;br /&gt;5) Wajah di Balik Jendela, Lazuardi, September 2003.&lt;br /&gt;6) Mengetuk Cintamu, Senayan Abadi, September 2003.&lt;br /&gt;7) Anak Sepasang Bintang, FBA Press, 2003.&lt;br /&gt;8) Bunga-bunga Cinta, Senayan Abadi, Januari 2004.&lt;br /&gt;9) Yang Dibalut Lumut, CWI-Diknas, Oktober 2004.&lt;br /&gt;10) Mencintaimu, Logung Pustaka, Juli 2004.&lt;br /&gt;11) Embun di Ujung Daun (Kumpulan Cerpen Tunggal), Logung Pustaka, Februari 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Novel&lt;br /&gt;1) Loper Koran Cilik diterbitkan oleh Gema Insani Press, 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cerita Anak&lt;br /&gt;1) Payung Warna-Warni, DAR! Mizan, Juli 2003.&lt;br /&gt;2) Senjata Makan Tuan, Beranda Hikmah, Oktober 2004.&lt;br /&gt;3) Dena dan Bidadari, Beranda Hikmah, 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-3738563091307508522?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/3738563091307508522/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=3738563091307508522' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3738563091307508522'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3738563091307508522'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/m-arman-z.html' title='M. Arman A. Z.'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-1324941566666135985</id><published>2008-11-18T22:59:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:50:24.475-08:00</updated><title type='text'>Lupita Lukman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNevhHEsFI/AAAAAAAAABg/352PrcuxYqY/s1600-h/Lupita+Lukman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNevhHEsFI/AAAAAAAAABg/352PrcuxYqY/s200/Lupita+Lukman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274663759015882834" /&gt;&lt;/a&gt;Lupita Lukman lahir di Kotabumi, 17 Maret 1985. Putri pasangan Lukman Supli, BA. (almarhum) dengan Netty Hartini ini mempunyai nama lengkap Shantika Lupita Sari. Lupita Lukman oleh Ibunya dipanggil dengan nama kesayangan Ndung yang mempunyai arti rindu. &lt;br /&gt;Saat ia berusia tujuh tahun, tepatnya ketika ia duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar, ayah Lupita meninggal dunia. Saat itu lupita mengalami pukulan batin yang sangat berat. Orang tua satu-satunya yang menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal adalah ibundanya. &lt;br /&gt; Pendidikan SD, SMP, dan SMA Lupita dihabiskan di Bandarlampung. Pada tahun 2003 ia kuliah diploma UNILA fakultas ekomoni, jurusan manajemen. &lt;br /&gt;Kecintaannya dengan sastra bermula saat ia duduk di bangku SMA, majalah dinding di sekolahnya sering memuat karya-karya Lupita, ditambah lagi setelah duduk di bangku SMA sering mengisi rubrik Sanggar Konsultasi Remaja (SKR), dua aktifitas itulah yang mengantarkanya mulai aktif menulis karya puisi. &lt;br /&gt;Dunia sastra ia geluti dengan serius semenjak masuk di Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung divisi teater dan sastra pada tahun 2003.&lt;br /&gt;Pada awal berkarya, ia hanya bertujuan untuk sekadar memenuhi kebutuhan batin mencurahkan isi hati melalui tulisan dalam buku harian. Menurutnya melalui puisi akan mendapatkan kepuasan batin yang tak tergantikan di tempat lain. &lt;br /&gt;Lupita merasa menemukan eksistensi diri melalui karya-karyanya. Ia lebih suka menyebut puisinya sebagai puisi pengalaman batin dibandingkan disebut puisi bertema cinta.   &lt;br /&gt;Sifat keras kepala yang melekat pada wataknya hingga sekarang, kadang membuat dirinya dianggap egois oleh saudaranya. Hal itu dominan ketika beradu argumen dan mempertahankan pendapat dengan orang lain. Walaupun keras kepala ia lebih senang pada ketenangan dan menghindari konflik. Ketenangan itu tercermin dalam pilihan warna-warna favoritnya hitam dan putih. &lt;br /&gt;Dara berdarah Palembang yang punya hobi membaca ini mengaku, sejak kecil hingga sekarang kurang memahami warisan budaya nenek moyangnya terutama Palembang. Apalagi budaya Lampung sama sekali tidak ia kuasai, oleh karena itu ia mencoba menghindari karya-karya bertema kelampungan. Membicarakan masalah budaya apalagi merefleksikan dalam sebuah karya, menurutnya membutuhkan sebuah totalitas yang utuh tidak bisa sembarangan mengungkapkan.&lt;br /&gt;Dibawah asuhan seniornya seperti Ari Pahala Hutabarat, Lupita mulai mengirimkan tulisan-tulisannya ke surat kabar daerah maupun nasional. Pada tahun yang sama puisinya dikirimkan ke koran Lampung Post tetapi tidak dimuat. Hal itu tidak mematahkan semangatnya untuk tetap menulis puisi. Akhirnya karya-karyanya dikirim ke koran Tempo, Media Indonesia, Pikiran Rakyat, majalah Horison dan dimuat. &lt;br /&gt;Pengalaman karya tidak dimuat dalam media lokal Lampung mengakibatkan Lupita mempunyai penilaian terhadap redaksi koran sebagai sikap tidak objektif. Bagi penulis pemula, karya tidak dimuat bukan karena tidak layak, tetapi lebih ke pandangan sebelah mata redaksi koran. Kenyataannya setelah karya-karyanya dimuat dalam media nasional baru media lokal mengikuti untuk memuatnya.&lt;br /&gt;Pengagum sastrawan Sapardi Djoko Damono dan Goenawan Muhammad  ini telah banyak mengikuti kegiatan sastra dan karya-karyanya telah banyak dimuat dalam berbagai surat kabar daerah maupun nasional. &lt;br /&gt;Pada peringatan hari Kartini tanggal 21 April 2005, dirinya bersama empat penyair perempuan Lampung (Imas Sobariah, Nersalya Renata, Inggit Putria Marga, dan Eliza Purwanti)  membacakan kelima karya-karya puisi mereka di Warung Bulungan, Jakarta.  &lt;br /&gt;Pada bulan September tahun 2005 mengikuti kegiatan Cakrawala Sastra Indonesia, Dewan Kesenian Jakarta di Taman Ismail Marzuki. Menghadiri undangan Forum Sastra Bandung dalam rangka Festival Mei di Institut Nalar Jatinangor. Belum lama ini mengikuti kegiatan Bengkel Sastra Majelis Sastra Asia Tenggara (Mastera) di Samarinda pada tanggal 23—31 Juli 2007 yang diselenggarakan oleh Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.&lt;br /&gt;Seperti penyair kebanyakan, karya-karya Lupita juga mendapat tanggapan dari kritikus sastra, seperti menurut M. Sidik Mustofa, puisi-puisinya bersifat tertutup kecenderungan makna yang terkandung di dalam sajak sangat membebaskan pembaca mencari maknanya sendiri-sendiri dan hanya memberikan ruang makna tunggal ketika di tulis maupun dibacakan. Puisinya yang berjudul Mimpi Potong Rambut pernah mendapatkan nominasi dalam lomba yang diadakan Dewan Kesenian Lampung dengan tema puisi dan lokalitas tahun 2006. Mata Merah Buku, Gubuk-Gubuk Gipsi (Lampung Post, 11 Maret 2007), Mimpi Dipatuk Ular  (Lampung Post, 11 Maret 2007). Berikut ini karya-karya Lupita Lukman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. “Dengung Ulat”, “Kabut Merah Di Atas Rumput”, “ Khianat Pohon”, “Lewat Kalimat Senja”, “Seorang Penari Latar”, “Pohon Tumbang di Bibirmu”. Koran Tempo, 19 Desember 2004.&lt;br /&gt;2. “Gugur Desember”, “Malam Sehabis Perjamuan”, “Di Wajahmu Sungai Mengalir Kepekaan”. Media Indonesia, 2 Januari 2005.&lt;br /&gt;3. “Hujan Paru-Paru”, “Gerimis Daun-Daun”, “Tujuh Rupa Mimpi”, “Pohon Tumbang Di Bibirmu”. Lampung Post, 30 Januari 2005.&lt;br /&gt;4. “Kau Hutan”, “Aku Taman”, “Hortensia”. Media Indonesia, 22 Mei 2005.&lt;br /&gt;5. “Luth”. Lampung Post, 11 September 2005 dan Media Indonesia, 23 Oktober 2005.&lt;br /&gt;6. “Nama Ibu”. Lampung Post, 5 Maret 2006 dan Media Indonesia, 5 Maret 2006.&lt;br /&gt;7. “Mata Merah Buku”. Media Indonesia, 21 Mei 2006 dan Pikiran Rakyat, 6 Mei 2006.&lt;br /&gt;8. “Surat Untuk Kekasih”, “Gubuk-Gubuk Gipsy”. Media Indonesia, 22 April 2007.&lt;br /&gt;9. “Pohon Yang Hilang”, “Tangga Menuju Langit”, “Malam Pencuri”, “Langit dan Dirimu”. Kompas, 29 Juli 2007.&lt;br /&gt;10. “Bunga Padi dan Alang-Alang”, “Luput di Telan Kabut”, “Rumah Batu”. Media Indonesia, 9 September 2007.&lt;br /&gt;11. “Gubuk-Gubuk Gipsy”, “Mimpi Dipatuk Ular”, “Ballets”. Lampung Post, 11 Maret 2007.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-1324941566666135985?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/1324941566666135985/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=1324941566666135985' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1324941566666135985'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1324941566666135985'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/lupita-lukman.html' title='Lupita Lukman'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNevhHEsFI/AAAAAAAAABg/352PrcuxYqY/s72-c/Lupita+Lukman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-5795532834444932547</id><published>2008-11-18T22:58:00.002-08:00</published><updated>2008-11-18T22:59:24.983-08:00</updated><title type='text'>Lampung Post</title><content type='html'>Surat kabar Lampung Post hampir seusia Provinsi Lampung. Lampung resmi menjadi Provinsi setelah memekarkan diri dari Provinsi Sumatera Selatan berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor: 3 Tahun 1964 tanggal 18 Maret 1964 (Titian Pers Lampung, Etos Perjuangan di Tanah Tapis, 1996: 3). Lampung Post berdiri berkat imbauan Menteri Penerangan Republik Indonesia. Pada waktu itu, tiga surat kabar yang terbit di Lampung, Pusiban, Indevenden, dan Post Ekonomi, belum memiliki percetakan sendiri dan belum mempunyai manajemen yang profesional dalam mengelola persuratkabaran. Untuk menidaklanjuti imbauan Menteri, para pemimpin redaksi dari ketiga surat kabar tersebut sepakat menyatukan visi dan misi mereka ke dalam satu wadah yang bernama Lampung Post.&lt;br /&gt;Lampung Post terbit pertama kali pada tanggal 10 Agustus 1974, berdasarkan surat keputusan MENPEN RI No: 0148 SK DIRJEN P 6 SIT 1974. Lampung Post diterbitkan oleh PT Masa Kini Mandiri dengan Surat Izin Usaha Penerbitan (SIUP) nomor 150/SK/Men Pen/SIUP/a 7/1986. Alamat redaksi Lampung Post di Jalan Soekarno Hatta nomor 108, Rajabasa, Bandarlampung.&lt;br /&gt;Dengan mottonya, “Dinamika Masyarakat Lampung”, Lampung Post berkeinginan untuk menjadi surat kabar terdepan yang jujur, jernih, bermutu, dan paling berpengaruh di Provinsi Lampung. Oleh sebab itu, Lampung Post sejak awal berdiri sampai sekarang mengalami banyak perubahan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Lampung Post telah mengalami tiga fase perubahan. Periode 1974--1988 merupakan awal masa berdirinya Lampung Post. Pengolahan data pada periode ini masih mengalami banyak kekurangan. Sistem yang digunakan masih sangat sederhana mengakibatkan Lampung Post sering terlambat sampai ke tangan pembaca. Meskipun demikian, pada periode ini Lampung Post telah mampu terbit dengan 10.000 eksemplar perhari. Sistem pengarsipan data masih dilakukan secara analog, yaitu dengan mengumpulkan data menjadi satu dan disimpan dalam satu ruangan.&lt;br /&gt;Pada periode kedua, 1988--1991, profesionalitas penerbitan sudah mulai muncul, ditandai dengan penambahan pada perangkat percetakan. Penggunaan perangkat komputer sebagai sarana bantu untuk mengolah data berita yang ada. Meskipun jumlah perangkat komputer yang sangat minim (10 buah), penyusunan tampilan surat kabar sudah mulai baik. Hal itu dibuktikan dengan ketepatan sampainya surat kabar ke tangan pembaca dan semakin baik tulisan yang diterbitkan. Jumlah surat kabar yang tercetak pada periode ini sudah mencapai 20.000 eksemplar perhari. Sistem pengarsipan data sebagian sudah dilakukan secara digital, yaitu disimpan dalam disket.&lt;br /&gt;Periode ketiga, 1991—sekarang, dapat dikatakan bahwa Lampung Post sudah dapat mengelola persuratkabaran dengan baik. Hal itu dibuktikan dengan kepercayaan masyarakat dalam memilih berita yang berkualitas telah disajikan oleh koran Lampung Post. Dukungan 100 unit komputer, belum termasuk yang ada di kantor cabang daerah tersambung secara LAN serta didukung oleh perangkat komunikasi yang canggih sehingga proses pencarian berita luar negeri dan dalam negeri, informasi dari daerah kepusat dapat dikirim dengan cepat. Dengan dukungan perangkat teknologi tersebut, harian umum Lampung Post dapat melayani masyarakat menjadi lebih baik. &lt;br /&gt;Saat ini, PT Masa Kini Mandiri telah mampu memproduksi surat kabar 30.000 eksemplar per harinya dengan 20 halaman dan terbit tujuh kali seminggu. Harian umum Lampung Post juga melayani percetakan dari luar perusahaan, seperti Dipasena dan Sumatra Post. Sistem pengarsipan sudah lebih baik dibandingkan periode-periode sebelumnya, data disimpan dalam bentuk digital dalam komputer pusat (computer server) sehingga dapat diolah bersama-sama oleh masing-masing pengguna (user) yang telah memiliki hak akses.&lt;br /&gt;Lampung Post menyuguhkan berbagai macam berita. Berita aktual atau terkini yang terjadi di wilayah Provinsi Lampung dan berita-berita mengenai peristiwa penting terjadi di luar negeri sering menghiasi wajah berita utama (Headlines). Lampung Post juga memuat berbagai macam peristiwa yang disampaikan masyarakat melalui SMS (Short Message Service). Rubrik ini dilabeli dengan rubrik “Bandarlampung”. Opini masyarakat tentang berbagai macam hal, terutama permasalahan aktual yang sedang hangat dibicarakan, secara khusus dimasukkan ke dalam rubrik “Opini”. Tidak hanya peristiwa politik, kriminal, atau pun ekonomi yang dimuat oleh Lampung Post, berita olahraga, hiburan, pariwara hingga sastra juga menghiasi halaman Lampung Post.&lt;br /&gt;Meskipun muatan sastra di Lampung Post tidak hadir setiap hari, sastra secara konsisten setiap minggu dimuat dalam rubrik “Seni dan Budaya” sejak Lampung Post berdiri. Setiap karya yang masuk ke dewan redaksi Lampung Post tidak serta-merta dapat menghiasi rubrik “Seni dan Budaya” dengan mudah. Penyeleksian ini dilakukan oleh dewan redaksi Lampung Post agar pembaca dapat menikmati sajian karya sastra yang bermutu.&lt;br /&gt;Dengan pemuatan karya sastra dari penyair, Lampung Post dengan sendirinya ikut memajukan perkembangan sastra sekaligus memopulerkan dan mengenalkan orang-orang yang bergelut di bidang sastra (sastrawan). Tokoh-tokoh sastrawan Lampung seperti Isbedy Stiawan ZS, Saiful Irbatanpaka, A.M. Zulkarnain, Iswadi Pratama, Ahmad Rich, Cristian Heru Cahyo, Ahmad Julden Erwin, R.A. Chepy, Naim Emel Prahana, Panji Utama, Ivan Sumantri Bonang, Jimmy Maruli Alfian, Ari Pahala Hutabarat, Inggit Putria Marga, Imas Sobariah, Nersalya Renata, Lupita Lukman, Eliza Purwanti, Budi Hutasuhut, Arman AZ., Dina Oktaviani, dan Y Wibowo, mampu menunjukkan gigi ke ajang nasional tentang hiruk pikuk sastra Lampung melalui Lampung Post. Mereka berkarier di dunia sastra menggunakan sarana koran untuk menyampaikan pesan-pesan dalam karya, seperti puisi, cerpen, esai, dan teater.&lt;br /&gt;Di rubrik “Seni dan Budaya” tidak hanya menampilkan aktivitas sastra saja. Aktivitas seni tari, seni rupa, dan teater sering juga menghiasi rubrik tersebut. Komunitas-komunitas sastra yang ada di Lampung, seperti Teater Satu, Kober, Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL), dan komunitas teater kampus juga otomatis terangkat dengan pemberitaan dalam rubrik ini. &lt;br /&gt;Beberapa berita kesastraan yang pernah dimuat Lampung Post antara lain.&lt;br /&gt;1. Cerpen karya Syaiful Irbatanpaka berjudul “Sandal Jepit” dimuat pada 10 Juli 1989.&lt;br /&gt;2. Cerpen karya Syaiful Irbatanpaka berjudul “Helma” dimuat pada 14 Agustus 1989.&lt;br /&gt;3. Cerpen karya Assaroeddin Malik Zulqornain Ch berjudul “Semanda” dimuat pada 26 Januari 1991.&lt;br /&gt;4. Cerpen karya Syaiful Irbatanpaka yang berjudul “Potret Perjalanan Diah” dimuat pada 13 Juni 1993.&lt;br /&gt;5. Cerpen karya Assaroeddin Malik Zulqornain Ch berjudul “Sampah Akhir Tahun” dimuat pada 31 Desember 1995.&lt;br /&gt;6. Esai Edy Samudra Kertagama berjudul “Makyong: Cermin Umum Teater Rakyat” dimuat pada 27 November 1996.&lt;br /&gt;7. Cerpen karya Assaroeddin Malik Zulqornain Ch berjudul “Palu Pamansrun” dimuat pada 29 April 2001.&lt;br /&gt;8. Sajak-sajak Syaiful Irbatanpaka berjudul “Kampung Halaman Setengah Malam”, “Interior Malam”, “Antene Kesunyian”, “Namaku Tragedi”, dan “Parabola Ikan Asin” dimuat pada 29 September 2002.&lt;br /&gt;9. Cerpen karya Assaroeddin Malik Zulqornain Ch berjudul “Astiga” dimuat pada 9 Maret 2003.&lt;br /&gt;10. Cerpen karya Soeprijadi Tomodihardjo berjudul “Ebola” dimuat pada 14 Agustus 2005.&lt;br /&gt;11. Cerpen karya Isbedy Stiawan ZS yang berjudul “Pasien Terakhir” dimuat pada 28 Agustus 2005.&lt;br /&gt;12. Sajak-sajak “Amir Ramadhani” dimuat pada 4 September 2005.&lt;br /&gt;13. Cerpen karya Warman P. berjudul “Telanjang” dimuat pada 4 September 2005.&lt;br /&gt;14. Esai karya M. Arman AZ berjudul “Fiksi Epik Fantasi ala Indonesia” dimuat pada 15 Januari 2005. M Arman AZ, mengomentari tentang novel karya Mama Piyo berjudul Pinissi, Petualangan Orang-orang Setinggi Lutut.&lt;br /&gt;15. Cerpen karya Budi P. Hatees berjudul “Sebambangan” dimuat pada 29 Mei 2005.&lt;br /&gt;16. Esai karya Rudi Rofandi Utama berjudul “Menafsir Ulang Kebudayaan Lampung dalam Sastra” dimuat pada 12 Juni 2005. Esai ini mengkritik cerpen “Sebambangan” karya Budi P. Hatees.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Struktur Manajemen Lampung Post Tahun 2006&lt;br /&gt;Pemimpin umum : Bambang Eka Wijaya.&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi : Ade Alawi.&lt;br /&gt;Wakil pemimpin redaksi : Sabam Sinaga.&lt;br /&gt;Pemimpin perusahaan : Sukamto Kusnadi.&lt;br /&gt;Dewan redaksi Media Grup : Toeti Adhitama (Ketua), Djafar H. Assegaf, Saur Hutabarat, Andy F. Noya, Laurens Tato, Elman Saragih, Djadjat Sudradjat, Rerie L. Moerdijat, Jeanette Sudjunadi, Bambang Eka Wijaya, Sugeng Suparwoto, Usman Hasan, Ade Alawi.&lt;br /&gt;Penelitian dan pengembangan: Hery Wardoyo (Kepala), Hesma Eryani (asisten kepala).&lt;br /&gt;Asisten redaktur pelaksana : Iskandar Zulkarnain, Iskak Susanto.&lt;br /&gt;Redaktur : Rachmat Sudirman, Alhuda Muhajirin, Sri Agustina, Dadang Saputra, Budi Hutasuhut, Ikhwanuddin, Amiruddin Sormin, Wiwik Hastuti, Sudarmono, Heru Zulkarnain, Zulkarnain Zubairi.&lt;br /&gt;Asisten Redaktur : Ibram Haril Tarmizi, Aris Susanto, Widodo, Trihadi Joko, Umar Bakti, Yunita Safitri.&lt;br /&gt;Sekretaris redaksi : M. Natsir.&lt;br /&gt;Artistik : Aris Munandar, Sumaryono, dan Ferial.&lt;br /&gt;Diretur Utama Penerbit : Rerie L. Moerdiyat&lt;br /&gt;Direktur : Ana Wijaya&lt;br /&gt;Asisten pemimpin perusahaan operasional : Kholid Lubis&lt;br /&gt;Asisten pemimpin perusahaan marketing : Syarifudin&lt;br /&gt;Account Executive iklan : Karyati, Lisma, Lina, Mega, Oki Haray, Ririn, dan Rini&lt;br /&gt;Kabag keuangan : Rosmawati Harahap.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-5795532834444932547?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/5795532834444932547/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=5795532834444932547' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5795532834444932547'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5795532834444932547'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/lampung-post.html' title='Lampung Post'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-8025504363016052641</id><published>2008-11-18T22:58:00.001-08:00</published><updated>2008-12-21T22:21:04.930-08:00</updated><title type='text'>Lembaga Deklamasi Lampung</title><content type='html'>Lembaga Deklamasi Lampung (LDL) didirikan atas dasar kepedulian perkembangan sastra di Lampung. Lembaga ini didirikan oleh beberapa seniman Lampung, di antaranya Edy Samudra Kertagama. Lembaga yang didirikan tanggal 12 Agustus 1990 ini mempunyai empat tujuan utama, yaitu meningkatkan dan menciptakan apresiasi perkembangan kesusastraan Indonesia, memberikan sumbangsih kepada pemerintah daerah Lampung terhadap perkembangan kesusastraan Indonesia, menciptakan iklim yang kondusif di kalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat luas, serta memberikan penghargaan terhadap upaya-upaya yang telah diberikan para sastrawan Lampung dalam keikutsertaan mengembangkan kesusastraan Indonesia.&lt;br /&gt;Sejak berdiri, lembaga yang beranggotakan berbagai lapisan masyarakat, seperti seniman, pelajar, mahasiswa, pedagang, dan Pegawai Negeri Sipil, banyak melakukan kegiatan yang berhubungan dengan sastra. Tahun 1991, LDL menyelenggarakan Lomba Baca Puisi Se-Sumbagsel. Tahun 1992, LDL mengirimkan utusan (anggotanya) untuk mengikuti Lomba Baca Puisi Nusantara I di Jakarta. Lembaga ini secara berkesinambungan melakukan pembinaan sastra terhadap siswa SMU di Lampung. Selain itu, LDL juga sering melakukan kegiatan pembacaan puisi. &lt;br /&gt;Dalam perannya memajukan sastra di Lampung, LDL beberapa kali menerbitkan antologi puisi seperti antologi puisi Wajah (1997), antologi sajak pendek Kering (1997), antologi puisi Embun Putih (1997), dan manuskrip Plong 1 hingga Plong 4. Pada kesempatan ini, dihadirkan sastrawan tamu seperti Iswady Pratama dan Syaiful Irba Tanpaka yang membawakan puisi-puisi Edy Samudra Kertagama. &lt;br /&gt;Kegiatan seperti konser keliling pembacaan puisi di beberapa kota dan perguruan tinggi di Indonesia pernah difasilitasi lembaga ini. Tahun 2002, LDL menggelar acara yang bertajuk “Perisai” (Peristiwa Sastra Indonesia) yang digelar di Taman Budaya Lampung selama tiga hari 1 s.d. 3 Februari 2002, kegiatan itu diikuti oleh pelajar, mahasiswa, karyawan, seniman, dan masyarakat umum. Tahun 2003, LDL menggelar acara konser keliling pembacaan puisi yang bertajuk “Puisi Dua Kota Lampung—Jakarta”. Dalam acara itu, pembacaan puisi diisi oleh Edy Samudra Kertagama. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus Lembaga Deklamasi Lampung&lt;br /&gt;Pembina : Kol. Inf. P. Koko Sudjatmiko, SE. MM. MH&lt;br /&gt;Ketua : Edy Samudra Kertagama&lt;br /&gt;Wakil Ketua : Asrov Giribaldi&lt;br /&gt;Sekretaris : Andri&lt;br /&gt;Bendahara : Novi &lt;br /&gt;Ketua Divisi Penerbitan : Fanny Desianto, Yana  &lt;br /&gt;Ketua Divisi Bang Naskah : Jaka&lt;br /&gt;Ketua Divisi Artistik : Dedi&lt;br /&gt;Ketua Divisi Dokumentasi : Feby Monalisa&lt;br /&gt;Ketua Divisi Musik : Bowo&lt;br /&gt;Ketua Divisi Litbang : Nizar, Untung Kristian&lt;br /&gt;Ketua Divisi Pentas Seni : Melly&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-8025504363016052641?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/8025504363016052641/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=8025504363016052641' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8025504363016052641'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8025504363016052641'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/lembaga-deklamasi-lampung.html' title='Lembaga Deklamasi Lampung'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-2203417115999609361</id><published>2008-11-18T22:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:22:32.410-08:00</updated><title type='text'>Komunitas Berkat Yakin (Kober)</title><content type='html'>Komunitas Berkat Yakin dideklarasikan pada tanggal 26 Mei 2006 di Bandarlampung. Komunitas kebudayaan independen ini sebagian besar beranggotakan alumnus Unit Kesenian Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS) Universitas Lampung. Mereka menyakini bahwa seni berkembang melalui belajar bersama-sama tentang eksistensi, dengan belajar dan berlatih akan menemukan dan memahami kebenaran tentang diri manusia dan menghancurkan topeng yang ada di setiap diri manusia. &lt;br /&gt; Visi Komunitas Berkat Yakin adalah komunitas kebudayaan profesional yang berbasis seni, pembelajaran, dan kesadaran dengan berorientasi pada kualitas penciptaan dan solidaritas kemanusiaan. Di samping itu, Komunitas Berkat Yakin memiliki tiga misi. Pertama, menjadikan pengkajian keilmuan (diskusi, pelatihan, dokumentasi atas eksplorasi teater) yang berorientasi pada peningkatan kesadaran, kualitas penciptaan dengan teater dan sastra sebagai basis utama. Kedua, menjadi media alternatif bagi pembelajaran dan peningkatan kesadaran setiap anggota dan publiknya, sekaligus menjadi tolak ukur kualitas penciptaan dan pengelolaan seni pertunjukan di Sumatera. Ketiga, untuk mendokumentasikan dan memublikasikan beragam hasil kajian, kreativitas, dan ekspresi seni tersebut kepada masyarakat, dan menjadikan setiap peristiwa kesenian sebagai perayaan bersama, silaturahmi, dan membina integritas diri.&lt;br /&gt; Struktur komunitas ini bersifat dimanis, tidak memiliki struktur kepengurusan yang hirarkis, semua bergantung pada kondisi dan kebutuhan komunitas. Yang mengikat anggota Kober adalah cita-cita bersama, obsesi artistik dan nilai-nilai yang dimiki setiap anggotanya.&lt;br /&gt; Ari Pahala Hutabarat dan Jimmy Maruli Alfian adalah sebagian dari pendiri komunitas ini, ada pula nama seperti Muhammad Yunus, Muhammad Thantowi, Ahmad Zilalin, Ade Sunarya, Iswadi Pratama dan lain-lain. Sejak tahun berdirinya, sudah banyak yang menjadi anggota komunitas ini. Awalnya, mereka pernah terlibat kerja dengan Kober seperti pementasan teater, karena memiliki visi dan misi yang sama dengan Kober, mereka secara otomatis menjadi bagian (anggota) dari komunitas ini. Mereka di antaranya Inggit Putria Marga, Dedy Apriansyah, Beny Apriansyah, Noviansyah, Christopan Deswansyah, Frans Natha, dan masih banyak nama-nama lainnya.&lt;br /&gt; Dalam setiap kegiatan yang dilakukannya, tak jarang Kober melakukan kerjasama dengan berbagai pihak atau lembaga-lembaga yang terkait, seperti Taman Ismail Marzuki Jakarta, Teater Utan Kayu Jakarta, Teater Satu, Komunitas Rumah Panggung, Taman Budaya Lampung, Taman Budaya Metro, dan kelompok-kelompok teater yang ada di Jakarta dan Lampung.&lt;br /&gt; Sejak tahun 2002, sudah banyak kegiatan yang dilakukan oleh komunitas ini, seperti forum diskusi, festival sastra dan pementasan teater. Di antaranya adalah&lt;br /&gt;1. “Peran Seni dan Agama dalam Pembentukan Masyarakat Sipil”, yang dilaksanakan pada tanggal 13 November 2002 (Forum diskusi),&lt;br /&gt;2. “Melacak Jejak Orang Lampung”, yang dilaksanakan pada tanggal 25 November 2002 (Forum Diskusi),&lt;br /&gt;3. “Modernisme, Budaya Pop, dan Gaya Hidup”, yang dilaksanakan pada tanggal 23 Januari 2003 (Forum Diskusi),&lt;br /&gt;4. “Peran Seni di Tengah Kecamuk Pertikaian”, yang dilaksanakan pada tanggal 25 Februari 2003 (Forum Diskusi),&lt;br /&gt;5. “Festival Musik Tradisi Lampung”, dilaksanakan pada tanggal 17 Mei 2003.&lt;br /&gt;6. “Festival Sastra Lisan Lampung”, dilaksanakan pada tanggal 31 Oktober 2002.&lt;br /&gt;7. “Festival Musik Religius”, dilaksanakan pada tanggal 18 Desember 2002.&lt;br /&gt;8. “Festival Tari Lintas Etnik”, dilakukan tanggal 8 Februari 2003.&lt;br /&gt;9. “Pementasan Tunggal: Nyanyian Angsa”, bekerjasama dengan AJI, tanggal 26 Mei 2002.&lt;br /&gt;10. “Pementasan Nyanyian Angsa” (2003), “Hamlet” (2003), dan “Inspektur Jenderal” (2004), bekerjasama dengan UKMBS&lt;br /&gt;11. “Pekan Apresiasi Teater Pelajar”, bekerjasama dengan FMGI-Lampung. tahun 2004.&lt;br /&gt;12. “Apresiasi Drama Realis”, bekerjasama dengan Dewan Kesenian Metro, Februari 2005.&lt;br /&gt;13. “Workshop Sutradara I” (Desember 2004), “Workshop Penulisan Teater I” (Februari 2005), “Workshop Film” (Juli 2005), “Workshop Keaktoran II” (September 2005), bekerjasama dengan UKMBS Unila.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-2203417115999609361?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/2203417115999609361/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=2203417115999609361' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2203417115999609361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2203417115999609361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/komunitas-berkat-yakin-kober.html' title='Komunitas Berkat Yakin (Kober)'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-8318427615610319653</id><published>2008-11-18T22:56:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:23:12.509-08:00</updated><title type='text'>Teater Kuman</title><content type='html'>Teater Kuman berdiri pada 12 Agustus 1980 oleh Edy Samudra Kertagama, sastrawan yang sekaligus pula ketua di Teater Kuman. Edy merasa perlu adanya wadah yang bisa mengampung potensi dan kreativitas remaja terhadap dunia teater saat itu, mempunyai misi untuk menyosialisasikan dan memasyarakatkan seni pertunjukan teater modern. &lt;br /&gt;Edy Samudra Kertagama, sebagai pencetus lahirnya teater ini, dikukuhkan menjadi ketua. Sejalannya waktu, teater Kuman tidak hanya memproduksi pementasan drama, melainkan bidang pembacaan puisi, pementasan musikalisasi puisi, diskusi sastra, latihan (teater dan musikalisasi puisi) untuk para pelajar dan kegiatan bedah naskah karya sastra. &lt;br /&gt;Di awal berdirinya pada tahun 1980 Teater Kuman, pertama kalinya mementaskan karya William Shakespeare yang berjudul Oedipus, dilakukan di dua kota besar yaitu Jakarta dan Bandung. Hingga tahun ke tahun pementasan yang dilakukan oleh Teater Kuman makin beragam; Dari tahun 1981 hingga tahun 2001, teater Kuman sedikitnya telah mementaskan drama kurang lebih 30 pementasan yang dilakukan di Lampung dan di kota-kota besar di Indonesia. &lt;br /&gt;Pada tahun 1981, sekurang-kurangnya empat karya pernah dipentaskan oleh Teater Kuman; karya Alfred Hitchcock yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Satu Lawan Sebelas yang dipentaskan sebanyak dua kali; Embun-embun Putih karya Nur Sutan Iskandar; Juminah Juminten dan Peti Mati karya Agnes Yani Sarjono; Drama Topeng karya Emha Ainun Najib; Sekelumit Nyanyian Sunda karya Mas Her; Pinangan karya Anton Pavlovich Chekov dipentaskan pada tahun 1982 di GOR Saburai; Polisi karya Slavomir Mrozek dipentaskan di Serang, Banten; karya-karya seperti Ina karya Sembrani, Cleoparta, Khubaib bin Adi, Berbiak dalam Asbak, Reuni Orang-orang, Tulang Belulang putih-putih karya Edy Samudra Kertagama; Hanya Satu Kali karya John Galsworthy dan Robert Middlemans yang disadur oleh Sitor Sitomorang; Di Balik Sinar Suram karya Marx Carvehl; Bui karya Akhadiat; Orang-orang Malam karya Putu Wijaya; Gempa, Bapak, Domba-domba Revolusi dan Silang Saling karya B. Soelarto; Nyanyian Angsa karya Anton Pavlovich Chekov; Arena Orang Bingung, Gelombang Dunia karya Edy Samudra Kertagama; Rumah Kertas karya N. Riantiarno, Petang di Taman karya Iwan Simatupang; Antigone karya Sophocles, Sang Aktor karya Noor W., Aa ii uu karya Arifin C. Noer; Orang Kaya Baru karya Molliere, dan Monolog Sel karya Edy Samudra Kertagama.&lt;br /&gt;Pada acara Bulan Pentas Teater yang diadakan oleh Komite Teater Dewan Kesenian Lampung, Teater Kuman membawakan lakon Sandiwara Re yang merupakan potret kehidupan dan peristiwa-peristiwa di tanah air. Sandiwara Re pada intinya mempertanyakan keadaan negeri ini yang carut-marut, seperti tragedi Mei berdarah pada tahun 1998.&lt;br /&gt;Prestasi terbaik yang pernah diraih oleh Teater Kuman adalah menghantarkan Edy Samudra Kertagama sebagai sutradara terbaik (juara harapan) dalam festival teater tahun 1987.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-8318427615610319653?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/8318427615610319653/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=8318427615610319653' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8318427615610319653'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8318427615610319653'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/teater-kuman.html' title='Teater Kuman'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-3885244780050601219</id><published>2008-11-18T22:54:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:24:06.289-08:00</updated><title type='text'>Krakatau Award</title><content type='html'>Krakatau Award merupakan sayembara dari Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung yang memfokuskan pada sastra, yaitu cerpen dan puisi. Krakatau Award pertama kali diadakan pada tahun 2002 dengan mengadakan Lomba Penulisan Puisi Se-Nasional. Krakatau Award yang diadakan Dewan Kesenian Lampung mendapat perhatian dari banyak pihak, terutama pelaku, pengamat, dan pemerhati sastra Indonesia, karena pada awal diadakannya lomba ini tidak banyak Dewan Kesenian di Indonesia yang mengadakan lomba serupa dengan cakupan nasional. Pergelaran Krakatau Award diadakan untuk menyemarakan Festival Krakatau yang menjadi event andalan Dewan Kesenian Lampung.&lt;br /&gt;Krakatau Award diadakan lebih untuk memperkenalkan Lampung pada masyarakat luas yang menitikberatkan pada objek wisata dan seni budaya daerah Lampung, sehingga para peserta harus tahu benar seni budaya dan objek wisata daerah Lampung. Oleh karena itu, tema-tema seni budaya dan objek wisata Lampung sangat lekat pada setiap puisi-puisi yang disayembarakan. &lt;br /&gt;Peserta Krakatau Award berasal dari seluruh Indonesia, dengan domisili terjauh dari Pulau Sulawesi. Bahkan tahun 2003, ada peserta dari sebuah sekolah swasta di Kalimantan (yang merupakan bagian dari sebuah perusahaan tambang terkenal), mengirim 10 naskah lebih dan semua pesertanya adalah siswa SMU. Peserta Krakatau Award mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Sejak pertama kali sayembara ini diadakan hingga pelaksanaan ketiga tahun 2004, jumlah peserta yang mengikuti sayembara ini meningkat pesat. Tercatat tahun 2004, jumlah peserta yang mengikuti Krakatau Award mencapai angka 400 karya puisi dari sekitar 200 penyair yang berasal dari berbagai daerah di tanah air. Naskah pemenang Krakatau Award 2002—2004 sudah diterbitkan dalam buku antologi. Krakatau Award 2005—2006 belum dibukukan karena keterbatasan dana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krakatau Award 2002 (Puisi)&lt;br /&gt;Juri : Isbedy Stiawan ZS, Sapardi Joko Damoni (Jakarta), Sutardji Calzoum Bachri (Jakarta).&lt;br /&gt;Diikuti lebih dari 70 peserta (210 judul puisi). Peserta berasal dari 23 kota dari 18 propinsi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang:&lt;br /&gt;I : Wayan Sunarta (Bali), “Taman Laut Krakatau (1)”&lt;br /&gt;II : Komang Ira Puspitaningsih (Bali), “Rajabasa”&lt;br /&gt;III : Endang Supriadi (Jakarta), “Krakatau adalah Bulan”&lt;br /&gt;IV : Syaiful Irba Tanpaka (Lampung), “Biografi Kenangan Bumi Lampung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nominasi :&lt;br /&gt;1. Agus Fitriandi (Jawa Barat), “Di Tari Sesan Benatok”.&lt;br /&gt;2. Asril Koto (Padang), “Mengenang Rajabasa”.&lt;br /&gt;3. Christian Cahyo Saputro (Lampung), “Canggot Bakha”.&lt;br /&gt;4. Gita Romadhona (Jakarta), “Mengundaki Ijan”.&lt;br /&gt;5. Idris Siregar (Sumut), “Malam di Lampung”.&lt;br /&gt;6. Jimmi Maruli Alfian (Lampung), “Melankolia Pangeran Riya”.&lt;br /&gt;7. Komang Ira Puspitaningsih (Bali), “ Penyair Danau Ranau”.&lt;br /&gt;8. M. Thowaf Z (Yogyakarta), “Di Pantai Selaki”.&lt;br /&gt;9. Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), “Di Tepi Bakauheni, Gairah itu Bergelora Kembali”.&lt;br /&gt;10. Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), “Pulau dalam Diriku”.&lt;br /&gt;11. Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), “Seseorang Bertanya tentang Pulaunya”.&lt;br /&gt;12. Sihar Ramses Simatupang (Jakarta), “Aku Mengenalmu Malam Itu”.&lt;br /&gt;13. Syaiful Irba Tanpaka (Lampung), “Perahu Dayung Teluk Lampung”.&lt;br /&gt;14. S. Yoga (Jatim), “Gajah”.&lt;br /&gt;15. Udo Z. Karzi (Lampung), “Liwa”.&lt;br /&gt;16. Viddy AD Daery (Jakarta), “Matahari Jam Sembilan Pagi di Lampung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krakatau Award 2003 (Cerpen)&lt;br /&gt;Juri : Hamsad Rangkuti (Jakarta), Taufik Ikram Jamil (Riau), Djajat Sudrajat (tahun 2003 Pimred Lampung Post, kini Pimred Media Indonesia, Jakarta).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang:&lt;br /&gt;I : MT. Zuharon (Yogyakarta) “Liur”&lt;br /&gt;II : Maya Wulan (Yogyakarta), “Di Bawah Bulan Separuh”&lt;br /&gt;III : Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta), “Cerita Ujung Pulau”&lt;br /&gt;IV : Agus Hernawan (Sumbar), “Solitude”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nominasi :&lt;br /&gt;1. Zakh Syairum Majid Surono (Jakarta), “Manusia Bermata Biru”&lt;br /&gt;2. Hasta Indriyana (Yogyakarta), “Nowou Lunik”.&lt;br /&gt;3. Andi Wasis (Jakarta), “Upacara”.&lt;br /&gt;4. Alex R (Jakarta, tahun 2003 masih di Lampung), “Jika Hujan Jadi Turun di Tanjungkarang”.&lt;br /&gt;5. Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta), “Sampan Bercadik yang Menepi di Pantai Krui”.&lt;br /&gt;6. Wayan Sunarta (Bali), “Muli Sikep Danau Ranau”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krakatau Award 2004 ( Puisi)&lt;br /&gt;Juri : Isbedy Stiawan ZS, Iswadi Pratama, Zen Hae (Jakarta)&lt;br /&gt;Diikuti sekitar 150 peserta dan 350-an naskah puisi. Peserta dari seluruh Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang:&lt;br /&gt;I : Y. Wibowo (Lampung) “Narasi Dari Pesisir”&lt;br /&gt;II : Inggit Putria Marga (Lampung) “Raung”&lt;br /&gt;III : Jimmy Maruli Alfian (Lampung) “Ranah Kembara (Kota Saya dalam tas Tangan Wanita)&lt;br /&gt;IV : Nur Wahida Idris (Yogyakarta) “Dadi”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nominasi:&lt;br /&gt;1. Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta) “Sajak Anak Krakatau”&lt;br /&gt;2. Raudal Tanjung Banua (Yogyakarta) “Lagu Purba Para Peladang Lampung Utara”&lt;br /&gt;3. S. Yoga (Jawa Timur) “Lampung Kenangan”&lt;br /&gt;4. Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta) “Hikayat Pemburu Gading”&lt;br /&gt;5. Satmoko Budi Santoso (Yogyakarta) “Berlayar ke Tepi Krui”&lt;br /&gt;6. Endang Supriadi (Jakarta) “Di Sisi Krakatau Aku Mengigau”&lt;br /&gt;7. Sunlie Thomas Alexander (Yogyakarta) “Bakauheni”&lt;br /&gt;8. Sunlie Thomas Alexander (Yogyakarta) “Kepada Muli (2)”&lt;br /&gt;9. Wayan Sunarta (Bali) “Rajabasa”&lt;br /&gt;10. Wayan Sunarta (Bali) “Teluk Lampung”&lt;br /&gt;11. Wayan Sunarta (Bali) “Taman Laut Krakatau (3)”&lt;br /&gt;12. Endra Effendi (Bali) “Teluk Lampung yang Murung”&lt;br /&gt;13. Pranita Dewi (Bali) “Muli”&lt;br /&gt;14. M. Thowaf Zuharon (Yogyakarta) “Sebongkah Karang Tanjung Tua, 1856”&lt;br /&gt;15. Agus Hernawan (Palembang) “Sebuah Kota, Seseorang dan Layang-layang”&lt;br /&gt;16. Adri Sandra (Payakumbuh) “Lampung Masih di Sini”&lt;br /&gt;17.  Nur Wahida Idris (Yogyakarta) “Lampung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krakatau Award 2005 (Cerpen)&lt;br /&gt;Juri : Isbedy Stiawan ZS, Yanusa Nugroho (Jakarta), Linda Christanty (Jakarta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemenang:&lt;br /&gt;I : Tidak ada&lt;br /&gt;II : St. Fatimah (Jawa Timur), “Di Dusun Lembah Krakatau”&lt;br /&gt;III : Olyrinson (Riau), “Bulan Ngapapekon”&lt;br /&gt;IV : Tary (Jakarta), “Sepasang Mata Muli”&lt;br /&gt;V : Rendi Fadillah (Palembang ), “Kembang Api Buatan Tuhan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 (Lima) Nominasi: &lt;br /&gt;1. Wa Ode Wulan Ratna (Jakarta) “Cari Aku di Canti”, &lt;br /&gt;2. Sulaiman Tripa (Jakarta) “Beranda tak Beratap”, &lt;br /&gt;3. M. Ramadhan Batubara (Yogyakarta) “Nemui Nyimah”, &lt;br /&gt;4. Helen Chandra (Jawa Timur)“Laki-laki yang Takut Kecoa”, &lt;br /&gt;5. Anindita Siswanti Thayf (Yogyakarta) “Selendang Warah”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Krakatau Award 2006 (Puisi)&lt;br /&gt;Juri : Isbedy Stiawan ZS, Budi P. Hatees, Acep Zamzam Noor (Tasikmalaya)&lt;br /&gt;Diikuti 141 peserta (346 naskah puisi). Peserta berasal berbagai propinsi, seperti DI Aceh, Sumut, Sumbar, Riau, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, NTB, Bali, Madura, Riau, Kalsel, dan Sulsel.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pemenang:&lt;br /&gt;I : Jimmy Maruli Alfian (Lampung), judul “Tamsil Damar Batu”&lt;br /&gt;II   : Anton Kurniawan (Lampung) judul “Nyanyian tentang Tujuh Anak Tangga Rumah Panggung”&lt;br /&gt;III : Fina Sato (Bandung), judul “Dongeng Poyang Sepanjang Sungai”&lt;br /&gt;IV : Hasan Aspahani (Batam), judul “Pulau Kampung Pukau Lampung”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nominasi: &lt;br /&gt;1. Komang Ira Puspitaningsih (Yogyakarta) “Malam Jaga Damar”, &lt;br /&gt;2. Muhammad Badri (Bogor) “Bulan Menawan di Keratuan”&lt;br /&gt;3. ST Fatimah (Jawa Timur) “Bakauheni dan Secangkir Kopi: Aroma Nostalgia”&lt;br /&gt;4. Lupita Lukman (Lampung) “Mimpi Potong Rambut”&lt;br /&gt;5. MT Zuharon (Yogyakarta) “Sebuah Panggung Bernama Lampung”&lt;br /&gt;6. Deny Ardiansyah (Jawa Timur) “Telah Kutitipkan Berkarung-karung Rindu Padamu”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-3885244780050601219?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/3885244780050601219/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=3885244780050601219' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3885244780050601219'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3885244780050601219'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/krakatau-award.html' title='Krakatau Award'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-6155663598614303780</id><published>2008-11-18T22:52:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T22:53:15.042-08:00</updated><title type='text'>Juperta Panji Utama</title><content type='html'>Juperta Panji Utama lahir di Tanjungkarang, 26 Agustus 1970. Masa balitanya dihabiskan di rumah orang tuanya yang terletak di Jalan Duku No. 18 Pasir Gintung, Bandarlampung. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mengikuti filosofi batu di tengah air mengalir atau matahari bersinar, beliau menghabiskan masa kanak-kanaknya dengan cukup bahagia bersama kelima orang adiknya, antara lain Jufendra Dede, Junita Savitri, Jofana Dewi, Jodi Ardian, dan Juda Ramadhan. Bagi Panji, semua bagian hidup dan kehidupannya merupakan kenang-kenangan khusus, baik yang manis maupun pahit. &lt;br /&gt; Pendidikan formal Panji dimulai di TK YWKA Tanjungkarang tahun 1976—1977 dan dilanjutkan tahun 1978 dengan bersekolah di SDN 1 Tanjungagung, Bandarlampung. Lulus tahun 1984 dan langsung melanjutkan ke SMPN 4 Tanjungkarang. Tahun 1990 lulus dari SMAN 2 Bandarlampung dan kemudian meneruskan ke jenjang pendidikan lebih tinggi yakni sebagai mahasiswa di Fakultas Pertanian Universitas Bandarlampung dan lulus tahun 1997. Tahun 2005, Panji menyempatkan untuk mengambil pendidikan Akta Mengajar IV di FKIP Unila.&lt;br /&gt; Di samping menekuni pendidikan formal, Panji pun menjalani beberapa pendidikan informal, seperti pendidikan komputer (tahun 1994) selama tiga bulan. Selama masa kuliah, antara tahun 1990—1994, Panji mengikuti berbagai latihan seperti kepenulisan, keorganisasian, dan kerelawanan sosial, dan seiring dengan waktu tersebut (1990—2000), Panji mengikuti pula pelatihan di bidang seni dan budaya. Tahun 1999—2000, mengikuti pendidikan yang bergerak di bidang politik, yakni pendidikan antikorupsi dan pemerintahan bersih. Pendidikan tersebut dijalaninya ketika beliau tergabung dalam Komite Antikorupsi (KoAK).&lt;br /&gt; Tahun 1987 adalah kali pertama Panji mengenal organisasi dan dunia kerja. Ketika itu Panji menjabat sebagai Ketua Forum Semesta Lampung. Periode kepemimpinannya berakhir tahun 1990. Tahun 1993—1996 bergabung dalam Komite Litbang dan Sastra Dewan Kesenian Lampung. Dalam periode yang sama pula, Panji menjadi Redaktur tamu Musik dan Film Harian Lampung Post. Masih di tahun 1996, Panji beralih profesi sebagai karyawan magang di perusahaan perkebunan PTPN VII. Meski demikian, perannya sebagai anggota komite di Dewan Kesenian Lampung masih berlanjut hingga 2001. Namun kali ini, beliau berada di dalam Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung. &lt;br /&gt; Istilah double job atau kerja rangkap terus dilakoninya seperti menjadi Koordinator Wartawan dan Redaktur Budaya Sumatera Post (tahun 1998—2001) sekaligus menjabat sebagai asisten dosen Komunikasi Massa, Komunikasi Bisnis, dan Fotografi di Universitas Tulang Bawang dan Universitas Lampung (tahun 1999—2000). Selanjutnya Panji juga bergabung dalam Divisi Pendidikan Komite Antikorupsi (KoAK) tahun 2000—2001.&lt;br /&gt; Setelah sukses dengan tiga jabatan dari berbagai bidang pekerjaan yang dilakoninya selama periode 1998—2001, Panji melanjutkan karisnya sebagai Redaktur Pelaksana majalah Pendar sekaligus menjadi Corporate Communication Head Dompet Dhuafa Republika. Dua pekerjaannya ini dijalani dari tahun 2001—2002.&lt;br /&gt; Partisipasinya dalam lembaga amal tersebut berlanjut hingga akhirnya Panji diangkat menjadi Ketua Lembaga Amil Zakat Daerah (LAZDa) Lampung Peduli pada tahun 2003 hingga sekarang. Di samping itu, Panji menjabat pula sebagai Sekretaris Hubungan Kerja Sama dan Komunikasi Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Lampung untuk periode 2005—2008.&lt;br /&gt; Panji memiliki banyak teman yang umumnya berasal dari sekitar rumah, sekolah, dan lingkungan kerja. Mereka pula yang selama ini memberikan inspirasi luar biasa dalam melahirkan karya-karyanya karena keluarga dan teman-teman telah menjadi bagian terpenting dalam hidup dan kehidupan Panji. Tidak heran jika laki-laki yang telah dikaruniai dua orang putra dan seorang putri ini sangat mencintai keluarganya. Istrinya, Sholawati, adalah seorang wanita sholehah, yang dinikahi Panji pada tanggal 4 April 1999. Cinta di antara mereka bersemi ketika Panji dan istrinya bertemu dalam kompetisi Pelajar Teladan tingkat SLTP se-Bandarlampung, utusan sekolah masing-masing.&lt;br /&gt; Minatnya terhadap sastra mulai tumbuh sejak Panji masih duduk di bangku sekolah dasar. Ketika itu, sekitar tahun 1983, Panji yang memiliki kegemaran membaca, baik buku, majalah, maupun koran, sangat senang karena ayahnya yang bekerja sebagai karyawan PT. Kereta Api Sumatera bagian Selatan selalu membawa koran-koran sepulang beliau dari kantor. Dari koran-koran tersebutlah, tanpa disadari, Panji mulai memelajari hal baru yang sekaligus mengajaknya memasuki sebuah dunia yang baru pula, yaitu dunia sastra. Setelah itu, tidak hanya melalui koran, Panji juga rajin mencari buku-buku sastra di perpustakaan sekolah dan daerah, dan membacanya hingga tuntas.&lt;br /&gt; “Kalau mereka saja bisa, kenapa saya tidak bisa?” Demikian kurang lebih pernyataan yang terlontar dari mulut Panji kecil saat membaca karya-karya sastra yang termuat di koran-koran tersebut. Hal inilah yang kemudian memotivasi beliau untuk membuat sebuah karya sastra. Panji berpikir, “enak juga ya jadi pengarang”. Alasan ini terlontar karena melihat bahwa mengarang bukan merupakan pekerjaan sulit meski diakuinya pula bukanlah pekerjaan mudah. Alhasil, karya pertamanya berupa cerita anak dimuat di salah satu majalah anak-anak Ananda dan Bobo. Tentu saja imbalan sebuah kotak pensil dan perlengkapan belajar sudah cukup membuat Panji kecil saat itu merasa senang dan bangga. &lt;br /&gt; Setelah karya pertamanya berhasil dimuat di majalah anak-anak tersebut, Panji semakin yakin bahwa ia mampu membuat karya sastra. Rasa percaya diri mendorong Panji untuk membuat sebuah karya sastra lain berupa puisi. Kali ini, hasil karyanya itu tidak dikirimkan ke media cetak melainkan ke sebuah stasiun radio, yaitu Radio Suara Bhakti.&lt;br /&gt; Sama seperti penyair lain yang telah berhasil, tentu memiliki sosok yang dikagumi atau dijadikan inspirasi. Begitu pula halnya dengan Panji yang memiliki sosok-sosok panutan yang memberi inspirasi sepanjang perjalanan karirnya menjadi seorang sastrawan. Mereka antara lain Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, Gunawan Mohammad, dan Afrizal Malna. Dan khusus dalam fase eksplorasi, Afrizal Malna-lah yang menjadi bahan bakar terakhir sehingga mampu membuat ledakan dahsyat, dan karena Afrizal Malna pula Panji mampu bertahan hingga saat ini. Selain para sosok panutan tersebut, Panji juga termotivasi oleh lingkungan sastra dan dunia karya tempat ia selama ini bergelut. Dalam hal ini beberapa karya sastrawan Lampung seperti Isbedy Stiawan ZS.&lt;br /&gt; Bersama dua sastrawan Lampung lainnya, yaitu Iswadi Pratama dan Ahmad Julden Erwin, Panji Utama dikenal sebagai “Three Musketeers” puisi di kalangan civitas akademika Universitas Lampung yang bermukim di Unila. Sebagai mahasiswa yang saat itu sedang memilih pencarian jati diri kesenimanannya melalui jalur puisi, mereka menggeluti secara menyeluruh, dibanding mahasiswa atau anggota UKMBS lain yang sebagian besar membatasi diri hanya pada bidang kesenian tertentu.&lt;br /&gt; Masih bersama Iswadi Pratama, Panji pernah bergabung dalam sebuah kelompok teater yang bernama Forum Semesta, bahkan sempat menduduki jabatan ketua untuk periode 1987—1990. Prestasi terakhir yang diraih Panji selama bergelut di dunia teater adalah dengan mengikuti Festival Teater Nasional X di Yogyakarta tahun 1999. Akan tetapi, setelah sekian lama berprestasi dalam dunia seni (teater, membuat puisi dan cerpen), pilihan terakhir tetap kembali pada puisi karena baginya lebih mudah mengungkapkan sesuatu yang dirasa melalui puisi ketimbang cerpen atau bahkan teater. &lt;br /&gt; Dengan menyeburkan diri melalui jalur keseniannya itu, dan untuk dapat menggeluti pohon puisi yang senantiasa menggoda cipta rasa kemanusiaan dan kesenimanan, Panji (tetap bersama Iswadi dan Erwin) telah melakukan langkah-langkah penempuhan yang menyeluruh, yaitu denga mengalami proses discourses yang lengkap dengan ekosistem kesenian kampus dengan arti seluas-luasnya. Mereka bertiga pula yang menjadi pencetus lahirnya Manifesto Gerakan Puisi Pencerahan ’90 di Lampung, yang kemudian dijadikan pegangan mereka untuk menulis puisi. Manifesto tersebut tertulis dalam kumpulan puisi mereka bertiga yang berjudul Belajar Mencintai Tuhan.&lt;br /&gt;Pria yang menyenangi sastra dan gemar membaca ini, khususnya buku-buku mengenai petualangan, biografi tokoh-tokoh, ilmu pengetahuan murni dan sosial, serta ensiklopedi, ternyata juga menekuni bidang sosial, ekonomi, politik, keagamaan, dan kemanusiaan. Menurutnya mutasi sosial dan ekonomi dalam hidup dan kehidupan manusia amatlah progresif. Seharusnya gerakan manusia lebih progresif dari gerakan sosial dan ekonomi. Begitu pula halnya dengan keagamaan dan kemanusiaan. Menurut Panji, mutasi pemeluk agama dalam hidup dan kehidupan cenderung memorakporandakan pondasi keagamaan dan mutasi nilai-nilai kemanusiaan telah menelantarkan manusia di jurang kepapaannya. Hal-hal pokok itulah yang selama ini cenderung menjadi bahan pemikiran Panji dalam pembuatan karya-karyanya.&lt;br /&gt;Bagi Panji, agama lebih jauh berarti seperti cahaya benderang dalam kegelapan, dan sejauh dirinya menghayati agama, sejauh itu pulalah agama memengaruhi kehidupan serta karya-karyanya. Secara sederhana, sebenarnya semua karya Panji hanya berbicara “dengan melihat kenyataan seperti ini, apakah kalian tidak memunyai Tuhan?”. Selama dua puluh tahun menulis puisi, persoalan yang ia hadapi tidak lebih dari masalah seperti itu, (sosial, ekonomi, agama, dan manusia). Walau demikian, karya-karyanya tidak selalu bersifat religius. Karena menurutnya, religius itu tidak melulu menyebut nama Tuhan tetapi lebih bersifat implisit.&lt;br /&gt;Menulis puisi bagi Panji berarti melukiskan “kebangkitan-kebangkitan” yang ada di pikiran dan perasaannya sebagai wujud interaksi terhadap fenomena. Fenomena dalam puisi-puisi Panji sangat kompleks sumbernya. Mulai dari khaos sampai kosmos yang menyajikan ketakteraturan dan keteraturan. Mulai dari terbatas sampai tak terbatas yang menyajikan kebebasan dan keterikatan yang membingungkan. Mulai dari cita-cita sampai perjuangan yang menghadirkan harapan dan kenyataan. Mulai dari yang bersumber pada Tuhan sampai ciptaan-Nya. Mulai dari masalah sosial sampai masalah pribadi. Mulai dari nilai moral sampai nilai amoral. Mulai dari religius sampai kebrutalan yang membius.&lt;br /&gt;Namun, tidak cukup hanya dengan mengungkapkan fenomena seperti itu lantas puisi Panji bisa memiliki kebangkitan, karena bagi Panji fenomena-fenomena tersebut belum cukup dan sempurna. Baginya, puisi haruslah sungguh-sungguh mengantarkannya berpikir dan merasa secara utuh, dan proses awal ini harus pula mampu memaksanya untuk berdialog dan berinteraksi dengan fenomena yang ada. Menurutnya, karya sastra yang berkualitas harus mampu dinikmati dan diminati oleh masyarakat secara meluas. Selain itu tekniknya harus mampu melewati kaidah-kaidah sastra dan estetika, dan isinya menawarkan kebaikan dan kebenaran, serta penampilannya pun harus selalu menjadi inspirasi.&lt;br /&gt;Sastra bagi Panji, merupakan suatu alat yang digunakan untuk berkomunikasi dan berekspresi. Dalam proses kreatifnya sebagai seorang penyair, teah dua fase kreatif yang dilaluinya. Selama kurun waktu satu dasawarsa (1985—1995), Panji telah banyak melahirkan karya sastra yang dimuat di berbagai media cetak. Kurun waktu ini pulalah yang disebut Panji sebagai fase genit. Dinamai seperti itu karena fase ini merupakan fase produktif yang menhasilkan begitu banyak karya dan prestasi. Di dalam fase ini pula Panji menggunakan sastra sebagai alat untuk berkomunikasi, bebas berbicara apa dan dengan siapa saja. &lt;br /&gt;Fase kedua adalah fase eksplorasi yang dijalaninya sejak tahun 1995 sampai sekarang. Dalam fase ini pengarang lebih berorientasi pada karya-karya yang dapat menjadikan Lampung sebagai inspirasi. Selain itu di dalam fase ini, Panji menggunakan sastra sebagai alat untuk berkespresi dan menyempitkan lingkup orang-orang untuk dapat mengerti puisinya. Menurutnya penyair boleh dan harus bisa berekspresi terhadap sesuatu yang dia karyakan dan penyair tidak harus selalu mengikuti pakem-pakem yang ada di masyarakat dalam membuat sebuah karya. Hal itu menurutnya sebagai alat dan cenderung ingin menyampaikan hal-hal yang mengarah pada kebaikan dan kebenaran. Jika dahulu ada sastra profetik, maka Panji ingin seperti itu. Di situlah hebatnya puisi, mengajari orang tanpa menjadi guru, menceramahi orang tanpa menjadi dai dan dapat menjadi sesuatu yang besar tanpa menjadi pejabat karena dapat berkata bijak.&lt;br /&gt;Oleh karena itu, di dalam fase kedua ini pula, Panji mencoba untuk mendobrak sebuah aturan puisi konvensional menjadi sebuah karya sastra yang unik dari segi tipografi. Jika pada fase produktif Panji masih menggunakan gaya penulisan yang lazimnya digunakan oleh penyair kebanyakan, pada fase eksplorasi ini Panji dengan berani mengganti gaya penulisan puisinya dengan cara mendekatkan dan merapatkan kata demi kata (tanpa spasi), meskipun susunan larik dan bait puisi masih tetap teratur.&lt;br /&gt;“Saya bukan ingin nyeleneh, hanya ingin memberikan yang terbaik dari Lampung. Semua puisi sudah digarap bentuk-bentuknya, ada imaji, surealis, romantik, dan sebagainya. Saya hanya menawarkan bentuk atau sruktur lain, yakni ekspresif.” Demikian pendapatnya ketika ditemui dan diwawancara pada satu kesempatan.&lt;br /&gt;Gaya penulisan inilah yang dipertahankan Panji hingga saat ini, dan mungkin selamanya, karena menurutnya hal tersebut merupakan suatu keajaiban. Di saat penyair lain ingin menjadi sosok yang terkenal dan mendapat banyak uang, Panji malah melakukan sesuatu hal yang (bagi sebagian penyair) nyeleneh, lain dari pada yang lain. Tetapi tanpa disadarinya, hal itu justru membuatnya menjadi dikenal banyak orang. Contohnya pada acara Mimbar Penyair Abad 21 (1996), dari ratusan orang penyair hanya delapan yang terpilih, dan Panji satu di antaranya yang tentu saja membawa nama Lampung. Dan karena hal ini pula, menurut Agus R. Sarjono, Panji diundang mengikuti Pertemuan Penyair 8 Kota di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, dan mendapat perhatian khusus pembahas utama Dr. Melani Budianta. Menurutnya terdapat kedahsyatan struktur dalam puisi-puisi Panji, dan sudah seharusnya bila cara pembacaannya pun memiliki kekhasan tersendiri dan harus lebih menarik dari cara membaca puisi biasa.&lt;br /&gt;Tidak hanya Agus R. Sarjono, Melani Budianta, Iswadi Pratama, dan Ahmad Julden Erwin, masih banyak sastrawan lain yang mendukung perubahan gaya penulisan Panji, seperti Sapardi Djoko Damono, Maman S. Mahayana, Jamal D. Rahman, dan Ba’di Sumanto. Dukungan-dukungan seperti itulah yang membuat Panji tetap bertahan selama sepuluh tahun. Semua ini dapat diraih Panji tidak lain karna keinginannya untuk “bisa terkenal” sangat besar, dan usahanya tersebut memanglah tidak sia-sia. &lt;br /&gt;Kegiatan selama menjadi penyair, Panji Utama pernah terlibat dalam puluhan kali produksi buku puisi dan prosa bersama dengan beberapa penyair Lampung dan luar Lampung. Membacakan puisinya di beberapa kota besar di Indonesia dari beragam perhelatan penyair, termasuk pada Pertemuan Sastrawan Nusantara IX (se-ASEAN 1997) di INS Kayutanam, Sumatera Barat. Dua kali tampil di TIM Jakarta atas nama Lampung pada Mimbar Penyair Abad 21 (1996), dan pembacaan sajak para Penyair 8 Kota (1998).&lt;br /&gt; Kini ayah dari Janata Shoji Al Falaq, Jabir Shoji Arhab, dan Jasmine Shoji Alifah ini, telah meraih lebih dari dua belas penghargaan untuk cipta/baca puisi dan cerpen, dua di antaranya untuk tingkat nasional. Dua artikelnya, tentang film (1996) dan lingkungan (2000), mengantar Panji memenangkan dua penghargaan tingkat nasional antarwartawan.&lt;br /&gt; Sepuluh tahun terakhir, karyanya dimuat antara lain dalam Refleksi Setengah Abad Indonesia Merdeka (Taman Budaya Suarakarta, 1995), Negeri Bayang-bayang (Yayasan Seni Surabaya, 1996), Batu Beramal III (S3B Malang, 1996), Dari Bumi Lada (Dewan Kesenian Lampung, 1996, ed.), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta-Balai Pustaka, 1996), Antologi Puisi Indonesia (KSI-Angkasa Bandung, 1997), Ode Sajak Reformasi Penyair Sumbagsel (Teater Bohemian Jambi, 1998), Dari Pulau Andalas (Taman Budaya Lampung, 1999), Jakarta Dalam Puisi Mutakhir (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI Jakarta dan Masyarakat Sastra Jakarta, 2000), Konser Ujung Pulau (Dewan Kesenian Lampung, 2002), Orang-orang Talangsari (LBH Bandarlampung dan Kontras Jakarta, 2003), Pertemuan Dua Arus (Jung Foundation dan Diknas Provinsi Lampung, 2004), dan Gerimis (Dewan Kesenian Lampung, 2005).&lt;br /&gt; Selain itu, dua kumpulan puisi tunggalnya antara lain Pasar Kabut Menggali Kubur Sendiri Membangun Lorong-lorong (Agustus, 1995) dan Kibaran Bendera Hikayat Sang Debu (November, 1996). Hingga saat ini masih memunyai rencana untuk membuat Manuskrip Multi Bahasa (Inggris, Lampung, Indonesia), dan mencari puisi-puisi pilihan yang sesuai dengan persoalan sosial, ekonomi, keagamaan, dan kemanusiaan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-6155663598614303780?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/6155663598614303780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=6155663598614303780' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/6155663598614303780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/6155663598614303780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/juperta-panji-utama.html' title='Juperta Panji Utama'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-8531636350046085231</id><published>2008-11-18T22:51:00.001-08:00</published><updated>2008-11-18T22:51:53.507-08:00</updated><title type='text'>Iwan Nurdaya Djafar</title><content type='html'>Iwan Nuradaya Djafar, lahir di Tanjungkarang, Bandarlampung, ibu kota Provinsi Lampung, pada tanggal 14 Maret 1959. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buah hati pasangan Djafar Amid (mantan bupati Lampung Selatan) dengan Siti Kalang itu, kini bersama Cut Hilda Rina—pendamping hidup yang dinikahi pada tanggal 7 Juli 1991—dan telah dikurniai dua putri, yang selalu menyemangati dan tempat curahan kasih sayang, yaitu Rabia Edra Almera 14 tahun dan Selma Ilafi Al Zahra 8 tahun.&lt;br /&gt;Iwan menempuh sekolah dasar di Pangkalpinang, yang ia selesaikan pada tahun 1971. Di masa sekolah dasar, ia bermain dan bergaul sebagaimana anak-anak yang lain. Perpindahan tempat bekerja orang tuanya, dari Tanjungkarang ke Pangkalpinang, menjadikannya harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. Sikap keluwesan dalam bergaul, membantunya dalam mengakrabi lingkungan dan teman-teman baru.&lt;br /&gt;Pendidikan lanjutan tingkat pertama ditempuhnya di SMPN 2 Tanjungkarang yang diselesaikannya pada tahun 1974. Semasa SMP itu, Iwan mengalami banyak pengalaman-pengalaman baru. Pengalaman baru itu berupa kecintaannya terhadap tulis menulis, seperti menulis puisi.&lt;br /&gt;Iwan mendapatkan pendidikan di SMA Xaverius, Bandarlampung. Ia lulus dari SMA Xaverius pada tahun 1977. Di masa SMA, Iwan mencoba mengembangkan dunia tulis menulisnya, tidak hanya pada puisi saja tetapi sudah mulai menulis prosa.&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan pendidikannya di SMA Xaverius, Iwan melanjutkan ke Universitas Negeri Parahyangan di Bandung, pada fakultas Hukum, jurusan Hukum Tata Negara dan lulus pada tahun 1986. Sejak di universitas, Iwan memulai memperdalam dunia penulisan dan mengirimkannya, seperti pada buletin kampus: Etsha, Pengayoman, dan Socio. Lalu, ia mencoba menyiarkan puisi, cerpen, esai, resensi, dan artikel ilmiah ke dunia lebih luas, seperti di harian Pikiran Rakyat, Lampung Post, Warta Niaga, Merdeka, Berita Buana, Singgalang, dan majalah Tebuireng. &lt;br /&gt;Dalam masa proses kreatifnya, Iwan pernah menjuarai lomba cipta puisi dalam porseni mahasiswa PTS se-Jabar tahun 1983, dengan judul puisi “Di Bawah Panji Almamater”. Selain itu, sebagai teaterwan, kepiawaian dalam dunia peran dibuktikannya, dalam porseni yang sama, menjadi pemenang Pemeran Pria Terbaik dengan mementaskan Lakon Orang Gila di Atas Atap karya Ki Kuchi Khan (terjemahan E. Korah Go) yang kemudian diadaptasi ke kultur Sunda. &lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan pendidikan univesitasnya, Iwan melanjutkan dunia tulis menulisnya di tanah kelahirannya, Lampung. Selain menjadi asisten dosen pada Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Saburai, Bandarlampung, Iwan aktif menulis di media massa berupa puisi, cerpen, esai, juga menulis buku-baik karya asli maupun terjemahan. Karya-karyanya pernah dipublikasikan di Republika, Pelita, Swadesi, Amanah, Merdeka, Berita Buana, Sriwijaya Post, Lampung Post, Tans Sumatera.&lt;br /&gt;Iwan Nurdaya Djafar pernah menjadi Ketua Harian Dewan Kesenian Lampung pada tahun 1994—1996, ia pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) pada acara Forum Puisi Indonesia tahun 1987 dan acara Pembacaan Puisi Tiga Penyair Lampung bersama Isbedy Stiawan dan Sugandhi Putra tahun 1989. Karyanya selain menulis cerpen, puisi, esai, artikel dan pelaku teater, ia juga menerjemahkan sejumlah buku sastra, agama, hukum, dan pelaku teater. Karya Kahlil Gobran, Ali Syariati, Octavio Paz, Manuel Komroff pernah diterjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. &lt;br /&gt;Karya-karya Iwan Nurdaya Djafar, terutama puisi, yang dilahirkannya pada era 80-an sangat kental rasa sufistik. Hal itu terlihat dalam antologi Seratus Sajaknya, ia merasakan sebuah kerinduan, pencaraian, dan kegelisahan seorang hamba-orang cilik-tentang kehidupan yang profan ini. Di Indonesia pada era 80-an, sastra sufistik yang dikenal dengan sastra transendental, seperti Kuntowijoyo yang dilanjutkan oleh Danarto, Sutardji Calzoum Bachri, Hamid Jabar, Emha Ainun Nadjib, Fudoli Zaini, Abdul Hadi W. M.&lt;br /&gt;Karya Iwan Nurdaya Djafar pernah diterbitkan oleh Republika, Pelita, Swadesi, Amanah, Merdeka, Berita Buana, Sriwijaya Post, Lampung Post, Tans Sumatera dan lainnya. Iwan Nurdaya Djafar bersama Isbedy Stiawan ZS, Naim Emel Prahana, Sugandhi Putra, dan Ucok Hutasuhut menjadi penyunting majalah Jung: Segabung Puisi Penyair Lampung, yang diterbitkan oleh Dewan Kebudayaan Lampung, Bandarlampung. Iwan Nurdaya Djafar pernah menjadi dewan juri lomba esai festival Desaku Maju Sakai Sambayan (DMSS) bersama Bambang Eka Wijaya, dan Asrian Hendicaya yang diadakan pada 24 September 1998. &lt;br /&gt;Karya tulis Iwan dalam lomba penulisan cerpen Dewan Kesenian Lampung pernah dimenangkan, yang dijadikan salah satu cerpen dari 14 cerpen dalam Antologi Cerpen dari Lampung. &lt;br /&gt;Dalam Antologi Cerpen dari Lampung, menurut dewan juri-cerpen Iwan -cerpen yang memiliki mutu, tema yang menarik, dan pesan yang disampaikan membangun. Dan, Isbedy Stiawan ZS menambahkan bahwa karya cerpen Iwan memiliki ragam yang berbeda dengan cerpen-cerpen pada umumnya. Iwan mampu memberikan pentulan dan dialog yang lebih luas kepada pembaca. Sebuah cerpen yang mampu berdialog dari suatu kehidupan dalam suatu masa ke masa yang bisa “kapan” saja, itulah cerpen yang bernilai sastra. Cerpen yang bernilai sastra bukan karya yang hanya sekadar untuk direnungi dan resapi melainkan sebagai alat mencerahkan kesadaran masyarakat (Isbedy: iv). Hal inilah yang dimiliki cerpen Iwan menjadi pemenang dan diambil sebagai salah satu cerpen yang dimuat dalam Antologi Cerpen dari Lampung tersebut.&lt;br /&gt;Menurut B. Sarwono, Jamal D. Rahman, dan Teddy SM, adalah dewan juri lomba penulisan puisi lingkungan hidup Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup tahun 1994, bahwa karya Iwan memiliki mutu dan tema yang cukup kuat dalam menyentuh lingkunban hidup (Rahardi, 1994: iii). Bahkan puisi Iwan yang berjudul “Cerita dari Hutan Bakau” itu diangkat menjadi judul Antologi Puisi Lingkungan Hidup Majalah Pertanian Trubus. Antologi itu kaya dengan variasi bentuk, tema, dan gaya karena berasal dari penulis dengan latar belakang yang beragam.&lt;br /&gt;F. Rahardi (1994: iv) menambahkan bahwa alasan puisi Iwan diangkat menjadi judul antologi, yaitu Cerita Dari Hutan Bakau, karena puisi itu dapat mewakili tema lingkungan hidup, walaupun temanya sederhana. Tema yang sederhana, persoalan upacara pelestarian hutan bakau yang sia-sia karena dihadang oleh perusak, mampu diolah dengan baik sehingga menjadi puisi yang bernilai. Bukan sekadar sebagai karya sastra yang direnungi dan diresapi di dalam kamar, namun juga sebagai sarana untuk menggugah kesadaran masyarakat agar peduli terhadap lingkungan.&lt;br /&gt;Menurut Sutjipto, dalam sebuah pengantar antologi puisi Memetik Puisi dari Udara, mengatakan bahwa Iwan Nurdaya Djafar adalah seorang yang sangat sensitif, nurani perasa, dan sosial yang tinggi. Kepeduliannya terhadap lingkungan sangatlah besar. Lingkungan keluarga yang familier dan bersahabat membentuk perilakunya. Hal itu terlihat dalam puisinya yang berjudul “Senandung Merpati”, sebagai berikut.&lt;br /&gt;Kelepak merpati dari jauhan mengirimkan&lt;br /&gt;Kecemasan kepada dunia. Dan orang-orang berlari&lt;br /&gt;Dari benua ke benua&lt;br /&gt;Mengobarkan lagi sisa lentikan&lt;br /&gt;Bara perdamaian yang menghanguskan&lt;br /&gt;…. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puisi Iwan “Senandung Merpati” ini merupakan perwujudan rekaman atas tanda-tanda yang mulai mengancam kelestarian kehidupan manusia. Gerak nafas manusia mulai tersendat karena pengutamaan materi semata (Sutjipto, 1987: 14). Karya puisi memang dapat dikatakan sebagai refleksi diri terhadap lingkungan, untuk kesempurna hidup. &lt;br /&gt;Bambang S. Pardjo menambahkan bahwa puisi-puisi dalam antologi Memetik Puisi dari Udara adalah suatu bentuk kesadaran—akan keberadaan budaya bangsa kita pada posisi kritis yang penuh tantangan—yang harus diperjuangkan untuk menghempas tantangan dan berupaya membangkitkan budaya bangsa yang besar, yang selalu mengibarkan bendera perang, untuk satu kemenangan melawan kelemahan dan kemiskinan (1987: 4). &lt;br /&gt;Menurut Sutjipto (1987: 14—15) pada hakikatnya, sastra sekalipun tidak secara tersurat, sesungguhnya ia merupakan penuntun kehidupan. Hanya biasanya hal itu tersublimasi. Sastra bukan agama. Oleh karena itu, di dalamnya jelas tak akan ada kandungan ekspresi ritus. Pernyair Lampung telah menunjukkan bahwa mereka mulai menjerit untuk memekikkan satu kata persatuan melalui anatologi “Memetik Puisi dari Udara” ini. Kemapanan penyair ditentukan oleh kerja dan kreativitasnya, dan hasil dari kerja itu adalah penentuannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Karya-karya prosa &lt;br /&gt;1) Cerpen “Koteka Emas”, termuat dalam Antologi Cerita Pendek dan Puisi Estetik&lt;br /&gt;2) Warahan Radin Jambat, sebagai penyunting karya sastra klasik Lampung&lt;br /&gt;3) Cerpen “Bendera”, termuat dalam Antologi Cerpen dari Lampung&lt;br /&gt;4) Tipologi: Sebuah Pendekatan untuk memahami islam karya Ali Shariati, sebagai penerjemah ke dalam bahasa Indonesia—dari judul—yang sebelumnya An Aprroach to the Understanding of Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Karya-karya Terjemahan&lt;br /&gt;1) Karya-karya Kahlil Gibran: Sang Nabi, Airmata dan Senyuman, bagi Sahabatku yang Tertindas, dan Kematian Sebuah Bangsa&lt;br /&gt;2) Karya-karya Manuel Komrif: Hidup, Cinta, dan Petualangan Omar Khayam&lt;br /&gt;3) Karya Ali Shariati Tipologi: Sebuah Metode Memahami Islam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Karya-karya puisi (dipublikasikan)&lt;br /&gt;1) Seratus Sajak (Antologi Bersama), Fajar Agung, 1989&lt;br /&gt;2) Cerita dari Hutan Bakau )Antologi Puisi Lingkungan Hidup), Majalah Pertanian Trubus&lt;br /&gt;3)  “Senandung Merpati” (1987)&lt;br /&gt;4) “Depan Kantor Kejaksaan Sejarah” (1987)&lt;br /&gt;5) Hi-Tech Hi-Touch (1987)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Buku &lt;br /&gt;1) Hukum dan Susastra, Pustaka, 1992&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-8531636350046085231?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/8531636350046085231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=8531636350046085231' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8531636350046085231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8531636350046085231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/iwan-nurdaya-djafar.html' title='Iwan Nurdaya Djafar'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-926159280919506585</id><published>2008-11-18T22:50:00.000-08:00</published><updated>2008-11-18T22:51:12.981-08:00</updated><title type='text'>Inggit Putria Marga</title><content type='html'>Inggit lahir di Tanjungkarang, 25 Agustus 1981. Putri pasangan H. Syarifuddin Umar dan Hj. Nurlela diberi nama lengkap Inggit Putria Marga. Kedua orang tuanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil di lingkungan Pemerintah Kota Bandarlampung.&lt;br /&gt;Anak kedua dari tiga bersaudara ini menyelesaikan pendidikan dasarnya di SDN 1 Pahoman tahun 1993, SMPN 3 Tanjungkarang tahun 1996, dan lulus SMUN 10 Tanjungkarang pada tahun 1999. Terakhir, ia tercatat sebagai mahasiswa jurusan Holtikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung dan lulus pada Maret 2005.&lt;br /&gt;Inggit adalah putri satu-satunya, sementara kakak dan adiknya adalah laki-laki. Tidak heran jika kemudian Inggit tumbuh menjadi seorang gadis yang sedikit tomboy. Meskipun demikian, ia tidak ubahnya seperti anak-anak perempuan pada umumnya.&lt;br /&gt;Ketertarikan Inggit pada dunia sastra sudah terlihat sejak masih duduk di bangku sekolah dasar. Ia menggemari Siti Nurbaya karya Marah Roesli dan Salah Asuhan karya Abdoel Moeis. Ketika ia di bangku Sekolah Menengah Umum, sekitar tahun 1999, ia menunjukkan ketertarikan terhadap puisi. Puisi-puisi Sapardi Djoko Damono saat itu menjadi inspirasi Inggit dalam menulis. Menurut Inggit, karya-karya Sapardi merupakan pembebasan kata-kata dari makna. Setiap kata yang muncul pada setiap bait puisi Sapardi terlepas dari makna yang melingkupinya. Hal inilah yang kemudian dilakukan Inggit dalam setiap karyanya dan menjadi ciri khas dalam karya Inggit.&lt;br /&gt;Matsuo Basho, Octavio Paz, dan Pablo Neruda merupakan beberapa penyair internasional yang sajak-sajaknya dikagumi oleh gadis bersuku Palembang ini. Di samping itu, Inggit pun mengidolakan Goenawan Mohammad dan penyair-penyair lokal Lampung seperti Ari Pahala Hutabarat dan Iswadi Pratama yang merupakan senior sekaligus guru bagi Inggit. Mereka berdua adalah orang-orang yang banyak memberi motivasi dan kritikan pada Inggit. Mereka pula yang senantiasa memacu semangat Inggit untuk terus kreatif dalam berkarya sehingga menjadikan Inggit seorang penyair wanita yang cukup produktif di Lampung.&lt;br /&gt;Selain menulis puisi, kebiasaan lain yang dilakukan Inggit adalah menanam dan menyiram bunga. Kegemaran inilah yang kemudian menyeret langkahnya untuk kuliah di jurusan Holtikultura Fakultas Pertanian Universitas Lampung. Di bangku kuliah pula ia mulai aktif bergelut dalam dunia kesusastraan. Untuk terus mengembangkan minat dan bakat sastranya, Inggit bergabung dengan Unit Kesenian Mahasiswa Bahasa dan Seni (UKMBS) di Unila. &lt;br /&gt;Proses kreatif tentu tak akan pernah lepas dari perjalanan hidup seorang sastrawan, dari masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa. Begitu pula halnya dengan Inggit. Pengalaman-pengalaman kehidupan pribadinya yang berupa pengamatan dan mungkin pencurahan perasaan banyak ia tuangkan dalam setiap sajak yang ia tulis. Dengan kata lain, puisi-puisi Inggit banyak dipengaruhi oleh latar belakang kehidupan serta lingkungan di sekitarnya. Ia menemukan inspirasi kapan dan di mana saja. Artinya tidak ada waktu khusus untuk menulis dan menggali ide, semua tercurah secara spontan apa adanya. Menurutnya, puisi bukan sekedar mengandalkan daya imajinasi yang dimuntahkan lewat kata-kata tetapi lebih merupakan sekumpulan energi yang dipengaruhi oleh panca indera atau bahkan oleh indera keenam manusia. Sebagai manusia yang menjalani serta menghayati hidup dan kehidupannya, ia menjalani dan menikmati setiap proses kreatif dalam bersastra.&lt;br /&gt;Perkembangan karir Inggit dalam sastra berlangsung normal dan biasa saja karena menurutnya apa yang telah ia peroleh merupakan hasil dari proses kreatif penulisan puisinya. Tidak ada hal yang istimewa dan juga tidak terlalu sepele untuk dibahas. Proses kreatif yang ia alami berlangsung alamiah, artinya ia tidak terlalu memaksakan diri menemukan sebuah ide untuk menulis sebuah puisi, semua dibiarkan berjalan apa adanya. Let it flows like a stream of water!&lt;br /&gt;Sebagai seorang remaja yang beranjak dewasa, tentu ada teman atau sahabat yang dengan setia mendengar keluh kesahnya. Meski demikian, tidak semua masalah yang ada dalam dirinya layak dijadikan konsumsi umum karena baginya hal tersebut bukanlah sesuatu yang signifikan untuk diungkapkan. Secara lugas ia menyatakan dirinya sebagai orang yang tidak terlalu menyukai pengelompokkan tipe-tipe manusia karena pada hakikatnya semua manusia adalah sama dan tidak perlu ada pengkastaan atau stratifikasi yang hanya membuat kesenjangan.&lt;br /&gt;Gadis berzodiak Leo ini mempunyai hobi membaca dan bergaul. Ia banyak membaca buku-buku sastra dan bergaul dengan banyak orang, khususnya orang-orang yang bergelut di bidang sastra. Menurutnya, menjalin pergaulan yang luas dan universal, aktif melakukan diskusi, mempelajari hal-hal spiritual, dan musik merupakan media untuk menjalankan proses kreatif. “Seperti kita tahu, kita tidak dapat menemukan inspirasi, tetapi kita yang ditemukan oleh inspirasi.” Prinsip seperti itulah yang diyakininya sebagai proses pembelajaran hidup dengan media sastra. Hal ini pula yang ia sebut dengan menjalani hidup apa adanya.&lt;br /&gt;Kegiatan bersastra, khususnya puisi memang merupakan hobi Inggit. Namun baginya yang juga menekuni dunia tanaman, sastra bukanlah segala-galanya. Sastra hanyalah salah satu di antara cara-cara dirinya menikmati hidup dan kehidupan yang sarat dengan segala kemungkinan. Setiap individu yang mendalami suatu bidang pasti didorong oleh motivasi, baik dari dalam maupun dari luar diri individu tersebut. Ada sesuatu yang menarik sehingga individu itu mau melakukan hal tersebut, dalam hal ini bersastra.&lt;br /&gt;Hal yang sama juga dialami oleh Inggit. Menurutnya ada sesuatu yang menarik dirinya untuk menulis puisi meski ia tidak bisa menjelaskan secara rinci karena menurutnya hal tersebut bersifat subjektif dan relatif. Namun yang pasti, dengan menulis puisi bisa membuatnya bekerja dengan melibatkan pikiran dan hati secara maksimal. Baginya, bekerja dalam bidang apapun membutuhkan totalitas, keseriusan, dan tanggung jawab yang tinggi untuk mencapai hasil maksimal dan memuaskan.&lt;br /&gt;Banyaknya sastrawan Lampung yang berhasil menembus media nasional merupakan hal yang sangat menggembirakan dan menjadi angin segar bagi kehidupan dan kontinuitas kesastraan di Lampung. Menurut Inggit hal ini biasa dan wajar saja dalam setiap proses kehidupan sastra. Ada fase tertentu yang membawa sebuah karya itu mencapai puncak keemasannya, ada pula fase sebuah karya mengalami keterpurukan. Ini merupakan konsekuensi dari sebuah proses.&lt;br /&gt;Partisipasi Inggit dalam mengembangkan sastra daerah Lampung, yang konon hampir punah, memang tidak terlalu intens. Ia bahkan tidak tahu sejauh mana dirinya berperan serta dalam usaha pengembangan tersebut, mengingat ia bukanlah orang Lampung asli. Namun, ia menyadari telah dilahirkan dan dibesarkan di kota Tanjungkarang, Bandarlampung sehingga ia merasa memunyai tanggung jawab untuk ikut berpartisipasi dalam rangka mengembangkan sastra yang ada di Bandarlampung. Dengan kata lain, Inggit yang merupakan salah satu ikon sastrawan Lampung, juga memunyai inisiatif untuk berpartisipasi, seperti berbagi pengalaman melalui acara-acara kesastraan dalam bentuk workshop atau pelatihan, yang tentu saja ada kaitannya dengan puisi. Ia sering mengikuti kegiatan bedah sastra, keluh kesah puisi, diskusi, dan workshop di UKMBS Unila yang diprakarsai oleh Ari Pahala Hutabarat, Iswadi Pratama, dan Ahmad Julden Erwin. Melalui kegiatan inilah, ia semakin tergugah untuk berkarya.&lt;br /&gt;Bagi Inggit setiap kegiatan yang tujuannya membedah sastra merupakan lahan untuk terus belajar menjadi lebih baik dalam menghasilkan suatu karya yang bermutu dan mengandung nilai moral sekaligus seni untuk bisa dibagi dengan khalayak umum. Hal tersebut merupakan kebanggaan tersendiri baginya, dan dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas pribadinya dalam bersastra, juga sebagai masukkan bagi para pemerhati sastra yang pada akhirnya dapat memunculkan sebuah kritik sastra. Ketidakpuasan merupakan hal yang sangat manusiawi dan menjadi motivator berkembangnya pola pikir individu. Dengan cepat merasa puas berarti kreativitas individu dapat cepat pula mati dan mengalami ketumpulan ekspresi. Namun dengan tidak cepat merasa puas, keyakinan akan bakat dan kemampuan yang dimiliki menjadi suatu kekuatan dan energi untuk tetap menulis. Keyakinan itu pun akan tetap bersemayam di sanubari. Hal inilah yang terus dilakukan Inggit. Ia sangat terbuka dengan kritik-kritik konstruktif terhadap karya-karyanya.&lt;br /&gt;Setiap hasil karya yang dihasilkannya menjaring banyak asumsi dari orang di sekitarnya. Seperti puisinya yang berjudul “Raung”, menceritakan tentang keadaan kota Tanjungkarang, kota kelahirannya yang menurutnya sudah kehilangan identitas asli daerah. Puisi ini pula yang membawa nama Inggit dikenal di kalangan penyair lokal Lampung karena menang dalam Lomba Cipta Puisi Tentang Tanjungkarang. Hal ini sangat disyukuri Inggit karena karyanya bisa diterima masyarakat.&lt;br /&gt;Puisi-puisi karyanya sempat menjuarai berbagai ajang kompetisi di bidang seni, antara lain juara kedua Krakatau Award tahun 2004 dan Lomba Cipta Puisi pada Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) 2004. Puisinya yang lain juga dipublikasikan di berbagai media massa, seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indoneisa, Lampung Post, Trans Sumatera, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan kuliah, kegiatan Inggit benar-benar total dalam dunia kesenian. Selain menjadi pengurus di Dewan Kesenian lampung, ia pun juga bergabung dalam sebuah komunitas sastra, yaitu Komunitas Berkat Yakin yang diketuai Ari Pahala Hutabarat. Inggit pernah diundang dalam acara International Literary Biennale 2005 yang diselenggarakan oleh Teater Utan Kayu pimpinan Sitok Srengenge. Acara yang bertajuk Living Together dan dihadiri oleh penyair dari berbagai negara ini mendaulat Inggit untuk membacakan sajak-sajaknya, seperti Mata Rempah, Senja dan Sedikit Perkiraan Tentangnya, dan Tangan Langit. Tanggal 13 s.d. 15 September 2005, Dewan Kesenian Jakarta mengundang Inggit dan tujuh orang penyair Lampung lainnya untuk menghadiri acara Cakrawala Sastra Indonesia yang diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki Jakarta.&lt;br /&gt;Hal ini menunjukkan bahwa karya-karyanya dapat diterima dan diperhitungkan di kalangan sastrawan, baik pada skala lokal, nasional, maupun internasional. Bahkan profilnya telah dimasukkan dalam Leksikon Seniman Lampung. Hal ini merupakan paradigma sekaligus tantangan dalam karir dan kehidupan Inggit untuk tetap eksis menulis dan menghasilkan karya-karya yang segar.&lt;br /&gt;Selama ia menjalani kuliah di Fakultas Pertanian, banyak kosakata bidang pertanian yang juga memengaruhi setiap tumpahan kata dalam puisi-puisinya. Baginya tidak ada hal yang tidak saling berhubungan di dunia ini. Oleh karena itulah, ia menyatakan akan tetap berkesenian dan sekaligus mengembangkan ilmu botani yang pernah ia pelajari. Layaknya seorang anak manusia yang terlahir dengan berbagai cita dan angan, Inggit pun memiliki impian yang ingin diraih dalam hidupnya. Saat ini, Inggit tengah mengolah beberapa hektar lahan untuk usaha budidaya tanaman jahe yang menurutnya memiliki prospek sangat cerah di masa depan. Sementara dalam bidang seni dan sastra, ia ingin terus eksis menulis puisi atau genre sastra lain dan selalu berkarya seperti para maestro dunia. Berikut ini sebagian karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1) “Ekstase Suri”, 5 September 2002.&lt;br /&gt;2) “Bulir Akhir”, “Maghrib Di Lembang Percik dan Senandung”, dan “Kelebat Seteru” (Maret 2003), Media Indonesia, 23 Maret 2003.&lt;br /&gt;3) Antologi Puisi Gerimis dalam Lain Versi, Logung Pustaka, Dewan Kesenian Lampung, April 2005.&lt;br /&gt;4) “Isi Kepala Rumput” (Antologi Puisi), April 2004.&lt;br /&gt;5) “Tak Ada Riak Daun Berluruhan” (Antologi Puisi), 28 Mei 2004.&lt;br /&gt;6) “Raung” (Antologi Puisi), Mei-Juni 2004.&lt;br /&gt;7) Gerimis Dalam Lain Versi, Logung Pustaka-DKL, 2005.&lt;br /&gt;8) “Hujan Di Pasar Malam dan Melihat Awan Di Jalan”, Koran Tempo, 10 Juli 2005.&lt;br /&gt;9) “Wahyu Sepasang Hujan”, “Penakluk”, dan “Penunggu” (Juli 2005), Kompas, 14 Agustus 2005.&lt;br /&gt;10) “Morass dan Sosok Udara Dan Hujan Jumat” dan “Usia Batang Tebu”, Februari 2005.&lt;br /&gt;11) “Samadhi”, “Hujan Di Lautan”, “Hujan Di Pasar Malam”, “Hujan Di Luar Dapur”, “Hujan Di Pekarangan”, dan “Hujan Di Taman”, April 2005.&lt;br /&gt;12) “Tangan Langit dan Melihat Awan Di Jalan”, Mei 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-926159280919506585?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/926159280919506585/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=926159280919506585' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/926159280919506585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/926159280919506585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/inggit-putria-marga.html' title='Inggit Putria Marga'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-5434264405277737070</id><published>2008-11-18T22:49:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:47:36.504-08:00</updated><title type='text'>Iswadi Pratama</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNdnRILdFI/AAAAAAAAABY/dXrKWLSvioE/s1600-h/Iswadi+Pratama.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNdnRILdFI/AAAAAAAAABY/dXrKWLSvioE/s200/Iswadi Pratama.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274662517774971986" /&gt;&lt;/a&gt;Iswadi Pratama lahir 8 April 1971 di Tanjungkarang, Bandarlampung. Dia anak kelima dari enam bersaudara. Masa sekolah Iswadi diselesaikan di Bandarlampung. Dia menamatkan pendidikan sekolah dasarnya tahun 1984, sekolah lanjutan tingkat pertamanya tahun 1987, sekolah lanjutan atas tahun 1990. Setamat sekolah menengah atas, Iswadi Pratama meneruskan kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Lampung dan selesai tahun 1996.&lt;br /&gt;Iswadi Pratama, mulai menulis dan suka membaca buku-buku karya sastra sejak kelas lima sekolah dasar. Kala itu, dalam suatu kesempatan ia pernah dimarahi ibunya karena tidak menjalankan tugas memasak untuk makan keluarga. Dia lebih asyik dengan buku-buku sastra—sampai terciptalah penggalan kalimat “Bunga tumbuh di halaman layu di hatiku.” Hal itulah, pemicu baginya untuk lebih banyak belajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kuliah di Jurusan Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung, Iswadi Pratama aktif diberbagai organisasi kemahasiswaan di antaranya, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI pada tahun 1992, Unit Kegiatan Mahasiswa Bahasa dan Seni (UKMBS) pada tahun 1993, dan sebagai anggota pada Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) pada tahun 1994. &lt;br /&gt;Iswadi Pratama menikah dengan Imas Sobariah, rekannya yang yang juga penggiat seni. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai satu orang putri, yaitu Rarai Masal Soca Wening Ati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswadi pratama adalah seniman yang menekuni dua bidang seni sekaligus, yaitu sastra dan teater. Ini memungkinkan Iswadi untuk menghindari dari kejenuhan berkreatifitas. Jika sedang jenuh menulis sastra, dia bisa mengekspolarasi ide-idenya ke dalam teater. Begitu juga sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menekuni dua bidang tersebut, Iswadi juga pernah menekuni dunia jurnalistik. Pada tahun 1996, ia pernah menjadi asisten redaktur seni-budaya di harian surat kabar Lampung Post. Pekerjaan itu dilepasnya pada tahun 1998. Kemudian pada tahun 1998, ia ikut mendirikan Sumatera Post. Setahun, ia memutuskan keluar dari Sumatera Post dan kembali bekerja pada Lampung Post hingga tahun 2003, sebagai redaktur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, ia pernah bekerja sebagai editor penerbit KATA-KITA, sebuah majalah terbitan Jakarta. Ia juga pernah menjadi redaktur tabloid Sapu Lidi dibawah naungan Koak (Komite Anti Korupsi)—yang didirikannya sejak tahun 1998—dan redaktur artistik Teater Satu hingga sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya Iswadi Pratama, selama tahun 1993 sampai 1996 dipublikasikan di berbagai media tanah air diantaranya, Republika, Media Indonesia, Horison, Koran Tempo, Kompas, Lampung Post, Jurnal Puisi, Swadesi, Serambi Indonesia, dan Teknokrat, surat kabar mingguan Salam. Berkat prestasinya yang cukup gemilang, ia pernah diundang pada acara Refleksi Kemerdekaan di Solo pada tahun 1995, diundang DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) mengikuti Mimbar Penyair Abad 21 di TIM Jakarta (1996), temu penyair se-Sumatra di Jambi, di samping pertemuan teater di berbagai kota di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain menulis, ia pun banyak mengikuti perlombaan, di antaranya lomba baca puisi dan teater. Pada tahun 1990, ia mendapat pemenang I baca puisi dan pemenang II cipta puisi. Pada tahun 1991, ia dua kali pemenang I baca puisi. Pada tahun 1992, ia dua kali menjadi pemenang I baca puisi. Ia mengantarkan Teater Api menjadi pemenang III lomba teater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prestasi terbesar yang pernah diraihnya pernah menjadi nominasi 10 besar lomba puisi kemerdekaan di stasiun televisi swasta (AN-Teve). Penyair-cum jurnalis di Lampung Post ini pernah mementaskan drama yang diilhami dari puisi-puisinya, diantaranya ”Nostalgia Sebuah Kota”. Sebagai  penulis naskah dan sutradara, Iswadi pantas diacungi jempol, karyanya ”Nostalgia Sebuah Kota”, meraih peringkat ketiga GKJ (Gedung Kesenian Jakarta) awards 2003: Anugrah Festival Teater Alternatif se-Indonesia (Oktober 2003). Pada kegiatan itu, naskah “Nostalgia Sebuah Kota” didaulat sebagai naskah terbaik. ”Nostalgia Sebuah Kota: Kenangan Pada Tanjung Karang”, Iswadi malakukan pentas keliling ke tiga kota yaitu Bandung, Jakarta, dan Makasar, atas dana hibah Yayasan Kelola (September 2004). Sebelumnya, Iswadi Pratama bersama Teater Satu memperoleh hibah seni dari Yayasan Kelola pada tahun 2002.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dedikasinya yang besar dalam perkembangan teater di Lampung ditunjukkannya dengan memelopori Festival Teater Pelajar dan Arisan Teater Pelajar di lampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain aktif dalam mengikuti perlombaan, ia juga aktif dalam suatu organisasi dalam bidang seni yaitu sebagai anggota masyarakat seni pertunjukan Indonesia, kemudian pernah mengikuti Festival Seni Tari Mahasiswa tingkat nasional Padangpanjang pada Januari 1993. Ia juga pernah mengikuti seminar pertunjukan Indonesia, temu ilmiah ke III Masyarakat Seni Pertunjukan di Taman Ismail Marzuki (TIM) November 1992, dan festival teater tingkat nasional pertama di Surabaya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai sastrawan, ia tentunya tidak lepas dari komentar dari berbagai kalangan. Sabine, menganggap puisi-puisi yang diciptakan Iswadi Pratama menusuk langsung ke dalam sukmanya, memberikan efek melankolis dalam dirinya. Ia merasa diajak ikut memahami hal-hal yang disampaikan penyair sehingga makna yang hendak diungkapkan memberikan kesan tersendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Yanusa Nugroho, seorang cerpenis, Iswadi adalah seniman yang bersahaja, rendah hati, dan cerdas. Ketika suatu kali dia membacakan sajak-sajaknya di Bulungan-Jakarta, Yanusa semakin terkagum-kagum. Dia mengatakan bahwa Iswadi tidak berdeklamasi, dia tidak memekikkan dengan suara melengking, tetapi dia berbisik dan mendesah. Namun, dalam bisikan dan desahannya itu menggambarkan sebuah kepedihan yang syarat akan kontemplasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditambahkan pula, lewat karyanya Iswadi mengajak untuk merenungkan kehidupan kita sendiri. Sekali lagi, Iswadi tidak “berkenes ria” dengan menampilkan masalah absurd melalui kisah yang dilahirkan oleh budaya lain. Iswadi menggalinya dari akar kehidupan kita sehari-hari. Penyajiannya pun tidak “sok teater” yang kadang terasa overacting itu. Di dalam pementasannya kali itu, Iswadi mengajak kita semua mendengar sebuah kisah. Sebuah dongeng, yang akrab dengan kita. Tak berjarak, bahkan&lt;br /&gt;kemasannya M. Arman AZ, seorang cerpenis asal Lampung memberikan komentar bahwa Iswadi telah mendapat tempat tersendiri dalam dunia seni Indonesia. Proses panjangnya dalam dunia teater dibahas dan mendapat nilai positif dari kalangan pengamat teater dalam dan luar negeri. Tambahnya, puisi-puisi Iswadi bersifat humanis dan terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, tidak terlalu njlimet untuk dipahami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan, Inggit Putria Marga, seorang penyair asal Lampung, memberikan komentar bahwa Iswadi Pratama adalah penyair liris terbaik yang dimiliki Lampung. Karya-karyanya banyak menginspirasi dan membuka ingatan-ingatan pembaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iswadi Pratama yang telah lama malang melintang di dunia sastra dan teater memilki karakter yang begitu kuat. Kesan mendalam bagi pembaca dari karya yang diciptakannya diterima oleh pembaca dengan keanekaragaman kesan dan pesan yang terkandung di dalamnya. Berikut beberapa karya Iswadi Pratama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Puisi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) Jalan Menuju Diri (1991)&lt;br /&gt;2) Pergi (1992)&lt;br /&gt;3) Gelang semesta&lt;br /&gt;4) Belajar Mencintai Tuhan&lt;br /&gt;5) Daun-Daun Jatuh Tunas Tumbuh&lt;br /&gt;6) Refleksi Setengah Abad Indonesia&lt;br /&gt;7) Antologi Cerpen Dari Lampung&lt;br /&gt;8) Antologi Cerpen Dari Bumi Lada&lt;br /&gt;9) Cetik&lt;br /&gt;10) Mimbar Penyair Abad 21 (DKJ)-Balai Pustaka (1996)&lt;br /&gt;11) Hijau Kelon dan Puisi 2002 (penerbit buku Kompas, 2002)&lt;br /&gt;12) Pertemuan Dua Arus (Jung Foundation, 2004)&lt;br /&gt;13) Matinya Cerita Pendek (DKJ)-Cipta (2007) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Daftar naskah, Sutradara, Aktor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;1) “Pinangan” karya Anton Chekov di Taman Budaya Lampung, 1992 (sutradara).&lt;br /&gt;2) “Alzabar” Karya Zak Sorga, TBL, April 2002 (sutradara).&lt;br /&gt;3) “Berbiak dalam asbak”.&lt;br /&gt;4) “Perampok” J.F. Schiller di TBL, 1993 (aktor).&lt;br /&gt;5) “Tumbal” karya Luluk ayundini di TBL 1994 (aktor).&lt;br /&gt;6) Monolog “Kucing Hitam” karya Edgar Alan Poe di GK Rumentangsiang Bandung 1994 (Aktor).&lt;br /&gt;7) “Ruang Sekarat” di TBL 1995 (Penulis dan sutradara).&lt;br /&gt;8) “Malam Terakhir” karya Yukio Mishima pada Festival Teater Modern di Bandung, 1996 (sutradara).&lt;br /&gt;9) Drama Tari “Radin Jambat” Bandarlampung 1996 (penulis dan asisten sutradara).&lt;br /&gt;10) Monolog “Prita Istri Kita” karya Arifin C. Noer pada Festival Monolog di TBL 1996 (sutradara).&lt;br /&gt;11) “Lysistrata” karya Aristophanes di TBL 1997 (Sutradara).&lt;br /&gt;12) “Kapai-Kapai” karya Arifin C. Noer di TBL 1997 (sutradara).&lt;br /&gt;13) “Jerit Tangis Malam Buta” karya Rolf Laukcner di TBL 1998 (aktor).&lt;br /&gt;14) “Umang-umang” karya Arifin C. Noer di TBL 1999 (sutradara).&lt;br /&gt;15) “Orang-Orang Barunta” karya Conie C. Sema di TBL 1999 (sutradara).&lt;br /&gt;16) “KE” karya Yudhistira ANM Massardi di TBL 2000 (sutradara).&lt;br /&gt;17) “si Tamba” pada Traditional Preforming Arts di GKJ 2001 (penulis dan sutradara).&lt;br /&gt;18) “Nak: Tragedi Sampit” di TBL 2001 (Sutradara dan Penulis).&lt;br /&gt;19) “Menunggu Godot” karya Samuel Beckett di Yogyakarta, Jakarta, Bandung, Tasikmalaya, 2002 sebagai Hibah Seni Yayasan Kelola (Sutradara).&lt;br /&gt;20) “Nyanyian Angsa” karya anton Chekov di Teater Halaman AJI, UKMBS Unila, Taman Budaya Lampung 2002 (Sutradara).&lt;br /&gt;21) “Nostalgia sebuah Kota: kenangan untuk Tanjungkarang” untuk Festival Teater Alternatif Indonesia di GKJ Oktober 2004 (sutradara dan penulis).&lt;br /&gt;22) “Nostalgia sebuah Kota: kenangan untuk Tanjungkarang” dipentaskan di TUK Jakarta, Febuari 2004 (penulis dan sutradara).&lt;br /&gt;23) “Nostalgia sebuah Kota: kenangan untuk Tanjungkarang” dipentaskan di Makasar, Jakarta , dan Bandung, Juli 2004 diseponsori Yayasan Kelola (penulis dan sutradara).&lt;br /&gt;24) Monolog “Perempuan Pilihan” di Festival Monolog Indonesia Undangan DKJ (2003) dan di Teater Utan Kayu (2004) sebagai sutradara dan penulis naskah.&lt;br /&gt;25) “Umang-Umang” karya Arifin C. Noer di DKJ dalam rangka mengeang Arifin C. Noer di DKJ April 2005 (sutradara).&lt;br /&gt;26) “Nostalgia Sebuah Kota: kenangan untuk Tanjungkarang” pada Indonesian Performing Arts Mart (IPAM) di Bali May 2005 (penulis dan sutradara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Prestasi&lt;br /&gt;1) 1987-1995: Mengumpulkan 27 penghargaan untuk perlombaan/festival: Baca puisi, Cipta puisi/Cerpen, Teater, Kritik Film, Esai Seni Rupa, Kritik Tari, dan Esai Budaya.&lt;br /&gt;2) 1991-2005: Telah melaksanakan lebih dari 50 kali pertunjukan teter di Lampung dan kota-kota di Indonesia: Jambi, Pekanbaru, Bengkulu, Padang, Medan, Jakarta, Bandung,Solo, Yogyakarta, Surabaya, Denpasar, Lombok, Makasar, dan lain-lain.&lt;br /&gt;3) 1996: Terpilih sebagai salah seorang penyair yang diundang dalam mimbar penyair Abad 21 oleh Dewan Kesenian Jakarta&lt;br /&gt;4) 1999: menerima penghargaan dari Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya RI untuk pengabdian di Bidang Seni.&lt;br /&gt;5) 2002: Menerima Hibah Seni dari Yayasan Kelola untuk mementaskan lakon “Menunggu Godot” karya Samuel Beckett di Lampung, Bandung, Solo, dan Yogyakarta. &lt;br /&gt;6) 2003: mendapat empat penghargaan GKJ Award dalam Festival Teater Alternatif Indonesia untuk kategori sutradara, terbaik, naskah terbaik, grup terbaik, dan aktris terbaik dengan lakn “Nostalgia Sebuah Kota: Kenangan untuk Tanjungkarang”.&lt;br /&gt;7) 2004: menerima hibah seni dari Yayasan Kelola untuk mementaskan “Nostalgia Sebuah Kota” di Lampung, Jakarta, Bandung, dan Makasar.&lt;br /&gt;8) 2005: Memperoleh penghargaan Kementrian Pariwisaa RI untuk penampilan “Nostalgia Sebuah Kota: Kenangan untuk Tanjungkarang” di Indonesiaan Performing Art (IPAM) di Nusa Dua, Bali.&lt;br /&gt;9) 2005: Terpilih sebagai salah seorang penyair untuk diundang mengikuti Festival Sastra Internasional, Wintemachten.&lt;br /&gt;10) Salah seorang kandidat penerima beasiswa Magang Seni Internasional dari The Rolex Mentor, Switzerland.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-5434264405277737070?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/5434264405277737070/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=5434264405277737070' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5434264405277737070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/5434264405277737070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/iswadi-pratama.html' title='Iswadi Pratama'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNdnRILdFI/AAAAAAAAABY/dXrKWLSvioE/s72-c/Iswadi Pratama.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-1943914958494424980</id><published>2008-11-18T22:48:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:28:56.143-08:00</updated><title type='text'>Hahiwang</title><content type='html'>Istilah hahiwang dikenal juga dengan nama highing-highing. Istilah ini dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Pemanggilan Jelema Daya (Komering).  Istilah wayak/muayak dikenal di lingkungan masyarakat Lampung Barat khususnya di daerah Belalau. Istilah atau namanya berbeda, tetapi yang dimaksud oleh setiap istilah itu adalah sama, yakni salah satu jenis sastra lisan Lampung yang berbentuk puisi yang lazim digunakan sebagai:&lt;br /&gt;a. pengantar acara adat;&lt;br /&gt;b. pelengkap acara pelepasan pengantin wanita ke tempat pengantin pria;&lt;br /&gt;c. pelengkap acara cangget ’tarian adat’;&lt;br /&gt;d. pelengkap acara muda-mudi yang dikenal dengan istilah jagodamar/jagadamagh atau kedayek/kedayok;&lt;br /&gt;e. senandung pada saat menidurkan anak; dan&lt;br /&gt;f. pengisi waktu bersantai.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ISBEDY&lt;br /&gt;STIAWAN ZS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I&lt;br /&gt;sbedy Stiawan ZS adalah nama yang diberikan pasangan Zakirin Senet dan Ratminah untuk salah seorang anak laki-laki mereka. Isbedy lahir pada 5 juni 1958 di Tanjungkarang. Ia adalah putra keempat dari delapan bersaudara. Almarhum bapaknya yang berasal dari Bengkulu hanyalah seorang pegawai negeri rendahan dan ibunya yang berasal dari Winduaji Sindanglaut kabupaten Cirebon adalah seorang ibu rumah tangga. &lt;br /&gt;Isbedy kecil dikenal nakal. Selain itu, ia dikenal keras, gigih, dan nyentrik. Tak jarang dia berkelahi dengan teman sebayanya. Hobi berkelahi itu kemudian disalurkannya dengan mengikuti beladiri karate. Terakhir, sabuk hitam pun diraihnya. &lt;br /&gt;Ekonomi keluarga Isbedy saat itu boleh dibilang pas-pasan. Untuk menambah penghasilan keluarga, ibunya membuka warung sederhana di depan rumahnya. Isbedy sering disuruh menunggui warungnya. Saat menunggu warung itulah, ia sering mengisi waktu dengan membaca buku-buku silat yang banyak menaburkan filosofi yang selalu mengusiknya untuk merenung. Ditambah lagi, ia senang menulis apa saja yang direnungkannya. Saat itu, Isbedy kecil menganggap yang ditulisnya itu sebagai kata-kata mutiara. Dari kata-kata mutiara itulah lahir sajak-sajak dan cerpennya.&lt;br /&gt;Isbedy mulai bersentuhan dengan dunia sastra sejak di bangku SMP tahun 1975. Karya-karya Kho Ping Hoo adalah bacaan yang saat itu digemari oleh Isbedy. Ketika membaca karya Kho Ping Hoo, ia mendapatkan filosofi hidup yang sangat berarti, bahwa seseorang yang menyenangi seni tanpa memiliki ilmu beladiri akan lemah dan dizalimi dan orang yang memiliki ilmu beladiri tanpa diimbangi nilai seni maka dia akan zalim. Filosofi ini yang semakin mendorongnya untuk mengikuti kegiatan karate.&lt;br /&gt;Sebelum terkenal sebagai penulis, ia tekun dalam bidang seni teater bersama Syaiful Irba Tanpaka dan A.M. Zulqarnain. Sanggar Ragam Budaya adalah tempatnya mengekspresikan jiwa seni. Ia juga sering tampil dalam pementasan teater di luar Tanjungkarang. Jika ada waktu luang saat ia berlatih teater, Isbedy kerap berdiskusi seputar persoalan sastra dengan Syaiful Irba Tanpaka. Beranjak ke bangku STM, ia perlahan-lahan mulai menggeluti dunia sastra dan meninggalkan dunia teater. Ketika itu, Isbedy mencoba menulis puisi dan cerpen.&lt;br /&gt;Isbedy kerap membacakan sajaknya dari panggung ke panggung. Saat membacakan sajak-sajaknya, Isbedy selalu memukau penontonnya. Ia tidak hanya mahir menyulam kata, tetapi juga piawai “menyihir” penonton. &lt;br /&gt;Keinginan untuk mempunyai mesin tik sendiri mendorong Isbedy untuk terus berkarya. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Isbedy mengirimkan karya-karyanya yang berupa puisi ke berbagai media massa, termasuk media massa yang terbit di Jakarta. Tak sedikit pula puisinya yang ditolak oleh media. Tahun 1981, obsesinya untuk mempunyai mesin tik barulah terwujud. Sebuah mesin tik buatan Jerman, dibelinya dari Pasar Rumput seharga dua puluh lima ribu rupiah. Uang itu diperolehnya dari honor tulisan Isbedy di berbagai surat kabar Jakarta. Sejak memiliki mesin tik sendiri, keinginan Isbedy utnuk menghasilkan karya semakin menjadi-jadi. Hasilnya, harian umum Suara Karya memercayai Isbedy untuk mengasuh rublik “EsKa Kecil“, sebuah rubrik sastra bagi anak-anak. ”Surat dari Kak Isbedy” adalah nama yang dipakai untuk rublik itu. Selain media massa cetak, ia juga memublikasikan karya-karyanya melalui media massa elektronik. Saat itu, Radio Republik Indonesia Lampung sering mengundang Isbedy untuk membacakan karya-karyanya. &lt;br /&gt;Karya pertama Isbedy yang dimuat di media massa adalah cerita pendek di Mingguan Swadesi, tahun 1980. Kemudian, sekitar tahun 1984, banyak cerpennya yang dimuat di berbagai media massa, antara lain Shimponi, Merdeka, Pelita, dan Singgalang. Di tahun itu pula, untuk pertama kali puisi Isbedy dimuat di Berita Buana, saat itu diasuh oleh Abdul Hadi W.M.. Sejak saat itulah, puisi-puisi Isbedy mulai bermunculan di media massa lainnya seperti, Suara Karya, Budaya Pelita, Jayakarta, Terbit,dan Prioritas.&lt;br /&gt;Di usia muda, pergaulan Isbedy boleh dikatakan nakal. Tetapi hal itu tidak berjalan lama. Pada tahun 1982, ia menikahi Adibah Jalili, seorang wanita Minang dari keluarga yang taat beragama. Perlahan-lahan kebiasaan buruknya itu menhilang. Dari perkawinan tersebut, Isbedy dikaruniai lima orang anak yaitu: Mardiah Novriza, Arza Setiawan, Rio Fauzul, Khairunnisa, dan Abdurrobbi Fadillah. &lt;br /&gt;Umumnya, proses kreatif puisi Isbedy lahir setelah ia menemukan kata-kata puitis terlebih dahulu, lalu diolahnya menjadi puisi. Terkadang, ia juga mendapatkan puisi yang sudah jadi di benaknya. Ide kreatif Isbedy bisa muncul kapan saja, saat traveling, merenung di waktu malam, atau langsung di depan komputer. Dalam menulis puisi, ia tidak pernah membatasi diri tentang tema tertentu karena menulis pusi menurut Isbedy tidak bisa dipaksa, mengalir menurut apa yang ada di dalam imajinasi, rasa, emosional, dan intelektual. &lt;br /&gt;Mengenai proses kreatif lahirnya sebuah puisi, Isbedy mengaku, karyanya banyak terlahir oleh sentuhan-sentuhan sederhana, contohnya, puisi “Aku Tandai” yang disentuh oleh kalimat-kalimat yang didapat saat di kendaraan bermotor. Dalam proses kreatif kemudian, ia giring “tahilalat” itu sebagai penanda bagi manusia. Terkadang puisinya lahir dari kalimat-kalimat yang dianggap puitis dan menarik. Misalnya dia pernah melahirkan puisi dari kalimat yang dia peroleh begitu saja; karena laut mengajarkan rajaasi badai/ maka aku pun setia berlayar (puisi “Orang Laut”, 1987). Dari kalimat-kalimat itu, ia merangkainya hingga menjadi sebuah puisi yang utuh. &lt;br /&gt;Kini Isbedy banyak menulis cerpen. Hal itu disebabkan karena cerpen ”lebih menjanjikan”. Selain itu, bagi Isbedy menulis cerpen ”sangat menantang”. Dalam menulis cerpen, ia harus banyak memiliki ”tabungan” kata-kata dan kalimat dan memahami seluk-beluk alur cerita, penokohan, beserta konflik-konfliknya.&lt;br /&gt;Cerpen-cerpen Isbedy juga dimuat di berbagai media massa, seperti Kompas, Koran Tempo, Jawa Pos, Horison, Suara Merdeka, dan Kedaulatan Rakyat. Padahal, pada awalnya Isbedy minder sekali untuk mengirimkan cerpen. Berbeda, ketika ia menawarkan puisi ke media-media tersebut. Bahkan, dengan nada canda, Triyanto Triwikromo (Suara Merdeka) tidak mengakui Isbedy sebagai cerpenis. ”Kalau pun Anda mengirim cerpen tidak akan dimuat, sebab kekuatanmu ada di puisi.” Tetapi, belakangan cerpen-cerpen Isbedy lolos seleksi Suara Merdeka yang kita tahu Triyanto sangat ketat untuk menyeleksi karya sastra yang akan dimuat di koran tersebut. Begitu pula, barangkali, ketika Nirwan Dewanto meloloskan cerpen Isbedy yang berjudul ”Mata Elangmu Nyalang” di Koran Tempo.&lt;br /&gt;Ketika itu, produktivitas dalam menulis cerpen memang diakuinya cukup tinggi. Meskipun begitu, ia juga tetap rajin melahirkan puisi. Kalau kemudian ia lebih dikenal sebagai penyair, mungkin predikat itu sudah demikian menyatu dalam dirinya sejak lama. Isbedy justru merasa percaya diri disebut penyair ketimbang cerpenis. Boleh jadi suatu waktu ia akan meninggalkan dunia cerpen.&lt;br /&gt;Dalam menulis cerpen, Isbedy banyak belajar dari mengamati berbagai karakter atau tokoh orang yang ada di sekitarnya. Ia dapat lebih memasuki setiap karakter tokoh, latar, atau alur cerita. Ia bisa bebas memainkan bahasa karena sesungguhnya bahasa berperan penting bagi karya sastra ketika menulis cerpen. &lt;br /&gt;Sebagai penulis, Isbedy sudah melahirkan banyak karya sastra. Karya-karyanya tidak hanya terangkum dalam antologi tunggalnya saja, tetapi juga terangkum dalam antologi bersama penyair lainnya. Karya-karyanya juga pernah dimuat di berbagai macam media massa, sebut saja Serambi Indonesia, Aceh Post, Riau Post, Singgalang, Sriwijaya Post, Lampung Post, Majalah Horison, Kompas, Jurnal Ulumul Qur’an, Nova, Jurnal Puisi, Citra, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, Suara Karya, Suara Pembaharuan, Berita Buana, Pelita, Surabaya Post, Pedoman Rakyat, Sinar Harapan, Amanah, Annida, Sabili, Fikri, Jawa Post, Wawasan, Suara Merdeka (Semarang), Surabaya News, Kedaulatan Rakyat (Bandung), Majalah Budaya Sagang, Padang Post, Padang Ekspres, Sumatra Post, Gerbang, Lampung Post, dan Trans Sumatra, Banjarmasin Post, dan Pedoman Rakyat (Makasar). &lt;br /&gt;Perjuangan yang ia lalui saat itu telah membuahkan hasil yang memuaskan. Sastra telah mengantarnya menjadi orang yang dikenal banyak orang, sastra juga membawa Isbedy berjelajah ke daerah-daerah di Indonesia. Ia pernah diundang Dewan Kesenian Jakarta membaca puisi di TIM pada Forum Puisi Indonesia 1987, Pembacaan Sajak Tiga Penyair Lampung (1989) dan Festival November tahun 2001. Juga diundang pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) di Kayu Tanam (1997). Tahun 1999, ia menjadi salah satu sastrawan Indonesia yang diundang ke Pertemuan Sastrawan Nusantara di Johor Malaysia. Dalam tahun yang sama, ia terbang ke Thailand, mengikuti Dialog Utara VIII. Ia pun kerap menghadiri undangan pertemuan sastra diberbagai kota dan daerah di Tanah Air antara lain: di Pekanbaru, Padang, Yokyakarta, Bali, Banjarmasin, Bengkulu, Jambi, Palembang, Pangkal Pinang, Bengkalis. Pada 29 Februari dia membacakan puisi-puisinya dari buku Menampar Angin di Warung Apresiasi, Bulungan, Jakarta Selatan. &lt;br /&gt;Dalam perjalanan kesastrawanannya, banyak saran maupun kritik yang tertuju kepada dirinya. Pada Forum Puisi Indonesia ’87, Sutardji memberikan pujian kepada Isbedy yang dibuktikannya dengan memuat puisi Isbedy dari antologi Forum Puisi Indonesia ’87 di majalah sastra Horison. Menurut Sutardji, puisi Isbedy sangat sederhana, metafor-metafor yang ditampilkan tidak terlalu mengejutkan, tetapi dengan pengaluran yang lembut, saling menopang, serta diperhitungkan dengan penuh kecermatan, membuat Sutardji terpukau dengan larik-larik dalam setiap puisi yang dibuat Isbedy. Tambah Sutardji, ungkapan-ungkapan yang segar dalam sajak Isbedy ditampilkan dalam susunan saling bersambung, mendukung secara halus, lembut, dan tersamar suatu gagasan pikiran (Kompas, 4 Mei 2001, hal. 36). Tahun 1989, H.B. Jassin dalam catatan kebudayaan majalah Horison memberikan predikat kepada Isbedy sebagai Paus Sastra Lampung karena dedikasinya dalam berkarya dan memajukan sastra di Lampung.&lt;br /&gt;Maman S. Mahyana juga mempunyai kesan setelah ia membaca puisi-puisi Isbedy Stiawan. Menurutnya, antologi puisi Aku Tandai Tahi Lalatmu terkesan hendak menawarkan berbagai kegelisahan emosionalnya. Setiap makna dalam puisinya memancarkan makna sejalan dengan konteks dan situasi peristiwa yang dihadapi. Ditambahkan Maman dalam puisi Isbedy, ia juga bersiasat melalui beragam majas dan serangkaian enjambemen. Antologi itu, menurut Maman, mengukuhkan Isbedy sebagai penyair yang makin memperlihatkan kepribadiannya yang kukuh dan kepenyairannya yang matang. Kecendrungan memanfaatkan berbagai diksi dan sarana puitis, tampak diintegrasikan kedalam jalinan kata yang potensial memancarkan keberagaman makna. Gaya kepenyairan model ini, tentu saja bukan satu-satunya—juga bukan yang pertama—dilakukan Isbedy. Di belakang itu, ada nama-nama Dodong Djiwapradja, Toto Sudarto Bachtiar, Ajip Rosidi, Sapardi Djoko Damono, sampai ke nama-nama penyair terkini macam Nanang Suryadi atau Tjahjono Widarmanto.&lt;br /&gt;Sebagai contoh kasus, misalnya, puisinya yang berjudul “Di Pantai”. Dekaplah aku, kata pantai pada laut, tapi,/setelah didekap, pantai pun membiarkan laut/ menjauh kembali, lalu burung-burung camar/hanya memandang sepi ujung bibirmu//. Hubungan laut—pantai yang komplementer itu tiba-tiba menjadi sebuah paradoks karena pantai di satu pihak tak dapat melepaskan dirinya dari kerinduan atas laut, dan di pihak lain, selalu membiarkan laut kembali menjauh. Sebuah pertemuan dan perpisahan yang sepertinya merupakan peristiwa biasa, tetapi justru menyimpan begitu banyak misteri. (Lampung Post, 2003).&lt;br /&gt;Yanusa Nugroho, salah satu Sastrawan dari Jakarta, memberikan tanggapannya terhadap cerpen-cerpen yang ditulis oleh Isbedy. Menurut Yanusa, membaca karya Isbedy adalah ”membaca energi” karena begitu padat cerpen-cerpen yang disuguhkan oleh Isbedy.&lt;br /&gt;Tak bisa terelakan lagi, Isbedy memang sudah menjadi bagian dalam perkembangan sastra di Indonesia. Sejumlah penghargaan juga pernah ia raih. Hal itu dikarenakan dedikasinya yang tinggi untuk perkembangan sastra di Indonesia. Anugerah Sanggar Minum Kopi Bali—10 Puisi Terbaik, tahun 1997, Margana Award—10 Puisi Terbaik, Yayasan Selakunda (Bali), 1998, Juara ke-2 Lomba Cipta Cerpen Teater Peron UNS Solo, Juara I Lomba Cipta Puisi Se-Indonesia Mahasiswa di Padang, Juara III Lomba Cipta Puisi Lingkungan Hidup kerja sama Majalah Trubus-Menteri KLH, tahun 2002, Rakyat Lampung Award 2005-2006—Tokoh Seniman, Nominator—5 Besar karya Cerpen—Anugerah Kebudayaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, tahun 2006, 10 Besar Nominator Katulistiwa Literary Award untuk kumpulan puisi Kota Cahaya, tahun 2006. Kumpulan puisi Kota Cahaya mendapat penghargaan dari DPD KNPI Bandarlampung pada 28 Oktober 2005 menganugerahi KNPI Award 2005 pada sastrawan ini sebagai Life Time Achievement. Berikut ini beberapa karya-karya Isbedy Stiawan ZS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puisi&lt;br /&gt;1) Darah, 1982.&lt;br /&gt;2) Badai 1984.&lt;br /&gt;3) Akhir 1986.&lt;br /&gt;4) Khalwat 1988.&lt;br /&gt;5) Membaca Bahasa Sunyi 1990.&lt;br /&gt;6) Lukisan Ombak 1992.&lt;br /&gt;7) Kembali Ziarah 1996.&lt;br /&gt;8) Daun-daun Tadarus 1997.&lt;br /&gt;9) Aku Tandai Tahi Lalatmu, Gama Media, Yogyakarta, 2003.&lt;br /&gt;10) Menampar Angin Bentang Budaya, Yogyakarta, 2003.&lt;br /&gt;11) Kota Cahaya, Grasindo, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;12) Salamku Pada Malam 2006.&lt;br /&gt;13) Laut Akhir 2007.&lt;br /&gt;14) Dari Negeri Poci, antologi bersama.&lt;br /&gt;15) Resonansi Indonesia, antologi bersama.&lt;br /&gt;16) Angkatan 2000, antologi bersama, 2000.&lt;br /&gt;17) Horison Sastra Indonesia: KitabPuisi, antologi bersama.&lt;br /&gt;18) Hijau Kelon dan Puisi 2002, antologi bersama Penerbit buku Kompas, 2002.&lt;br /&gt;19) Puisi Tak Pernah Pergi, antologi bersama Penerbit buku Kompas, 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cerpen&lt;br /&gt;1) Ziarah Ayah, Syaamil, Bandung, 2003.&lt;br /&gt;2) Tahun Cinta (antologi cerpen bersama), Senayan Abadi, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;3) Wajah di Balik Jendela (antologi cerpen bersama), Lazuri, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;4) Anak Sepasang Bintang (antologi cerpen bersama), FBE Press, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;5) Bunga-Bunga Cinta (antologi cerpen bersama), Senayan Abadi, Jakarta, 2003.&lt;br /&gt;6) Cerita-cerita pengantin (antologi cerpen bersama), Galang Press, Yogyakarta, 2003.&lt;br /&gt;7) Bulan Rebah di Meja Diggers, Beranda, Jakarta, 2004.&lt;br /&gt;8) Dawai Kembali Berdenting, Logung Pustaka, Lampung, 2004.&lt;br /&gt;9) Perempuan Sunyi Gama Media, Jakarta, 2004.&lt;br /&gt;10) Selembut Angin Setajam Ranting, Lingkar Pena Publising House, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;11)  Seandainya Kau Jadi Ikan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;12) Hanya Untuk Satu Nama, Bentang Pustaka, Jakarta, 2005.&lt;br /&gt;13) “Rumah Baru”, Radar Lampung, Minggu, 2 Oktober 2005.&lt;br /&gt;14) “Pasien Terakhir”, Lampung Post, 28 April 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-1943914958494424980?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/1943914958494424980/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=1943914958494424980' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1943914958494424980'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/1943914958494424980'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/hahiwang.html' title='Hahiwang'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-720710861206805260</id><published>2008-11-18T22:47:00.001-08:00</published><updated>2008-12-21T22:30:23.665-08:00</updated><title type='text'>Edy Samudera Kertagama</title><content type='html'>Edy Samudra Kertagama, pria kelahiran Bandarlampung 46 tahun silam ini lahir dari pasangan Drs. M. Mochtar ZN (alm.) dan Drs. Suryani (almh.).&lt;br /&gt;Pendidikan yang dilalui Edy ternyata tidak seindah yang dibayangkan, ia bersekolah dari kota yang satu ke kota yang lain. Taman Kanak-kanak (St. Maria) dan Sekolah Dasar, ia habiskan di Bandung. Setelah lulus Edy dan keluarganya pindah ke Jakarta. Edy melanjutkan sekolah di SMPN 16 Jakarta, tetapi hanya sampai kelas dua. Setelah itu, ia dan keluarga pindah ke Lampung dan melanjutkan sekolahnya di SMPN 4 Bandarlampung hingga lulus. Kerinduan dengan Jakarta membuat Edy dan keluarga kembali ke sana. Masa-masa SMA dilewati Edy di SMAN 17 Bulungan Jakarta dan SMAN 3 Bandarlampung.&lt;br /&gt;Setelah Edy menyelesaikan pendidikannya di bangku sekolah menengah, ia melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. STIAL adalah tempat Edy mencoba menggali intelektualitasnya. Di kampus tersebut, ia mengambil jurusan sosial dan politik. Tahun 1989 dan 1990, Edy ditinggalkan oleh kedua orang tuanya. Peristiwa itu berdampak besar terhadap perkembangan psikologisnya sehingga Edy memutuskan tidak melanjutkan studinya. Namun hal itu tidak berlangsung lama, ia menunjukkan keinginan yang besar untuk maju dengan kembali ke dunia pendidikan. Oleh karena itu, ia bergabung dalam Acting Course Drama dan Film yang ada di Bandarlampung selama satu tahun. &lt;br /&gt;Tahun 1992, Edy Samudra Kertagama menikah dengan Fatihatul Mufarrohah, M.A. hingga saat ini dikarunai satu orang laki-laki dan tiga orang perempuan, Putri Laras Ari Sandi ESK, Aulianisa Saraswati ESK, Nanda Enggar Tiasta ESK, dan Fitri Anisa Cahyani ESK. &lt;br /&gt;Darah seni Edy mulai mengalir ketika ia masih duduk di bangku sekolah. Majalah dinding di sekolahnya tidak luput dari puisi-puisi Edy. Puisi-puisi yang dimuat pada saat itu masih terinspirasi oleh puisi-puisi romantis Kahlil Gibran. Seiring berkembangnya waktu tanpa sengaja Edy mulai tertarik dalam seni sastra dan teater. &lt;br /&gt;Kecintaannya pada seni melatarbelakangi Edy Samudra Kertagama dalam menulis puisi karena melalui media puisi itulah ia dapat menuangkan kreativitasnya. Puisi menurut Edy adalah ungkapan rasa dari penyair, tuntunan ke arah pemahaman nilai-nilai artistik. Puisi juga memberikan berbagai macam makna empiris yang jelas, sehingga puisi dapat lebih diinterpretasi oleh pembacanya. Selain itu, sebagai masyarakat yang bertanggung jawab terhadap budaya, ia ingin mengembangkan kesusastraan Indonesia, khususnya di Lampung, serta ingin memberikan pengetahuannya tentang sastra kepada masyarakat luas. &lt;br /&gt;Pria yang menggeluti sastra sejak 1979 ini banyak terinspirasi oleh sastrawan besar, seperti Kahlil Gibran, Sapardi Djoko Damono, dan WS Rendra. Menurut Edy, ketiga sastrawan itu merupakan sosok orang yang penuh dan padat terhadap kontrol sosial masyarakat, mereka juga santun dalam berkesenian, serta kedekatan pada Tuhan yang menjadikan karya-karya mereka kuat. Oleh karena itu, dalam proses kreatifnya berpuisi, tanpa disengaja Edy mencirikan dirinya sebagai penulis puisi yang bertemakan kritik sosial.&lt;br /&gt;Tahun 1979, puisi pertama Edy yang berjudul “Tanah Lapang”, lahir. Puisi pertamanya itu, seakan-akan mengisyaratkan lahirnya Edy Samudra Kertagama sebagai Penyair. Dalam puisi itu, Edy ingin menyuarakan penderitaan yang dialami rakyat kecil, mereka kehilangan hak atas tanah mereka akibat keserakahannya orang-orang kaya, seperti yang termaktub dalam larik-larik berikut ini, tak ada lagi tanah lapang // habis tergusur traktor-traktor // tak terlihat sapa ramah tawa riang // semua bungkam, semua sepi, semua merindukan tanah lapang.&lt;br /&gt;Untuk menyosialisasikan karya-karyanya, Edy melakukan pembacaan puisi ke beberapa tempat di Indonesia, seperti Universitas Lampung, IAIN Radin Intan, Taman Budaya Lampung, Universitas Trisakti (Jakarta), Universitas Indonesia (Jakarta), Universitas Nasional (Jakarta), dan Gelanggang Remaja Jakarta. &lt;br /&gt;Kumpulan puisi tunggalnya yang telah terbit adalah Kering (1997), Embun Putih (1997), dan Nyayian Sunyi (2002). Selain terangkum dalam buku-buku itu, karya Edy pernah dimuat dalam antologi puisi Jung (DKL), Senandung Penyair Lampung (Festival Penyair Lampung), Cetik (DKL), dan Wajah (1997).&lt;br /&gt;Sejalan dengan proses kepenyairannya, Edy juga menggeluti bidang teater. Tahun 1980, Edy mendirikan sebuah komunitas teater yang diberi nama Teater Kuman. Berbagai pementasan pernah disutradarai olehnya, seperti; “Gempa” karya B. Soelarto (1987), “Pijar-Pijar Krakatau” (1987), “Satu Lawan Sebelas” karya Alfred Hithcok (1988), “Rumah Kertas” karya N. Riantiarno (1998).&lt;br /&gt;Sepuluh tahun kemudian, Edy Samudra Kertagama mendirikan Lembaga Deklamasi Lampung (LDL) bersama beberapa temannya. Lembaga Deklamasi Lampung didirikan atas dasar pembinaan seni untuk kalangan muda khususnya seni sastra. Metode baca puisi, diskusi-diskusi sastra, dan pengembangan sastra adalah acara rutin yang diselenggarakan oleh LDL.&lt;br /&gt;Di samping itu, ia tidak hanya mengetuai LDL, tetapi beberapa organisasi kesenian maupun di luar kesenian, seperti tahun 1990, ia pernah menjabat ketua HSBI (Himpunan Seni Budaya Islam) di Lampung, tahun 2001, ia menjabat Ketua komunitas seni Lampung (Jakarta-Lampung-Palembang), tahun 2002, ia menjadi staf pengajar seni SMAN 10 Bandarlampung, tahun 2003, menjadi Redaktur Pelaksana buletin Sastra dan Budaya, tahun 2005, ia mengajar Sebagai dosen lepas di Universitas Terbuka Lampung untuk mata kuliah seni musik, tari, dan drama, dan tahun 2006, ia menjadi Ketua Komunitas Sastra Mata Dunia di Lampung. Selain itu, ia pernah menjabat sebagai Koordinator bidang budaya di KNPI cabang Lampung pada kurun waktu 1992—1994. Ia juga pernah menjabat sebagai pengurus Dewan Kesenian Lampung tahun 2002—2004.&lt;br /&gt;Sekitar tahun 1995 hingga 1998, banyak tulisan Edy yang dimuat di surat kabar nasional maupun daerah. Tulisan-tulisan Edy saat itu, banyak menyoroti dunia teater yang ia geluti, seperti yang dilansir Lampung post, Rabu, 27 November 1996 dengan topik “Makyong: Cermin Umum Teater Rakyat”. Kesenian Makyong merupakan pertunjukan yang ditujukan bagi kalangan bangsawan di daerah Riau.&lt;br /&gt;Kepedulian terhadap perkembangan teater di Lampung juga menjadi sasaran Edy untuk berbagi pengalaman. Hal ini tertuang dalam sebuah artikel yang dimuat di Lampung Post, 4 Januari 1997, berjudul “Menatap Wajah Teater Lampung Tahun 1997”. Dalam artikel tersebut, Edy mengatakan bahwa generasi muda teater Lampung saat ini banyak bermunculan, ibarat hujan yang datang saat musim panas. Menurut Edy, pada kurun waktu 1990 hingga 1997, usaha yang dilakukan generasi muda teater Lampung cukup banyak. Ironisnya, usaha mereka menjaga kesemarakan tersebut dilakukan dengan cara merogoh kocek sendiri. Tak sedikit pula pekerja teater yang harus berjalan kaki menuju tempat latihan.&lt;br /&gt;Tanggapan atas proses kreatif Edy Samudra Kertagama dikemukan oleh Naim Emel Prahana melalui Lampung Ekspress, Senin, 30 Desember 2002. Menurut Naim, Edy dalam buku Nyanyian Sunyi yang diterbitkan oleh Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR, tahun 2002, banyak menyoroti masalah-masalah sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Gaya penulisan Edy yang keras, menukik tajam, dan berkesimpulan diperlihatkan dalam menulis puisi. Edy mencoba untuk menelanjangi arti kehidupan yang ada, berusaha memberikan kesadaran ke depan dari apa yang terjadi saat ini. Permasalah-permasalah itu dengan tegas diungkapkan Edy melalui puisi “Sajak Nyai Rossina”, “Perempuan di Cakrawala”, dan  “Sajak Tuna Netra”.&lt;br /&gt;Dalam puisi “Hutanku Luka”, ia menggambarkan betapa berkuasanya orang-orang yang mempunyai uang, jabatan, kedudukan, sampai kekuasaan, menginjak-nginjak orang-orang yang tak mempunyai status hebat, seperti yang tersirat pada bait berikut ini, “kaki kasar berjalan di atas rumput hijau // menggeleparlah rumput-rumput // batu terlempar dan kepalan tangan // merintihlah hewan di atasnya // matilah ia”.&lt;br /&gt;Dalam puisi tersebut, Naim Emel Prahara melihat Edy sebagai sosok yang sangat objektif, riil dan alami memberikan gambaran kehidupan masyarakat pada saat ini, kemudian melalui keterampilannya menyusun dan menulis kosakata yang tidak sulit untuk ditebak, “asal” dan “muaranya”.&lt;br /&gt;Puisi-puisi Edy memang sudah mempunyai ciri yang khas, format, cerita dan tujuan arah alam yang dimasukinya. Ciri yang demikian menurut Naim adalah milik para seniman murni, seniman yang dibesarkan berdasarkan hati nuraninya, semakin kental ia memasuki wilayah sosial, semakin kental pula kesadarannya untuk membela kaum yang lemah, seperti yang tertuang dalam puisi “Aku Kekasih Junaenah”. &lt;br /&gt;Syaiful Irba Tanpaka, Bandarlampung News No. 34 Tahun 23—29 Januari 2003, menanggapi puisi “Plong” dan “Nyanyian Sunyi” karya Edy Samudra Kertagama. Manusia selalu memiliki harapan-harapan baru untuk mengaktualisasikan diri untuk memelihara dan mempertahankan daya kehidupannya. Menurut Syaiful, puisi-puisi Edy Samudra Kertagama tampil dengan tema yang bersahaja, pemilihan kata (diksi) cukup cermat, fenomena-fenonema sosial tentang tragedi kekerasan, ketidakadilan, dan nasib kaum marjinal yang terpinggirkan.&lt;br /&gt;Dalam puisi kumpulan “Nyanyian Sunyi” yang diterbitkan Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR, Edy belum menampakkan capaian puitik yang maksimal. Meskipun secara tematik cukup bersahaya dalam menyentuh realitas realitas kekerasan yang mengepung eksistensi perempuan. “Aku Kekasih Junaenah” dan “Tragedi Sapri” mengungkapkan maksudnya dalam bahasa denotatif, tapi pemilihan diksi lebih terjaga. Demikian pula idiom-idiom yang digunakan cukup membangun kekuatan isi dan pesan didalamnya.&lt;br /&gt;Tanggapan Saiful Irba Tanpaka Dalam Buku Antologi Puisi Sajak-Sajak Embun Putih “Sajak Pendek Dengan Makna Yang Panjang”. Membaca sekumpulan sajak pendek Edy Samudra Kertagama dalam antologi Embun Putih, saya terngiang-ngiang akan tradisi haiku. Haiku adalah sebutan sajak-sajak pendek dalam khazanah sastra Jepang yang berkembang pada abad 17. Haiku merupakan gambaran totalitas pribadi seorang penyair sebagai buah kontemplasi terhadap berbagai persoalan kehidupan. Dengan biografinya sebagai penyair, Syaiful Irba Tanpaka meyakini bahwa Edy Samudra Kertagama mempunyai bekal yang cukup kuat untuk menulis sajak-sajak pendek. Dalam buku antologi puisi Embun Putih Edy Samudra Kertagama menyodorkan beragam tema yang bersahaja. Tema religius juga dihadirkan Edy Samudra Kertagama dalam “Malam”, “Hujan turun tengah malam / mata hitam mencari mangsa / namun, Tuhan melihatnya. Menikmati sajak-sajak Edy Samudra Kertagama dapat memperkaya wawasan kita mengenai keanekaragaman bentuk sajak itu sendiri. Berikut ini beberapa karya Edy Samudera Kertagama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puisi&lt;br /&gt;1) Antologi Puisi Sajak-Sajak Pendek Embun Putih, Lembaga Deklamasi Lampung, Lampung, 1997.&lt;br /&gt;2) Antologi kumpulan puisi Nyanyian Sunyi, Lambaga Advokasi Damar, Lampung, 2002.&lt;br /&gt;3) Antologi kumpulan puisi Kering (1997).&lt;br /&gt;4) Antologi puisi bersama Jung, Dewan Kesenian Lampung, &lt;br /&gt;5) Antologi puisi bersama penyair Lampung Senandung Penyair Lampung (Festival Penyair Lampung).&lt;br /&gt;6) Antologi bersama Cetik (DKL).&lt;br /&gt;7) Antologi bersama Wajah (1997).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pementasan Drama yang disutradarai Oleh Edy Samudra Kertagama&lt;br /&gt;1) “Gempa” karya B. Soelarto (1987), &lt;br /&gt;2) “Pijar-Pijar Krakatau” (1987), &lt;br /&gt;3) “Satu Lawan Sebelas” karya Alfred Hithcok (1988), &lt;br /&gt;4) “Rumah Kertas” karya N. Riantiarno (1998).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Esai &lt;br /&gt;1) “Makyong: Cermin Umum Teater Lampung”, Lampung Post, Rabu 27 November 1996.&lt;br /&gt;2) “Menatap Wajah Teater Lampung Tahun 1997”, Lampung Post, Sabtu 4 Januari 1997.&lt;br /&gt;3) “Teater Kita Masih Seperti Sabun Mandi”, Lampung Post, Sabtu 1 Maret 1997.&lt;br /&gt;4) “Hilang Lahan Teater, Hilang Lahan Kreativitas”, Lampung Post, Sabtu 17 Mei 1997.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-720710861206805260?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/720710861206805260/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=720710861206805260' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/720710861206805260'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/720710861206805260'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/edy-samudra-kertagama.html' title='Edy Samudera Kertagama'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-842644991424132494</id><published>2008-11-18T22:45:00.002-08:00</published><updated>2008-12-21T22:33:01.060-08:00</updated><title type='text'>Djuhardi Basri</title><content type='html'>D&lt;br /&gt;juhardi Basri lahir di Kotabumi, 27 November 1960. Ia adalah ulun (orang) Lampung asli. Putra dari pasangan H. Basri K.A. dan Hj. Nurhayati menghabiskan masa kecilnya di kota kelahirannya. &lt;br /&gt;Masa sekolah Djuhardi dari tingkat SD hingga SMA ia selesaikan di Lampung, setelah itu ia melanjutkan pendidikannya di Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Negeri Sebelas Maret. Ia sempat juga kuliah di Fakultas Sosial Politik Universitas Slamet Riyadi, Solo. Namun, tidak diselesaikannya.&lt;br /&gt;Semasa kuliah, Djuhardi banyak bersentuhan dengan karya-karya puisi Prancis. Ketekunannya dalam membaca puisi-puisi terjemahan tersebut membuatnya terinspirasi dalam menulis karya-karyanya sendiri. Menurutnya, berpuisi adalah menangkap kata-kata yang menggetarkan sehingga diksi menjadi suatu unsur yang sangat penting dalam menciptakan puisi. &lt;br /&gt;Kegemarannya bersastra membuahkan hasil salah satunya yaitu, Djuhardi pernah mewakili Solo pada ajang Forum Puisi Indonesia 1987 yang diadakan oleh Dewan Kesenian Jakarta. &lt;br /&gt;Di bangku kuliah pula, Djuhardi aktif berkarya di bidang sastra dan teater. Pada tahun 1982, ia bergabung dengan Teater Gidag-Gidig, Solo. Kegemarannya berteater membuatnya rajin berlatih dan aktif mengikuti berbagai pentas teater. Djuhardi  pernah bergabung bersama Teater Keliling Jakarta dan berpentas dari kampus ke kampus mengelilingi pulau Jawa.&lt;br /&gt;Pada tahun 1987, Djuhardi bersama beberapa rekan di kampusnya mendirikan Teater Sastra di Fakultas Sastra dan Filsafat, Universitas Negeri Sebelas Maret. Ia beranggapan dengan berdirinya teater ini akan semakin menggairahkan kehidupan kesenian di kampus dan berpotensi memunculkan bakat-bakat baru. Djuhardi bergiat menghidupkan kegiatan teater ini seiring dengan kuliahnya yang terus berjalan. Salah satu yang cukup membanggakannya adalah kenyataan bahwa teater kampus ini masih berdiri hingga sekarang.&lt;br /&gt;Selain berpentas memerankan karya-karya orang lain, Djuhardi juga menulis dan menggarap naskah teater. Lakon teater yang diciptakannya adalah Matahari Kembar, Pertiwi (Sebuah Luka yang Membusuk), Labirin 1, Labirin 2, Armageddon 1, Armageddon 2, Demokrasi Kaki Lima, Bilal Bin Rabah, dan Ibrahim Singa Padang Pasir. Naskah Bilal Bin Rabah membawanya meraih peringkat ke-4 pada Festival Anak Saleh Nasional di Jakarta dengan menyutradarai karyanya sendiri. &lt;br /&gt;Kecintaannya pada kesusastraan membuatnya sangat produktif dalam menciptakan karya-karya sastra. Karya-karya Djuhardi antara lain, manuskrip yang sederhana, yaitu Langgam Kesunyian (1992), Peta Yang Terbakar (1994), Dzikir Semesta (1995), dan Catatan Bahasa Manusia. Puisi-puisi Djuhardi juga tergabung dalam antologi bersama seperti Konstruksi Roh, Warna-Warna Roh, Ziarah Ekstase dan Kota Tuhan, Potret Manusia, Upacara kamar, Festival Puisi XII-XIV (PPIA Surabaya), Festival Januari, Jung, Dari Bumi Lada, Kebangkitan Nusantara II dan Konser Penyair Ujung Pulau (DKL, Januari 1995). &lt;br /&gt;Selain itu, puisi-puisi Djuhardi juga dimuat di berbagai media cetak, diantaranya Suara Pembaruan, Berita Buana, Republika, Swadesi, Suara Merdeka (Semarang), Bernas (Yogyakarta), Trans Sumatera, Lampung Post, dan lain-lain.  &lt;br /&gt;Setelah berkelana selama bertahun-tahun di Pulau Jawa, Djuhardi kembali ke kampung halamannya pada tahun 1990. Ia pulang dengan membawa “buah tangan” yaitu istri yang dinikahinya. Djuhardi menikah dengan Hariyanti dan dikaruniai empat orang anak. Kembalinya Djuhardi ke Lampung, membawa harapan besar ingin membangun kesenian di kampung halamannya. Ia mulai berkiprah dan bergabung dengan sesama sastrawan di Lampung. &lt;br /&gt;Pada tahun berikutnya, Djuhardi dan istrinya mengabdikan diri dengan menjadi staf pengajar di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan Muhammadiyah Kotabumi. Di tempatnya mengajar, Djuhardi tetap bergiat dalam mengajarkan puisi dan teater. Ia mendirikan sanggar sastra dan teater yang dinamakannya Sanggar Kreativitas Mahasiswa Muhammadiyah Kotabumi (Sangkar Mahmud).&lt;br /&gt;Sebagai orang Lampung asli, Djuhardi memberikan perhatian khusus bagi perkembangan sastra tradisional Lampung. Djuhardi mengingatkan bahwa sastra tradisional Lampung adalah salah satu yang mendasari sejarah rakyat Lampung. Menurutnya, naskah-naskah klasik tersebut menjadi cerminan masa lalu Lampung. Untuk itu, sastra tradisional patut diperhatikan keberadaannya. &lt;br /&gt;Seiring dengan berjalannya usia, Djuhardi berusaha menularkan ilmunya terhadap generasi muda yang diasuhnya. Baginya, sangat penting agar generasi muda turut berkarya menghidupkan kesastraan di Lampung. Apalagi, Lampung dengan keragaman etnis memiliki budaya yang khas, yang tidak dijumpai di daerah lain. &lt;br /&gt;Saat ini generasi muda Lampung kebanyakan sudah lupa akan adat istiadat Lampung, sehingga pelestarian sastra tradisional dan adat serta tradisi Lampung menjadi penting baginya sebagai ulun Lampung.   &lt;br /&gt;Selain itu, Lampung cukup produktif dalam mencetak sastrawan-sastrawan muda dan pemerintah daerah Lampung juga turut berpartisipasi dalam membina kegiatan kesenian dan kesastraan di Lampung.&lt;br /&gt;Djuhardi sendiri pernah aktif berkiprah di Dewan Kesenian Lampung. Ia pernah mengikuti berbagai kegiatan yang diadakan DKL, salah satunya ia pernah meraih predikat sebagai sutradara terbaik pada festival teater yang diadakan oleh Dewan Kesenian Lampung. Saat ini ia aktif di Dewan Kesenian Lampung Utara dan kegiatan yang sedang ditekuninya adalah mengajar puisi dan drama serta menggarap berbagai naskah sastra dan teater bersama sanggar yang dibinanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-842644991424132494?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/842644991424132494/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=842644991424132494' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/842644991424132494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/842644991424132494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/djuhardi-basri.html' title='Djuhardi Basri'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-8547765488338578557</id><published>2008-11-18T22:45:00.001-08:00</published><updated>2008-12-21T22:35:23.205-08:00</updated><title type='text'>Dewan Kesenian Lampung</title><content type='html'>Dewan Kesenian Lampung merupakan lembaga yang menjadi penghubung antara Pemerintah Daerah Lampung dan seniman Lampung. Pendirian Dewan Kesenian Lampung merupakan tindak lanjut dari instruksi Menteri Dalam Negeri No. 5.A tahun 1993 agar Gubernur dan Bupati/Walikota seluruh Indonesia membentuk Dewan Kesenian di daerahnya masing-masing. Oleh karena itu, pada 9 September 1993, Dewan Kesenian Lampung (DKL) didirikan. Drs. H. Indra Bangsawan selaku Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Lampung dipercaya oleh para seniman Lampung untuk menjadi ketua DKL yang pertama.&lt;br /&gt;Pada awal berdirinya, DKL belum memiliki gedung sendiri. Atas rekomendasi Gubernur Lampung saat itu, Poedjono Pranyoto, GOR Saburai dijadikan sebagai kantor DKL. Setelah beberapa tahun berkantor di GOR Saburai, DKL pindah dan menempati ruang pameran yang ada di kawasan Taman Budaya Lampung. Kini, DKL berkantor di GOR Wayhalim. Pindahnya kantor DKL dari satu tempat ke tempat yang lain tidak menyurutkan semangat para seniman Lampung untuk terus berkarya.&lt;br /&gt;Sejak awal berdiri, DKL sudah dihadapkan dengan berbagai macam persoalan, seperti minimnya dana dan apresiasi seniman yang tak terbendung. Namun seiring berjalannya waktu, masalah itu bisa teratasi dan DKL saat ini, benar-benar menjadi “rumah” bagi para seminan Lampung. Berbagai macam kegiatan yang bersuasana seni pernah dilaksanakan oleh DKL. Kegiatan yang rutin dilaksanakan setiap tahun oleh DKL adalah Krakatau Award. Kegiatan itu pertama kali diadakan pada tahun 2002.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus DKL Periode 1993—1996 &lt;br /&gt;Ketua Umum : Indra Bangsawan&lt;br /&gt;Ketua Harian : Iwan Nurdaya Djafar&lt;br /&gt;WakilKetua : Igoen Gunarno&lt;br /&gt;   Sugandhi Putra&lt;br /&gt;Sekretaris : Syaiful Irba Tanpaka&lt;br /&gt;Sekretaris I : Titik Nurhayati&lt;br /&gt;Sekretaris II : Bandarsyah&lt;br /&gt;Bandahara I : A. M. Zulkarnain CH.&lt;br /&gt;Bendahara II : Deasy Mahendrawati&lt;br /&gt;Komite Sastra : Isbedy Stiawan ZS.&lt;br /&gt;Komite Teater : Pramudya Muchtar&lt;br /&gt;Komite Seni Rupa : Dana E. Rahmat&lt;br /&gt;Komite Seni Tari : Hari Jayaningrat&lt;br /&gt;Komite Musik : Bagus S. pribadi&lt;br /&gt;Komite Film : Maspril Aries&lt;br /&gt;Komite Seni Tradisional : Hafizi Hasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus DKL Periode 1996—2001 &lt;br /&gt;Ketua Umum : Drs. Hj. Indra Bangsawan&lt;br /&gt;Ketua Harian : Iwan Nurdaya Djafar, S.H.&lt;br /&gt;Ketua I : Arie S. Muchtar&lt;br /&gt;Ketua II : Harry Jayaningrat&lt;br /&gt;Ketua III : Andrian Troe&lt;br /&gt;Sekretaris Umum : Syaiful Irba Tanpaka&lt;br /&gt;Sekretaris I : Christian Heru Cahyo Saputro&lt;br /&gt;Sekretaris II : Yuli Ambarwati &lt;br /&gt;Bandahara  : Hasanuddin Z. Arifin&lt;br /&gt;Komite Teater            : Ucok Hutasuhut&lt;br /&gt;Komite Sastra            : Isbedy Stiawan ZS&lt;br /&gt;Komite Musik            : Bagus S. Pribadi&lt;br /&gt;Komite Tari            : Hari Jayaningrat&lt;br /&gt;Komite Film            : Iwan Nurdaya Djafar&lt;br /&gt;Komite Seni Rupa                 : Joko irianto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus DKL Periode 2002—2004 &lt;br /&gt;Ketua Umum : Drs. Hj. Herwan Achmad&lt;br /&gt;Ketua Harian : Syaiful Irba Tanpaka, S.Sos.&lt;br /&gt;Ketua I : Isbedy Stiawan ZS&lt;br /&gt;Ketua II : Darmawan SC, S. Pd.&lt;br /&gt;Ketua III : Hermasyah GA&lt;br /&gt;Sekretaris Umum : Hari Jayaningrat, S.Sos.&lt;br /&gt;Bandahara  : Bagus S. Pribadi&lt;br /&gt;Komite Sastra : Ari Pahala Hutabarat, S.Pd.&lt;br /&gt;Komite Teater : Ucok Hutasuhut&lt;br /&gt;Komite Film : Sri Jalu MAmpang&lt;br /&gt;Komite tari : Dra. Nani Rahayu&lt;br /&gt;Komite Seni Rupa : Yen Djunaidi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus DKL Periode 2005—2008 &lt;br /&gt;Ketua Umum : Drs. Hj. Herwan Achmad&lt;br /&gt;Ketua Harian : Syaiful Irba Tanpaka, S.Sos.&lt;br /&gt;Sekretaris : Ucok Hutasuhut&lt;br /&gt;Bandahara  : Nur Tisya, S.Kom.&lt;br /&gt;Ketua Bidang Program : Isbedy Stiawan ZS (bidang sastra-teater)&lt;br /&gt;Komite Sastra : Drs. Budi P. Hutasuhut&lt;br /&gt;Komite Teater : Abdul Salam Nasrudin&lt;br /&gt;Komite Film : Firdaus Rusmil, A. Md.&lt;br /&gt;Komite Tari : Dra. Djuwita Novrida&lt;br /&gt;Komite Tradisi : Riagus Ria, S.E.&lt;br /&gt;Komite Musik : Eldy Alfrudi, S. Sn.&lt;br /&gt;Komite  Seni Rupa : Yudiana, S. Pd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Susunan Pengurus DKL Periode 2007—2010 &lt;br /&gt;Ketua Umum : Syafariah Widianti, S.H., M.H.&lt;br /&gt;Ketua Harian : Syaiful Irba Tanpaka, S.Sos.&lt;br /&gt;Sekretaris Umum : Hari Jayaningrat, S.Sos.&lt;br /&gt;Wakil Sekretaris : Ardi Umum, S.I.P.&lt;br /&gt;Bandahara  : Nur Tisya, S.Kom.&lt;br /&gt;Ketua Bidang I : Isbedy Stiawan ZS (bidang sastra-teater)&lt;br /&gt;Ketua Bidang II : Hermansyah G.A. (bidang film-seni-tradisi)&lt;br /&gt;Ketua bidang III : Dana E. Rahmat, S.E. (bidang musik dan seni rupa)&lt;br /&gt;Ketua Litbang : Dr. Khaidarmansyah, S.H., S.Pd.&lt;br /&gt;Ketua Komite Seni Sastra : Ari Pahala Hutabarat, S.Pd.&lt;br /&gt;Ketua Komite Seni Tari : A. Zialin, S.E.&lt;br /&gt;Ketua Komite Seni Film : Firdaus Rusminil, A.Md.&lt;br /&gt;Ketua Komite Seni tari : Dra. Djuwita Novrida&lt;br /&gt;Ketua Komite Seni Tradisi : Syapril Yamin&lt;br /&gt;Ketua Komite Seni Musik : Entus Alfari&lt;br /&gt;Ketua Komite Seni Rupa : Drs. Ch. Sapto Wibowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lintas Kegiatan:&lt;br /&gt;- Dari tahun 2002—2005 mengadakan Krakatau Awards.&lt;br /&gt;- Komite teater pada tahun 2003 menggelar temu teater kampus.&lt;br /&gt;- Komite film memproduksi film berjudul “Orang Nayah Agum”, dalam bahasa Indonesia berarti Orang Banyak Mau, mengangkat lakon berlatar cerita rakyat Menggala.&lt;br /&gt;- Pesta Kesenian Lampung (25—29 Agustus 2005). Kesenian yang digelar pada acara ini seperti; Zikir baru, Pisaan, Ngehidu, Gitar klasik, Ringgel, Muayak, Wawacan dan Warahan.&lt;br /&gt;- Lampung Arts Festival (Festival Kesenian Lampung) tanggal 6—11 Januari 2003. Acara tersebut menampilkan enam rumpun seni teater; film, sastra, tari, musik, dan seni rupa. Untuk teater menghadirkan dua grup teater, yaitu teater KOAS (Jakarta) dan teater SAKU (Palembang). Untuk film menghadirkan festival film independent dan pemutaran pendek: “Bujang Hapuk” Rentan DKL. Puisi mengedepankan Festival Penyair Ujung Pulau yang diikuti 25 penyair, di antaranya: Afrizal Malna, Edy A. Efendi, Nur Zam Hoe, Oyos Saroso HN, Syaiful Irba Tanpaka, dll. Untuk seni rupa memajang 60 karya pelukis dari 30 perupa dan 20 foto dari 5 fotografer.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-8547765488338578557?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/8547765488338578557/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=8547765488338578557' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8547765488338578557'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8547765488338578557'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/dewan-kesenian-lampung.html' title='Dewan Kesenian Lampung'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-4880992483342608481</id><published>2008-11-18T22:43:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:36:13.805-08:00</updated><title type='text'>Dahta Gautama</title><content type='html'>Rabu, 24 Oktober 1974, di sebuah desa kecil yang bernama Hajimena, Kecamatan Natar, Lampung Selatan, merupakan hari yang berbahagia bagi pasangan Saleh Nur dan Kartiah, S.N., karena pada hari itu telah lahir anak laki-laki yang kemudian di beri nama Dahta Gautama.&lt;br /&gt;Ayah Dahta adalah orang yang terpandang di desanya, karena saat itu ekonomi keluarganya bisa dibilang ekonomi menengah ke atas. Selain berdagang, ia juga mempunyai usaha transportasi yang saat itu bisa dibilang menguntungkan. Namun, ketika Dahta duduk di bangku kelas IV SD, usaha ayahnya mengalami kemunduran dan akhirnya bangkrut. Kejadian tersebut membuat hidup Dahta dan keluarganya berubah. Hal tersebut lambat laun membuat pribadi Dahta berubah, ia cenderung tertutup dan lebih sering menyendiri. Saat itu untuk mengisi kesendirian, Dahta sering memancing ikan di sungai dekat rumahnya. Setiap pulang sekolah, Dahta kecil langsung bergegas pergi ke kali dengan membawa peralatan pancing milik ayahnya. Saat itu, ia enggan sekali berbicara, baik dengan teman-temannya maupun dengan saudara-saudara kandungnya. Namun hal itu tidak bertahan lama, ia merasa bosan dengan aktivitas memancingnya. Membaca menjadi pengganti kebiasaannya memancing. Ibunda Dahta yang juga gemar membaca, mempunyai beberapa koleksi novel seperti Mira W. dan Marga T. Dari situlah Dahta mulai gemar membaca karya sastra. Dahta sangat menikmati hobi barunya dan membuat ia sering mengunjungi perpustakaan daerah. Buku memang menjadi teman akrab Dahta saat itu, buku juga yang mengisi hari-hari Dahta dalam kesepiannya.&lt;br /&gt;Ketika memasuki bangku SMP tahun 1985, Dahta masih menjadi pribadi yang pendiam dan bisa dibilang kurang pergaulan. Jika waktu istirahat tiba, ia lebih memilih pergi ke perpustakaan untuk membaca dan menulis puisi daripada duduk-duduk di kantin. Saat itulah yang menjadi titik awal kecintaan Dahta terhadap sastra. Ketika berada di perpustakaan sekolah atau di rumah, Dahta sering menulis puisi tentang kesendiriannya. &lt;br /&gt;Tahun 1988, saat memasuki bangku SMA, sifat pendiamnya belum juga hilang. Namun, di jenjang ini merupakan masa pendalaman Dahta terhadap puisi. Ia sering membaca puisi-puisi sastrawan terkenal seperti Kahlil Gibran dan Seamus Heaney. Tidak jarang juga ia membaca karya-karya sastrawan Indonesia seperti, Subagjo Sastrowardojo, Sitor Situmorang, Sapardi Djoko Damono, Iwan Simatupang, Budi Darma dan Umar Kayam. Selain membaca buku sastra, Dahta juga mulai menggemari filsafat, seperti karya Albert Camus, Rene Descartes, Socrates, Plato, Aristotales. Membaca filsafat  sedikit memengaruhi terhadap gaya penulisan Dahta.&lt;br /&gt;Setelah lulus dari SMA, Dahta melanjutkan ke Universitas Negeri Bengkulu, jurusan Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Untuk membiayai biaya kuliah, Dahta bekerja di perusahaan CPO Agri Andalas, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perkebunan dan pabrik kelapa sawit. Selain itu, ia juga bekerja di harian Semarak Post. Di koran itulah Dahta berani memublikasikan karyanya untuk pertama kali. Puisi “Ketika Aku Mempersunting Sepi” mempunyai kesan tersendiri bagi Dahta. Puisi itu diilhami oleh ketidakhadiran orang tuanya saat Dahta diwisuda. &lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan studinya di Bengkulu, ia pun kembali ke Lampung. Baru setahun di Lampung, tahun 1998, ia dikirim oleh CPO Agri Andalas, perusahaan tempatnya bekerja, ke Jepang dalam rangka penelitian. Setahun kemudian, Dahta pulang ke Lampung dan kembali menggeluti bidang jurnalistik.&lt;br /&gt;Tahun 1997, Dahta bertemu dengan Mila Maharani, gadis kelahiran Tanjungkarang, 5 Februari 1973, saat acara reuni SMA.  Setelah pertemuan itu, mereka sering berkomunikasi. Mila memang seorang teman yang setia saat itu. Ketika Dahta berada di rumah sakit jiwa akibat depresi mental, Mila selalu setia menemani Dahta. Awalnya Mila menolak saat diajak menikah dengan Dahta, karena saat itu Mila sedang memiliki kekasih. Sejalannya waktu, Tuhan Yang Maha Esa kembali mempertemukan mereka. Pada 11 Maret 1999, mereka melanjutkan hubungan dalam ikatan perkawinan. Dengan memakai adat Lampung, resepsi pernikahan dilakukan di kediaman orang tua Dahta.&lt;br /&gt;Setahun kemudian, tepatnya 6 Desember 2000, istri Dahta melahirkan anak pertamanya, Savitri Gautama. Kehadiran anak pertama memberikan semangat kepada Dahta untuk lebih berkarya. Kebahagiaan kembali menyelimuti keluarga Dahta karena 9 Mei 2002, Dahta dan Mila dianugerahi anak laki-laki, Bima Dwi Gautama.&lt;br /&gt;Dahta mengenal sastra lebih dalam sekitar tahun 1993. Ia belajar sastra secara otodidak. Pengalaman hidup, seperti keadaan yang perih dan sakit karena kemiskinan yang melanda keluarganya, menjadi inspirasi utama dalam penciptaan puisi-puisinya. Kehadiran istri dan kedua anaknya juga berperan besar terhadap karyanya yang dibuatnya.&lt;br /&gt;“Aku menulis maka aku ada” merupakan prinsip hidup Dahta yang meminjam adagium seorang filsuf Rene Descartea, “Cogito Ergo Sum” yang berarti aku berpikir maka aku ada. Oleh karena itu, Dahta mengisi hari-harinya dengan menulis. Baginya, menulis merupakan mata pencaharian sekaligus wadah untuk menuangkan pengalaman hidup.&lt;br /&gt;Puisi-puisi yang ia tulis dalam kurun waktu 1986—1996 dianggap sebagai proses pembelajaran dalam berpuisi. Sembilan tahun kemudian, Dahta membuat antologi puisi tunggal pertamanya yang berjudul Menjadi Camar dan diterbitkan oleh Logung Pustaka. Dalam buku tersebut, terangkum puisi yang ia tulis dalam kurun waktu 1998—2005. &lt;br /&gt;Metamorfosis Kematian adalah antologi puisi Dahta Gautama kedua yang diterbitkan oleh Insist Press. pada Oktober 2006 dengan oplah terbatas.&lt;br /&gt;Dalam berproses kreatif, Dahta tidak terlalu terpaku oleh waktu dan tempat dalam mendapatkan ide. Sastra menurut Dahta adalah mata angin dan mata hidup, dan ada semacam keselarasan batin yang paling dalam ketika menulis sebuah karya sastra. &lt;br /&gt;Pada tanggal 13 Mei 2003, Dahta mendirikan komunitas Mata Angin. Komunitas ini didirikan untuk menampung karya-karya dari para penulis pendatang baru. Sistem yang ditawarkan Dahta dalam komunitas ini tidak bersifat mengikat. Anggota komunitas ini umumnya penulis muda yang dituntut berperan aktif dan produktif.&lt;br /&gt;Tahun 2006 Dahta hijrah ke Jakarta dan menjadi redaktur politik pada surat kabar Metro Indonesia. Ia pun tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung ke Dewan Kesenian Jakarta untuk menyimak perkembangan kesastraan yang ada di Jakarta. Ia banyak bertemu dengan para sastrawan, salah satunya adalah Djenar Mahesa Ayu. Dahta sering berdiskusi dengan bertukar pikiran dan pengalaman dengan Djenar. Dahta juga pernah diundang oleh Maman S. Mahyana, seorang penyair Jakarta, untuk membacakan puisi-puisinya di Jurusan Sastra Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Dalam kesempatan itu, Maman S. Mahyana berpendapat bahwa puisi Dahta sesuai dengan karakteristik dan kepribadian Dahta serta mempunyai keciri-khasan tersendiri. “Dahta mampu mengekspresikan jiwa, perasaan, pengalaman batin dan lahirnya dalam kata-kata yang dituangkan dalam wujud puisi,” tambah Maman.&lt;br /&gt;Berikut ini sebagian karya Dahta Gautama yang diterbitkan dalam bentuk buku atau pun pernah dimuat di media massa. &lt;br /&gt;1. Puisi&lt;br /&gt;1) “Bulan Madu”, Lampung Post, Minggu 12 Maret 2006.&lt;br /&gt;2) “Bulan Madu II”, Lampung Post, Minggu 12 Maret 2006.&lt;br /&gt;3) “Dunia Sunyi III”, Lampung Post, Minggu 12 maret 2006.&lt;br /&gt;4) “Mata Sunyi IV”, Lampung Post, Minggu 12 Maret 2006.&lt;br /&gt;5) Dian Sastro For President, End of Trilogy (antologi bersama) Insist Press, 2004.&lt;br /&gt;6) Perjamuan Senja-Cakrawala Indonesia (antologi bersama) DKJ, September 2005.&lt;br /&gt;7) Gerimis (dalam Lain Versi), Logung Pustaka-DKL, April 2005.&lt;br /&gt;8) “Ekstase Daun”, Republika, 19 November 2006.&lt;br /&gt;9) “Metamorfosis Desa”, Republika, 19 November 2006.&lt;br /&gt;10) “Amsal, Seorang Penyair”, Republika, 19 November 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cerpen&lt;br /&gt;1) “Perempuan Bersayap Belati”, Metro Indonesia, 5 November 2006.&lt;br /&gt;2) “Cut Sirah”, Metro Indonesia dan Dinamika Lampung, 2006.&lt;br /&gt;3) “Gila”, Lampung Post dan Dinamika Lampung, 2006.&lt;br /&gt;4) “Pulang”, Lampung Post dan Dinamika Lampung, 2004.&lt;br /&gt;5) “Aku dan Perempuan Pemanah Matahari”, Dinamika Lampung, 2005.&lt;br /&gt;6) “Sungai di Mata Istriku”,Lampung Post dan Dinamika Lampung, 2003.&lt;br /&gt;7) “Meniti Pelangi”, Lampung Post dan Dinamika Lampung, 2005.&lt;br /&gt;8) “Aku Pergi ke Dunia Mimpi”, Lampung Post dan Dinamika Lampung, 2005.&lt;br /&gt;9) “Perih”, Lampung Post dan Dinamika Lampung, 2004.&lt;br /&gt;10) “Di Mata Ibu Ada Embun”, Dinamika Lampung, 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Esai&lt;br /&gt;1) “Puisi Generik Dalam Antologi”, Metro Indonesia, 2006.&lt;br /&gt;2) “Kebudayaan Modern yang Gagap”, Jawa Post, 2005.&lt;br /&gt;3) “Penyair, Tuhan bagi Puisinya”, Republika, 2006.&lt;br /&gt;4) “Kiblat Puisi dalam Puisi Indonesia”, Lampung Post, 2006.&lt;br /&gt;5) “Menelaah Kembali Manusia dalam Puisi”, Riau Post, 2005.&lt;br /&gt;6) “Sastra Profetik dalam Arus Globalisasi: Membaca Sajak Rahmatiah”, Dinamika, 2006.&lt;br /&gt;7) “Melacak Jejak Kepenyairan Lampung”, Lampung Post dan Dinamika Lampung, 15 Januari 2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-4880992483342608481?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/4880992483342608481/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=4880992483342608481' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/4880992483342608481'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/4880992483342608481'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/dahta-gautama.html' title='Dahta Gautama'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-3729071513600407656</id><published>2008-11-18T22:39:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:37:08.887-08:00</updated><title type='text'>Bandung</title><content type='html'>Bandung dalam masyarakat Lampung, terdapat pada acara ngadiyo, yaitu upacara cangget atau tarian yang dilakukan oleh bujang gadis. Sambil menari mereka berbandung atau pantun bersahut. Pantun bersahut ini sebagai ungkapan rasa hati di kalangan mulei meranai atau bujang gadis melalui bahasa kiasan. biasanya dilakukan pada saat pengajian karena isinya berupa keimanan dan fiqih.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-3729071513600407656?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/3729071513600407656/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=3729071513600407656' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3729071513600407656'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/3729071513600407656'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/bandung.html' title='Bandung'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-2588681147817503455</id><published>2008-11-18T22:37:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T22:58:39.146-08:00</updated><title type='text'>Budi P. Hatees</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNkJEd6ygI/AAAAAAAAACM/IpUmvjN1L6A/s1600-h/DSCF0714.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNkJEd6ygI/AAAAAAAAACM/IpUmvjN1L6A/s320/DSCF0714.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274669695561812482" /&gt;&lt;/a&gt;Nama Budi P. Hatees lebih dikenal di dunia tulis-menulis dibandingkan nama aslinya Budi Parlindungan Hutasuhut. Budi P. Hatees dilahirkan di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, pada 3 Juni 1970. Budi, anak kedua dari enam bersaudara pasangan Rencong P. Hutasuhut dan Nurhayati S. Nainggolan, banyak menghabiskan masa kecilnya di Sipirok.&lt;br /&gt;Sipirok dengan segala keindahan alamnya telah membuat Budi jatuh cinta kepada sastra. Kecintaan Budi dengan sastra bermula ketika Budi penasaran dengan satu desa yang bernama Desa Labu Jelok. Desa Labu Jelok yang disebut-sebut dalam roman Azab dan Sengsara (Balai Pustaka, 1921) karya Merari Siregar kebetulan berdekatan dengan desa tempat Budi tinggal, Desa Hutasuhut. Untuk menghilangkan rasa penasarannya itu, Budi berkunjung ke desa tersebut. Ketika tiba di sana, Budi terkesima. Desa Labu Jelok yang digambarkan dalam Azab dan Sengsara sama seperti apa yang dilihatnya. Kunjungan Budi ke desa itulah yang membuat dirinya bercita-cita untuk menulis sebuah cerita yang berlatar kampung halamannya. Selain itu, sastrawan-sastrawan besar yang lahir di sana, seperti Merari Siregar, dua bersaudara Sanusi dan Armijn Pane serta pamannya sendiri, Bokor Hutasuhut, juga ikut memacu Budi untuk terjun ke dunia sastra.&lt;br /&gt;Selain faktor lingkungan, faktor keluarga juga mempunyai peran besar menyulut keinginan Budi untuk menjadi penulis, terutama sang ibu. Ketika Budi P. Hatees masih kecil, ibunya yang seorang seniman perajin kain adat di daerah Sipirok kerap menyuruh Budi untuk menceritakan kembali semua komik yang telah dibacanya. Selain itu, Budi juga rajin membaca koran Simponi, Swadesi, dan Sinar Harapan. Di koran tersebut, selain memuat informasi undian Sumbangan Dana Sosial Berhadiah (SDSB) atau Porkas yang menjadi alasan utama ayah Budi membeli Simponi, juga memuat karya sastra, seperti puisi dan cerpen.&lt;br /&gt;Kegemaran Budi untuk mencintai sastra makin berkembang ketika dia duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama Negeri Sipirok. Perpustakaan sekolah tempat Budi menimba ilmu mempunyai koleksi karya sastra yang cukup banyak, di antaranya karya Putu Wijaya, Merari Siregar, dan Budi Darma. Budi yang mulai keranjingan sastra merasa waktu di sekolah tidak cukup untuk membaca. Hampir semua buku yang bermuatan sastra pernah dipinjam Budi untuk kemudian dibaca di rumah. Suatu ketika, Budi berkeinginan untuk meminjam novel karya Budi Darma yang berjudul Orang-Orang Bloomington (1950). Sayangnya, Budi tidak diizinkan oleh pustakawan untuk membawa pulang karena koleksi buku itu hanya satu buah. Larangan dari pustakawan sekolahnya itu tidak membuat Budi menyerah begitu saja. Dengan kecerdikannya, Budi merobek beberapa halaman per hari agar dia bisa membaca dan memiliki novel karya Budi Darma itu. Sampai saat ini, sobekan Orang-Orang Bloomington dari halaman pertama sampai terakhir masih tersimpan dengan rapi di rumah orang tuanya.&lt;br /&gt;Kegemaran Budi untuk menulis tidak serta-merta didukung oleh seluruh keluarga. Ayahnya sering kali memarahi Budi ketika dia menulis. Alasannya, Budi selalu memakai perangkat kerja ayahnya, seperti mesin tik dan kertas. Ayahnya yang waktu itu menjabat sebagai lurah di Kelurahan Hutasuhut tidak ingin mesin tik yang digunakan untuk keperluan dinas dipakai untuk hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan tugas kelurahan. Untuk merayu ayahnya, Budi membelikan satu bungkus rokok dengan harapan ayahnya mau meminjamkan mesin tik untuk melampiaskan kegemarannya menulis. Uang yang dibelikan rokok untuk ayahnya itu merupakan hasil jerih payahnya menulis cerpen. Cerpennya yang berjudul “Astuti” dimuat di majalah Anita Cemerlang. “Astuti”, adalah judul yang terinspirasi dari nama teman wanitanya di sekolah. Sayangnya, ayah Budi tetap pada pendiriannya untuk tidak meminjamkan mesin tik untuk keperluan di luar urusan dinas. Namun hal itu tidak menyurutkan niat Budi untuk menulis. Dia tetap memakai mesin tik kepunyaan ayahnya itu pada malam hari. &lt;br /&gt;Sebenarnya, karya Budi yang pertama dimuat di media massa bukanlah cerpen, melainkan puisi. Puisi Budi pertama kali dimuat di koran Demi Massa, sebuah koran yang hanya terbit di daerah Sipirok, berjudul ”Kemarau I”, ”Kemarau II”, ”Kemarau III”, ”Kemarau IV”, dan ”Kemarau V”. Meski tidak mendapat honor, Budi merasa puas karena puisi-puisi tersebut dimuat di koran. Di samping itu, ia mendapatkan kebanggan tersendiri karena dapat menggambarkan kondisi desanya dalam sebuah karya, seperti yang dicita-citakan ketika dia berkunjung ke Desa Labu Jelok.&lt;br /&gt;Karya-karya Budi P. Hatees saat ini tidak jauh berbeda dengan karyanya ketika pertama kali terjun ke dunia tulis-menulis. Hampir dari keseluruhan karyanya merupakan buah kontemplasi terhadap permasalahan yang terjadi di sekelilingnya. Mulai dari diri, lingkungan, budaya sampai politik pernah diluapkan Budi melalui tulisan-tulisannya. ”Sebambangan” cerpen yang bertemakan tentang tradisi pernikahan adat Lampung, ”Becak” sebuah artikel berisi tentang kehidupan tukang becak yang biasa beroperasi di Bandarlampung, ”Membangkitkan Ayah” puisi untuk anaknya, hanyalah sebagian tulisan yang merupakan bentuk kepekaan Budi terhadap lingkungan sekitarnya.&lt;br /&gt;Setelah lulus SMP, Budi P. Hatees melanjutkan di SMAN Sipirok. Sejak masuk SMA, karya-karya Budi, seperti cerpen, sajak, cerita bersambung, dan esai, banyak dimuat di media cetak terbitan Medan, Jakarta, dan daerah lainnya. Beberapa media yang pernah memuat karyanya, seperti Taruna Baru, Waspada, Bintang dan Sport, Sinar Indonesia Baru, Simponi, Riau Pos, Kedaulatan Rakyat, Bali Post, Singgalang, Anita Cemerlang, Mode, Gadis, Ceria, Majalah Keluarga, Citra, Nova, Suara Pembaruan, Jayakarta, Suara Karya, Mutiara, Paron, Swadesi, Majalah Ummi, Annida, Republika, Media Indonesia, Koran Tempo, dan Bisnis Indonesia. Di SMAN Sipirok, kesibukan Budi tidak hanya menulis, dia juga serius berorganisasi di sekolah. Menjadi ketua OSIS SMAN Sipirok merupakan wujud nyata keseriusaannya.&lt;br /&gt;Pada tahun 1991, setelah menyelesaikan studinya di SMA, Budi pindah ke Jakarta untuk melanjutkan studinya di Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi, Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) Jakarta. Institut tersebut didirikan oleh pamannya, A.M. Hutasuhut, bersama wartawan dan sastrawan. Di IISIP, Budi akrab dengan Azhar, seorang penyair yang biasa menulis di Swadesi dan koran-koran yang terbit di Jakarta. Dia juga berkenalan dengan Erwinto Samsunu Aji dan beberapa penulis sastra yang juga mahasiswa IISIP. Pada tahun itu pula, Budi bersama kawan-kawan di Forum Mahasiswa Komunikasi mendirikan Tabloid Format. Akan tetapi, Budi memutuskan meninggalkan kegiatan itu karena kesibukan sebagai wartawan lepas di koran Jayakarta, Suara Pembaruan, Tabloid Paron, dan Suara Karya. Dia juga sempat bekerja sebagai reporter di Majalah INFO BISNIS milik DPP Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI).&lt;br /&gt;Selama di Jakarta, Budi juga aktif mengikuti berbagai kegiatan di bidang kesastraan pada tahun 1994 sampai 1995, di antaranya dengan mengikuti kegiatan di Sanggar Sastra DIHA yang dikelola oleh sastrawan Diha Hadaning. Ketika bergabung dengan sanggar itu, Budi banyak bergaul dengan sastrawan dari berbagai daerah. Sanggar Sastra DIHA memiliki kegiatan sastrawan yang kadang dihadiri sastrawan dari luar Jakarta. Dalam sanggar ini Budi mengenal Diha Hadaning, Endang Supriyadi, Wowok Hesti Prabowo, Nanang Suprihatin, Remi Novaris DM, Slamet Rahardjo Rais, Zacki El Makmur, dll. Dari perkenalannya dengan sastrawan-sastrwan dari luar Jakarta, Budi melakukan pembacaan puisi keliling Pulau Jawa.&lt;br /&gt;Tidak hanya bidang sastra, bidang seni juga digeluti oleh Budi. Salah satunya, ia begabung dengan Perkumpulan Masyarakat Adat Sipirok Jakarta (1992—1995) yang bergiat di bidang seni tradisional. Diperkumpulan adat itu, Budi menjadi penari dan pemukul gendang. Tujuan dari perkumpulan seni tradisional itu ingin mengajak warga keturunan Batak Angkola (Sipirok) yang tinggal di Jakarta agar mengenal adat-istiadat nenek moyangnya. Tari, teater, dan menyanyi menjadi kegiatan rutin perkumpulan adat itu. Perkumpulan tersebut pernah pentas di Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 1993, membawakan ”Gondang Sipirok”.&lt;br /&gt;Pada tahun 1995, Budi kembali ke Medan. Sesampainya di sana, Budi mendaftar sebagai mahasiswa di Fakultas Dakwah, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Belum genap satu tahun berkuliah, Budi memutuskan untuk tidak meneruskan studinya karena dia merasa jenuh dan tidak berminat menjadi seorang pendakwah.&lt;br /&gt;Tahun 1996, Budi bersama sejumlah sastrawan di Sumatera Utara seperti Harta Pinem, Thomson Hs, Romulus ZI Siahaan, Teja Purnama, Sn Ratman, dan Suyadi San mendirikan Forum Kreasi Sastra (FKS) di Medan. Komunitas ini memiliki kegiatan berupa diskusi sastra, proses kreatif, dan menerbitkan beberapa antologi puisi. &lt;br /&gt;Setelah FKS berdiri, Budi mendapatkan kesempatan untuk menjadi penulis pentas seni (kritikus) di Taman Budaya Sumatera Utara. Di tahun ini pula, Budi menjadi Juara I lomba menulis puisi dalam rangka ulang tahun Medan bertajuk Medan Bestari.&lt;br /&gt;Setahun di Medan membuatnya rindu dengan kawan-kawannya di Jakarta. Tetapi, Jakarta yang padat juga membuatnya gerah. Tidak sampai empat bulan di Jakarta, Budi memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Dalam perjalanan pulang, dia menjumpai beberapa kawannya yang hendak pergi ke Lampung untuk melamar pekerjaan. Mendengar kawannya ingin melamar pekerjaan, hati Budi tergoda untuk ikut serta mencari peruntungan di Lampung. Sesampainya di Lampung, Budi melamar pekerjaan sebagai wartawan di Harian Lampung Post. Setelah mengikuti berbagai tes, dari kesepuluh orang kawannya yang ikut melamar, ternyata Budi yang diterima bekerja. Ikatan kerja dengan Lampung Post membuat Budi memutuskan pindah ke Lampung. Sejak saat itu, mulailah Budi bersinggungan dengan ranah Lampung. Ternyata, Budi juga memiliki alasan tersendiri ketika dia memutuskan untuk menetap di Lampung. Menurutnya, Lampung memiliki keunikan. Kondisi geografis yang cukup menarik, daerah pegunungan dan lautan bertemu, membuat nalurinya dapat merasakan bahwa suasana yang seperti itulah yang akan memberikannya berbagai inspirasi dalam menulis.&lt;br /&gt;Tahun 1997, Budi berkenalan dengan seorang gadis bernama Hesma Eryani, rekan kerjanya di Lampung Post. Mereka memutuskan untuk mengarungi bahtera rumah tangga di tahun yang sama. Pasangan tersebut dikaruniai buah hati seorang gadis cantik bernama Raraz Asghari Ghiffarina Hutasuhut. Ada sekitar lima belas puisi Budi yang dimuat di media massa atau hanya dipajang di ruang maya (budihatees.blogspot.com) terinspirasi oleh Raraz.&lt;br /&gt;Di Lampung, Budi tetap aktif berkreasi. Dia mengikuti sejumlah pendidikan non-formal seperti Pelatihan Communications for Good Governance di Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang diselenggarakan UNDP pada tahun 2000. Selain itu, Budi ikut menggagas munculnya sastra dunia maya bersama Yayasan Multimedia Sastra. Di tahun itu pula, ia aktif sebagai anggota Forum Lingkar Pena (FLP) dan ikut memprakarsai berdirinya FLP Lampung. Sampai sekarang, Budi menjadi pembina FLP di Lampung. &lt;br /&gt;Tahun 2004, Budi bersama Y. Wibowo mendirikan Penerbitan Matakata dan Yayasan Sekolah Kebudayaan Lampung (SKL). Di SKL, Budi mengajar penulisan kreatif. Budi juga aktif menjadi juri dan panitia dalam berbagai perlombaan penulisan karya sastra, baik cerpen maupun sajak, salah satunya menjadi juri sekaligus menjadi ketua panitia Krakatau Award pada Lomba Penulisan Sajak Dewan Kesenian Lampung pada tahun 2006.&lt;br /&gt;Budi P. Hatees memang pekerja keras. Bekerja sebagai jurnalis dan menjadi penanggungjawab Lampung Post Online tidak cukup membuatnya puas. Di luar Lampung Post, Budi menjabat ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung periode 2004 sampai dengan 2007. Di samping itu, ia pun menjadi anggota Tim Pusat Kajian Budaya (PUSAKA) Lampung yang meneliti masalah kebudayaan Lampung.&lt;br /&gt;Sebagai seorang sastrawan yang telah banyak menghasilkan karya, tak pelak Budi P. Hatees mendapatkan sanjungan dan kritikan dari sesama sastrawan maupun dari pembacanya. Zulkarnain Zubairi (lebih dikenal dengan Udo Z. Karzi), teman sejawat Budi yang juga sastrawan dan sama-sama pengurus di Matakata (penerbit), berkomentar tentang sajak Budi yang berjudul “Cerita tentang Perahu”. Udo Z. Karzi mengatakan bahwa sajak ini menyodorkan sebuah nilai kebenaran, kejujuran, dan kesabaran dari sudut pandang lain, berbeda sama sekali. Tambahnya lagi, cinta adalah sebuah kegilaan. Setidaknya itu yang dapat ditangkap dari sajak ini. Entah bagaimana perahu Nuh—sebagaimana dikisahkan dalam cerita-cerita nabi—menjelma dalam kepala seseorang, entah siapa, dan bukan siapa-siapa. Anak-anak menyebutnya gila. Tetapi, itulah cinta. Dan, Budi pun mengakhiri puisi ini dengan humor pahit dan sedikit (tidak) jorok: “tolol, ini kemaluanku.”&lt;br /&gt;Udo juga tertarik menyimak gambaran imaji Budi P. Hatees mengenai Lampung, lebih tepatnya Bandarlampung, seperti pada puisi “Kota ini Mengutuk Siapa Saja”, ”Seandainya”, ”Lampung”, dan “Gedung-Gedung di Kota”. Melalui puisi-puisi tersebut dapat dilihat pandangan Budi tentang Lampung, sebuah daerah asing yang kemudian menjadi tempat Budi bermukim sejak sembilan tahun lalu.&lt;br /&gt;Udo berkomentar bahwa dirinya tak mengerti mengapa Budi berkata: dikutuk di kota ini, tinggal sendiri/ memanjakan kekufuran, mengabaikan kematian (“Kota Ini Mengutuk Siapa saja”). Bandarlampungkah yang dimaksud? Tapi, jangan-jangan semua kota telah mengutuk siapa saja. Tak hanya Budi.&lt;br /&gt;Soal kemelut politik di Lampung yang tak juga usai, boleh jadi inilah yang hendak dipotret Budi: sudah!sudah!sudah kataku!/ sudah lama ruang ini didekap gelap/ hingga kita selalu meraba dan saling menabrak/ kita selalu mengaduh oleh rasa sakit yang sama/ nyeri yang tak terawat (“Lampung”). Akhirnya, cinta adalah sumber energi yang tak habis. Tak pernah basi. ”Budi bertutur apa saja, tentang siapa saja–tentu, banyak hal yang luput dari amatan saya—muaranya sama: Cinta,” ujar Udo Z. Karzi.&lt;br /&gt;Tak hanya sanjungan yang dituai Budi P. Hatees. Rudi Rofandi Utama dalam sebuah esai yang berjudul ”Menafsir Ulang Kebudayaan Lampung dalam Sastra” (Lampung Post, 12 Juni 2005) mengkritik cerpen Budi yang berjudul “Sebambangan” (Lampung post, 29 Mei 2005). Rudi mengatakan bahwa Sebambangan merupakan persetujuan antara bujang-gadis untuk memilih jalan kedua setelah lamaran. Dasarnya adalah kesadaran akan ketidaksanggupan dari segi ekonomi jika harus melakukan lamaran. Hal ini ditegaskan Rudi karena cerpen ”Sebambangan” karya Budi tidak sesuai dengan tradisi Sebambangan yang biasa dilakukan oleh masyarakat Lampung. Rudi menyoroti catatan kaki yang ada pada cerpen tersebut. Dalam catatan kaki, Budi menjelaskan bahwa kearifan lokal ini sering disalahgunakan untuk memaksa para gadis menikah dengan laki-laki meskipun mereka tidak saling mengenal. Rudi mengkritik keterangan Budi tersebut. Ketika sepakat untuk Sebambangan, si gadis akan meninggalkan sebuah surat peninggalan dengan kerelaan, tanpa paksaan. Buktinya, bisa dilihat dari isi surat yang menyatakan bahwa dia telah ada di tempat si lelaki pilihannya, dalam surat ini juga terdapat sejumlah uang peninggalan. Rudi menekankan bahwa tidak ada paksaan dari pihak laki-laki dalam Sebambangan.&lt;br /&gt;Tapi Budi tetap Budi, apapun kritik yang datang kepada dirinya selalu ditanggapi dengan bijak. Selama berkarya, Budi telah menghasilkan sejumlah karya, berikut ini beberapa di antaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puisi&lt;br /&gt;1) ”Cuaca Buruk” Republika, 3 Januari 1998.&lt;br /&gt;2) Beranda Sunyi (Antologi Puisi Tunggal). Medan: Panggung Sastra. 1995.&lt;br /&gt;3) Perjalanan Sunyi (Antologi Puisi Tunggal). Medan: Panggung Sastra. 1996.&lt;br /&gt;4) Graffiti Grattituted (Antologi Bersama Puisi Cyber). Bandung: Yayasan Multimedia Sastra. 2000.&lt;br /&gt;5) Dua Generasi (Antologi Bersama Puisi). Lampung: Yayasan Jung. 2003.&lt;br /&gt;6) Dua Wajah (Antologi Bersama Puisi). Jakarta: Masyarakat Sastra Jakarta. 2003.&lt;br /&gt;7) Konser Ujung Pulau (Antologi puisi). Lampung: Dewan Kesenian Lampung. 2003&lt;br /&gt;8) Sastrawan Dua Generasi (Antologi Cerpen dan Sajak). Lampung: Yayasan Jung. 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cerita Pendek&lt;br /&gt;1) ”Astuti” Anita Cemerlang, 1988.&lt;br /&gt;2) Ketika Duka Tersenyum (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: FBA Press. 2000.&lt;br /&gt;3) Ini Sirkus Senyum (Antologi Bersama Cerpen). Yogyakarta: Penerbit Bumimanusia. 2001.&lt;br /&gt;4) Cermin dan Malam Ganjil (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: FBA Press. 2003.&lt;br /&gt;5) ”Partonun” Tabloid Nova, April 2003.&lt;br /&gt;6) Accident 2 U (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: FBA Press. 2004.&lt;br /&gt;7) Anak Sepasang Bintang (Antologi Bersama Cerpen). Jakarta: Penerbit Senayan Abadi. 2005.&lt;br /&gt;8) “Sebambangan” Lampung post, 29 Mei 2005.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-2588681147817503455?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/2588681147817503455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=2588681147817503455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2588681147817503455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/2588681147817503455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/budi-p-hatees.html' title='Budi P. Hatees'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNkJEd6ygI/AAAAAAAAACM/IpUmvjN1L6A/s72-c/DSCF0714.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-6514114221226274782</id><published>2008-11-18T22:35:00.000-08:00</published><updated>2008-11-30T19:58:23.873-08:00</updated><title type='text'>Ari Pahala Hutabarat</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNgza0wRNI/AAAAAAAAABw/SgEWihnk41M/s1600-h/ari.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 76px; height: 91px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNgza0wRNI/AAAAAAAAABw/SgEWihnk41M/s200/ari.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274666025071166674" /&gt;&lt;/a&gt;Ari Pahala Hutabarat, penyair berdarah Medan dan Lampung, dilahirkan di Palembang, pada 24 Agustus 1975. Putra Arman Hutabarat dan Ringgasui ini adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ayah dan ibunya bekerja di bidang wiraswasta.&lt;br /&gt;Ari memulai pendidikannya di SDN Mariana di Palembang sampai dengan kelas 5, lalu ia pindah dan melanjutkan pendidikan dasarnya di SD Negeri di Terbanggi Agung, Lampung Tengah hingga lulus pada tahun 1986. Pendidikan SLTP di SMP Muhammadiyah 35 Jakarta hingga kelas 2, dilanjutkan di SMP Budaya Kemiling dan lulus pada tahun 1989. Pendidikan SLTA lulus pada tahun 1992 dari SMAN 7 Bandarlampung. Pada tahun 1993, ia melanjutkan studinya ke Unila Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia lulus pada tahun 2000.&lt;br /&gt;Ketertarikan Ari terhadap sastra sudah timbul sejak ia duduk di bangku sekolah dasar, tetapi mulai menulis (terutama puisi) pada saat ia berada di bangku Sekolah Lanjutan Tingkat Atas sekitar 1992. Ia sangat menyukai sajak-sajak penyair dalam negeri, di antaranya karya Sutardji dan Rendra. Karya-karya luar negeri, seperti Matsuo Basho, Octavio Paz, atau Pablo Neruda. Karya-karya itu memengaruhi pemikirannya, yang kemudian ia jadikan pengalaman dalam setiap karya yang akan ditulis. Menurutnya, puisi Sutardji dan Rendra memiliki dan menempatkan pemikiran, gagasan, ide dalam pembebasan kata-kata untuk mendapatkan pemaknaan. Untuk penyair lokalnya, adalah Isbedy Stiawan ZS dan Iswadi Pratama.&lt;br /&gt;Putra Arman Hutabarat dan Ringgasui ini mulai aktif bergelut dalam dunia kesastraan pada awal masuk kuliah. Ia bergabung dengan UKMBS (Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni) di Universitas Lampung. &lt;br /&gt;Pada 1997, untuk pertama kalinya karyanya dimuat di Lampung Post, mulai pada waktu itulah ia semakin produktif menulis puisi. Puisi-puisinya pernah dimuat di Kompas, Republika, Trans Sumatra, Lampung Post, Media Indonesia, Koran Tempo, Jurnal Kebudayaan Kalam dan Antologi Bersama Gerimis. &lt;br /&gt;Dalam menulis puisi, Ari Pahala Hutabarat banyak dipengaruhi oleh kehidupan dan lingkungan sekitarnya. Bidang studi di Bahasa dan Seni, tempat ia menimba ilmu, adalah salah satu hal yang memengaruhi setiap kelahiran karyanya. &lt;br /&gt;Setelah menyelesaikan kuliahnya, Ari Pahala Hutabarat benar-benar total berkesenian. Ia aktif di dalam setiap organisasi seni dan budaya yang ada di Lampung. Ia merupakan salah satu pengurus di Dewan Kesenian Lampung. Ari Pahala Hutabarat juga bergabung dalam komunitas Berkat Yakin di Taman Budaya Lampung. &lt;br /&gt;Ari Pahala Hutabarat juga bergelut di bidang teater. Sejak bergabung dengan kelompok pecinta seni di Unila, Unit Kegiatan Mahasiswa Bidang Seni (UKMBS). Di situ dia secara total bergelut dengan seni. Ada beberapa pementasan teater yang telah disutradarai dan dimainkannnya. Menurutnya ekspresi diri di atas panggung adalah salah satu bentuk aktualisasi nyata dari apa dan bagaimana yang telah dialami tokoh dalam kesehariaannya. &lt;br /&gt;Hal yang sangat menggembirakan dan menjadi angin segar bagi kehidupan budaya dan kontinuitas kesastraan di Lampung, ketika Ari berhasil menembus media Jakarta. Menurut Ari Pahala Hutabarat, keterpusatan media di Jakarta telah mengalami pergeseran, hal itu disebabkan adanya perubahan perkembangan dunia baru terutama perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi. Perubahan itu juga didukung oleh situasi reformasi informasi dan kondisi daerah Lampung sebagai pintu gerbang Jawa-Sumatera. &lt;br /&gt;Ari Pahala Hutabarat juga memiliki peran dengan kapasitas sebagai individu pemerhati sastra, yaitu dengan berbagi pengalaman melalui acara-acara kesusastaan dalam bentuk workshop. Kegiatan-kegiatan tersebut berupa pembedahan sastra, analisis puisi, dan persoalan budaya serta lainnya.&lt;br /&gt;Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mengembangkan kreativitas individunya dalam berkarya dan masukan bagi para pemerhati sastra. Selain itu juga akan mempengaruhi perkembangan budaya Lampung sebagai bagian dari perbendaharaan sastra di Indonesia. Berikut ini beberapa karya Ari Pahala Hutabarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Puisi&lt;br /&gt;1) Daun-daun Jatuh Tunas-tunas Tumbuh (Antologi Bersama), 1995.&lt;br /&gt;2) Dari Huma Lada (Antologi Bersama), 1996.&lt;br /&gt;3) Menikam Senja membidik Cakrawala (Antologi Bersama), 1997.&lt;br /&gt;4) Pesta Sastra Internasional TUK (Antologi Bersama), 2003.&lt;br /&gt;5) Konser Penyair Ujung Pulau (Antologi Bersama), Dewan Kesenian Lampung, Januari 2003.&lt;br /&gt;6) Gerimis (Antologi Bersama), Logung Pustaka, 2005.&lt;br /&gt;7) Perjamuan Senja (Antologi Bersama, DKJ), 2005.&lt;br /&gt;9) Monolog Sungai-Sungai, Buku Perjalanan, Sungai Bapak 2, Ziarah ke Muasal Luka, Jurnal Kalam, 2007.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Esai&lt;br /&gt;1)  “Puisi, Menangkap Makna Melalui Kata” (Radar Lampung, 2007).&lt;br /&gt;2)  “Citraan, Jendela dalam Puisi” (Lampung Post, 2007).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Naskah Drama yang Pernah Disutradarai.&lt;br /&gt;1) “Hamlet” karya William Shakespeare.&lt;br /&gt;2) “Inspektur Jenderal” karya Nikolai Gogol, (2004).&lt;br /&gt;3) “Rashomon” karya Ryunosuke Akutagawa, (1999) dan (2005).&lt;br /&gt;4) “Gerr” karya Ari Pahala Hutabarat, (1996).&lt;br /&gt;5) “Pinangan” karya Anton Chekov, (2006). &lt;br /&gt;6) “Dag Dig Dug” karya Ari Pahala Hutabarat (1998).&lt;br /&gt;7) “Ke” karya Ari Pahala Hutabarat (1999).&lt;br /&gt;8) “Malam Jahanam” karya Motinggo Busye.&lt;br /&gt;9) “Kisah Cinta Hari Rabu” karya Ari Pahala Hutabarat (2002).&lt;br /&gt;10) “Wu Wei dan Siapa Nama Aslimu” karya Ari Pahala Hutabarat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Lain-lain:&lt;br /&gt;1) Pembacaan puisi (Lampion Sastra III “Sastra Erotis”, Tanggal 10 November 2006).&lt;br /&gt;2) Peserta Ubud Writers &amp; Readers Festival di Bali (2006).&lt;br /&gt;3) Pembacaan Puisi di Gedung Pusat Kegiatan Mahasiswa (PKM) Universitas Lampung, Sabtu (9-2) pukul 19.00.&lt;br /&gt;4) Sajak “Penjaga Palang Kereta, Sungai Bapak, dan Cermin” (Lampung Post, 2 April 2006).&lt;br /&gt;5) Sajak “Di Beranda Hari Raya” (Lampung Post, 23 Oktober 2006).&lt;br /&gt;6) Puisi “Perahu Ibu” sebagai 15 Terbaik (Lomba Cipta Puisi oleh Ministry of Culture and Tourism, Republic of Indonesia, 2006).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-6514114221226274782?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/6514114221226274782/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=6514114221226274782' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/6514114221226274782'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/6514114221226274782'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/ari-pahala-hutabarat.html' title='Ari Pahala Hutabarat'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNgza0wRNI/AAAAAAAAABw/SgEWihnk41M/s72-c/ari.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-8385308240853571624</id><published>2008-11-18T22:34:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T23:00:07.930-08:00</updated><title type='text'>Asaroeddin Malik Zulqornain Choliq</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNi1Ab4bTI/AAAAAAAAACE/2tHldo1nKlQ/s1600-h/Assaroedin.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNi1Ab4bTI/AAAAAAAAACE/2tHldo1nKlQ/s200/Assaroedin.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5274668251370515762" /&gt;&lt;/a&gt;Asaroeddin dilahirkan di Jakarta pada 15 November 1956. Meskipun lahir di Jakarta, Asaroeddin adalah putra Lampung. Ayahnya, Azzadi Abdul Chaliq Shahib, lahir di Menggala pada 1921 dan ibunya, Inci Siti Zuwaiyah, lahir di Telukbetung pada 1935.&lt;br /&gt;Ketika duduk di kelas lima SD, Asaroeddin harus berpisah dengan kedua orang tuanya dan tinggal bersama datuknya, Wan Abdul Rahman. Keputusan ini diambil oleh orang tua Asaroeddin karena mereka mengalami kesulitan materi, terlebih lagi harus menafkahi ketujuh anak mereka. Meski hanya dua tahun tinggal bersama datuknya, Asaroeddin mendapat banyak bimbingan dan arahan tentang disiplin hidup.&lt;br /&gt;Kecintaan Asaroeddin terhadap sastra bermula sejak dia duduk di bangku SMP. Karya-karya karangan sastrawan terkenal seperti; Chairil Anwar, WS Rendra, Iwan Simatupang, dan Asmaraman Kho Ping Hoo sudah mulai dibaca Asaroeddin. Sejak saat itulah, Asaroeddin mulai berhasrat untuk menjadi seorang penulis.&lt;br /&gt;Setelah lulus dari SMP Negeri I Telukbetung, Asaroeddin melanjutkan studinya di SMA Negeri Telukbetung. Di SMA inilah, kecintaannya terhadap sastra terealisasi. Ketika kelas 2 SMA, Asaroeddin menjabat sebagai ketua OSIS. Jabatan ini bukanlah menjadi hambatan Asaroeddin untuk menyalurkan hobinya menulis. Salah satu kegiatan organisasi tersebut menyediakan satu ruang ekspresi bagi siswa yang disebut majalah dinding (mading). Saat itu, banyak tulisan-tulisan Asaroeddin menghiasi mading. Karya-karya Asaroeddin yang terpampang pada mading tak pernah sekalipun menggunakan namanya sendiri. Asaroeddin lebih menyukai nama Dorenovlie untuk mewakili dirinya. Kebiasaan untuk menutupi jati dirinya dalam menulis ini terbawa hingga karya-karya Asaroeddin dimuat di berbagai media massa, lokal maupun nasional. Bedanya, dia hanya menyingkat nama atau variasi dari nama aslinya, diantaranya A.M. Zulqornain Ch, Asroedin MZ, dan Amzuch.&lt;br /&gt;Setelah lulus SMA, Asaroeddin kurang beruntung. Dia banyak menghabiskan waktunya di rumah. Namun, hal ini tidak membuatnya kehilangan akal. Hobinya menulis dimanfaatkan untuk membiayai hidup. Ketika itu, karya sastra yang diciptakan Asaroeddin Malik Zulqornain berupa puisi. Tetapi, Asaroeddin sering merasa kecewa ketika buah dari kontemplasinya itu tidak diterbitkan karena penerbit lebih cenderung menyukai cerpen. Sejak itulah, Asaroeddin menggeluti penulisan cerpen.&lt;br /&gt;Asaroeddin Malik Zulqornain Ch. termasuk sastrawan yang muncul tahun 80-an. Dia secara otodidak mendalami dunia sastra, tidak ada pendidikan formal yang mengantarkannya sebagai penulis, tidak ada teman atau guru yang membimbingnya dalam menghasilkan karya. Asaroeddin lahir sebagai sastrawan dari generasi luar kampus dan karyanya banyak yang merambah media massa Jakarta. “Nomor 289 untuk 5 Menit” merupakan karya pertama yang dimuat di harian Pelita pada 20 Oktober 1978. Cerpen terakhir yang dimuat berjudul “Astiga” dimuat Lampung Post pada 9 Maret 2003.&lt;br /&gt;Asaroeddin Malik Zulqornain Ch telah menulis bermacam-macam cerita pendek, cerita anak, puisi, artikel budaya, resensi puisi, essai, dan berbagai berita. Media massa Lampung dan luar Lampung yang pernah memuat karyanya, antara lain Sinar Harapan, Pelita, Suara Karya, Simponi, Swadesi, Minggu Merdeka, Berita Buana, Mutiara, Harmonis, majalah Detektif Romantika, Senang, Humor, Bobo, Kharisma, Variasi, dan Nova. Media daerah yang pernah menerbitkan karya-karyanya adalah, Lampung Post, Radar Lampung, Lampung Ekpres, Sumatra Post, Trans Sumatra, Waspada (Medan).&lt;br /&gt;Ratusan cerpen pernah dipublikasikan, puluhan puisi pernah Asaroeddin ciptakan, tetapi dia memilih tidak dikenal oleh redaktur media manapun selama menulis. Baginya, cap “penulis” bukanlah sesuatu yang istimewa karena yang dibutuhkan masyarakat bukanlah orangnya tetapi karyanya. &lt;br /&gt;Dalam setiap karya yang dia ciptakan, Asaoreddin cenderung menggunakan bahasa yang biasa digunakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Hanya saja dalam berpuisi, Asaroeddin membumbuinya dengan permainan bunyi kata yang lugas dan “bombastis”, seperti kusetubuhi kata demi kata (dalam puisi berjudul “Sajak”). Dari bahasa yang digunakan dalam setiap karyanya, dapat diambil satu benang merah bahwa bahan-bahan yang diambil Asaroeddin sebagai inspirasi tidak jauh-jauh dari kehidupan nyatanya. Kecerdasan Asaroeddin dalam menangkap permasalahan aktual yang terjadi dalam masyarakat tersurat dalam berbagai judul cerpen yang dia buat, seperti “Kredit Motor”, “Gundik”, dan “Pedagang Kaki Lima”. Penekanan pada tema-tema kemanusiaan dalam berpuisi, Asaroeddin Malik Zulqornain mampu memberikan corak tersendiri bagi para pembacanya. Secara garis besar, kandungan yang terdapat dalam karya-karya Asaroeddin merupakan perpaduan antara unsur moral, estetis, heroisme, keagamaan, dan humor.&lt;br /&gt;Kecintaan dan kepedulian Assroeddin terhadap perkembangan sastra di Lampung, khususnya di kota Bandarlampung, ditunjukkannya dengan mendirikan Sanggar Cakrawala Ide Anak Muda (CIA) pada tahun 1985. CIA didirikannya bersama Riswanto Umar, dan Isbedy Stiawan ZS. Bagi Asaroeddin, dunia sastra merupakan ruang ekspresi jiwa. Oleh dasar itulah, sanggar CIA diciptakan sebagai ajang untuk berdiskusi dan bertukar informasi perkembangan sastra di kalangan pemuda Bandarlampung. Untuk menampung dan mengabarkan tulisan-tulisan para pengurus dan anggota CIA sebagai bentuk luapan ekspresi yang dapat dinikmati oleh masyarakat, mereka membuat Buletin yang dilabeli dengan nama Sastra CIA. Pada awal terbit, Sastra CIA memuat naskah yang masih didominasi oleh karya-karya Isbedy Stiawan ZS, Asaroeddin Malik Zulqornain Ch, dan Syaiful Irba Tanpaka.&lt;br /&gt;Pada masanya, Asaroeddin adalah salah satu sastrawan yang prihatin dengan perkembangan sastra di Lampung. Pada era 80-an, masih sedikit sastrawan Lampung yang dapat menembus ranah lokal. Selain itu, minimnya minat masyarakat terhadap sastra menyebabkan tidak banyak sastrawan baru yang bermunculan, apalagi untuk bersanding dengan sastrawan-sastrawan Indonesia yang sudah besar pada saat itu, seperti Chairil Anwar dan WS Rendra. Akhirnya, Asaroeddin beserta Achmad Rich, Syaiful Irba Tanpaka, dan Isbedy Stiawan ZS melahirkan antologi puisi yang berjudul Nyanyian Tanah Putih pada tahun 1984 untuk membangkitkan semangat para sastrawan muda.&lt;br /&gt;Pengemar Asmaraman Kho Ping Hoo ini tidak pernah berhenti berjuang mencurahkan hidupnya untuk masyarakat Lampung. Bersama-sama seniman lampung lainnya, Asaroeddin turut membidani lahirnya Dewan Kesenian Lampung (DKL) pada 17 September 1993. Jabatan dewan pembina di lingkungan Dewan Kesenian Lampung membuat nama Asaroeddin Malik Zulqornain Ch. tidak asing di telinga para penggiat sastra di Lampung. Pria yang dikenal juga dengan nama Amzuch ditunjuk oleh DKL untuk duduk sebagai Dewan Kehormatan periode 2005—2008. &lt;br /&gt;Asaroeddin Malik Zulqornain Ch. memiliki keterampilan menulis berkat kemauan keras dan kesungguhan hatinya. Puisinya yang berjudul “Selamat Pagi Pancasila” memenangkan lomba puisi yang ditaja oleh BP 7 provinsi Lampung pada tahun 1985. Selain sastra, dunia teater pernah juga digelutinya. Di bawah bimbingan guru besarnya MZ Simatupang, Asaroeddin Malik Zulqornain Ch pernah mengikuti Lomba Teater Nasional yang diselenggarakan oleh Depdiknas tahun 1992. Dia juga pernah tampil membacakan cerpen-cerpen humor karyanya sendiri di Taman Budaya Lampung pada 1993 dan tampil dalam pentas teater di Gedung Veteran bersama sanggar teater CIA asuhannya.&lt;br /&gt;Selain itu, Asaroeddin juga pernah menjuarai lomba baca puisi tingkat SMA yang ditaja oleh Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Lampung. Tahun 1991, tanggal 13 Agustus, suara lantangnya membuahkan hasil. Dia menjadi pemenang II lomba baca cerpen menyambut Dies Natalis XVI dan wisuda sarjana III STKIP Muhammadiyah Kotabumi, Lampung. Dalam acara tingkat nasional Festival Krakatau Tahun 2005, dirinya terpilih untuk menulis naskah cerita “Pangeran Liman Sakti” sekaligus sebagai narator dalam pagelaran Sendratari Gajah di dermaga III pelabuhan Bakauheni. Asaroeddin menyampaikan refleksi pada acara Panggung Penyair Indonesia di Taman Budaya Lampung pada 18 Juni 2005. Menurutnya, penyelenggaraan refleksi bisa dijadikan sebuah wacana bagi perkembangan dunia sastra di Lampung ke depan. Walaupun dirinya sibuk sebagai pegawai negeri sipil, namun perhatiannya pada dunia sastra tak pernah dia tinggalkan. Hal itu dibuktikan Asaroeddin dengan menjadi juri Lomba Baca Puisi Lampung Tingkat SLTA pada 1—3 September 2005 yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Lampung. Bersama-sama seniman Lampung, pada akhir Oktober 2005, dia mengikuti Kongres Kesenian II di Jakarta. &lt;br /&gt;Asaroeddin selalu mengobarkan semangat untuk mencintai budaya lokal. Harapan-harapan itu dikemukakannya melalui dua media massa terkemuka di Lampung (Lampung Post dan Radar Lampung). Melalui Lampung Post, Asaroeddin berharap para seniman Lampung mau mengembangkan kesenian Lampung. Dia menganggap kesenian khas Lampung cenderung diabaikan oleh masyarakat. Oleh sebab itu, Asaroeddin berharap kesenian Lampung yang notabene menjadi ciri khas sebuah daerah dilestarikan (Lampung Post: 2005). Solusi yang ditawarkan Asaroeddin, seperti yang dilansir oleh Radar Lampung, “Kecenderungan terabaikannya kesenian khas Lampung dapat segera diatasi dengan upaya bersama-sama memelihara dan melestarikannya. Seperti momentum lomba atau festival kesenian Lampung bisa dimanfaatkan untuk menumbuhkembangkan kesenian yang benar-benar khas Lampung, bukan kesenian yang berasal dari daerah lain atau seni modern” (Radar Lampung: 2003).&lt;br /&gt;Asaroeddin, layaknya manusia pada umumnya, tidak bisa lari dari kenyataan bahwa dia juga punya kelebihan dan kekurangan. Sumbang saran ataupun kritik dari sesama sastrawan maupun orang awam terhadap karyanya pernah singgah menampar dan menyejukkan dirinya. Seperti Isbedy Stiawan, mengatakan bahwa karya-karya Asaroeddin banyak dipengaruhi oleh gaya Chairil Anwar. Sebagai teman, Isbedy menegaskan bahwa Asaroeddin adalah guru spiritualnya, selalu mengajarkan serta menasehati untuk selalu mendekat kepada Tuhan dan menjauhi segala larangan-Nya. Syaiful Irba Tanpaka, sastrawan sekaligus teman, berkomentar bahwa Asaroeddin adalah sastrawan yang produktif kisaran tahun 80-an sampai 90-an. “Kami pernah berlomba mengirimkan karya ke surat kabar, siapa yang paling banyak karyanya dimuat akan dibayar dan akhirnya Asaroeddin pemenangnya, karyanya yang dimuat media massa tiga buah, Isbedy Stiawan 2 buah dan saya satu buah” ungkap Syaiful seraya mengenang masa lalunya bersama Isbedy dan Asaroeddin. &lt;br /&gt;“Saya bukan siapa-siapa, tidak ada apa-apanya dan tak pernah jadi apapun. Saya hanya ingin jadi diri sendiri yang memang hidup hanya untuk menunda kekalahan, namun sebelum kalah, saya harus menikmatinya penuh rasa syukur”. Ungkapan sang maestro puisi, Chairil Anwar, tersebut dijadikan prinsip hidup oleh Asaroeddin Malik Zulqornain Ch. yang membuatnya terus bersyukur atas segala nikmat yang diberikan Tuhan kepadanya.&lt;br /&gt;Karya-karya Asaroeddin sangat banyak, hampir 200 karya pernah dimuat di berbagai media massa, lokal maupun nasinal, berikut ini diantaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Cerpen&lt;br /&gt;1) “Nomor 289 Untuk 5 Menit” Pelita, 20 Oktober 1978.&lt;br /&gt;2) “Datuk” Sinar Harapan, 27 Agustus 1980.”&lt;br /&gt;3) “Awas Ada Anjing Galak” Suara Karyai 9 November 1980.&lt;br /&gt;4) “Sumur” Merdeka, 6 September 1981.&lt;br /&gt;5) “Tidak Untuk Keduakalinya” Detektif Romantika, 15 Oktober 1981.&lt;br /&gt;6) “Umur” Kharisma nomor: 2, Januari 1982.&lt;br /&gt;7) “Clurit” Simponi, 8 dan 14 Mei 1982.&lt;br /&gt;8) “Wibawa” Merdeka, 17 Nopember 1982.&lt;br /&gt;9) “Simbok Yang Malang” Harmonis, 1982.&lt;br /&gt;10) “Tragedi Tukang Embat’ Humor edisi 121, 1 April 1985.&lt;br /&gt;11) “Sepasang Kaki Telanjang” Swadesi, 18 Agustus 1985.&lt;br /&gt;12) “Tudingan” Simponi, 8—14 Desember 1985.&lt;br /&gt;13) “Antara Merak Bakauheni” Simponi, 3—9 Juni 1984.&lt;br /&gt;14) “Gerobak” Merdeka, tanggal 21 Maret 1982.&lt;br /&gt;15) “Semanda” Lampung Post, 26 Januari 1991.&lt;br /&gt;16) “Sempurna Tanpa Bulan” Trans Sumatra, 10 Desember 2000.&lt;br /&gt;17) “Ketergantungan” Trans Sumatra, 25 Februari 2001.&lt;br /&gt;18) “Telunjuk” Lampung Post, 18 Maret 2001.&lt;br /&gt;19) “Tersangka” Sumatra Post, 22 Februari 2003.&lt;br /&gt;20) “Astiga” Lampung Post, 9 Maret 2003.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Cerita Anak&lt;br /&gt;1) “Abah Amat” Sinar Harapan, 2 Juni 1979.&lt;br /&gt;2) “Dari Koran Pak” Sinar Harapan, 1 Desember 1979.&lt;br /&gt;3) “Andi Kenapa Kau” Suara Karya, 8 Maret 1980.&lt;br /&gt;4) “Akhirnya Ayah Mau Mengerti” Suara Karya, 10 Januari 1981.&lt;br /&gt;5) “Ayah Akan Pensiun” Suara Karya, 18 April 1981.&lt;br /&gt;6) “Belum Terlambat” Pelita, 6 Januari 1982.&lt;br /&gt;7) “Dalam Sucinya Ramadhan” Sinar Harapan, 3 Juli 1982.&lt;br /&gt;8) “Adik Kecil” Merdeka, 28 Agustus 1983.&lt;br /&gt;9) “Ketupat Lebaran Buat Emak” Suara Karya, 9 Juli 1983&lt;br /&gt;10) “Tembang Juang Sang Pahlawan” Suara Karya, 12 Nopember 1983.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Puisi&lt;br /&gt;1) “Kelabu Biru”, 1977.&lt;br /&gt;2) Nyanyi Tanah Putih, (Antologi Puisi Penyair Muda Lampung, Sanggar Sastra CIA, 1979).&lt;br /&gt;3) “Aku Haus”, 1980.&lt;br /&gt;4) ”Sajak”, 1980.&lt;br /&gt;5) “Selamat Pagi Pancasila” (Menjuarai Lomba Puisi yang diselenggarakan BP7 Provinsi Lampung), 1985.&lt;br /&gt;6) “Tetap Berseri”, 1978.&lt;br /&gt;7) “Kepada T”, 1978.&lt;br /&gt;8) “Lebon”, 2003.&lt;br /&gt;9) “Senggulan”, 2003.&lt;br /&gt;10) “Lohot Tandang Midang”, 2003.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-8385308240853571624?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/8385308240853571624/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=8385308240853571624' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8385308240853571624'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8385308240853571624'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/asaroeddin-malik-zulqornain-choliq.html' title='Asaroeddin Malik Zulqornain Choliq'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_68X7DIEJbpM/STNi1Ab4bTI/AAAAAAAAACE/2tHldo1nKlQ/s72-c/Assaroedin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6786365223530909170.post-8908352538374759395</id><published>2008-11-18T22:20:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T23:04:04.255-08:00</updated><title type='text'>Achmad Rich</title><content type='html'>&lt;meta equiv="Content-Type" content="text/html; charset=utf-8"&gt;&lt;meta name="ProgId" content="Word.Document"&gt;&lt;meta name="Generator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;meta name="Originator" content="Microsoft Word 11"&gt;&lt;link rel="File-List" href="file:///C:%5CDOCUME%7E1%5Cuser%5CLOCALS%7E1%5CTemp%5Cmsohtml1%5C01%5Cclip_filelist.xml"&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="country-region"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="State"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="date"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="City"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;o:smarttagtype namespaceuri="urn:schemas-microsoft-com:office:smarttags" name="place" downloadurl="http://www.5iantlavalamp.com/"&gt;&lt;/o:smarttagtype&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;  &lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" latentstylecount="156"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if !mso]&gt;&lt;object classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id="ieooui"&gt;&lt;/object&gt; &lt;style&gt; st1\:*{behavior:url(#ieooui) } &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;style&gt; &lt;!--  /* Font Definitions */  @font-face 	{font-family:"Book Antiqua"; 	panose-1:2 4 6 2 5 3 5 3 3 4; 	mso-font-charset:0; 	mso-generic-font-family:roman; 	mso-font-pitch:variable; 	mso-font-signature:647 0 0 0 159 0;}  /* Style Definitions */  p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal 	{mso-style-parent:""; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:12.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p.MsoFootnoteText, li.MsoFootnoteText, div.MsoFootnoteText 	{mso-style-link:" Char Char6"; 	margin:0cm; 	margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB;} span.CharChar6 	{mso-style-name:" Char Char6"; 	mso-style-locked:yes; 	mso-style-link:"Footnote Text"; 	mso-ansi-language:EN-GB; 	mso-fareast-language:EN-GB; 	mso-bidi-language:AR-SA;} @page Section1 	{size:612.0pt 792.0pt; 	margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; 	mso-header-margin:36.0pt; 	mso-footer-margin:36.0pt; 	mso-paper-source:0;} div.Section1 	{page:Section1;}  /* List Definitions */  @list l0 	{mso-list-id:190069960; 	mso-list-type:hybrid; 	mso-list-template-ids:783712902 -1298897506 -312460910 69271569 134807567 134807577 134807579 134807567 134807577 134807579;} @list l0:level1 	{mso-level-text:"%1\)"; 	mso-level-tab-stop:36.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-font-weight:normal; 	mso-bidi-font-weight:normal;} @list l0:level2 	{mso-level-number-format:roman-upper; 	mso-level-tab-stop:90.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:90.0pt; 	text-indent:-36.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level3 	{mso-level-text:"%3\)"; 	mso-level-tab-stop:117.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	margin-left:117.0pt; 	text-indent:-18.0pt;} @list l0:level4 	{mso-level-tab-stop:144.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level5 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:180.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level6 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:216.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level7 	{mso-level-tab-stop:252.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level8 	{mso-level-number-format:alpha-lower; 	mso-level-tab-stop:288.0pt; 	mso-level-number-position:left; 	text-indent:-18.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} @list l0:level9 	{mso-level-number-format:roman-lower; 	mso-level-tab-stop:324.0pt; 	mso-level-number-position:right; 	text-indent:-9.0pt; 	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";} ol 	{margin-bottom:0cm;} ul 	{margin-bottom:0cm;} --&gt; &lt;/style&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable 	{mso-style-name:"Table Normal"; 	mso-tstyle-rowband-size:0; 	mso-tstyle-colband-size:0; 	mso-style-noshow:yes; 	mso-style-parent:""; 	mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt; 	mso-para-margin:0cm; 	mso-para-margin-bottom:.0001pt; 	mso-pagination:widow-orphan; 	font-size:10.0pt; 	font-family:"Times New Roman"; 	mso-ansi-language:#0400; 	mso-fareast-language:#0400; 	mso-bidi-language:#0400;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;div style=""&gt;  &lt;table align="left" cellpadding="0" cellspacing="0" vspace="0" height="77" hspace="0"&gt;  &lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;   &lt;td style="padding: 0cm 3.6pt;" align="left" valign="top" height="77"&gt;   &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 57.5pt; page-break-after: avoid; vertical-align: baseline;"&gt;&lt;span style="font-size: 55pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;M&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;   &lt;/td&gt;  &lt;/tr&gt; &lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;  &lt;/div&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;eski dilahirkan di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, Achmad Rich adalah putra Lampung. Anak pertama dari enam bersaudara ini dilahirkan di gang Kancil, Cikini, &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;, pada &lt;st1:date year="1956" day="6" month="4" st="on"&gt;6 April 1956&lt;/st1:date&gt;. Achmad Rich bukanlah nama yang diberikan orang tuanya ketika ia lahir, melainkan Achmad Khairil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Pada beberapa buku, nama Achmad Rich banyak mengalami kesalahan penulisan ejaan, seperti dalam buku &lt;i&gt;Nyanyian Tanah Putih, Memetik Puisi dari Udara, &lt;/i&gt;dan buletin &lt;i&gt;Asah Asih Asuh&lt;/i&gt;. Pada buku itu tertulis A. Chairil, seharusnya ejaan yang benar adalah A. Khairil, menggunakan &lt;i&gt;Kh &lt;/i&gt;bukan &lt;i&gt;Ch&lt;/i&gt;. Namun, seiring dengan perkembangan jiwa dan kedewasaannya, ia lebih memilih nama Achmad Rich daripada nama aslinya ketika mengirimkan karyanya untuk dimuat di media massa. Menurut teman-temannya sesama sastrawan, ia lebih memilih nama tersebut karena tidak ingin dianggap menumpang popularitas maestro penyair &lt;st1:country-region st="on"&gt;&lt;st1:place st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt;, Chairil Anwar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Selain nama A. Khairil dan Ahmad Rich, masih ada satu nama yang masih yang tetap menempel sejak kecil hingga ia beranjak dewasa, yaitu Boce. Karena postur tubuhnya yang paling kecil di antara saudara-saudaranya itulah ia dipanggil Bocah Kecil (Boce). Dengan demikian, ia menyandang dua nama yang terus melekat padanya, yaitu Achmad Rich yang dikenal kalangan sastrawan dan Boce yang dikenal oleh teman-teman sepermainannya semenjak kecil.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Masa sekolah Achmad Rich ditempuh di beberapa tempat yang berbeda. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Negeri 08 di Kotabumi. Selepas itu, ia melanjutkan pendidikan di Sekolah Tehnik Paspal (setara SMP pada masa itu) dan sempat aktif sebagai pengurus OSIS. Aktivitasnya di kepengurusan OSIS dan setumpuk pelajaran yang ia geluti setiap hari tidak membuat niatnya untuk menjadi seorang penulis surut. Saat duduk di Sekolah Tehnik Paspal inilah ia mulai aktif menulis walaupun belum berhasil dimuat di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;surat&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; kabar.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Selepas dari Sekolah Tehnik Paspal tahun 1976, ia diterima sebagai siswa SMAN 2 Bandarlampung, salah satu sekolah unggulan di Bandarlampung. Sangat disayangkan, usai menamatkan di sekolah itu, Achmad Rich tidak melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Ia lebih merelakan dana orang tuanya untuk digunakan sebagai biaya pendidikan adik-adiknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Berpindah-pindahnya tempat &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;chmad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;ich&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;bersekolah di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;karena&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;kan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;status ayahnya sebagai PNS yang kerap berpindah tugas. Ayahnya, Suhaemi Elyas (alm&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;), setelah lulus dari sekolah Mesis&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt; (setingkat Sekolah Menengah Atas pada zaman Jepang)&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; langsung diangkat menjadi PNS Kepala Sekolah Rakyat di Jakarta.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Keluarga A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;chmad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;ich&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; pindah ke Tanjungkarang karena ayahnya &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;tugas&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;kan&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; sebagai Kepala Sekolah Rakyat di Tanjungkarang. Pada tahun 1969 sampai 1975, A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;chmad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;ich&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; dan saudara-saudaranya kembali pindah mengikuti sang ayah yang mendapat tugas ke Dinas P dan K tingkat II Kotabumi, Lampung Utara. Pada akhirnya, ia kembali tinggal di Tanjungkarang karena ayahnya pindah tugas di Dinas P dan K tingkat I Provinsi Lampung dengan jabatan kepala bagian Tata Usaha. Dengan demikian, masa kanak-kanaknya dihabiskan di empat tempat berbeda: Jakarta, Tanjungkarang, Telukbetung, dan Kotabumi&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Akhirnya, keluarga Achmad Rich berd&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;omisili &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;di Tanjungkarang, jalan Kamboja no. 10, kecamatan Enggal, Tanjungkarang &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;P&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;usat.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Kedua orang tua Achmad Rich asli Lampung. Ayah dan ibunya sama-sama berasal dari daerah Menggala, desa Batuhilir kecamatan Tulangbawang. Nama ibunya adalah Hafshah. Ayah Achmad Rich, Suhaemi Elyas (lahir tahun 1928) meninggal dunia pada tanggal 19 Desember 1991. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Pada 1980, Achmad Rich diterima sebagai PNS di Dinas P dan K tingkat I Provinsi Lampung. Jabatan terakhir yang ia duduki di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung tersebut adalah Staf Bagian Umum. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Staf Bagian Kebudayaan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Di Dinas Pendidikan Provinsi Lampung, ia menyibukkan diri dalam buletin &lt;i&gt;Asah Asih Asuh&lt;/i&gt;. Achmad Rich bertugas sebagai penyunting bahasa sejak buletin itu terbit pertama kali tahun 1992 sampai ia meninggal dunia pada tahun 2004. Di sela-sela kesibukannya sebagai Staf Bagian Umum dan pengasuh buletin &lt;i style=""&gt;Asah Asih Asuh&lt;/i&gt;, Achmad Rich menggeluti usaha barang antik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoFootnoteText" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Bahan bacaan yang paling digemari A&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;chmad &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;R&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;ich&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; sejak kecil hingga dewasa adalah majalah &lt;i&gt;Horison&lt;/i&gt;, novel detektif, dan majalah atau buletin aktual tentang hukum, baik perdata maupun pidana. &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Beberapa k&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;oleksi bukunya&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; merupakan &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;buku-buku pergerakan perjuangan,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; seperti &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;Biografi Soeharto&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; dan &lt;i&gt;Dibawah Bendera Revolu&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt;si&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="EN-GB"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;karangan Presiden &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Pertama&lt;/st1:city&gt; &lt;st1:state st="on"&gt;RI&lt;/st1:state&gt;&lt;/st1:place&gt;, Ir. Soekarno&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;. D&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;i masa pemerintahan Soeharto buku ini dilarang terbit, akan tetapi setelah rezim ini tumbang buku ini mulai banyak dicetak seperti yang dicetak ulang oleh Yayasan Bung Karno.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Salah satu puisinya yang berjudul “Matahari” terinspirasi oleh &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;buku &lt;i&gt;Di&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;bawah Bendera Revolusi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="IN"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Ketelitian dalam mengungkap fakta dan data di setiap esai dan &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;kegemaran membaca beragam buku,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;menunjukkan betapa wawasan Achmad Rich begitu mendalam terhadap permasalahan yang diangkat dalam setiap tulisannya. Karena kekuatan, kejernihan pola pikir, penyampaian ide yang bernas, dan fakta serta data yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan, esai dan artikelnya sering menghiasi rubrik dialog &lt;i&gt;Berita Buana&lt;/i&gt; di bawah asuhan penyair kondang Abdul Hadi W.M..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Achmad Rich mulai menapaki dunia sastra selangkah demi selangkah hingga menanjak populer sejak tahun 1982. Ia terbiasa menulis karya dan karangannya ketika berada di rumah dengan tulis tangan terlebih dahulu, kemudian diketik ulang setibanya di ia baru. Semua itu ia lakukan dengan alasan tidak ingin membuat gaduh suasana hening di rumahnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Karya-karya Achmad Rich, baik esai, artikel maupun puisi bertebaran di media massa Lampung dan media massa di luar Lampung, antara lain: harian &lt;i&gt;Minggu Merdeka, Simponi, Swadesi, Media Indonesia, Berita Buana, Singgalang, Eksponen, Berita Minggu, &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;Film&lt;/i&gt;. Beberapa buku yang sempat mendokumentasikan puisi-puisi Achmad Rich adalah (1) &lt;i&gt;Nyanyian Tanah Putih&lt;/i&gt;, antologi puisi bersama tiga sastrawan Lampung, yaitu Isbedy Stiawan ZS, Asaroeddin Malik Zulqarnain, dan Syaiful Irba Tanpaka; (2) &lt;i&gt;Memetik Puisi dari Udara&lt;/i&gt;, kumpulan puisi yang diluncurkan oleh Radio Suara Bhakti Bandarlampung; dan (3) &lt;i&gt;Puisi Indonesia ’87,&lt;/i&gt; sebuah antologi puisi bersama bertaraf nasional diterbitkan oleh Dewan Kesenian Jakarta.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Buku antologi &lt;i&gt;Puisi &lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt; ’87&lt;/i&gt; sekaligus menjadi monumen bersejarah bagi putra Lampung dan pentasbihan Achmad Rich sebagai sastrawan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Setidaknya, undangan DKJ (Dewan Kesenian Jakarta) untuk Achmad Rich agar hadir di Teater Arena TIM pada 3—5 September 1987 merupakan sebuah penghargaan tersendiri yang sangat berarti bagi Achmad Rich secara pribadi dan sastrawan Lampung pada umumnya. Achmad Rich tidak hanya membacakan puisi, tetapi ia juga didaulat untuk menyajikan esainya di hadapan tamu undangan. Forum ini dihadiri oleh 26 sastrawan dari 26 wilayah provinsi di &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Bandarlampung diwakili oleh dua orang sastrawan, yaitu Achmad Rich dan Sugandhi Putra.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Sampai saat ini, nama Achmad Rich sebagai sastrawan Lampung masih terukir dengan baik. Ia meninggalkan dua buah puisi terbaiknya yang banyak diminati pencinta puisi Lampung, yaitu “Matahari” dan “Anak Nakal Kesayangan Tuhan” (hanya saja, puisi yang terakhir hilang dan tak sempat didokumentasikan).&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Achmad Rich tidak hanya dikenal di kalangan sastrawan, tapi juga dikenal oleh kalangan teater, tari, dan musik. Terakhir, pada tahun 90–an, ia sempat bergabung dalam sebuah kelompok seniman Lampung yang bernama Cakrawala Seni.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Achmad Rich melepas lajangnya saat ia berusia 47 tahun, usai Idul Adha tepatnya pada 21 Februari 2003. Dian Novita Sari, istrinya, saat itu baru berusia 21 tahun. Gadis berdarah campuran Lampung dan &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Palembang&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt; ini berkenalan pertama kali dengan Achmad Rich di Kotabumi. Pernikahan mereka berlangsung dengan menggunakan adat Lampung di Poso pada Kamis. Setelah menikah, ia mendapat gelar kehormatan dari adatnya yaitu “Menak Sembahan Raja”, sedangkan istrinya bergelar “Menak Sembahan”. Mereka dikaruniai Allah seorang putra “revolusioner” yang bernama Damar Nihan Al-Amin.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Baru berjalan satu tahun lebih, pernikahan ini harus menerima suratan takdir saat “Sang Matahari” harus menghadap-Nya karena penyakit tumor paru-paru. Sejak empat hari sebelum ajal menjemput, Achmad Rich memang sudah mengeluh sakit yang luar biasa. Ia dirawat di RS Bumi Waras selama dua hari, lalu dipindahkan ke RSU Abdul Moeloek Bandarlampung. Di RSU Abdul Moeloek Achmad Rich dirawat selama dua hari sebelum akhirnya mengembuskan nafas terakhir.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Achmad Rich “Sang Matahari” dipanggil menghadap Sang Pencipta pada 25 Desember 2004 pukul 09.00. Jenazahnya dikebumikan di Pemakaman Umum Kebonjahe, Bandarlampung. Achmad Rich bukan hanya milik keluarganya, tetapi juga milik dunia sastra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. Majalah sastra &lt;i&gt;Horison&lt;/i&gt; (&lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:city st="on"&gt;Jakarta&lt;/st1:city&gt;&lt;/st1:place&gt;) menyatakan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian sang sastrawan pada edisi Februari 2005. Achmad Rich harus tetap dikenang dalam bentuk apa pun dan sekecil apa pun kontribusinya bagi dunia sastra &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt;. “&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;" lang="SV"&gt;Sepatutnya ia dikenang, bukan semata sebagai ’anak nakal’ melainkan sebagai ’anak terbaik’ Lampung,” demikian pesan lirih Isbedy Stiawan ZS saat melepas kepergian Achmad Rich .&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Semasa hidup, Achmad Rich telah melahirkan beberapa karya, berikut ini di antaranya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;1)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;“Penyair di Negeri Tak Bertuan”, Buletin &lt;i&gt;Simbah Sastra&lt;/i&gt; tahun 1984,&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;2)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;“Catatan”, Buletin &lt;i&gt;Simbah Sastra&lt;/i&gt;&lt;span style=""&gt;,&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;3)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Nyanyian Tanah Putih: Antologi Puisi Penyair Muda Lampung, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Sanggar Sastra CIA, 1984,&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;4)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Memetik Puisi dari Udara&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt; (kumpulan puisi yang direkam Radio Suara Bhakti Bandarlampung), Radio Suara Bakti, 1987, dan&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-left: 13.5pt; text-align: justify; text-indent: -13.5pt; line-height: 150%;"&gt;&lt;!--[if !supportLists]--&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt;5)&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;Puisi &lt;st1:place st="on"&gt;&lt;st1:country-region st="on"&gt;Indonesia&lt;/st1:country-region&gt;&lt;/st1:place&gt; 87&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;, Dewan Kesenian Jakarta, 1987.&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; line-height: 150%; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;b style=""&gt;&lt;span style="font-size: 11pt; font-family: &amp;quot;Book Antiqua&amp;quot;;"&gt;&lt;br /&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6786365223530909170-8908352538374759395?l=arahlautlepas.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/feeds/8908352538374759395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6786365223530909170&amp;postID=8908352538374759395' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8908352538374759395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6786365223530909170/posts/default/8908352538374759395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arahlautlepas.blogspot.com/2008/11/achmad-rich.html' title='Achmad Rich'/><author><name>Arah Laut Lepas: 5708 Km</name><uri>http://www.blogger.com/profile/11334004047812282506</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='23' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/-SV64Rl40E0E/Td0N1fDt-LI/AAAAAAAAAD8/5rbuEn0yH6E/s220/New%2BImage.JPG'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
